Ibuku Menjadi pengantin
Leoni terlihat sangat murung hari ini, bagaimana tidak karena hari ini adalah hari pernikahan ibunya yang bernama Gaby. Gaby sudah hampir dua tahun bercerai dari Alex yang merupakan ayah kandung Leoni. Alex menghilang sehari setelah Pengadilan Agama memutuskan hasil perceraian mereka. Leoni berusia tiga belas tahun saat orangtuanya bercerai. Leoni sangat kecewa dengan keputusan orang tuanya, karena Leoni harus berpisah dengan Ayahnya yang sangat dia sayangi. Sedangkan hingga sekarang Alex tidak pernah menemuinya ataupun memberi kabar kepadanya. Hal itu membuatnya semakin terpuruk. Dia harus kehilangan sosok Ayah yang begitu menyayanginya. Sedangkan Gaby tanpa sengaja bertemu dengan teman lamanya Verdo yang sudah lama menyimpan rasa kepadanya. Akhirnya Verdo menyatakan isi hatinya dan melamar Gaby. Hari ini pun menjadi hari bahagia untuk Gaby dan Verdo tapi berbeda dengan Gaby. Suasana di rumah Leoni sangat meriah. Dekorasi bunga yang indah nampak di ruang tamu.
Di kamar Gaby juga didekorasi dengan indah. Warna sprei pink dan bunga yang ditaruh juga menghiasi kamar Gaby bak pengantin baru yang baru kali pertama menikah. Namun ini adalah pernikah Gaby yang kedua kali. Di dalam kamar itu seorang perias juga sedang merias wajah Gaby, walau usianya baru tiga puluh dua tahun tapi wajahnya masih terlihat menawan seperti anak gadis.
" Wah cantik sekali kamu ...Gab" kata Belinda teman Gaby yang berprofesi sebagai Mua.
" Makasih say...sudah membuatku bak permaisuri hari ini" kata Gaby melihat dirinya dicermin.
" Semoga hari ini acaranya berjalan lancar ya" kata Belinda membereskan alat riasnya.
" Amen" jawab Gaby mantap.
" Say... anakmu gimana?" Tanya Belinda.
" Anakku sih...baik-baik saja" jawab Gaby membetulkan rambutnya.
" Maksudku perasaan dia... aku liat dia gak kelihatan dari tadi, memang dia gak mau di make up?" Tanya Belinda membuka tas untuk mengambil gaun Gaby.
" Hmmmm gak tahu juga, aku jarang ngomong sama dia, mau gimana lagi kalau ngomong sama dia tuh bawaannya mau berantem mulu" jawab Gaby.
" Kamu gimana sih?kan kamu ibunya masak kamu tidak tahu perasaannya?" kata Belinda bingung.
" Hmmmmm aku juga bingung soalnya dia lebih deket sama Alex dibanding sama aku, tapi hak asuh jatuh ketanganku, mau tidak mau aku harus merawatnya, sedangkan Alex kaya ditelan bumi, tak pernah ada kabar sama sekali" jelas Gaby kesal.
" Terus... apa Leoni setuju, kamu menikah dengan Verdo?" tanya Belinda.
" Ya dia sih agak gak setuju tapi kan semua keputusan ada ditanganku" jawabnya dengan santai.
" Heran aku sama kamu say...tapi ya sudahlah kamu bahagia aku juga ikut bahagia" kata Belinda merangkul sahabatnya.
Disisi lain Leoni sedang termenung di kamarnya.
" Hmmmmm Ayah kamu dimana?, aku butuh ayah saat ini, tidak ada yang bisa menggantikan ayah dalam hidupku...hiks...hiks...hiks...!?" Tangis Leoni pecah memeluk foto dia dengan Alex.
Leoni membayangkan hari-hari yang bahagia bersama Alex ayahnya. Ketika Alex mengajaknya berlibur ke pantai. Hanya berdua dengan Leoni tanpa Gaby.
Buliran pasir pantai yang putih menambah keindahan pantai. Tampak Leoni dan Alex berlarian diatas pasir pantai. Keceriaan terpancar dari wajahnya yang manis. Alex mengejar Leoni sampai ke tepi pantai hingga akhirnya ombak membasahi baju Leoni.
" Ayah.....!!" Teriak Leoni yang terus berlari.
" Tunggu ayah sayang" jawab Alex senang.
" Kejar aku ayah!" Teiaknya sambil terus berlari.
Alex berlari sangat kencang hingga mendapatkan tubuh anaknya yang langsing.
" Kena kamu ya...hehehehhe" kata Alex tampak puas bisa meraih anaknya.
" Hahahahhaha ayah geli...geli...." kata Leoni berusaha melepaskan diri dari dekapan Alex.
" Mau kemana kamu...anak Ayah yang cantik" kata Alex menggendong Leoni dan membawanya ke arah pantai.
" Byuurr.......!" Terdengar suara air.
Alex melepasakan Leoni ke dalam air.
" Hukk...hukk...hukkk" kata Leoni tersedak air.
" Hhaahaha kamu kalah dari Ayah" kata Alex memegang tangan Leoni.
" Ach Ayah....kan jadi basah semua bajuku" jawab Leoni.
" Maaf kan Ayah...kamu senang kan Ayah ajak ke pantai?" Tanya Alex mengusap lepala anaknya.
" Iya Ayah...Aku sangat senang bisa berlibur bersama Ayah" jawab Leoni memeluk Alex.
Dalam benak Alex dia sangat sedih karena sebentar lagi dia akan berpisah dengan Leoni, ini adalah moment terakhir mereka sebelum berpisah.
Ketika Leoni masih tenggelam dalam bayangan bersama Alex tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu.
" Tok..tok...tok..!!!"
Leoni segera menyeka air matanya dan berkata..
" Iya...silahkan masuk...kamarnya tidak dikunci"
Seorang wanita berambut putih tiba-tiba masuk ke kamar.
Beliau adalah nenek Leoni, Ibu dari Gaby. Bu Rita, seorang Wanita yang bijaksana dan penuh kasih sayang.
" Len... Nenek boleh masuk?" Tanya Bu Rita.
" Silahkan masuk Nek..." jawab Leoni sedih.
Bu Rita mendekati Leoni dan duduk di sampingnya.
" Kamu belum siap-siap?" Tanyanya tersenyum dan membelai rambut Leoni.
" Hmmmm Leoni gak mau ikut acara Nek" jawab Leoni menyandarkan kepalanya di bahu Bu Rita.
Nenek bisa merasakan kesedihan kamu sayang, kamu yang sabar ya?" Pungkas Bu Rita meneteskan air mata melihat kesedihan cucunya.
" Nek....boleh saya bertanya?" Kata Leoni.
" Iya sayang mau tanya apa?" Jawab Bu Rita menatap wajah Leoni.
" Sebenarnya Leni anak Ibu Gaby bukan Nek?" Tanyanya penasaran.
" Kenapa kamu tanya begitu?" Jawab Bu Rita sedih.
" Nek....Ibu sepertinya tidak menyayangimu, dari kecil Ibu selalu saja sibuk dengan pekerjaannya tanpa memikirkanku, ketika saya bangun Ibu sudah berangkat kerja, bahkan pulang pun kalau saya sudah tidur, hanya Ayah yang selalu menemaniku. Ketika saya perlu sesuatu Ayah orang pertama yang selalu ada untukku, tapi sekarang Ayah entah dimana.....hatiku sangat hancur... malah sekarang Ibu menikah dengan orang lain" jelas Leoni meneteskan air mata.
" Hmmmmmmmm... Nenek tahu posisimu saat ini sangat sulit, harus menerima Ayah baru di hidupmu, percayalah ini semua sudah menjadi jalan hidup kita, kamu harus menjadi wanita yang kuat" jawab Bu Rita mencoba menenangkan hatinya.
" Tapi kenapa begitu mudah Ibu melupakan Ayah???kenapa Ibu tidak mengerti dan peduli dengan perasaanku!!?" Kata Leoni sedikit kesal dan marah dengan sikap Gaby.
" Mau bagaimanapun juga Gaby adalah Ibumu...orang yang mengandung dan melahirkanmu... hormati dan sayangilah dia" kata Bu Rita menasehati.
" Leni sudah berusaha Nek...tapi tetap saja...Ibu selalu marah ketika saya menanyakan sesuatu ataupun ketika saya melakukan sesuatu, semua serba salah" kata Leoni bingung dan sedih.
" Tetep sabar....ada waktunya nanti kamu akan mengerti, yuk siap-siap, sebentar acaranya mau dimulai" kata Bu Rita mengusap air mata Leoni dan menepuk bahunya.
" Hmmm baiklah Nek, nanti Leni keluar" jawabnya terpaksa.
" Nenek ke depan dulu menemui tamu, kamu nanti menyusul ya" kata Nenek tersenyum padanya.
Leoni hanya menganggukan kepalanya dan segera mengganti pakaiannya. Walaupun kakinya berat untuk melangkah tapi dia tetapengikuti acara pernikahan Ibunya.
Di luar sudah terlihat banyak tamu berdatangan, bahkan mempelai pria dan keluarganya terlihat sudah datang untuk menunggu acara pemberkatan nikah. Semua tamu sudah berada di tempat duduknya masing-masing tinggal menunggu mempelai perempuan hadir.
Tampak Berdiri dengan kemeja dibalut jas hitam, membuat aura ketampanannya keluar duduk menunggu Gaby datang. Pembawa acara segera memulai acara, dan mempersilahkan mempelai perempuan untuk segera menuju ke pelaminan. Gaby pun keluar di gandeng Ayahnya Boby, berjalan dengan perlahan-lahan diatas karpet merah, dibelakangnya terlihat Bu Rita menggandeng Leoni dengan gaun merah muda yang membuat penampilannya sangat anggun. Verdo lebih tertarik dengan penampilan Leoni daripada Gaby.
" Hmmm Cantik sekali" gumam Verdo dengan mata yang tak berkedip.
Acara pun berjalan dengan lancar semua tampak bahagia, tapi berbeda dengan Leoni, dibalik senyumnya yang menawan dia menyimpan banyak kesedihan.
Tamu-tamu undangan juga sangat menikmati acara pernikahan Gaby Ibu Leoni. Gaby dan Verdo begitu mesra dan tampak serasi. Pesta pernikahan yang tidak kalah meriah dengan pesta lain. Gaby harus berpura-pura tersenyum sepanjang acara, seolah-olah dia kesepian ditengah-tengah keramaian pesta. Ia ingin sekali pergi ke kamarnya, tapi dia tak bisa karena harus menemani Bu Rita.
Pun selesai, para tamu sudah pulang. Tinggal keluarga besar Gaby.
Semua anggota keluarga masih berada di ruang tamu, mereka tampak lelah. Banyak kado-kado yang di dapat oleh Gaby. Leoni masih tetap murung ketika dia mau ke kamar mandi tamu. Dia berpapasan dengan Verdo. Verdo tersenyum padanya tapi ia mengabaikan senyuman Verdo.
Verdo langsung berbalik kembali ke ruang tamu untuk berkumpul bersama keluarga besar Gaby.
" Selamat datang di keluarga kami" kata Boby ayah Gaby.
" Terimakasih Ayah sudah mau terima saya di keluarga ini" jawab Verdo duduk di samping Gaby.
" Makasih ya sayang mau menerimaku apa adanya" sahut Gaby dengan muka yang gembira.
" Semoga kamu bisa menjadi ayah yang baik buat Leoni" kata Bu Rita penuh harap.
" Saya akan usahakan jadi Ayah yang baik buat Leoni Bu" jawab Verdo yakin.
Sementara mereka bercengkrama di ruang tamu, Leoni langsung kembali ke kamarnya. Dia langsung mengunci kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Hmmm capek sekali" gumam Leoni.
Dia terbaring di atas kasur, dia membayangkan wajah Verdo...
" Gak ada yang bisa menggantikan posisi ayah pokoknya gak bisa".
Tanpa terasa malam semakin menjelang jam dinding menunjukkan pukul 22.30, Gaby dan Verdo bergegas ke kamar, begitu pula dengan anggota keluarga yang lain, berpamitan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing, ada juga yang menginap. Di kamarnya banyak kado-kado dari teman-teman Gaby, maupun teman-teman Verdo.
" Hmmm banyak banget kadonya...kita tidur dimana sayang?" Bisik Verdo mencium leher Gaby.
Gaby tersipu malu.
" Ih geli tahu Do" kata Gaby menaruh bunga di meja rias.
Verdo segera melepas sepatunya dan jasnya kemudian berbaring dengan memakai kemeja putih.
" Kamu tidak ganti baju dulu" kata Gaby melepas sepatu dan mencoba melepas kalung dilehernya.
" Sini biar aku bukain kalung dan bajunya" rayu Verdo.
" Eh...gak usah aku bisa sendiri kok" jawab Gaby mukanya memerah karena malu.
" Kan kita sudah sah jadi suami istri, gak perlu malu..." kata Verdo berjalan ke arah Gaby kemudian memeluknya sambil melihat di cermin rias. Gaby masih kesulitan melepas kalungnya.
" Sini aku bukain" kata Verdo membuka kalung Gaby kemudian memeluknya kembali.
Mereka saling menatap ke arah cermin dimana ada sepasang pengantin baru yang benar-benar serasi. Badan Verdo yang gagah dengan rambut yang rapi,memeluk Gaby yang langsing walaupun sudah pernah melahirkan anak tubuhnya tetap ideal bak gadis yang belum pernah disentuh laki-laki.
" Kamu sangat cantik hari ini" bisiknya penuh dengan rayuan dan gairah yang menggebu-gebu.
" Terus kalau hari-hari biasa memang gak cantik" balas Gaby malu.
" Kamu tetap cantik" bisiknya dengan lembut tangannya meraih tangan Gaby.
Jantung Gaby berdebar sangat kencang, wajahnya mulai memerah, sedangkan Verdo tidak sabar untuk menghabiskan malam pertama mereka.
Verdo pelan-pelan membuka resleting bagian belakang gaun Gaby, debaran jantungnya semakin kencang, Verdo semakin b*******h melihat bagian belakang tubuh Gaby yang putih mulus,dia terus membuka resleting gaun Gaby. Tapi tiba-tiba Gaby menghentikan tangan Verdo.
" Sebentar..." kata Gaby memegang tangan Verdo.
" Kenapa sayang?" Tanya Verdo berbisik dan terus mencium leher Gaby untuk membangkitkan gairah Gaby.
" Aku mau ke kamar mandi dulu, mau buang air kecil dan menghapus make up dulu...sabar ya...Do" jawab Gaby langsung meninggalkan Verdo.
" Hufhhh..." kata Gaby menutup pintu kamar mandi.
"Kenapa aku deg-degan begini" pikir Gaby mulai menghapus make punya.
Verdo sedikit kecewa langsung kembali berbaring di ranjang memegang sekuntum bunga mawar merah yang ada di meja samping tempat tidur. Saat menunggu Gaby, Verdo merasa haus, dilihatnya tidak ada air minum di kamar, dia bangkit dari tidurnya dan segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
" Gak ada minum, hmm...aku ambil di dapur deh" pikir Verdo langsung keluar kamar.
Di kamar lain, Leoni tampak sudah berganti pakaian, dia sudah berganti dengan gaun tidur, badanya sangat berisi dia memakai gaun yang pendek jadi menambah kemolekan tubuhnya.
" Hufh...panas sekali hawanya, jadi haus" gumamnya langsung pergi keluar kamar.
Secara bersamaan Verdo dan Leoni sama-sama pergi ke dapur. Kamar Gaby dan Leoni bersebelahan, namun Verdo sudah ada di dapur ketika Leoni keluar kamar. Lampu di luar kamar agak redup, ruang tamu sudah dimatikan, bahkan dapurpun juga sudah dimatikan. Ketika Leoni hendak ke dapur tiba-tiba dia menabrak Verdo, dan tanpa sengaja bibir Verdo dan Leoni bersentuhan. Mereka sama-sama terdiam dan terpaku, air yang ada di dalam gelas yang dipegang Verdo tumpah mengenai baju Leoni.
" Aduh.....!!!" Teriak Leoni pelan.
" Hmmmm ngapain Om disini!" Kata Leoni agak kaget.
" Om hanya ambil minum kok, lupakan yang tadi ya" kata Verdo mengingatkan kejadian yang tak segaja, dan segera bergegas untuk kembali ke kamar.
Leoni memegang bibirnya dengan jarinya kemudian mengambil tisu dan membersihkannya.
" Ich......apaan sih....!" Pikir Leoni jijik dan segera mengambil air minum dan membawa ke kamarnya.
Leoni masih memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.
" Bisa-bisanya sih...kejadian kaya gini!" Gumamnya kesal.
" Pokoknya aku harus jaga jarak sama itu orang!" Kata Leoni kesal dan segera membaringkan tubuhnya, dan menutup wajahnya dengan bantal kemudian tidur.
Di kamar Gaby...Gaby sudah berganti pakaian dengan baju tidur unggu yang transparan, membuat tubuhnya benar-benar kelihatan kemolekannya, buah dadanya yang besar tampak terlihat menonjol karena tidak memakai dalaman. Verdo yang baru masuk ke kamar melihat Gaby yang berbaring dengan gaya menggoda, dia segera melangkahkan kakinya begitu cepat dan segera menghampiri Gaby,
" Kamu sexi sekali" bisiknya menghelakan rambut Gaby yang terurai panjang.
Gaby mengambil setangkai bunga mawar dan membelai wajah Verdo dengan bunga itu. Verdo semakin b*******h dan tidak sabar untuk menunjukkan kejantanannya kepada Gaby. Verdo memegang tangan Gaby, sementara tangan yang lain mematikan lampu kamar, hingga hanya lilin yang menerangi mereka berdua, mereka saling b******u dan melampiaskan gairah mereka. Tapi saat mau melampiaskan kejantanannya Gaby berbisik..
" Tidak sekarang sayang..."
" Kenapa Sayang..???" Tanya Verdo sambil terus mencium tubuh Gaby.
" Aku.....aku...lagi datang bulan xixixi" jawab Gaby tertawa lirih. Sontak Verdo terdiam dan membaringkan tubuhnya yang sudah telanjang dan terdiam.
"Maaf ya....sayang" kata Gaby mencium kening Verdo.
" Hmmmm..." menoleh kearah Gaby.
Gaby tersenyum tipis.
" Baiklah...aku akan bersabar" kata Verdo agak kecewa dan segera tidur.
Gaby kembali menyalakan lampu kamar untuk membereskan Gaun dan baju yang berantakan. Dia orang yang sangat perfeksionis, tidak suka jika kamarnya berantakan. Dia memberikan kado-kado dan disusun dengan rapi di sebelah kanan kursi sudut yang ada di kamarnya.
" Selesai juga...hoam...ngantuk..capek.." kata Gaby.
Dia melihat Verdo sudah tertidur pulas, dia menghampiri Verdo menarik selimut untuk menutup tubuh Verdo yang telanjang d**a, dan mencium keningnya, kemudian dia bergegas untuk tidur. Rumah Gaby tampak sepi karena semua anggota keluarga yang menginap sudah tertidur pulas. Leoni masih belum bisa tidur, dia membolak balikkan tubuhnya, terus membayangkan kejadian yang tidak mengenakan untuknya. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul satu pagi.
" wah gawat udah pagi...bisa-bisa aku terlambat bangun" pikirnya, sambil berusaha memejamkan matanya, dan akhirnya tertidur juga.
Keesokan paginya... Gaby sudah bangun lebih awal dari yang lain, dia menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga, dia membuat roti bakar dengan selai kacang coklat kesukaan Verdo. Dia juga membuat air minum untuk semuanya.Dia menata makanan dan minuman dengan sangat rapi dan bersih hingga akhirnya Bu Rita dan Pak Roby terbangun dan langsung duduk di meja makan.
" Selamat Pagi Yah..Bu..." sapa Gaby dengan senyum yang berseri.
" Pagi Gab..Kamu tidak berubah...anak Ayah yang paling rajin" jawab Pak Roby memuji Gaby.
" Pagi juga sayang" jawab Bu Rita tersenyum.
" Verdo mana?" Tanya Pak Roby.
" Dia masih tidur pulas" jawab Gaby menuang air minum untuk Ayah dan Ibunya.
" Oh...dia kecapekan ya" rayu Pak Roby.
" Iya dia capek jadi biarin saja...nanti kamu antar makanan ke kamar Gab" suruh Bu Rita.
" Baik Bu.." jawabnya manis.
" Leoni belum bangun?" Tanya Pak Roby sambil makan rotinya.
" Sepertinya belum juga" jawab Gaby menyiapkan roti dan s**u untuk dibawa ke kamar.
" Hari ini dia sekolah kan?" Tanya Bu Rita.
" Iya Bu, tapi kalau dia capek biar dia istirahat dulu di rumah" jawab Gaby.
" Saya antar makanan untuk Verdo dulu ya Pak..Bu.." katanya kembali.
Pak Roby dan Bu Rita mengangguk sambil menikmati sarapan paginya.
Sementara di kamar Leoni sudah siap memakai seragam sekolahnya, memakai sepatu dan segera ke luar kamar untuk sarapan. Dilihatnya Nenek dan Kakeknya sedang duduk di meja makan.
" Pagi Kakek,,Nenek..." sapa Leoni mencium pipi Pak Roby dan Bu Rita. Mereka berdua tersenyum melihat cucunya yang kembali ceria.
" Pagi sayang...yuk sarapan dulu" ajak Pak Roby.
" Baru saja kami membicarakan kamu, kami kira kamu capek dan tidak masuk sekolah hari ini" kata Bu Rita menyiapkan roti dan s**u untuk sarapan Leoni.
" Ya sekolah dong Kek..Nek..udah mau Ujian, jadi gak boleh bolos kan" jawabnya sambil meminum s**u.
" Wah cucu Kakek memang hebat, kamu sama seperti Ibu kamu" puji Pak Roby.
" Iya...Ibu kamu selalu juara satu ketika sekolah, seperti kamu persis" sahut Bu Rita.
" Hmm iya tha...tapi saya tidak pernah dapat juara satu, hanya masuk sepuluh besar" kata Leoni memakan rotinya.
" Berarti kamu harus lebih giat lagi belajarnya biar bisa juara" kata Pak Roby memberi semangat.
" Nanti saya usahakan Kek, Leni berangkat dulu ya Kek,,,Nek,,, " kata Leoni mencium tangan Kakek Neneknya.
" Kamu tidak pamit Ibumu?" Kata Bu Rita.
" Hmmm tolong bilang Ibu saya sudah berangkat ya Nek" jawabnya langsung segera pergi.
" Mungkin dia gak mau menganggu Ibu dan Ayahnya" sahut Pak Roby.
" Hmmm mungkin iya, saya harap hubungan mereka berdua baik-baik saja" kata Nenek agak sedih.
Di kamar Gaby membawa sarapan untuk Verdo. Ketika masuk ke kamar Gaby masih melihat Verdo tidur pulas, dia membuka tirai di jendela kamarnya sehingga sinar matahari masuk mengenai Verdo, diapun terbangun dan mengusap matanya.
" Hoaaamzz.....sudah pagi ya..." kata Verdo melihat Gaby disampingnya.
" Iya Sayang,,,,selamat Pagi" sapa Gaby dengan senyum dan menaruh makanan di meja samping tempat tidur. Verdo langsung menarik Gaby sehingga dia duduk dipangkuan Verdo.
" Selamat pagi Sayang.." bisik Verdo sambil mencium pipi Gaby.
" Eh kamu ini" jawab Gaby manja.
Mereka saling menatap satu sama lain, setelah beberapa detik mereka saling berciuman. Kemesraan terlihat jelas dari sorot mata mereka. Sementara mereka berciuman tiba-tiba ponsel Verdo berdering,,,hingga mereka berhenti berciuman.
" Hmmm siapa sih mengganggu saja" kata Verdo mengambil ponselnya. Dilihatnya panggilan dari perusahaan milik Verdo. Dia adalah pemilik perusahaan jasa di kotanya, dia juga memiliki banyak karyawan.
" Halo....selamat pagi Pak" terdengar suara yang lembut dan sopan, dia adalah Sovia sekretaris Verdo. Dia memiliki tubuh yang feminim dan juga cakap dalam bekerja, hingga menjadi tangan kanan Verdo.
" Halo Sovi....ada apa?" Tanya Verdo.
" Pak... hari ini Pak Jason mau datang untuk survey kerjasama, apa Bapak bisa datang?" Jelas Sovia.
" Kamu tidak bisa menundanya?" Jawab Verdo.
" Beliau sementara menuju kesini Pak, jam Sembilan nanti sampai" kata Sovia kembali menjelaskan.
" Hmmm oke nanti saya usahakan datang" jawab Verdo.
" Iya Pak... terimakasih" kata Sovia menutup teleponnya.
" Siapa sayang yang menelpon" tanya Gaby.
" Sovia, Sekretaris aku di kantor, ada klien mau datang, aku harus menemuinya untuk tanda tangan kontrak" jelas Verdo.
" Jadi hari ini kamu masuk kerja?" Tanya Gaby sedih.
" Iya sayang gak apa-apa ya?, Nanti kita atur waktu untuk bulan madu" jawab Verdo.
" Oke baiklah...Kamu sarapan dulu gi...baru mandi" kata Gaby beranjak dari tempat tidur.
" Oke... terimakasih sudah membuatkan sarapan untukku" kata Verdo meminum s**u dan memakan roti buatan Gaby.
Gaby menyiapkan pakaian untuk Verdo. Selesai sarapan ia langsung ke kamar mandi.
Verdo sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Dia bersiap untuk pergi ke kantor.
"Hmmmm Pak Bos,,,,super sibuk ya...sampai baru nikah saja sudah harus pergi ke kantor" kata Gaby membetulkan kerah baju Verdo.
" Ini kesempatan yang besar agar perusahaan semakin maju" jawab Verdo mencium kening Gaby.
" Oke kalau begitu,,,,saya sudah bawakan bekal untuk makan siang jangan lupa makan ya" kata Gaby memberikan tas untuk Verdo.
" Terimakasih sayang...begini ternyata punya istri...apa-apa sudah ada yang nyiapin" kata Verdo tersenyum manis.
" Hehe.... pulang kantor langsung pulang ke rumah ya... aku masih mau berduaan denganmu" kata Gaby manja.
" Kamu ini baru ditinggal ke kantor saja sudah bingung, iya...nanti.aku langsung pulang kok" kata Verdo memakai jam tangannya.
" Aku pergi dulu ya..." pamit Verdo.
" Iya sayang hati-hati ya..." mencium tangan Verdo.
Mereka berdua melangkah ke luar kamar. Sampai di teras terlihat Pak Roby sedang membaca koran, sedangkan Bu Rita menyiram tanaman.
" Selamat pagi Pak Bu" sapa Verdo dengan ramah.
" Pagi...Pagi...loh kamu kok udah rapi...apa kamu mau ke kantor?" Tanya Pak Roby.
" Iya Pak...ada tandatangan kontrak dengan klien, saya berangkat dulu ya Pak" jawab Verdo mencium tangan Pak Roby.
" Lah...masak baru jadi pengantin sudah masuk kerja?" Sahut Bu Rita.
" Iya Bu...ada hal yang penting jadi harus masuk" jawab Verdo menghampiri Bu Rita.
" Walah...benar-benar sibuk ya kamu...ya udah hati-hati ya...cepat pulang" kata Bu Rita.
" Iya Bu...saya berangkat dulu" pamit Verdo mencium tangan Bu Rita.
"Hati-hati ya sayang...ini kunci mobilnya" kata Gaby memberikan kunci mobil untuk Verdo.
" Terimakasih sayang..." mencium kening Gaby masuk ke dalam mobil.
Gaby...Pak Roby...dan Bi Rita melambaikan tangan ke arah Verdo, Verdo membunyikan klakson mobilnya lalu segera mengemudikan mobilnya menuju ke kantor.
Ketika Gaby mau masuk ke rumah...
" Gab...besok Ayah dan Ibu mau pulang ke Surabaya, kamu gak apa-apa kan kami tinggal" kata Pak Roby.
" Iya Pak gak apa-apa, kan kami di rumah bertiga" kata Gaby tersenyum.
" Kamu tidak mau ambil asisten rumah tangga?" Tanya Bi Rita.
" Tidak usah Bu, saya bisa kok kerjaan pekerjaan rumah" jawab Gaby.
" Kamu harus perhatikan juga Leoni,,,, jangan berantem...dia butuh kasih sayang" kata Bu Rita.
" Iya Bu...saya akan usahakan..." jawab Gaby.
" Baik-baiklah kalian..." sahut Pak Roby.
Pak Robby dan Bu Rita harus kembali ke Surabaya, selama ini mereka tinggal di Surabaya, tempat kelahiran Pak Roby. Sedangkan rumah yang ditempati Gaby adalah rumah Gaby yang dibeli dengan hasil jerih payahnya. Sedangkan mantan suaminya, Alex dia adalah seorang karyawan biasa, pekerjaannya lebih rendah dari Gaby, itu yang menyebabkan keretakan rumah tangga mereka.
Pertemuan Gaby dan Alex tidak disengaja.
Gaby waktu itu sedang pergi ke bar tempat Alex bekerja. Karena Gaby mabuk jadi Alex menolong Gabu untuk membawanya pulang ke rumahnya.
Sampai dirumahnya Gaby tiba-tiba membuka pakaiannya dan hanya memakai pakaian dalam. Alex yang waktu itu menolong merasa b*******h melihat kemolekan tubuh Gaby. Gaby tidak sadar dengan apa yang dilakukannya...dia hanya melihat seorang pria yang agak tampan dengan tubuh yang kekar ada di hadapannya. Gaby merayu Alex, hingga akhirnya diluar kesadaran Gaby dia melakukan hubungan suami istri. Keseesokan harinya Gaby bangun dengan kepala pusing. Dia kaget karena disampingnya ada seorang pria tanpa busana ada di dekatnya. Gaby tambah kaget ketika dia melihat dirinya tidak memakai sehelai benang pun ditubuhnya. Gaby teriak histeris dan segera mengusir Alex dari rumahnya. Selang beberapa bulan Gaby ternyata hamil, mau tidak mau dia harus menikah dengan Alex. Pernikahan yang tidak di dasari rasa cinta. Itu penyebab utama kenapa Gaby tidak begitu sayang dengan Leoni. Jika dia melihat Leoni dia teringat dengan kejadian yang menghancurkan hidupnya.
Leoni tidak pernah tahu alasan Ibunya tidak menyayanginya, dia hanya mendapat kasih sayang dari Alex. Hingga akhirnya Gaby bertemu dengan Verdo, sahabat lamanya yang juga memiliki rasa kepada Gaby. Karena rasa bencinya kepada Alex, ia selingkuh dari Alex dan mencari banyak alasan agar bisa bercerai dari Alex.
Setelah bercerai dia merasa senang karena akhirnya dia terlepas dari ikatan yang tidak diinginkannya, akan tetapi hal asuh Leoni jatuh ke tangan Gaby. Walaupun ada Leoni Gaby tetap saja menikah dengan Verdo, pria yang selama ini dia cintai tanpa menghiraukan perasaan Leoni.
Di sekolah Leoni memiliki tiga sahabat, Aris,Dian dan Tama. Mereka berteman sejak duduk di bangku sekolah dasar. Leoni berangkat sekolah menggunakan angkutan umum, jarak dari rumah ke sekolah bisa ditempuh dengan waktu dua puluh menit. Leoni berangkat lebih awal dari teman-temannya. Hari ini di sekolah Leoni sedang ujian kenaikan kelas, dia duduk di bangku kelas sepuluh. Pagi ini hati Leoni sedang tidak baik, dikarenakan pernikahan Ibunya kemaren.
" Pasti aku diledek nich sama temen-temenku" pikir Leoni masuk ke gerbang sekolah, di gerbang sekolah ada Pak Mamat yang menjadi Satpam di sekolah.
" Pagi neng Leni" sapa Pak Mamat dengan ramah.
" Pagi Pak...sekolah masih sepi ya?" Kata Leoni dengan semangat, walau hatinya sedang sedih dia tidak mau menunjukkan di depan orang.
" Wah ya biasa tho...kan masih pagi, neng Leni yang biasa datang paling awal" jawab Pak Mamat.
" Hehe...owh iya ya...oke saya masuk dulu ya Pak" kata Leoni meninggalkan Pak Mamat.
" Siap neng...selamat belajar" kata Pak Mamat.
Kelas Leoni ada di lantai dua, dia harus menaiki tangga untuk ke kelasnya, dilihat suasana sekolah masih sangat sepi. Dia terus melangkahkan kakinya, menaiki tangga demi tangga sampai akhirnya sampai di kelasnya. Saat masuk di kelas dia melihat ada seorang murid yang tidak dikenalnya. Gumam Leni dalam hati..
" Nie anak siapa lagi...kok ada di kelas ku"
Ketika Leoni masih berdiri di depan pintu anak itu menyapanya.
"Hai....salam kenal aku Gerald...pindahan dari SMA Bangsa" kata anak itu sambil berdiri dan tersenyum.
" Oooo kamu anak baru" kata Leoni cuek langsung duduk di bangku baris ke dua persis di samping Gerald. Dia menaruh tasnya di mejanya kemudian mengambil ponselnya dan melihat chat.
Sedangkan Gerald diam sambil membaca buku Tata tertib yang ada di sekolah, dia berpostur tinggi dan berkacamata. Selang beberapa menit teman-teman sekelasnya mulai berdatangan, begitu pula dengan tiga sahabatnya, mereka datang bersamaan.
" Jie yang punya ayah baru" ledek Aris.
" Kamu apaan sih biasa aja kali" jawab Leoni dengan muka murung.
"Dasar si tengil satu ini,,,udah gak usah di gubris say" sahut Dian meletakkan tasnya dan duduk di samping Leoni.
" Tama mana?" Tanya Leoni.
" Tuh dia tadi kebelet jadi ke kamar mandi dulu...tuh orangnya" jawab Dian menunjuk ke arah Tama, yang baru masuk.
" Ada yang kangen sama aku ya...?" Kata Tama percaya diri.
" Haha PD sekali kamu ini" kata Leoni tersenyum.
" Weh siapa tuh anak baru ya" kata Tama melihat Gerald. Pandangan mereka menuju ke Gerald. Gerald pun melambaikan tangan dan mukanya menunduk tanda memberi hormat.
" Hai..." kata Gerald tersenyum.
" Hihihi...dia kayanya jenius tuh" bisik Dian.
" Stttttttt gak usah dipikirin" jawab Leoni.
" Cocok tuh jadi pacarnya Dian" ledek Aris.
" Hahahaha betul-betul" sahut Tama.
" Kalian apaan sih.. belajar kan hari ini ujian, nanti kalian gak naik kelas baru tahu rasa" jawab Dian.
" Hahahh gampang kan nanti bisa nyontek Leni,,,,iya gak Len" sahut Tama.
" Idih...ogah ya..." kata Leoni mengambil bukunya. Bel masuk berbunyi mereka bersiap untuk menghadapi ujian. Suasana kelas sangat sunyi karena murid-murid sedang fokus mengerjakan ujian. Leoni tampak tidak mengalami kesulitan, dia lebih awal selesai mengerjakan di banding teman-temannya. Leoni menaruh lembar jawaban di meja guru kemudian keluar kelas, untuk ke kantin sambil menunggu sahabatnya selesai mengerjakan soal ujian.
Di kantin Leoni memesan mie untuk dia makan, karena daripagi dia belum sarapan.
" Bu...Mie gelasnya satu sama teh hangat ya Bu" kata Leoni memesan makanan kepada Ibu Kantin.
" Siap neng...tunggu sebentar ya Ibu buatkan" kata Bu Kantin kembali ke dapur untuk memasakkan pesanan Leoni.
" Oke Bu, Leni tunggu di sana ya Bu" jawab Leoni menuju ke meja yang ada di kantin. Leoni duduk sambil memainkan Ponselnya. Tiba-tiba badan Leoni terasa lemas dan keringatnya bercucuran.
" Hmmm kok gak enak ini badan, apa karena telat makan ya?" Pikir Leoni.
Ketika sedang duduk dengan kondisi badan yang tidak enak, tiba-tiba Gerald si murid baru datang ke Kantin, dia melihat Leoni sedang memegang kepalanya...wajahnya terlihat sangat pucat, Gerald langsung menghampirinya.
" Kamu kenapa kok mukamu pucat" sahut Gerald.
Leoni hanya meliriknya dan berkata...
" Hmmm jangan sok tahu deh kamu..., sana deh menjauh dariku" sikapnya jutek.
" Kan saya hanya tanya...ya sudah saya duduk di sana ya" kata Gerald duduk di meja samping Leoni.
Gerald menaruh bukunya kemudian memesan makanan.
" Permisi Bu...." kata Gerald
" Iya dek..anak baru ya...kok saya tidak pernah melihat kamu" tanya ibu kantin.
" Iya Bu...perkenalkan nama saya Gerald..." jawab Gerald ramah.
" Owh iya ya...mau pesan apa?" Tanya Ibu Kantin.
" Saya mau pesan nasi goreng sama es teh Bu" kata Gerald.
" Oke...tunggu sebentar ya...saya mau antar pesanan neng Leni" kata Ibu Kantin.
" Oke Bu..." kata Gerald.
" Hmmm namanya Leni" pikir Gerald dalam hati.
Bu Kantin mengantarkan pesananan Leoni ke mejanya.
" Silahkan neng dimakan dan diminum" kata Ibu Kantin.
" Oiya Bu...terimakasih ya Bu" kata Leoni tersenyum menahan sakitnya.
" Sama-sama neng" jawab Ibu Kantin kembali ke tempatnya untuk membuatkan pesanan Gerald. Dari jauh Gerald terus memperhatikan Leoni, Leoni tetap bersikap cuek dan tidak mau membalas senyumannya saat mereka bertatapan mata.
Ketika Leoni menyantap makananya, teman-temannya datang menghampiri.
" Wah enaknya makan apa Len" tanya Aris langsung duduk di sampingnya.
" Kamu apaan sih...geser sana" kata Leoni menggeser Aris kesamping.
" Hahahaha...Kamu tuh senang kalau buat Leni marah" sahut Tama tertawa.
" Kalian mau pesan apa biar aku traktir" kata Dian.
" Wah kamu baik banget....lagi banyak uangnya, biasa aku pesen nasi goreng sama minum soda gembira" kata Aris.
" Iya...punyaku sekalian kamu bayarin ya" kata Leoni sambil memakan mie gelasnya.
" Oke...tenang saja, nanti aku bayarin kok, kamu Tama mau pesen apa?" Kata Dian.
" Aku kaya Leoni saja..mie gelas minumnya soda gembira sama dengan Aris" jawab Tama.
" Idih ngikut-ngikut" sahut Aris.
" Oke aku pesanin ya" kata Dian menuju ke dapur Kantin untuk memesan makanan mereka.
Sementara itu Tama dan Aris terus meledek Leoni.
" Kami kok nggak diundang kepernikahan, Ibumu?" tanya Aris.
" Iya nih kamu gak ngundang-undang kita, kan lumayan makan gratis hahahaha bercanda Len" kata Tama tertawa.
" Kalian apaan sih...ngapain aku ngundang temen-temenku, bodo amat deh Ibuku mau nikah sama siapa,bukan urusanku" jawabnya kesal.
" Hmmm aku dengar-dengar Ayah Tiri kamu punya perusahaan ...kalau aku jadi kamu langsung deh aku minta rumah baru...mobil...Hp Baru..." kata Tama.
" Sok tahu kamu Tam... kalau kamu mau tukeran posisi sama aku boleh kok dengan senang hati hahahaha..." kata Leoni.
" Hahahhahaha kena kau Tam...." sahut Aris tertawa terbahak-bahak.
" Ogah aku...jadi Leoni kayaknya keluarganya tuh gak peduli banget sama Leoni" kata Tama.
" Idih...siapa bilang...Kakek Nenek sayang kok sama aku" jawab Leoni.
" Kalian lagi ngomongin apa sih, ketawanya itu loh...sampai ke ujung sekolah kedengaran" kata Dian ikut duduk bersama mereka.
" Kita lagi ngomongin nikah!" Jawab Aris.
" Apa!!!!! Kamu mau nikah sama siapa Ris...inget...inget kamu kan masih sekolah..." teriak Dian.
" Ih dasar bawel.....jangan keras-keras....!!" Kata Aris membungkam mulut Dian.
" Hahahhahaha........kalau dengerin cerita itu jangan langsung ditelan mentah-mentah, Aris kamu percaya" kata Tama.
" Hehehehehhe...iya Dian...Kamu ini seperti baru kenal Aris saja" sahut Leoni.
" Hufhhh dasar Aris...." kata Dian kesal.
Sementara itu Gerald terus memperhatikan mereka berempat. Dia rasanya ingin bergabung dengan mereka, tapi apalah daya mereka berempat merupakan siswa yang terkenal dengan keisengannya. Siapapun yang mendekat pada mereka pasti dikerjai.
" Eh...aku liat dari tadi si anak baru itu memperhatikan kita terus" kata Tama.
" Husshhh biarin saja..." kata Dian.
" Gak apa-apa mungkin dia kagum liat Leni yang gemoiii" jawab Aris.