° Mantan Tersayang - 5 °

1233 Words
Ibra Pov Menyesal? Sangat. Saat ini aku sangat menyesal karena melepaskan Aqillah dulu. Andai semuanya bisa diulang dari awal, aku ingin kembali dimana aku melakukan suatu kebodohan yang memisahkan aku dan Aqillah. Andai kejadian itu tidak terjadi, mungkin anak yang digendong Aqillah kemarin adalah anak kami. Huh, terlalu banyak kata andai dalam hidupku sejak Aqillah meninggalkanku. Meskipun banyak tender besar yang aku menangkan tapi tak sekalipun aku merasakan bahagia. Aku hanya merasa bangga karna memenangkan tender-tender besar itu. Aku kesepian, itu yang aku rasakan. Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunanku. "Boleh papi masuk, Bra?" "Masuk aja pi." "Gimana kerjaan kamu?" "Alhamdulilah lancar pi, Mesach Industrie menyetujui proposal yang kita ajukan." "Alhamdulilah kalau gitu. Sudah sholat Isya?" "Belum pi, pengen duduk dulu bentaran. Baru selesai mandi." "Sholat Isya dulu abis itu temui papi di Taman samping." "Ya pi." Lebih baik aku sholat dulu, mudah-mudahan setelah sholat aku bisa lebih tenang. Selesai sholat aku menemui papi ditaman samping rumah. Papi duduk sendirian sambil menikmati kopinya. Dulu papi paling suka kopi buatan Aqillah, pas kata papi dan terasa lebih nikmat jika Aqillah yang membuatnya. "Pi." kulihat papi menoleh dan tersenyum lalu menepuk sofa kosong disebelahnya. "Ada apa papi minta aku nemuin papi disini? " "Papi cuma mau ngobrol sama kamu. " aku hanya manggut-manggut mendengar ucapan papi. "Kemaren waktu pernikahan Daryl, papi ketemu Aqillah sama anaknya." Aneh. Papi sama sekali nggak kelihatan sedih tapi malah binar bahagia yang aku lihat. Aku masih tetap diam mendengarkan papi melanjutkan cerita papi. "Namanya Fatimah. Cantik banget, Bra. Papi juga sempet ngobrol sama Aqillah dan gendong anaknya. Papi bahagia liat Aqillah bahagia." Papi berbicara sambil menerawang seolah-olah kembali lagi kehari dia bertemu Aqillah dan anaknya. "Sungguh papi menyesalkan kenapa kalian harus berpisah. Papi sebenarnya marah, sangat marah sama kamu. Bisa-bisanya kamu menyia-nyiakan Aqillah demi wanita yang pernah meninggalkan kamu dulu. Andai kamu masih bersama Aqillah mungkin kalian bisa membesarkan anak kalian bersama-sama. " Ada nada kesedihan yang ku tangkap dari kata-kata papi. Sama seperti ku, papipun menyelipkan kata andai. "Berjuanglah, Bra. Yakinkan Aqillah kalau kamu menyesal atas apa yang pernah kamu lakukan dulu. Sebelum semuanya terlambat." "Tapi aku memang sudah terlambat, pi. Dia udah nikah dan meskipun awalnya aku sangat ingin Aqillah kembali padaku tapi untuk kali ini aku harus berpikir lagi, aku tidak mau jika Aqillah merasakan sakit hati lagi untuk kesikian kalinya karena aku." "Cari kebenarannya." Setelah mengucapkannya papi berdiri lalu menepuk pundakku sambil tersenyum. Apa maksud papi dengan cari kebenarannya? ❤❤❤ Aqillah Pov Memandang wajah Timmy saat dia sedang terlelap tidur adalah hobbyku. Sebagian besar pada diri Timmy adalah warisan dari Ibra, hanya bola matanya saja yang didapatnya dariku. Huh, bicara tentang Ibra, aku jadi ingat di resepsi pernikahan bang Daryll kemarin, aku bertemu mantan papi mertua. "Aqillah." Aku menengok kebelakang, kaget. Itulah yang pertama aku rasakan. Apalagi saat ini aku sedang menggendong Timmy yang sejak tadi tidak mau melepaskan pelukannya bahkan ketika tadi digendong oleh bang Boy sudah merengek minta diturunkan. Padahal sebelumnya dia nempel terus sama bang Boy, bang Dimas, bang Daryl atau Levin. Tapi hari ini dia jual mahal, sampai Levin cemberut karena Timmy yang tiba-tiba memukul tangannya ketika dia hendak menggendong Timmy. "Pa...papi, eh maaf maksudnya Om." "Nggak, kamu nggak boleh manggil om, Sayang. Papi masih papi kamu, jadi jangan sekali-kali kamu panggil papi om." "Iya pi. Papi apa kabar?" "Alhamdulilah papi sehat." Deg-degan yang kurasa ketika tadi kak Vi menghampiriku kini datang lagi. Aku takut papi tahu tentang Timmy. Aku benar-benar belum siap. "Kamu gendong anak siapa Qill?" Ya Allah yang aku takutkan sekarang jadi nyata. Apa ini sudah waktunya Timmy tau kalau dia punya keluarga lain selain keluarganya saat ini? "Aqillah, kenapa malah bengong? Apa kamu udah nikah lagi? dan ini anak kamu sama suami baru kamu?" Aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata mendengar pertanyaan papi. Tadi anaknya yang bilang aku udah nikah lagi dan sekarang papi juga bilang gitu. Apa aku ini tipe perempuan yang gampang nemplok sana sini apa? "Nggak pi." hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. "Maksud kamu gimana? Jangan bilang kalau...kalau dia cucu papi? Jawab Prilly." Aku lihat papi shock. Ya ini sudah saatnya mereka tahu keberadaan Timmy, tapi untuk Ibra aku belum siap. Aku belum siap Timmy memanggil orang lain dengan sebutan mama, meskipun itu istri Ibra. Ok, tenang Ibra. Tarik nafas, hembuskan, tarik, hembuskan. Huh, berasa mau lahiran ini mah. "Ya pi, dia anak aku sama Ibra. Cucu papi sama mami. " Saat ini aku hanya bisa menundukkan kepalaku melihat sorot mata kecewa dimata papi. Aku tahu beliau pasti kecewa karena selama ini aku tidak memberitahukan keberadaan Timmy. Aku menceritakan semuanya pada papi. Dari awal aku tahu bahwa aku sedang hamil sampai Timmy lahir. Mata papi berkaca-kaca mendengar ceritaku. "Papi sebenarnya kecewa sama kamu, kenapa kamu nggak kasih tahu kami sejak awal. Tapi dilain pihak papi juga ngerti perasaan kamu yang terluka karena anak papi. Papi minta maaf sama kamu atas kelakuan Ibra, Qill." "Papi nggak salah apa-apa, jadi nggak usah minta maaf sama Aqillah. Em, papi mau gendong Timmy?" "Bolehkah?" tanya papi ragu. Mungkin papi takut Timmy menolaknya. "Timmy sayang, ini ada opanya Timmy. Opa mau kenalan sama Timmy. " "Opa?" akhirnya Timmy mengangkat wajahnya dari ceruk leherku dan melihat mataku. Aku mengangguk. Lalu Timmy membalikkan kepalanya. Papi tampak terkejut melihat Timmy. Pasti, karena Timmy 100% copyan Ibra. "Benar-benar mirip Ibra." papi bergumam lirih namun aku masih bisa mendengarnya. "Hi, sayang. Nama opa Adi Al Khatiri Syarief, panggil opa Adi. " "Assalamualaikum opa Adi, nama aku Fatimah Az Zahra Syarief, panggil Timmy aja opa." papi nampak malu karena Timmy tidak membalas sapaan 'hi'nya melainkan dengan mengucapkan salam. Seperti yng selalu aku ajarkan pada Timmy, awali setiap pertemuan dengan mengucapkan salam. "Eh iya, wa'alaikumussalam Sayang." Tiba-tiba Timmy cekikikan dipelukanku. "Kenapa ketawa, Nak?" aku bertanya karena tumben Timmya tertawa tanpa ada yang lucu. "Hihihihi, lucu ma. Ternyata nama belakang Timmy sama kayak opa. Berarti opa ini papanya papa ya ma?" "Iya sayang, opa ini papinya papa kamu." "Timmy pernah ketemu papa tapi papa nggak ngenalin Timmy." jawabnya sedih. Papi langsung meraih Timmy kedekapannya, aku hanya diam membiarkan mereka melepas rindu karena sebentar lagi aku dan Timmy akan kembali ke Prabumulih. "Jangan sedih ya sayang, nanti biar opa yang bilang papa." "Maaf pi sebelumnya. Bisakah papi merahasiakan keberadaan Timmy dari Ibra?" Jujur aku ragu papi mau merahasiakannya, tapi aku juga belum benar-benar siap dengan semuanya. "Apalasannya papi nhgak boleh kasih tahu Ibra? Dia berhak tahu karena biar bagaimanapun Ibra adalah ayah kandung Timmy." "Aqillah belum benar-benar siap dengan semuanya pi. Aqillah mohon papi ngerti. Aqillah janji Ibra akan tahu tentang Timmy, tapi nanti setelah hati Aqillah siap." Papi menghela nafas pelan. Mungkin dia pun tak tega melihat ku yang tertunduk sedih. "Baiklah, tapi papi akan beritahu mami tentang Timmy." "Baikalah pi, tidak apa kalau papi mau beritu mami tentang Timmy." "Kalau boleh papi minta lusa kita bisa ketemuan, papi mau mami mu ketemu cucunya." "Baik pi, nanti papi hubungi Aqillah saja untuk tempat dan waktunya." Setelah membicarakan itu aku izin karena sepertinya Timmy sudah mengantuk. Besok papi mengajak aku dan Timmy untuk makan siang bersama. Semoga papi mengingati janjinya untuk tidak memberitahukan tentang Timmy pada Ibra. Aku juga sudah menceritakan pertemuanku dengan papi serta ajakan papi untuk bertemu dan bang Daryl tidak memperbolehkan ku hanya berdua saja dengan Timmy, jadi besok Papapnya Timmy alias Levin yang akan jadi bodyguard kami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD