° Mantan Tersayang - 2 °

1508 Words
Author Pov Siang itu Aqillah, Timmy dan Laras tiba di bandara Husein Sastranegara. Mereka menunggu jemputan Daryl yang kemarin setelah makan malam langsung berangkat kembali ke Bandung. Semua persiapan untuk pernikahan Daryl dan Laras telah 90 persen selesai, tinggal menunggu hari H-nya saja. "Ya ampun Ras, mana lagi calon laki lo! Berat nih gue gendong Timmy." "Yaelah kau ini Qill, ngendong anak kau bae dak berenti lagi ngoceh." (Yaelah kamu ini Qill, gendong anak kamu aja nggak berenti lagi ngomel.) "Bukan gitu dodol ini itu berat banget. Lagian Timmy copyan Ibra banget sih. Nggak ada gitu turunannya dari gue." gerutunya kesal. Meski kesal wajah anaknya persis Ibra tapi cinta Aqillah pada putri semata wayangnya ini begitu besar. "Mudahlah itu Qill, kau buat lagi bae anak dengan Ibra, tapi buat yang merep dengan kau." (Gampanglah itu Qill kamu buat lagi aja anak sama Ibra tapi buat yang mirip sama kamu.) "Sembarangan lo kalau ngomong. Gue ama Ibra dah haram buat bikin anak lagi. Lo aja sono yang kasih gue ponakan." "Ponakan-ponakan pale lu. Lemak nian kalu ngomong, nikah bae belum la ngomongi ponakan." (Ponakan-ponakan kepalamu. Enak aja kalau ngomong, nikah aja belum sudah ngomongin ponakan.) Aqillah terkekeh melihat tampang sewot Laras. Tak lama terlihat Daryl menghampiri mereka dengan tampang coolnya. Cih, gaya lo bang sengong bener. Batin Aqillah mencibir gaya berjalan Daryl yang sok cool. Masya Allah calon laki aku alangkah gantengnyo. Jadi dak sabar jadi bininyo. Aigh Daryl makin cinto aku samo kau. Batin Laras memuja calon suaminya itu. Ehem ehem Mendengar deheman Daryl, Laras tertunduk malu dengan wajah merah merona karna ketahuan memandangi wajah tampan Daryl. Sedangkan disebelahnya Aqillah sudah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Laras sampai membangunkan lutri kecilnya. "Iiiiiihh mama berisik tahu ketawanya kenceng banget, Timmy mau bobo." "Eh maaf sayang mama lupa Timmy lagi bobo. Ya udah Timmy bobo lagi ya nanti sampe rumah Oma dan Opa mama bangunin." "Mau gendong Papi." ucapnya manja pada Daryl sambil merentangkan tangannya meminta Daryl untuk mengambilnya dari gendongan Aqillah. "Sini princess papi,uh kasian pasti capek ya sayang? Bobo lagi ya nak." kata Daryl sambil mengelus sayang rambut keponakan satu-satunya itu Sementara Laras hanya memperhatikan. Dia kagum pada Daryl yang dekat dengan Timmy tanpa harus bersusah payah membujuknya seperti yang sering dia lakukan bila ingin jalan-jalan kesuatu tempat dengan Timmy dia harus mengeluarkan 1000 jurus andalannya agar Timmy mau ikut. "Jingok anak kau tuh Qill, lengket nian dengan papinyo. Sedangke dengan aku beuh alangkah saronyo ngajak dio bejalan, pasti bakalan UUR." (Lihat anak kamu Qill, deket banget sama papiya. Sedangkan sama aku beuh alangkah susahnya ajak dia jalan, pasti bakalan UUR) "Apaan tuh UUR?" tanya Aqillah dengan raut wajah bingungnya. "Ujung-ujungnya rayuan" Hahahaha, Laras tertawa melihat wajah, cengok sahabatny. Mendengar tawa Laras, Aqillah memukul ringan tangan sahabatnya yang malah makin membuat Laras tertawa. "Ck, kalian berdua ini malah bercanda, mau pulang nggak?" Daryl membalikan badannya karna adik dan calon istrinya itu malah tertawa bukan melanjutkan langkahnya. "Iya bawel." jawab Aqillah dan Laras bersamaan. Lalu cekikikan dibelakang Daryl yang bersungut kesal karena keduanya. °°°°°°°°°°°° Aqillah Pov Sesampainya dirumah aku masuk duluan dengan menggendong Timmy yang masih tertidur nyenyak. Sedangkan bang Daryl di belakang ku membawa koper yg berisi perlengkapan ku dan Timmy selama kami tinggal di Bandung. Ya aku kembali ke Bandung hanya sementara untuk pernikahan bang Daryl saja, setelah selesai aku harus kembali ke Prabumulih karena tidak ada yang mengurus cafeku disana. Sebelum menaiki tangga aku mendengar ada yang memanggilku, mama. "Uuuuhhh,, cucu kesayangan oma lagi bobo. " "Iya ma, Timmy kecapean dia seharian kan dijalan." mama mengelus rambut panjang Timmy yang terlelap. "Qilla tidurin Timmy dulu ya ma dikamar berat, nih cucunya mama." Aku pamit pada mama memasuki kamar yang dulu aku tempati. Kamar ini banyak sekali kenangannya. Entah itu kenangan pribadiku ataupun kenangan ku dengan Ibra. Jujur, sebenarnya dalam hatiku, aku sangat merindukannya tapi aku tak mau merusak rumah tangganya dengan Nesya. Aku harus kuat demi Timmy. Aku yakin bisa memenuhi semua keperluan Timmy, tanpa mengganggu Ibra dan keluarga barunya. Saat tengah melihat-lihat keadaan kamar, aku mendengar pintu kamarku diketuk seseorang. "Masuk." "Hi sayang." sapa mama dengan sebuah nampan di tangannya. "Hi ma." aku mendekati mama, mengambil alih nampan itu. menaruh diatas meja kecil yang ada di kamar ku. "Kamu sehat, Nak? Cucu mama juga sehatkan?" "Alhamdulilah sehat semua ma." Mama memelukku dengan erat dan aku mendengar isak kecil dari mama. Aku giring mama duduk disofa dalam kamarku. "Mama kenapa nangis?" Mama mengusap air mata yang masih menetes di pipinya. "Mama kangen kamu, dek. Mama pengen kayak dulu, kamu disini sama mama. Sebentar lagi abang nikah dan pasti bakalan pindah dari rumah. Nanti mama pasti kesepian kalau papa kerja keluar kota. Kamu sama Timmy dirumah aja ya dek. Jangan balik lagi ke Prabumulih. Mama kesepian, dek. Kesepian." Jujur aku sedih sebenarnya harus berpisah dari mama dan papa. Selama 5 tahun ini adalah pertama kalinya aku kembali ke Bandung. Tapi aku belum ingin menetap di Bandung dalam waktu dekat ini, karena aku masih belum sanggup bertemu Ibra ataupun keluarganya. "Maaf ma, Qilla belum bisa menetap disini. Masih ada urusan yang harus Qilla selesaikan di Prabumulih. Tapi Qilla janji suatu saat Qilla sama Timmy pasti netap di Bandung lagi." Aku berikan senyum setulus mungkin, aku tak mama terlalu larut dalam kesedihannya karena aku. "Jangan paksa adek, ma. Kan abang sama Laras nanti setelah nikah bakalan netap di Bandung juga meskipun nggak serumah. Nanti mama juga bisa maen kerumah abang atau kami yang maen dan nginep disini." Bang Daryl menyela pembicaraan aku dan mama. Bang Daryl selalu tahu apa mauku. Dia tahu aku masih belum sanggup bertemu dengan Ibra atau keluarganya. °°°°°°°°°°° Author Pov Malam ini adalah malam pernikahan Daryl dan Laras. Laras nampak cantik dengan gaun pengantin yang simpel namun elegan. Gaun pengantin berwarna pink itu senada dengan kerudung pink yang dikenakannya. Riasan makeup yang natural tak menghilangkan aura kecantikan Laras. Sedangkan Varell tampak gagah dengan setelan jas hitamnya. Untuk kemeja, warnanya menyaksikan dengan warna gaun pengantin Laras. Mereka tampak serasi berdiri berdampingan diatas pelaminan. "Kamu capek, Yank?" tanya Daryl pada istrinya. Sedangkan yang dipanggil 'yank' mukanya memerah mendengar pangilan suaminya. Melihat itu Daryl terkekeh. "Kita udah nikah, Yank. Kamu harus biasa dengan panggilan aku. Ok?" lanjutnya sambil merangkul bahu Laras. "Ehem, ehem mesra-mesraan terus. Ntar aja mesra-mesraannya dikamar sekalian bikinin ponakan dan temen maen buat Timmy." celetuk Aqillah yang baru saja naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat pada abang dan sahabatnya. Mendengar ucapan sahabatnya, muka Laras yang sudah merah karna ulah suaminya kini bertambah merah. "Muka lo kenapa Ras?" tanya Prilly dengan senyum jailnya. "Sudah sano turun,kau nih ngolok'i aku tulah. Awas bae kau agek yo Qill." (Sudah sana turun, kamu ini ngegodain aku terus. Awas aja kamu nanti ya Qill) ucap Laras yang kesal karena tingkah suami dan adik ipar yang merangkap sebagai sahabatnya itu. "Eh, oncom lo tuh udah nggak di Prabumulih lagi. Bahasa lo pake bahasa yang baik dan benar. Ntar pusing mama dengerin lo ngomong." "Hehehe, lupa aku Prill. Udah biasa lidahnya ngomong bahasa kerajaan, hehehe." "Udah ah gue mau turun dulu, noh dibelakang dah ngantri. Inget pesen gue ya Ras." Sementara dikejauhan tampak laki-laki tampan dengan stelan yang simpelnya kemeja hitam, rompi abu-abu dan dasi coklat yng menghiasi lehernya dipadukan dengan celana bahan senada dengan kemejnya. Dia nampak memperhatikan pelaminan dengan sorot mata penuh kerinduan. Akhirnya aku bisa liat kamu lagi. Aku kangen kamu Sayang. Sayang? Apa masih bisa aku manggil kamu sayang? Batinnya Laki-laki itu menatap seorang perempuan yang dirindukannya itu nampak cantik. Namun ada yang membuatnya sakit ketika melihat perempuan yang dicintainya bersama seorang pria yang dari tampilannya nampak bukan orang biasa. Mungkin sama seperti dirinya. Siapa laki-laki itu? Apa laki-laki itu suami baru Aqillah? Batin Ibra karena melihat laki-laki itu melingkarkan tangannya dipinggang Aqillah. °°°°°°°°°°°° Aqillah Pov Saat turun aku melihat bang Boy, kakak sepupu ku yang tinggal di Singapura. Aku langsung menemuinya dan menyapa. Boy Adijaya adalah anak dari adiknya mama, om Putra Adijaya. Kebiasaan. bang Boy tidak pernah berubah, dia selalu melindungiku seperti bang Daryl, dia tahu saat ini banyak laki-laki yang menatapku seperti seekor hewan buas yang memantau mangsanya. Dari itu tangannya melingkari pinggangku dan aku tidak ke beratan dengan sikap posesifnya melindungiku. "Bang, aku ketoilet bentar ya." "Mau abang temenin dek?" Dek. Semua keluargaku memanggilku dek karna memang aku bungsu perempuan. Aku tak punya saudara perempuan. semua saudaraku laki-laki. Mama yang dua bersaudara dengan om Putra sedangkan papa anak tunggal. "Nggak usah bang, aku sendiri aja." Aku menyusuri lorong yang menurutku lumayan sepi untuk ketoilet, tapi apa boleh buat aku udah kebelet. Aaaahhh, lega banget akhirnya. Astagfirullah aku belum hubungi Bi minah nanyain Timmy, tadi dia tidur jadi aku tinggal dikamar hotel ini dengan Bi Minah. Mudah-mudahan aja dia nggak ngamuk nyariin aku. Aku harus buru-buru balik lagi ke, ballroom hotel ini. "Qilla... "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD