Perasaan Marah Hanna

1246 Words
“Halo, Mas?” Suara Nadhira terdengar lembut di seberang sana. “Ya, Nad? Ada apa?” jawab Bayu, suaranya yang menenangkan, berusaha menyelimuti kegelisahan yang terpancar dari nada istrinya. “Aku ingin kamu bermalam di rumah Hanna lagi sampai dia hamil, Mas,” ujar Nadhira tanpa basa-basi, namun dengan nada yang menyimpan kekosongan, seperti gemerisik daun kering yang diinjak tanpa sadar. Bayu memijat batang hidungnya, gerakan kecil itu terasa seperti usaha sia-sia untuk mengusir beban berat yang menekan batinnya. Kata-kata Nadhira tadi menancap seperti duri yang tak terlihat, namun perihnya begitu nyata. “Hanna pasti hamil, Nad. Justru jika harus melakukannya setiap hari, khawatir tumbuhnya lama.” Kalimatnya keluar tanpa jiwa, seperti seseorang yang berbicara di bawah bayang-bayang takdir yang memaksanya bertahan. “Teori dari mana itu, Mas?” Nadhira berbalik, suaranya mengeras, namun tetap terselip serpihan luka yang berusaha ia sembunyikan. “Pokoknya aku mau kamu bermalam di rumah Hanna sampai dia hamil ya, Mas. Kamu sudah membayarnya mahal lho, Mas.” Bayu menghela napas kasar. Suara itu seperti angin badai kecil yang berhembus di dalam ruangan sunyi. Pikirannya melayang, membayangkan dirinya menjadi bagian dari kesepakatan yang ia benci, seolah-olah ia tak lebih dari seorang penawar harga dalam pelelangan rasa. “Lagi pula, aku sedang mens,” timpal Nadhira, suaranya kini datar, seperti debur ombak yang kehilangan gairah. “Jadi, kamu tidak bisa menyentuhku sampai lima hari ke depan.” “Baiklah,” jawab Bayu akhirnya, suaranya serak seperti ranting yang patah. “Aku akan bermalam di rumah Hanna sampai dia hamil. Tapi, kamu oke, kan?” Nadhira terkekeh pelan, tetapi tawa itu kosong, seperti bayangan yang tak memiliki tubuh. “Jika demi masa depan kita, aku baik-baik saja kok, Mas. Justru yang aku khawatirkan saat ini adalah orang tuamu. Mereka akan bertanya-tanya karena pernikahan kita sudah memasuki tiga tahun. Tolonglah bantu aku, Mas.” Bayu menatap kosong ke depan, membayangkan wajah istrinya yang menanggung beban seperti batu besar yang terikat di dadanya. Ia merasa dadanya sesak, bukan karena amarah, tetapi karena kasihan yang menyesak, merayap dalam setiap serat hatinya. Nadhira, perempuan yang ia cintai, kini hanya menjadi bayangan dirinya sendiri—patah, rapuh, dan tak berdaya setelah mengetahui kenyataan pahit tentang dirinya. “Iya, Sayang,” ujar Bayu dengan suara yang lebih lembut, seperti pelukan yang tak terlihat. “Aku pasti akan membelamu jika orang tuaku menanyakan cucu pada kita.” Perempuan itu tersenyum mendengarnya, senyuman yang lembut seperti kelopak mawar di musim semi, namun tersembunyi di baliknya adalah luka yang tidak dapat dilihat mata telanjang. “Kamu memang selalu jadi garda terdepan untukku, Mas. Itulah kenapa aku rela memiliki madu, karena aku percaya, kamu tidak akan mengkhianatiku.” Dada Bayu seketika terasa sesak, seperti ruang di dalam tubuhnya menyempit oleh rasa bersalah yang perlahan menyusup. Ia menundukkan kepala, seolah menyembunyikan bayang-bayang gelap yang kini melingkupi pikirannya. Kata-kata Nadhira menancap seperti duri yang sulit dicabut—tajam, menyakitkan, dan tak berujung. Ia juga berharap, dengan segenap jiwa, tidak akan mengkhianati kepercayaan itu, meski hatinya tahu ada kemungkinan ia akan tersesat. Bukan pada Hanna sebagai seorang wanita, melainkan pada kebutuhan yang harus ia penuhi demi memenuhi takdir mereka. “Lagi pula itu tidak akan bertahan lama,” katanya, suara itu terdengar seperti janji yang ia buat pada dirinya sendiri, lebih daripada kepada istrinya. “Setelah Hanna melahirkan anak untuk kita, detik itu juga aku akan menceraikannya, Sayang. Cintaku hanya untukmu. Dan kita akan besarkan anak itu sama-sama.” Nadhira terkekeh mendengarnya, suara tawanya seperti denting gelas kristal, bening namun rapuh. “Kamu ini, masih gombal saja. Ya sudah kalau begitu, selama satu minggu ini sebaiknya kamu pulang ke rumah Hanna saja, ya?” Bayu menghela napas panjang, napas yang terdengar seperti rintihan yang tak bersuara, membawa beban yang tak kasat mata. “Baiklah,” ucapnya dengan pelan, seperti daun yang jatuh perlahan ke tanah. Nadhira menutup panggilan tersebut setelah puas mendengar jawaban Bayu yang menuruti keinginannya. Di balik telepon yang terputus, Bayu merasakan keheningan yang lebih menggema daripada sebelumnya. Kata-kata Nadhira berputar di pikirannya seperti mantra, dan setiap pengulangan hanya menambah rasa bersalah yang mengendap di dadanya. “Nadhira pasti takut orang tuaku menanyakan cucu. Dia pasti kepikiran setiap harinya,” gumam Bayu lirih, suaranya seperti gumaman angin yang kehilangan arah. Ia menghela napas lagi, seperti berusaha mengusir awan gelap di hatinya, tetapi gagal. Tok tok Bayu mengangkat kepalanya saat pintu ruangannya diketuk. Pandangannya bertemu dengan sosok Hanna yang berdiri di ambang pintu, mengenakan blus putih sederhana yang memancarkan aura tenang. Namun, di mata Bayu, kehadirannya hanya seperti pengingat akan keputusan pahit yang harus ia jalani. “Ada apa?” tanyanya kemudian, nada suaranya terdengar datar, berusaha menyembunyikan gelombang emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. “Ada beberapa proposal yang harus ditandatangani, Pak,” jawab Hanna dengan sopan, suaranya lembut seperti bisikan dedaunan. “Pak Rafi sedang meeting dengan staf marketing, jadi saya diminta memberikan langsung pada Anda.” Bayu mengambil dokumen tersebut, tangannya bergerak otomatis, tetapi pikirannya melayang jauh. Setiap lembaran kertas yang ia buka terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah bukan hanya tinta di atasnya, tetapi juga beban hidup yang ia pikul. Ia membacanya dengan saksama, meski pandangannya sesekali mengabur oleh pikiran yang tak henti-henti menghantui. Saat pena bertemu dengan kertas, Bayu menandatangani dokumen tersebut. “Ada lagi yang ingin disampaikan?” tanya Bayu kemudian, suaranya datar, namun nadanya membawa ketegangan yang menggantung di udara, seperti petir yang bersembunyi di balik awan kelabu. “Tidak ada, Pak. Hanya ini saja,” jawab Hanna, suaranya lembut namun dingin, seperti embun pagi yang menggigit kulit. “Kalau begitu, saya yang ingin bicara dengan kamu. Masalah pribadi.” Hanna terdiam sejenak, matanya menangkap sorot tajam Bayu yang menyiratkan niat yang sulit ditebak. Ada ketegangan di antara mereka, seperti benang tipis yang siap putus kapan saja. “Kamu… sedang dalam masa subur?” tanyanya akhirnya, tanpa basa-basi, tanpa sapaan, seperti pisau yang langsung menusuk inti permasalahan. Hanna terdiam, tubuhnya terasa kaku. Pertanyaan itu menggema di ruang kecil itu, menyisakan keheningan yang lebih menusuk daripada jawaban apa pun. Ia melirik kalender di meja kerja Bayu, jarinya perlahan mengarah pada tanggal-tanggal yang sudah ia hafal di luar kepala. Dengan gerakan pelan, ia menggeleng. “Minggu depan seharusnya saya datang bulan,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan. “Jadi, minggu ini tidak masuk dalam masa subur.” “What?” Bayu terdengar terkejut, suaranya melengking dengan nada yang mengiris, seperti kaca yang retak tiba-tiba. “Kenapa tidak bilang kalau kamu tidak sedang dalam masa subur, Hanna? Kamu sengaja, ya? Kamu ingin menggoda saya, huh?” Mata Hanna menyipit, dan untuk sesaat, ia merasa dadanya mendidih. Amarah yang selama ini ia pendam mulai menyembul ke permukaan, seperti lava yang tak mampu lagi ditahan gunung berapi. “Jangan menuduh saya seperti itu ya, Pak!” suaranya meletup, keras dan tajam. “Saya masih punya harga diri meski sudah Anda beli dengan biaya operasi adik saya! Daripada menggoda Anda, lebih baik saya menggoda duda kaya raya di luar sana!” Bayu terdiam, matanya membulat, tetapi Hanna belum selesai. Kata-katanya mengalir deras, seperti banjir yang menerobos bendungan rapuh. “Saya tidak pernah meminta Anda untuk datang ke rumah saya dan bercinta dengan saya. Itu semua atas perintah Mbak Nadhira, kan? Saya pun sebenarnya muak!” Hanna berhenti sejenak, napasnya memburu, dadanya naik turun seperti ombak yang dihempas badai. “Justru dia yang meminta saya untuk menggoda Anda,” lanjutnya dengan nada yang kini dipenuhi luka. “Kalau mau menyalahkan orang, salahkan saja istri Anda yang mendesak saya agar segera bercinta dengan Anda!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD