° Mantan Tersayang - 3 °

1158 Words
Author Pov "Qilla... " Deg Suara itu? Aku, apa aku bermimpi? Apa bang Daryl mengundang dia kepernikahannya? Astaghfirullah, gimana aku bisa lupa kalau mama dan mami sahabatan? Batin Aqillah beseru karena dia yakin suara ini adalah suara orang yang pernah dicintainya atau bahkan masih dicintainya hingga kini!? Perlahan Aqillah membalikan tubuhnya menghadap keorang yang memanggilnya. Tubuh Aqillah tersentak kebelakang oleh pelukan laki-laki itu. Aqillah terdiam, membeku merasakan pelukan hangat tempat ternyamannya dari dulu dan bahkan sampai sekarang. Pelukan ini adalah pelukan yang paling dirindukannya. "Aku kangen kamu, Qilla. Aku kangen. Kamu kemana aja? Aku cari kamu kemana-mana tapi nggak ketemu." ujar Ali tanpa melepaskan pelukannya pada tubuh wanita yang dicintainya sampai saat ini. "Lepas." Aqillah berkata dengan nada dingin yang tak pernah dia pakai pada siapapun. Tapi dia harus melakukan ini karna dia tidak mau menyakiti hati seseorang. Cukuplah dirinya dulu merasa tersakiti melihat orang yang dicintainya mesra dengan masa lalu. Mendengar nada dingin dari mantan istrinya itu membuat Ibra kaget. Inilah pertama kalinya Aqillah berbicara seperti itu padanya. Aqillah adalah tipe wanita yang ceria dan manja karena Aqillah merupakan cucu perempuan satu-satunya dalam keluarganya. "Lepas, Ibra." untuk kedua kalinya Aqillah berkata dingin, namun kali ini suaranya terdengar lebih tegas. Meskipun enggan, namun Ibra takhirnya melepaskan pelukannya pada Aqillah. Aqillah hanya memandang datar orang yang kini tengah menundukan kepalanya. Sambil melipat kedua tangannya Aqillah menatap Ibra. "Ada apa? Apa anda ada perlu sama saya tuan Muhammad Ibrahim Syarief?" Aqillah masih mempertahankan nada suaranya. Walau kenyataannya saat ini dia berusaha keras untuk menahan air mata yang siap meluncur kapan saja. "Kenapa kami bersikap seolah tidak mengenalku, Qilla?" "Maaf Tuan, saya harus kembali ke pesta lagi." Saat Aqillah hendak melangkah ketika tangannya dicekal oleh Ibra. "Maaf tuan tolong lepas tangan saya. Nanti ada yang melihat dan berpikiran macam-macam tentang saya dan anda." Aqillah terus berusaha melepaskan cekalan tangan Ibra, tapi nihil. "Oh, ayolah Qilla, jangan begini." "Maaf begini bagaimana maksud anda, Tuan? " "Kamu bersikap seolah-olah kita orang asing yang tidak saling mengenal." Ibra berkata dengan nada sedih karena sikap yang ditunjukan oleh Aqillah saat ini. "Huh, lalu anda mau apa, Tuan?" "Aku ingin kita seperti dulu, Qilla. Aku ingin memulainya dari awal sama kamu. Meskipun kini mungkin kamu sudah ada yang mendampingi." Aqillah mengerenyitkn keningnya mendengar ucapan Ibra. Apa maksudnya punya orang lain? Bukannya dia yang sudah menikah sama Nesya? Gerutunya dalam hati. "Maaf sekali lagi Tuan saya harus pergi. Saya tidak mau nanti istri anda melihat kita dan dia salah paham melihat kita disini hanya berdua. " Istri? Jelas-jelas dia yang udah nikah lagi kenapa malah bilang alu yang sudah nikah lagi? Ibra bingung dengan ucapan Aqillah. "Istri? Aku bel... " Ali belum selsai dengan kalimatnya tetapi ada yang memotongnya. "Sayang, aku nungguin kamu dari tadi. Udah selesai? " Laki-laki ini. Apa benar dia suami Aqillah? Sementara Aqillah hanya memutar bola matanya dan mendengus mendengar panggilan sepupu kesayangannya itu. Namun dia yakin bahwa sepupu tersayangnya ini tak tahu kalau yang didepannya itu adalah mantan suaminya. Sikap posesif yang dimiliki oleh laki-laki di keluarganya tak perlu dipertanyakan, karena mereka semua begitu posesif terhadap wanita-wanita yang mereka sayangi. Prilly langsung mendekati Boy dan menarik tangannya untuk pergi dari hadapan Ibra. Ibra hanya menatap nanar Aqillah yang menarik tangan Boy. ❤❤❤❤❤❤ Aqillah Pov "Ish, abang apaan sih pake sayang-sayangan segala?" "Lah abang mah cuma mau bantuin kamu, dek." "Dia...dia...emmm, itu, dia Papanya Timmy." "Jadi dia mantan suami kamu? " "Iya." Bang Boy hanya diam setelahnya dia hanya memelukku yang sudah terisak. "Meskipun abang nggak tahu apa masalah kamu sama dia tapi yang abang tahu, adek abang yang cantik ini masih cinta sama dia." Aku mendelik mendengar perkataan abang sepupuku yang super rese bin jail ini. Plak "Ya ampun dek. Kamu ini jadi cewek galak banget sih, pake mukul segala. KDRT nih namanya." Bang Boy meringis sambil memegang kepalanya yang tadi aku pukul. Hehe, katakanlah aku kurang ajar karena memukul kepala orang yang lebih tua dariku. Semoga Timmy tidak mengikuti jejak mamanya. Aku berjalan menuju lift, meninggalkan bang Boy yang masih kesakitan mengusap kepalanya. Aku akan melihat Timmy dulu, takut dia ngamuk kalau bangun tidur tidak melihatku. Sesampainya didepan pintu aku mengetuk pintu dan tak lama Bi Minah membukakan pintu. "Timmy udah bangun, Bi?" "Udah neng, itu juga teh tadi udah bibi mandiin. Tadi juga neng Timmy nanyain mamanya." Bi Minah memang memanggilku 'neng', dari kecil aku dan bang Daryl diasuh oleh bibi. Aku tak mau dan tak terbiasa dipanggil nona jadi seluruh orang yang bekerja dengan mama papa memanggilku 'neng'. "Oh gitu. Makasih ya bibi udah jagain Timmy. Aku liat Timmy dulu." Aku melihat Timmy sudah cantik. Rambutnya panjangnya di Curly bi Minah, dan ada bandana pink juga. Selaras dengan gaun berwarna pink yang dipakainya. "Duh anak mama cantik banget siiih." dengan gemas aku langsung mengendong Timmy dan menciumi wajahnya yang imut-imut itu. "Hihihi, ampun mama geli." Timmy berkata sambil terkikik geli karena ulahku. "Iya. Tadi abis mandi, Timmy didandanin nek Minah. Kata nenek Timmy cantik pake ini." katanya, lalu berdiri dan berputar memamerkan gaunnya. "Iya, anak mama cantik banget deh. Udah siap turun ketemu papi dan mami?" "Mami?" dengan mata mengerjab-ngerjab lucu Timmy melihat bingung kearah ku. Gemas aku mencubit pipi gembilnya. "Iiih mama, sakit tahu pipi Timmy. Mami itu siapa, Ma?" "Mami itu tante Larasnya Timmy. Kan sekarang tante Laras udah nikah sama papi jadi Timmy panggilnya mami, ok!" "Ok mama." Ugh, menggemaskan sekali putri kecilku ini. ❤❤❤❤❤❤ Ibra Pov Aku menatap nanar pegangan tangan Aqillah pada suaminya. Aku tak menyangka kalau Aqillah sudah menikah lagi. Apa sebegitu sakitnya hati Aqillah hingga dia bisa dengan mudah melupakanku? Huh, ini semua memang salahku yang sudah menyia-nyiakan dia. Aku berjalan gontai. Ya Allah, kenapa lagi-lagi aku melihat suatu hal yang amat menyakitkan seperti ini? Melihat Aqillah tengah memeluk suaminya, membuat jantungku seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. Dulu pelukan itu hanya aku yang merasakannya. Dulu tangan mungil itu selalu melingkar dipinggangku ketika aku memeluknya. Tetapi kini pelukan dan tangan mungilnya bukan miliku lagi. Bahkan mungkin hati dan cintanya bukan miliku lagi. "Ya ampun Ibra, kamu ini kemana aja sih? Dari tadi mami cariin kamu." "Tadi Ibra ketemu Aqillah, Mi." "Aqillah? Dimana dia? Oh ya ampun mami bener-bener kangen sama mantu mami." Perkataan mami menyakitkan. Sampai saat ini mami masih berharap Aqillah mau menjadi menantunya lagi. Bahkan setiap wanita yang dikenalkan Kak Viva padaku, mami dululah yang menolak mereka. "Mi, jangan bicara seperti itu. Nggak enak didengar orang. Ibra sama Aqillah udah lama pisah, Mi." Aku harus mengingatkan mami. Biar bagaimanapun aku tak ingin merusak kebahagian Aqillah saat ini, ya hanya saat ini. Untuk kedepannya? Entahlah. Karna aku tak pernah rela Aqillah dengan lelaki manapun juga, termasuk suaminya. "Loh kenapa?" "Karena sekarang dia sudah menikah, Mi. Kita harus menjaga perasaan mama." "Menikah? Kapan? Kamu pasti salah paham deh. Setahu mami Aqillah itu... " ❤❤❤❤❤❤ ? Qie
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD