"ma..." panggil Kanzie dengan suaranya lemasnya lalu duduk di sebelah Selena yang duduk di atas sofa sambil mengawasi Kenzo yang sedang bermain puzzle bersama Xavier.
"loh kakak, kok udah pulang sayang? Masih jam 10 loh" jawab Selena melihat Kanzie yang sudah duduk di sebelahnya.
"kepala Kanzie pusing banget ma" adu Kanzie menaruh kepalanya di pundak Selena.
"hah? Let me check" ucap Selena mengecek suhu Kanzie dengan menggunakan tangannya.
"panas pah" adu Selena kepada Xavier yang juga menatap Kanzie dengan raut wajah khawatirnya.
"tadi pulangnya sendirian kak?" tanya Xavier yang diangguki oleh Kanzie.
"papa kan udah bilang kalo sakit itu telfon papa atau kalo nggak sopir, biar bisa dijemput" omel Xavier.
"mama nggak belain, saolnya papa bener." ucap Selena
"mau ke kamar? apa disini? Ke kamar? Oke ke kamar" tanya Selena dan menjawabnya sendiri membuat Kanzie tertawa dengan lemas.
"tenzi tenapa?" tanya Kenzo berdiri lalu berjalan mendekati Kanzie.
"kakak lagi sakit" jawab Selena.
"ouww.."jawab Kenzo menganggukkan kepalanya dengan memanyunkan bibirnya.
Cup
"cepet embuh tenzii.." ucap Kenzo setelah mencium pipi Kanzie. Xavier dan Selena yang melihatnya hanya bisa tersenyum melihat inisiatif Kenzo.
"makasih dedek" jawab Kanzie mengelus rambut Kenzo.
"ayo keatas, mau papa bantuin?" tanya Xavier yang dijawab gelengan kepala oleh Kanzie.
"ayo keatas" ajak Selena yang diangguki oleh Kanzie
***
"kak" panggil Selena memasuki kamar Aslan.
"apa mamaku yang cantik?" jawab Aslan sambil memakai kaos polosnya.
"temenin kak Kanzie yaa" minta Selena
"kakak kenapa mah?" tanya Aslan bingung.
"lagi sakit, mama mau masak dulu. Kak Aslan mau makan apa?" tanya Selena
"mendoan dong mah" ucap Aslan yang diangguki oleh Selena.
"mendoan, sayur sop, sama ayam goreng ukep?!" tanya Selena membuat Aslan menelan ludahnya.
"aa...mama laper ihhh" rengek Aslan membuat Selena tertawa.
"yaudah mama masak dulu, tolong kakak jagain kak Kanzie ya" ucap Selena yang diangguki oleh Aslan.
"kak Kanzieeee woyyy" teriak Aslan sambil membuka pintu kamar Kanzie kasar membuat dua orang yang ada di dalam terlonjak kaget lalu menatap Aslan dengan sinis.
"loh udah ada Deva ternyata" ucap Aslan menatap Deva yang tiduran di atas ranjang Kanzie sambil memainkan hp nya.
"jangan ganggu lagi ranked" ucap Kanzie dengan suara seraknya.
"nggak ngajak ihh..." rengek Aslan membaringkan tubuhnya di tengah-tengah Kanzie dan Deva.
"bentar, tunggu ini selesai" ucap Deva.
"tanziii..." teriak Kenzo dari luar sambil menggedor-gerdor pintu kamar Kanzie.
"bukain dek pintunya, nangis nanti" perintah Kanzie sambil menepuk-nepuk kepala Aslan.
"dihh..." sinis Aslan.
"tenziii looo...ukaaaa ihhh...nanis nii..." ancam Kenzo dari luar membuat tiga orang yang di dalam kamar tertawa.
"sabar loo..." teriak Aslan mengikuti cara Kenzo berbicara.
"aclan loo...ukaa ihhh" rengek Kenzo sambil tetap menggedor-gedor pintu kamar Kanzie.
"bilang apa dulu?" teriak Aslan setelah membuka pintu kamar dan berdiri di tengah-tengah menghalangi jalan Kenzo.
"i lafyuu aclann..." ucap Kenzo tersenyum cerah membuat matanya yang bulat menyipit membentuk bulan sabit.
How cuteee he is...
"hug nya mana?" tanya Aslan yang langsung dituruti oleh Kenzo memeluk kaki Aslan membuat sang empunya tertawa.
"ayo kesana" ajak Aslan yang langsung mengangkat tubuh Kenzo lalu membawanya kearah Kanzie dan Deva.
"Tenziii..." panggil Kenzo setelah sampai di atas kasur dan langsung duduk di atas perut Kanzie.
"tenzii looo"rengek Kenzo menepuk-nepuk d**a Kanzie karena tidak kunjung menghiraukan dia dan malah asik fokus memainkan hp nya.
"Devaa..." teriak Kenzo berusaha menarik perhatian Deva dengan tangannya yang berusaha menjangkau tangan Deva.
"auww..." ringis Kenzo yang malah tersungkur karena tidak bisa menjangkau tangan Deva karena tangannya yang masih pendek.
"aclaaann..." panggil Kenzo menatap Aslan yang tertawa menatapnya dengan pandangan memelas.
"kak Kenzo kasian sampe nyosok gitu" ucap Aslan menarik kaki Kanzie.
"sini dek, sini" ucap Kanzie setelah menekan tombol recall pada gamenya lalu menarik Kenzo untuk duduk di sebelahnya.
"Aydin kemana dek?" tanya Kanzie yang belum melihat batang hidung adik ke tiganya itu.
"nggak tau, palingan lagi nempel ke mama" jawab Aslan yang diangguki oleh Kanzie.
"kak maju kak. Dikit lagi menang" ucap Deva yang diangguki oleh Kanzie langsung mengambil Hp nya dan lanjut memainkan game nya lagi.
"tenzi looo...mau iaatttt" rengek Kenzo merebahkan tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kanzie.
"menang kak, gue MVP hahahaha..." sombong Deva menunjukkan layar hp nya kepada Kanzie.
"satu ronde lagi" ucap Kanzie yang dijawab gelengan oleh Deva.
"capek, lagian lo lagi sakit malah main ML" ucap Deva
"tenzii...mau papaa" ucap Kenzo tiba-tiba sambil mengguncang d**a Kanzie.
"anterin gih dek" ucap Kanzie membuat Deva dan Aslan saling bertatapan bingung, adek siapa yang kakak nya ini maksud?
"oke, kamu disini aja biar aku yang anter" ucap Deva meraih Kenzo lalu menggendongnya.
"kalo kesini bawain makanan yoo" ucap Kanzie yang diangguki oleh Deva, lalu setelah itu pergi menuju lantai satu untuk mencari papanya.
"eva, mamaa..mamaa...ilang talo Tenzie sick" oceh Kenzo di perjalanannya.
" oh yaa? Terus-terus gimana?" tanya Deva memancing Kenzo untuk berbicara karena untuk anak berusia dua tahun menurutnya Kenzo masih terbilang belum cukup lancar berbicara meskipun sudah banyak koso kata yang dia tau. Mama nya bilang itu karena di rumahnya menggunakan dua bahasa ditambah terkadang mama dan para ART sering menggunakan bahasa jawa.
"ndak dimana-mana, Tenzo asih baby ndak tau apa-apa" jawab Kenzo. Kalau begini mengingatkan dia dengan Aydin yang selalu ada saja jawabannya.
"iya masih baby, nggak papa. Nanti kalo udah besar boleh bantuin mama jaga kakak" ucap Deva yang dijawab gelengan kepala oleh Kenzo.
"papa" panggil Deva kepada Xavier yang duduk di pantry menatap Selena yang sedang memasak di dapur tanpa di bantu siapapun karena para ART yang bekerja di rumah mereka lebih memilih pergi ketika Xavier menemani Selena memasak, bukan karena takut tapi lebih ke sungkan ditambah Xavier juga tidak suka kalau quality time nya dengan sang istri di ganggu oleh orang lain.
"apa kak?" tanya Xavier menatap Deva yang berjalan kearahnya dengan menggendong Kenzo si bungsu tengil.
"papaa" oceh Kenzo mengulurkan kedua tangannya kearah Xavier yang langsung disambut senyuman oleh Xavier.
"bontot nya papa" sapa Xavier mengambil alih Kenzo dari gendonga Deva.
"Aydin kemana kak?" tanya Selena menatap Deva,
"lah..nggak tau ma, Deva kira sama papa di bawah" jawab Deva bingung.
"ke rumah Axsen palingan, panggil sana kak bentar lagi makan" ucap Xavier yang daingguki oleh Deva.
Namun belum ada lima langkah dia berjalan Aydin sudah terlebih dahula datang dengan wajah cemberutnya membuat Deva bingung sendiri.
"kenapa dek? Ada yang nakalin kamu?" tanya Deva bingung.
"kak, mama mana?" tanya Aydin, Deva yang ditanya langsung menunjuk dapur.
"mamaaa" teriak Aydin berlari kearah Selena.
"kenapa sayang?" tanya Selena bingung.
"Aydin mau adek cewek kayak Axsen. Harus lebih cantik daipada Bella" ucap Aydin tiba-tiba membuat Xavier dan Selena langsung saling bertatapan.
"emm...Deva..ke atas dulu, byee" ucap Deva cepat langsung pergi meninggalkan area dapur.
"emangnya kakak siap punya adek lagi?" tanya Xavier menatap Aydin.
"iya papa, yang penting adeknya harus cewek" ucap Aydin.
"kalo cowok gimana?"tanya Xavier lagi.
"ya nggak usah punya adek" jawab Aydin enteng.
"kakak, yang menentukan jenis kelamin itu tuhan bukan mama sama papa. Jenis kelamin anak,takdir, jodoh, rezeki, mati itu tuhan yang ngatur bukan mama sama papa." jawab Xavier yang diangguki oleh Selena.
"terus gimana dong? Aydin nggak bisa punya adek cewek?" tanya Aydin sedih.
"yaa bisa, asal rajin sholat terus sering berdoa, siapa tau tiba-tiba mama hamil anak cewek" ucap Xavier
"tapi kak, sebelum itu. Coba kakak tanya ke Kenzo dia mau nggak punya adek?" minta Selena. "dedek masih kecil loh kak, emangnya kakak nggak kasian liat dedek yang masih kecil udah punya adek? dedek kan masih pengen dapet kasih sayang dari mama, papa, sama kakak-kakaknya sepenuhnya." lanjut Selena setelah mengecilakan api kompor dan menatap Aydin dari sebrang pantry.
"inget nggak? Dulu waktu mama sama papa baru nikah, kak aydin sama kak Aslan ngerengek nggak mau punya adek alasannya karena takut kasih sayang mama kebagi dan mama papa setuju sama itu. Mama hamil juga karena kak Aydin mau punya adek dan kakak-kakak yang lain juga setuju." Aydin diam menatap Selena dengan serius.
"satu suara penolakan itu penting buat mama papa, karena kita nggak mau salah satu dari kalian merasa diperlakukan nggak adil." lanjut Selena menatap Aydin halus.
"jangan nunduk sayang, mama papa nggak marahin Aydin. Mama cuman ngasih tau aja" ucap Selena membuat aydin yang menunduk langsung mengangkat kepalanya menatap Selena.
"you wanna hug baby?" tanya Selena yang diangguki oleh Aydin.
"come here" ucap Selena melambaikan tangannya. Aydin yang mendengar ucapan Selena langsung berlari kearah Selena dan memeluknya.
Bersambung...