8

1336 Words
"Papa" panggil Deva membuat Xavier yang sedang berbicara dengan lima laki-laki dihadapannya, dua memakai jas dan yang tiga memakai seragam polisi, langsung membalikkan badannya tersenyum menatap Deva dan Selena yang berjalan bergandengan dengan Toni di belakangnya. "Hai dude, papa kira kamu nggak dateng" sapa Xavier mengacak rambut hitam legam Deva. "Aku bohongin, langsung jemput terus di mobil baru aku cerita" saut Selena yang berdiri di sebelah kiri Deva. "Nggakpapa kalo kakak nanti mau nunggu diluar, yang penting nanti nyapa dulu bentar" ucap Xavier mengelus rambut Deva. "Iya pah" jawab Deva menganggukkan kepalanya. "Apa bisa masuk sekarang pak?" Tanya laki-laki yang memakai seragam polisi tersebut sopan kepada Xavier. "Oh iya pak, maaf jadi lama" ucap Xavier tersenyum. "Nggakpapa, kalau begitu silahkan masuk" ucap polisi itu lagi lalu berjalan terlebih dahulu. "Sini sayang" minta Xavier mengulurkan tangan kanannya agar selena berpindah ke sisi kanan Xavier. "Pah, minta surat persetujuan yang nganter banyak banget" bisik Deva melirik tiga orang di depannya dan tiga lagi tepat di belakang mereka. "Soalnya uang papa banyak" jawab Xavier yang tidak diketahui apakah itu sebuah kalimat candaan atau tidak. "Mah mah, papa masa ngajarin Deva sombong" adu Deva dengan wajah sok sedihnya. "Pah jangan gitu, nanti di tiru anaknya" tegur Selena. "Kamu nggak ada niatan balik ke sekolah aja gitu? Atau pulang ngurusin dedek" ucap Xavier datar menatap Deva "Dihhh ngambek mah, papa" adu Deva lagi yang kali ini hanya dibalas gelengan kepala oleh Selena, sudah biasa seperti ini jadi ya gimana mau ditanggepin juga percuma. "Nggak kok pa, maaf ya." Ucap Deva menggosok tangan Xavier lalu mencium punggung tangannya. "Mah mau nambah anak cewek nggak? Bosen sama 5 anak cowok di rumah yang tingkahnya kayak setan semua" ucap Xavier membuat Deva tertawa. Sebenarnya Deva hanya ikut-ikutan ke-empat saudaranya saja karena disuruh tapi karena keseringan jadinya kebiasaan, lagi pula Xavier juga sering menggoda dan menjaili anak-anaknya. "Maaf sayang nanti dulu, aku pengen istirahat ngurus anak dulu" jawab Selena mengelus pipi Xavier. "Silahkan duduk di sini pak,buk saya panggilkan pak Ahmad Resno nya dulu" ucap polisi itu "pah, deva ke toilet bentar ya pa. Tadi di mobil kebanyakan minum" bisik Deva yang diangguki oleh Xavier. "jangan lama-lama ya kak" jawab Xavier yang diangguki oleh Deva lalu berdiri untuk berjalan pergi keluar ruangan. "mau kemana Deva pah?" tanya selena menatap Xavier. "kamar mandi katanya" jawab Xavier yang diangguki oleh Selena. "permisi pak, buk. Ini pak Resno sudah datang" ucap polisi yang tadi berpamitan. "siang pak" sapa Xavier menjabat tangan Resno, ayah kandung Deva di ikuti oleh Selena. "pak Xavier bu Selena, akhirnya kita bisa ketemu lagi" ucap Resno tersenyum menatap Xavier dan Selena. "iya Pak, terakhir tiga tahun yang lalu pak sama Deva" jawab Selena ramah. "duduk dulu pak" ucap Xavier yang daingguki oleh Resno. "kira-kira ada urusan apa ya, pak Xavier sama istri mau ketemu saya?" tanya resno to the point sambil melirik tiga orang lainnya yang duduk di dalam ruangan. "ada hal yang mau saya diskusikan sama bapak sebagai ayah kandung Deva" ucap Xavier membuka suara. "iya?" "jadi begini pak, sudah empat tahun Deva tinggal bersama keluarga kami semenjak nenek meninggal dan kemaren kami sudah memutuskan untuk mengangkat Deva sebagai anak sah kami secara hukum..." jawab Xavier. "jadi kedatangan kita kesini mau minta persetujuan dari bapak, kita tadi pagi sudah kirim surat permohonan ke pengadilan karena Deva dan anak-anak juga sudah setuju." lanjut Xavier lagi. Selena yang duduk di sebelah suaminya hanya diam membiarkan Xavier yang angkat bicara. "sudah di ajukan ke pengadilan, lalu untuk apa persetujuan saya? Lagipula kalian sudah mengirim surat pengajuan ke pengadilan" jawab Resno. "kalaupun saya setuju, apa imbalan yang bisa saya dapatkan?" tanya Resno membuat Xavier dan Selena terbelalak mendengarnya. Ini mereka berdua berniat untuk menolong anak mereka tapi kenapa begini tanggapannya?. "kalau saya tidak memberikan anak saya bukankah lebih menguntungkan untuk saya? Karena saya yakin dia pasti sukses" lanjut Resno lagi. "Ton tolong tunggu depan, jangan sampai Deva masuk" perintah Selena yang diangguki oleh Toni salah satu pengawal yang Xavier berikan. "nggak perlu mama, Deva udah denger kok" saut Deva yang tiba-tiba datang dari pintu masuk. "sayang..." lirih Selena memegang lengan Xavier, dia tidak mau psikologis Deva yang sudah sembuh terluka kembali. "nggakpapa ma, Deva juga pengen denger jawaban dari orang yang ngakunya ayah tapi nggak pernah jadi ayah" ucap Deva sarkas lalu kembali duduk di sebelah Xavier. Resno yang di sindir hanya menatap Deva tenang. "jadi gimana? Saya mau tanda tangan tetapi saya juga mau imbalan. Saya mendapat imbalan dan kalian mendapatkan anak saya, bukankah sangat menguntungkan?" ucap Resno. "jangan pah, mendingan Deva hidup tanpa status daripada papa kasih dia imbalan. Itu sama aja kayak dia jual Deva pah" ucap Deva menatap Xavier dengan wajah datarnya. "kapan dia keluar?" tanya Xavier santai menatap Lauren. "tahun depan pak" jawab Lauren. "gugat dia atas percobaan perdagangan anak dibawah umur, suami yang menelantarkan istrinya, ayah yang menelantarkan anaknya dan anak yang menelantarkan orangtuanya. Dan jangan lupa atas kasus penipuan yang dia lakukan." ucap Xavier menatap Resno dingin. "saya lebih memilih untuk menyogok pengadilan daripada memberikan anda kenikmatan, meskipun untuk sementara tapi harga diri Deva anak saya lebih berharga." ucap Xavier. "tolong bawa dia masuk lagi pak, urusan saya sudah selesai" minta Xavier dingin menatap polisi yang berdiri di belakang Resno. Dan tanpa bantahan Resno berjalan mengikuti arahan polisi yang menariknya. "papa mau nyogok?" tanya Deva "nggak lah, mana ada papa nyogok. Rakyat bersih papa ini" jawab Xaveir dengan senyumannya menatap Deva, padahal seluruh dunia pun tau kalau tidak ada pengusaha yang jauh dari kata nyogok-menyogok. Inilah kehidupan, maybe money can't solve all problem but all problem can solve with money. "terus papa ngapain kesini?" tanya Deva. "minta surat perizinan, tapi kayaknya udah nggak perlu lagi cuman kurang satu surat nggak bikin pengajuan gagal" ucap Xavier santai. "kalian santai aja, biar papa, pak Lauren sama uncle Restu yang urus" ucap Xaveir mengelus rambut Deva. "sekarang pulang ayok, Kenzo udah nangis kata nanny" ucap Selena sok-riang padahal otak dan hatinya sudah campur aduk memikirkan Deva, apalagi setelah bertemu dan mendengar jawaban dari ayah kandung Deva ya...berdoa saja semoga ASI nya tetap lancar jaya agar bisa dipakai menyumpal mulut Kenzo. *** "sayang aku berangkat ya" pamit Xavier kepada Selena yang sedang mengganti bajunya di walk in closet. "sayang, hari ini nggak usah berangkat kantor boleh nggak?" tanya Selena yang tidak jadi mengancing dasternya dan malah berjalan kearah Xavier. "aku masih harus ngobrol sama pak Lauren sama Restu juga" jawab Xavier menangkup wajah Selena dengan kedua telapak tangannya. "ya nanti mereka aja yang di suruh kesini, kamu di rumah aja temenin aku ya?!" rengek Selena memeluk tubuh Xavier yang dibalas dengan senang hati oleh Xavier. "yaudah iya, lepas dulu dong aku mau ganti baju" ucap Xavier yang di jawab gelengen kepala oleh Selena. "kamu kalo lagi manja gini ngingetin aku pas kamu lagi hamil" ucap Xavier sambil mengangkat tubuh Selena untuk di gendongnya ala koala. "yaa mau gimana lagi namanya juga hormon ibu hamil" belas Selena sambil menenggelamkan kepalanya di leher Xavier. "iya aku tau, mangkanya aku nggak ada protes ke kamu" ucap Xavier lalu merebahkan tubuh Selena di atas ranjang mereka berdua. "mau punya anak lagi nggak?" tanya Selena menatap Xavier dengan mata polosnya membuat Xavier gemas sendiri. "nggak usah ngajak-ngajak deh... aku tau kamu masih belum suci" jawab Xavier lalu menggigit dagu Selena gemas. "aku kepengen hamil lagi, tapi Kenzo belom siap jadi kakak" ucap Selena. "ya udah nanti aja, tunggu Kenzo siap" ucap Xavier menarik tubuh Selena untuk duduk di pangkuannya. "aku tambah gendut kan?" tanya Selena yang dijawab gelengan oleh Xavier. "selama aku masih kuat gendong kamu itu artinya kamu masih kurus" jawab Xavier. " lagian mau kamu gendut atau kurus juga nggak ada bedanya, masih pendek, masih cantik, masih mama anak-anak dan yang paling penting masih istri tercinta aku" ucap Xavier memeluk Selena gemas. "aaa...tanggung jawab sekarang, aku baper sama kamu" rengek Selena membuat Xavier bingung, dia harus tanggung jawab model apa lagi?. "tanggung jawab yang gimana lagi? Orang kamu udah aku nikahin" ucap Xavier. "oh iya, lupa hehehe" cengir Selena membuat Xavier hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD