Aqillah Pov
Hari ini papi dan mami mengajak aku dan Timmy untuk makan siang bersama di Phantasia Barbie Galery yang berada di Balcony Restaurant. Begitu masuk Timmy langsung lari. Haaah, anak ini untung saja aku bisa menahannya.
"Mau kemana Sayang?"
"Timmy mau lihat Barbienya, ma."
"Boleh tapi nanti ya. Sekarang kita temuin Opa sama Oma dulu. m"
"Ok, mama."
Aku bahagia melihat Timmy tersenyum. Semoga senyum tidak pernah hilang dari wajahnya, aku tak akan sanggup bila harus melihat kesedihan Timmy. Saat mencari meja aku melihat mami melambaikan tangannya. Aku menuntun Timmy kemeja dimana opa dan omanya duduk. Alhamdulilah papi menepati janjinya padaku untuk tidak memberitau tentang Timmy pada Ibra.
"Sayang, kamu apa kabar? Ugh, mami kangen banget sama kamu. Lagian mama kamu pelit banget tiap mami tanya kamu dimana pasti jawabannya 'tunggu aja mbak nanti juga Aqillah akan balik lagi ke Bandung.' kan mami jadi sebel. Makanya mami sering ngambek sama mama kamu."
Aku hanya tersenyum menanggapi omongan mami. Aku juga merindukan mami, mami sudah jadi ibu kedua bagiku. Dulu meskipun Ibra itu anaknya tapi jika Ibra membuatku marah atau hanya cemberut maka siap-siap menghadapi jeweran mami.
"Alhamdulilah Aqillah sehat mi, mami sendiri sehat?"
"Alhamdulillah mami juga sehat." kemudian mata mami beralih pada Timmy yang ada disebelahku. "Assalamualaikum cantik."
Timmy terkikik geli mendengar sapaan omanya. Anak ini jadi hobby tertawa.
"Wa'alaikumussalam juga oma yang cantik."
Sekarang keduanya sama-sama terkiki geli. Dasar ini oma sama cucu sama aja. Aku melirik papi dan terlihat dari gerakan bibirnya papi berterima kasih.
"Ih, kok malah berdiri! Ayo ah kita duduk dulu. Mami udah pesenin makanan kesukaan kamu, Sayang. Eh iya kita belum kenalan ya. Hai cantik nama oma, panggil aja oma Reni. "
"Hai oma cantik, nama aku Fatimah Az Zahrah Syarief panggil aja Timmy."
"Pinternya cucu oma." kemudian mami melirik kearahku, jujur aku agak sedikit kikuk. "Aqillah, makasih kamu sudah mau mengandung dan melahirkan Timmy, juga mendidiknya jadi anak yang cerdas. Mami seneng bisa ketemu kamu lagi, mami juga seneng tenyata mami udah punya cucu dari kamu. Sebenarnya mami berharap kamu bisa balik lagi sama Ibra."
Sebelum mami selesai ngmong, mau nggak mau aku terlebih dulu memotong omongan mami karena biar bagaimana juga aku tidak mau jadi orang ketiga dalam rumah tangga Ibra dan Nesya.
"Maaf mi, Aqillah nggak bisa."
Meskipun dalam hati aku masih mencintai Ibra apalagi dia ayah kandung Timmy, tapi aku juga tidak mau berbuat egois dengan menghancurkan rumah tangga Ibra. Cukup dulu aku yang mengalami bagaimana rasanya saat suami yang aku cintai dekat dengan masa lalunya. Aku tidak ingin yang lain juga mengalami hal seperti yang ku alami.
"Udalah mi, kitakan kesini buat seneng-seneng sama cucu kita. Jangan ungkit-ungkit yang udah lewat."
"Iya juga pi. Ya udah kita makan dulu terus kita jalan-jalan. Gimana Timmy mau kan?"
Timmy yang sedari tadi asik menyantap es krim vanila kesukaannya beralih menatap omanya, lalu menatapku meminta izin. Aku menganggukan kepala tanda aku menyetujuinya.
"Iya oma."
Selesai makan kami pergi ke Trans Studio Bandung. Kalau Levin ikut dia pasti heboh, tuh anak kan nggak ada bedanya sama Timmy. Ngomong-ngomong soal Levin yang gak jadi ikut, tadi
"Dek buruan kata kamu mau makan siang sama calon mertua kamu."
"Dek, dek. Enak aja kalau ngomong. Duluan aku juga lahirnya pake manggil adek lagi. Terus itu apa calon mertua? Yang ada mantan mertua."
"Alah, cuma duluan kamu sehari ini. Tapi tetap keluarga kita manggil kamu adek kan?" Levin merangkul leher ku seperti biasa. "Sekarang masih mantan, siapa tahu nanti jadi mertua lagi." aku hanya mencibir saat dia mengedipkan matanya.
"Iya deh adek mah ngalah aja udah bang."
"Bagus." Levin berkata sambil menepuk ringan kepalaku
"Bentar aku panggil Timmy dulu."
Aku naik ke atas menjemput Timmy, tadi bingung mau dipakein apa Timmy tapi karena melihatku memakai dress dia juga minta pake dress. Aku memakai dress hitam dan rambut ku sengaja digerai.
Sedangkan Timmy memakai dress hadiah dari papinya. Dengan poni itu Timmy jadi tambah imut.
Aku turun sambil menggendong Timmy.
"Aaah, princess papap cantik banget. Mentang-mentang mau ketemu opa sama oma jadi dandan yng cantik. Siapa sih yang dandanin peincessnya papap?"
"Hihihi, makasih pap. Papap juga ganteng pake baju itu."
Ssebenarnya Levin ini malu-maluin masa mau ketemuan sama orang pake baju gitu. Tapi disuruh ganti dia gak mau. Nasib emang punya sepupu semprul kayak Levin.
Diperjalanan Levin dapet telfon entah dari siapa yamg pasti kayaknya itu penting.
"Dek, maaf banget."
Sebelum Levin selesai aku lebih dulu menyela.
"Iya nhgak apa. Pergi aja, aku bisa kok cuma sama Timmy aja."
"Kamu yakin? atau aku batalin aja?"
Huh, gini nih punya abang dan sepupu-sepupu yang posesif.
"Iya Vin, lagian aku tuh mau ketemu sama opa dan omanya Timmy bukan papanya Timmy. Jangan dibatalin, siapa tahu penting."
"Oke, nanti kalau urusan aku udah selesai aku langsung susulin kamu ya!"
"Iya."
"Nah Princessnya papap, jangan nakal ya! Harus pinter, jangan bikin mama, opa atau oma repot. Kalau urusan papap udah selesai nanti papap susulin princess sama mama. Ok."
"Ok, pap."
Disinilah aku, Timmy, papi dan mami berada. Mami mengajak Timmy menaiki electric train.
"Makasih kamu udah izinin papi sama mami dekat dengan Timmy."
Aku tersenyum mendengar perkataan papi.
"Udah kewajiban Prilly memperkenalkan Timmy pada opa dan omanya...juga papanya. "
Aku sadar, ketika diakhir kalimatku tadi aku berkata dengan lirih. Aku belum siap memperkenalkan Timmy pada Ibra. Aku merasakan ada yang merangkul bahuku.
"Papi tahu kamu belum siap. Tenang aja, papi dan mami nggak akan maksa kamu supaya Timmy ketemu papanya. Papi yakin kamu punya rencana sendiri."
Setelah puas bermain dengan Timmy, papi dan mami pamit pulang karena tidak mau jika nanti ada yang mencurigai mereka. Sekarang aku sedang menunggu Levin menjemputku dan Timmy.
"Dooor."
Astaghfirullah, ini nih satu sepupu yang ngeselin lagi. Kurang kerjaan banget ngagetin orang. Dasar jail dipelototin orang malah cekikikan.
"Maaf, Sayang."
Aku sama sekali tidak menanggapi permintaan maafnya dan memalingkan muka.
"Nah tuh, ayah sih suka usil sama mama. Kan mama jadi ngambek." Timmy berkata sambil cekikikan juga. Nih anak siapa sih? Kok mamanya malah digodain gini?
"Ayah, ganteng banget! Ayah abis kerja ya?"
Sekilas aku melirik tampilan bang Dimas, kemeja putih tanpa dasi kemudian jas hitam dan celana jeans. Para lelaki Adijaya arang banget pake stelan kerja yang bener, dan bang Dimas salah satu contohnya.
"Ayo bang kita pulang ini udah sore. Ntar malem kan kita ada acara makan malem bareng buat ngelepasin pengantin baru honeymoon."
Nanti malem ada acara keluarga karena bang Daryl dan Laras akan honeymoon, jadi acara nanti malam untuk ngelepas mereka.
❤❤❤
Author Pov
Sebenarnya malam ini Ibra sangat malas untuk keluar rumah tapi tadi sore papinya pulang dengan keadaan lelah dan meminta Ibra untuk mewakilinya menemui client penting yang datang dari Jerman.
Memasuki restaurant mata Ibra tertuju pada sebuah pemandangan yang membuat hatinya sakit. Saat ini disana Aqillah bersama keluarga besarnya sedang makan malam bersama dan nampak entah siapa lelaki yang saat ini tengah dirangkul Aqillah. Aqillah juga kelihatan cantik dengan flowing dressnya
Ingin rasanya Ibra menghampiri Aqillah tapi tidak mingkin. Dia tidak mau mempermalukan keluarga Aqillah dan juga tidak mau clientnya menunggu.
Ditempat lain Dimas yang duduk disamping Aqillah membisikan sesuatu pada Aqillah. Seketika Aqillah menengok kearah yang diberitahukan oleh Dimas. Aqillah terkejut melihat Ibra yang saat ini ada ditempat yang sama dengan keluarganya.
"Bang, gimana?" Aqillah bertanya dengan nada lirih pada Dimas. Biar bagaimana juga Aqillah tidak mau membuat kacau acara makan malam keluarganya.
"Tenang ada abang sama yang lain."
Sementara dimejanya Ibra sudah tidak fokus dengan apa yang dijelaskan oleh clientnya. Ibra berdiri lalu berkata.
"Maaf saya permisi ketoilet sebentar."
"Ya silahkan Mr.Syarief."
Melihat Ibra yang menuju toilet, Levin yang sedari tadi memperhatikan Aqillah dengan kegelisahannya dan melihat ternyata ada Ibra disana. Mati-matian Levin menahan emosinya. Dia memang tidak tahu apa yng terjadi antara Inra dan Aqillah, namun yang dia tahu sepupu tercintanya itu tersakiti. Levin bangkit dari duduknya.
"Eh, eh, eh ni anak mau kemana kamu?"
"Hehehe, bunda! Levin mau ketoilet bentar udah kebelet ini."
Setelah mengatakan itu Levin menuju toilet, dan menunggu Ibra keluar dari toilet. Ketika pintu didepannya terbuka Levin menegakan badannya.
"Lebih baik lo jauhin Aqillah." perintahnya tegas pada Ibra.
"Apa hak lo? Lo siapa? Lo bukan suaminya juga kan." tanya Ibra menantang tatapan Levin.
"Gue nggak segan-segan bikin perhitungan sama lo kalau sampai lo gangguin Aqillah sama princess."
Setelah mengatakan itu Levin pergi meninggalkan Ibra dengan kebingungannya.
Princess siapa? Emangnya aku pernah mengganggu orang yang disebut princess? Aneh tuh orang. Ibra bergumam dalam hati bertanya-tanya apa sebenarnya maksud dari perkataan Levin.