° Mantan Tersayang - 1°

1745 Words
Disebuah rumah mewah terdengar suara pecahan. Entah itu pecahan piring, gelas, atau apa saja untuk melampiaskan emosinya. "Kamu selalu gini, cemburu kamu berlebihan." ucap sang suami "Berlebihan kamu bilang? Coba aku tanya sama kamu. Dimana letak salahnya seorang istri yang marah dan kecewa melihat suami saya yang dicintainya terlihat mesra didepan umum dengan mantan kekasih, MANTAN KEKASIH? Jadi aku yang salah iya." istrinya berteriak membentak sang suami sambil menekankan MANTAN KEKASIH. "Apa yang kamu lihat belum tentu keadaan yang sebenarnya." "Oya? Lalu bagaimana keadaan sebenarnya? Kamu bilang kamu ada meeting dengan dewan direksi dikantor dan tadi aku lihat kamu bermesraan dimall dengan mantan kamu itu! Sakit, sakit banget rasanya dikhianatin gini." katanya lalu menangis tersedu-sedu. Suasana sempat hening yang terdengar hanyalah suara isak tangis sang istri. Setelah puas menangis dia bangkit menuju walk in closet dan membereskan pakaian yang ada. Selesai membereskan, saat hendak keluar tangannya dicekal. "Mau kemana kamu?" Wanita itu hanya diam, tidak menjawab. "Aku tanya mau kemana kamu." Masih belum ada jawaban, kesal dan amarah yang masih ada dalam dirinya sang suami menarik kasar lengan istrinya sampai sang istri jatuh kepelukannya. Dia memeluk istrinya dengan erat. Tak ada niatan wanita itu melepaskan pelukan dari laki-laki yang berstatus suaminya. Saat dirasa cukup dia melepaskan pelukan suaminya. Sambil mengontrol emosi dia mengusap air mata yang tidak berhenti mengalir. "CERAIKAN AKU IBRA." istrinya mengucapkan dengan tegas dan penuh penekanan. "Apa maksud kamu, Qilla? Nggak, nggak akan pernah ada perceraian diantara kita." jawabnya tak kalah tegas. "Baik kalau kamu nggak mau menceraikan aku, aku yang akan gugat cerai kamu. Selamat tinggal Ib. Semoga kamu bahagia dengan Nesya. Assalamualaikum." Aqillah melangkah pergi meninggalkan Ibra yang diam membatu. Tak terasa air matanya turun ia menangis. Selama hidupnya inilah air mata kesedihan yang pertama kali dikeluarkan oleh Ibra. Ibra terdiam sambil menatap foto pernikahannya dengan Aqillah. Apakah ini akhir semuanya, Qilla? Selamanya aku akan cinta sama kamu sayang. Maafin aku, maafin aku. Ibra membatin sambil menangis menatapi foto pernikahannya. °•°•°•° POV Ibra Sudah 5 tahun berlalu sejak perceraian aku dan Aqillah. Tak sedetikpun aku bisa melupakannya. Setelah Aqillah keluar dari rumah kami sampai detik ini aku tidak tau kabar dan keberadaannya, bahkan ketika sidangpun aku tak bertemu dengannya. Entah dimana sekarang Aqillah berada. Apakah dia masih sendiri seperti aku atau sudah menikah dengan laki-laki yang tidak sebajingan diriku? Yah, aku menyadari aku hanya terpikat sementara dengan mantan pacarku ketika aku SMA dulu, Nesya. Ternyata dia memanfaatkan aku agar perusahaan yang aku pimpin sekarang jatuh. Dasar wanita berengsek. Sekarang aku berada dikota kecil bernama Prabumulih, menyelesaikan pekerjaan. Saat ini aku sedang duduk di sebuah Taman, Taman tugu kecil kata orang sini. Suasana malam dikota Prabumulih tidak jauh beda dengan suasana kota lainnya namun disini tidak padat dan tidak ada macet. Nyaman itulah saat aku datang kekota ini dan entah kenapa aku merasa akan mendapat kebahagiaan dikota ini. Bruuuk "Aw, hiks...hiks...hiks mama, tante kaki Timmy sakit. Huhuhuhu." Ada sorang gadis kecil yang jatuh terduduk menangis karena menabrak ku tadi. "Gadis kecil kamu nggak apa-apa?" Kenapa perasaan ini? Kenapa ada rasa takut? Khawatir? Perasaan apa ini? "Kaki Timmy sakit om, huhuhu. Ini pasti karena Timmy nggak mau denger mama. Padahal mama sudah sering bilang Timmy nggak boleh lari-lari nanti jatuh. Nah sekarang Timmy jatuh karena nggak denger mama." Aku terkekeh mendengar ucapan gadis kecil didepanku ini. Kalau diperhatikan mungkin usianya 4-5 tahun. Mungkin kalau aku dan Aqillah punya anak pasti akan bahagia. "Om ganteng kenapa sedih?" Kulihat dia menatapku dengan tatapan yang lucu sambil berkedip-kedip. Kenapa aku seperti melihat Aqilla bila sedang merayuku dengan tatapan itu? "Om ganteng." panggilnya sekali lagi karena pertanyaannya tadi tidak aku jawab. "Om nggak apa-apa kok, nama kamu siapa cantik?" "Nama aku Fatimah Az Zahrah Syarif tapi semua orang panggil aku, Timmy." Deg Syarief? Apa mungkin? Nggak, nggak mungkin. Ini mungkin hanya satu kebetulan saja. "Hai, Timmy. Nama om, Ibra. Nah sekaang kamu kesini sama siapa?" "Timmy sama tante Laras,Timmy nungguin mama pulang dari cafe tapi tadi tante Laras beli minum." "Ya udah kamu disini aja ya sama om nungguin tante kamu.Oh iya kalau om boleh tahu nama kamu siapa?" "Nama mama Timmy itu Aq..." Belum selesai Timmy menyebutkan nama mamanya seorang perempuan berkerudung pink menghampiri kami. "Ya ampun Timmy, kau ini tante cari-cari ruponyo malah duduk disini. Payo balek dengat lagi mama kau balek, gek dio becarian pulo." (Ya ampun Timmy kamu ini tante cari-cari ternyata malah duduk disini. Ayo pulang bentar lagi mama kamu pulang, nanti dia nyariin lagi) Huh, aku pusing tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh tantenya Timmy ini. Tiba-tiba dia terkejut melihatku, ada apa? Apa dia mengenalku? "Ayo sayang. Mari, Mas. Terima kaah sudah menjaga keponakan saya." ucapnya sambil menarik tangan Timmy. Sepertinya aku harus kembali ke hotel badanku sudah lelah ingin istirahat dan tidur ya aku butuh tidur setelah banyak pekerjaan yang aku lakukan hari ini. °•°•°•° POV Aqillah Setelah aku keluar dari rumah yang kami tempati dan menggugat cerai Ibra, disinilah aku sekarang. Kota kecil yang nyaman bersama sahabat SMP ku. Terdengar suara pintu dibuka, aku menoleh. "Dari mana aja, lo?" "Mati Qill, mati." ucapnya sambil menunjukan wajah yang menurutku raut muka ketakutan. Ada apa sebenernya? "Ada apaan sih lo. Pulang-pulang malah bilang mati. Kenapa mau mati lo?" "Ish, kau tuh bukan cak itu maksud aku tadi aku betemu dengan...dengan."(cak = sama seperti kata bantu. Betemu = ketemu) Aku perhatikan sepertinya dia bener-bener khawatir, ya Allah dia Nggak apa-apakan? "Dia nggak apa-apakan?" tanyaku dengan nada khawatir pula. "Dak dio dak apo-apo tapi kau yang gek ngapo-ngapo." (dia gak apa-apa tapi kamu yang bakal kenapa-kenapa) Beginilah aku dan sahabatku satu ini, aku yang tetap dengan lo-gue dan dia tetap dengan bahasa daerahnya karna kata dia suka keseleo lidahnya kalau pake lo-gue. Yah inilah sahabat ajaib ku. "Maksud lo apaan sih?" "Aku betemu dengan papa Timmy." (Aku ketemu sama papa Timmy) jawabnya cepat. Ibra? Ibra ada disini? Sedang apa dia disini? Timmy, Fatimah Az Zahra Syarief adalah putriku dan Ibra. Ternyata saat aku meninggalkan rumah dan menggugat cerai pada Ibra. Saat itu aku tengah mengandung 3 minggu. Awalnya semua orang tidak yang setuju dengan perceraian kami karena memang aku tidak mau menjatuhkan nama Ibra didepan keluarga ku. Yang tahu masalahnya hanya abangku, bang Daryl Aranka Bramasta. Karna bang Daryl mendengar pertengkaran aku dan Ibra. Bang Daryl marah besar saat itu dia ingin masuk kembali kedalam rumah, namun aku menahannya karena biar bagaimanapun aku mencintai Ibra dan aku tak ingin dia disakiti siapapun. Meskipun dia sudah menyakitiku begitu dalam. Bodoh itulah yang dikatakan bang Daryl saat itu. Apalagi ketika dia tahu aku hamil, dia hampir mendatangi Ibra. Tapi lagi-lagi aku melarangnya. Karena aku tak ingin Ibra tahu keberadaan anak dalam kandungan ku saat itu. Atas persetujuan bang Daryl pulalah aku disini. Karena sebentar lagi Laras dan bang Daryl akan menikah. "Mamaaa." Teriakan Putri kecilku membuyarkan lamunan tentang masa lalu. "Assalamu'alaikum kakak Timmy." "Wa'alaikum salam mama Timmy yang cantik.aaf Timmy lupa. Hehe" ujarnya sambil menunjukan deretan gigi putih yang rapih. "Mama tahu nggak tadikan Timmy jalan ketaman tugu kecil sama tante Laras, terus Timmy ketemu sama om ganteng. Oh iya ma Timmy lupa." sambungnya sambil menepuk ringan kening. Sedangkan aku dan Laras yang melihatnya hanya terkekeh geli dengan tingkah laku putri kecilku ini "Lupa apa sayang?" Tanpa menjawab pertanyaan ku Timmy lari kekamarnya lalu keluar dengan membawa bingkai foto dan aku tahu itu pasti foto Ibra. "Ini mah yang ketemu Timmy sama tente Laras ditaman tadi. Iyakan tante?" Tanyanya sambil melirik Laras yang berdiri dibelakangnya meminta jawaban Laras. "Iyo Timmy sayang tante yang cantik." "Tuhkan ma, bener. Berarti om ganteng tadi papa Timmy, ya ma?" Timmy menatapku penuh harap. Apakah ini sudah waktunya Timmy tahu tentang keluarga dari papanya termasuk papanya? Aku melirik Laras dan bang Daryl yang masuk saat Timmy menanyakan papanya. Aku melihat Laras mengangguk kemudian diikuti oleh bang Daryl. Ya mungkin ini sudah saatnya. "Iya sayang Timmy benar itu papa Timmy namanya papa Ibra, Muhammad Ibrahim Syarief" "Nama papa bagus nama belakangnya sama kayak nama belakang Timmy." "Kebalik princessnya papi, yang bener itu nama belakang kamu diambil dari nama keluarga papa kamu." jawab bang Daryl. Setelah Timmy lahir dia nggak mau dipanggil uwak, berasa sudah tua banget katanya padahal mah memang sudah tua. "Tapi Timmy sedih papi." "Princess papi sedih kenapa?" Aku dan Laras diam menyaksikan dan mendengarkan obrolan mereka. "Tadi papa nggak ngenalin Timmy." adunya pada bang Daryl Aku yang mendengarkan kesedihan putriku dan melihat ada air mata mengalir dipipi chubbynya merasakan sesak dihatiku. Menyaksikan kesedihan putriku yang tak dikenali oleh ayah yang selama ini dia nantikan. Ini semua salahku tapi...tapi mau bagaimana saat itu aku benar-benar emosi. Aku sadar aku egois memisahkan Timmy dari Ibra, ayah kandungnya. Tapi aku juga ragu untuk memberitau Ibra tentang Timmy, aku tak mau mengganggu kebahagian Ibra dan Nesya yang saat ini mungkin sudah bahagia dan punya kebahagian sendiri. Aku merasakan tepukan di bahuku. Laras tersenyum padaku dan berkata "sekarang" tanpa suara. Perlahan aku dekati Timmy lalu ku peluk erat tubuh mungil Putri kecilku. Kami sama-sama menangis, berulang kali ku ucapkan kata maaf pada Timmy. "Ma...ma...mama ke...napa minta ma...af sama Timmy?" tanyanya sambil sesenggukan karena air mata juga masih mengalir dipipinya. "Maaf karena mama belum mempertemukan Timmy sama papa." "Nggak apa-apa, ma. Tante Laras pernah bilang kalau mama selama ini kerja buat Timmy supaya Timmy bisa sekolah tinggi-tinggi, makanya mama masih bisa ketemu Timmy karena Timmy belum sekolah. Sedangkan papa kerja buat Timmy supaya Timmy bisa makan enak tiap hari makanya Timmy belum ketemu papa. Iyakan tante? Papi?" Timmy bertanya sambil menyeka sisa air mata di matanya dan menatap dua orang berdiri disampingku. "Iya sayang" "iya princess" Emang dasar jodoh jawab gitu aja kompak bener. Ku lihat mereka berpandangan setelah menjawab pertanyaan Timmy lalu terekekeh bersama. Dasar pasangan ajaib. "Tuh kan bener, jadi mama nggak usah sedih lagi ya. Ini bukan salah mama. Timmy sayang banget sama mama. Timmy nggak mau lihat mama sedih apalagi sampe nangis gini." Timmy menghapus air mata yang terus-menerus keluar dari mataku. "Udahan yuk sedih-sedihannya kita makan dulu, kan besok mau ke Bandung ketemu oma sama opa." bang Daryl menyela agar berhenti bersedih. Besok aku, Timmy, Laras dan bang Daryl akan ke Bandung karna 1 minggu lagi adalah pernikahan bang Daryl dan Laras. Aku bahagia melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD