Masih Menantau Hanna

1388 Words
“Hm!” Bayu menganggukkan kepala dengan gerakan pelan, nyaris tak terlihat. “Aku sedang bersama Nadhira semalam. Kenapa?” tanyanya, suaranya datar, seperti mencoba menyembunyikan sesuatu di balik ketenangan itu. Arkan hanya menggeleng, meski pikirannya masih dipenuhi dengan spekulasi liar. Ia merasa dugaannya meleset, bahwa Nadhira tidak menyembunyikan apa pun dari Bayu. Namun, rasa penasaran itu tetap menggelitik, seperti gatal yang sulit dijangkau. “Nggak. Cuman pengen tahu aja. Biasanya kamu jarang nolak buat clubbing. Tapi, semalam tiba-tiba aja nolak. Kan, aneh.” Nada Arkan terdengar santai, tapi sorot matanya tajam, seperti mencoba membaca rahasia di balik wajah Bayu. Bayu menghela napas, panjang dan berat. Udara di ruangan itu terasa lebih dingin meski tidak ada pendingin tambahan. “Nanti aku ikut kalau kalian ke sana lagi.” “Good! Ini baru namanya Bayu!” sahut Arkan sambil menerbitkan senyum lebarnya, tapi hatinya tidak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu di mata Bayu—sesuatu yang tersembunyi, seperti kabut yang menutupi pemandangan di pagi hari. Bohong jika ia tidak penasaran. “Kenapa lagi, Bay?” tanyanya akhirnya, memberanikan diri untuk menembus lapisan keheningan. “Aku lihat-lihat dari tadi kamu kelihatan kayak ada yang pengen kamu sampaikan gitu.” Bayu menoleh perlahan, gerakan itu hampir seperti adegan dalam film yang diputar dengan kecepatan rendah. Ia mengangkat alisnya, sebuah isyarat yang sulit diartikan. “Apa? Aku tidak punya sesuatu yang harus aku bagi denganmu, Arkan. Urus saja proyek terbaru kita, dan cek progresnya.” Nada suaranya tegas, seperti pintu yang tertutup rapat, tidak memberi celah untuk masuk. Tapi, bagi Arkan, hal itu justru memperbesar rasa ingin tahunya. “Baiklah, baiklah,” katanya, mengangkat tangannya seolah menyerah. Namun, ia tetap menatap Bayu dengan rasa penasaran yang belum terpuaskan. “Tapi, beneran kan, kamu lagi nggak menyembunyikan sesuatu dari kami?” tanyanya lagi, mencoba menggali lebih dalam meski tahu resikonya. Bayu mengusap wajahnya kasar, jari-jarinya menyeret napas berat yang menggantung di udara. “Nothing, Arkan. Kamu mau nambah masalah apa gimana, huh?” Nada suaranya naik, seperti bara api yang mulai menyala. Arkan lantas meringis pelan, menyadari batas yang tidak boleh dilanggar. “Nggak. Udah cukup masalah kerjaan aja nggak kelar-kelar. Ya udah, aku pamit,” katanya akhirnya, mencoba meredakan ketegangan sebelum ia benar-benar melangkah keluar dari ruangan itu. Bayu menghela napas panjang setelah Arkan pergi, seolah mencoba mengusir sesuatu yang berat di dadanya. Ia bersandar di kursi kebesarannya, tubuhnya tampak rileks, tapi pikirannya jauh dari itu. Matanya mengarah keluar melalui kaca, tertarik pada Hanna yang sedang berbincang dengan Meta di ujung ruangan. Suara tawa mereka menggema samar, memecah keheningan yang melingkupi dirinya. Bayu mengerutkan keningnya, seperti melihat sesuatu yang tidak biasa. “Apa yang Hanna bicarakan dengan temannya itu? Apa dia memberitahu semuanya?” pikir Bayu, tatapannya tajam, menusuk melalui dinding kaca ruang kerjanya. Alisnya berkerut dalam, menandakan pikirannya yang penuh dengan tuduhan yang mungkin tidak berdasar. Ia memalingkan pandangan sejenak, tapi pikirannya terus bergolak. “Bisa-bisanya dia masih tertawa setelah kejadian semalam. Apa dia memang mengincarku selama ini? Atau ini semua cuma permainan yang sudah dia rancang?” Tuduhannya berputar-putar di dalam kepalanya, seperti badai yang tak kunjung reda. Wajahnya menegang, tangannya terkepal di atas meja kerjanya, seolah sedang mencoba menahan sesuatu yang bisa meledak kapan saja. Sementara itu, di meja kerjanya, Hanna mencoba untuk tetap fokus meski tubuhnya terasa berat. Tawa Meta di sebelahnya menggema ringan, menyelubungi ruang kerja dengan suasana santai yang bertolak belakang dengan apa yang dirasakan Hanna. “Pak Bayu makin aneh aja, Han,” bisik Meta dengan nada geli, tapi ada sedikit rasa penasaran yang terselip di sana. Matanya melirik ke arah ruang kaca, mengamati Bayu yang tampak tidak biasa. Hanna menoleh ke arah Meta, lalu melirik ke kaca yang mengarah ke ruang kerja Bayu. Ia menahan napas sejenak, lalu melepaskannya dalam tawa kecil yang dibuat-buat. “Mungkin lagi rekap tahunan, Met. Dia lagi nyari karyawannya yang teladan,” jawab Hanna dengan nada ringan, meski dalam hatinya terasa seperti ada duri yang menusuk. Meta tertawa mendengar jawabannya. “Nggak ada, Hanna,” ucapnya, tapi kemudian ia mengerutkan keningnya. Matanya menatap Hanna dengan cermat, seperti sedang mencoba mencari sesuatu yang tidak beres. “Hanna? Are you okay? Kenapa muka kamu pucat banget? Kayak orang kelelahan. Kamu sakit?” tanyanya, nada suaranya berubah menjadi cemas. Hanna menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya. Ia meraih kaca kecil dari tasnya dan memandang pantulan wajahnya. Memang benar, wajahnya sedikit pucat, dan matanya tampak sayu, seolah beban dunia menggantung di sana. Namun, ia segera menguasai dirinya, memasang senyum yang cukup meyakinkan. “Nggak apa-apa kok. Aku baik-baik saja,” jawabnya, suaranya terdengar lembut, seperti aliran sungai yang mencoba menutupi kerikil di bawahnya. Meta masih menatapnya dengan ragu. “Beneran? Kalau emang lagi sakit, izin aja dulu, Hanna. Nggak usah maksain.” Hanna menggeleng cepat, senyumnya tetap terpasang meski sedikit lemah. “Nggak. Aku nggak sakit kok. Aman pokoknya.” Ia menekankan kalimat itu, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri daripada Meta. Meta menghela napas panjang, menyerah untuk mendesaknya lebih jauh. “Baiklah. Bagaimana dengan Bastian? Dia udah siuman?” tanyanya, mencoba mengalihkan pembicaraan. Hanna mengangguk pelan. “Ya. Bastian masih dirawat di rumah sakit, tapi kondisinya sudah membaik,” jawabnya, suaranya terdengar lebih tenang sekarang, meski ada sedikit kelelahan yang sulit ia sembunyikan. “Oh, syukurlah. Aku lega mendengarnya. Nanti sore aku ingin menjenguknya, Han.” Hanna mengangguk lagi. “Ya. Kita pergi sama-sama.” Meta tersenyum, matanya sedikit berbinar mendengar rencana itu. “Oh, Hanna. Aku lupa memberitahumu sesuatu,” katanya tiba-tiba, nadanya sedikit menggoda. “Apa lagi, Meta?” tanya Hanna, mencoba terdengar santai, meski tangannya sibuk mengatur dokumen di meja. “Ada GA baru. Kemungkinan dua hari lagi bakal dikenalin sama Pak Bayu,” kata Meta dengan nada penuh semangat. “Katanya sih ganteng pake banget. Gak jauh beda sama CEO kita.” Hanna terkekeh kecil mendengar ucapan Meta. Suara tawanya ringan, seperti angin yang melintasi dedaunan di pagi hari. “Pak Bayu?” ulangnya, menatap Meta dengan alis terangkat. “Iya,” sahut Meta sambil mencondongkan tubuhnya sedikit, seperti ingin berbagi rahasia besar. “Emangnya kamu nggak sadar, kalau CEO kita yang kayak kanebo kering itu sebenarnya ganteng? Cuma ketutup hawa dingin dan arogannya aja.” Tawa Hanna semakin meletup, memenuhi udara seperti alunan piano yang melompat-lompat dalam nada ceria. “Ya, kamu benar. Tapi, dia sudah punya istri, Meta. Ingat itu,” ucapnya, berusaha menambahkan sedikit nada serius di tengah canda mereka. Meta bergidik, ekspresinya dramatis seperti aktris dalam adegan panggung. “Dih! Siapa juga yang doyan sama suami orang, Hanna. Ya kali.” Ia mengibas-ngibaskan tangannya seolah membuang jauh-jauh ide itu. Hanna terdiam mendengar ucapan Meta. Tawa yang tadi ringan kini lenyap, digantikan oleh keheningan yang menyelinap seperti bayangan di bawah matahari sore. Ia menelan ludah dengan susah payah, rasa kering tiba-tiba menyergap kerongkongannya. Ucapan Meta berputar-putar di benaknya, bergaung seperti gema di dalam gua. “Untuk apa menyukai suami orang?” Itu memang benar, pikir Hanna. Namun, apakah dirinya benar-benar menyukai suami orang? Bukankah posisinya berbeda? Ia tidak pernah memilih ini; keadaanlah yang mendesaknya, memaksanya menerima kenyataan pahit menjadi istri kedua seorang pria beristri. “Malah melamun,” suara Meta memecahkan lamunan Hanna seperti sebuah kaca yang retak tiba-tiba. Hanna menoleh cepat, berusaha menutupi kekosongan di wajahnya dengan senyum yang terburu-buru. “Nggak kok. Aku lagi fokus kerja nih, Met. Nanti siang nitip makan, ya?” jawabnya dengan nada seolah semuanya baik-baik saja. “Oke.” Meta mengangguk, lalu berdiri sambil merapikan blazer birunya. “Aku juga mau presentasi dulu. Bye!” katanya ceria sebelum melangkah pergi menuju ruang rapat. Begitu Meta pergi, Hanna menghela napas panjang, seolah beban tak kasatmata yang menekan dadanya baru saja bertambah berat. Ia melirik sekilas ke arah kaca besar yang memisahkan ruangannya dari ruang kerja Bayu. Bayu tampak sibuk, matanya menatap layar monitor dengan serius, namun Hanna tahu tatapan itu sesekali menyelinap ke arahnya. Ia merasakan sorot yang dingin, penuh selidik, seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi dalam diam. ‘Sepertinya Pak Bayu masih memantauku. Takut banget aku bakalan membocorkan semuanya pada Meta,’ pikir Hanna, merasa dadanya sesak oleh tekanan yang ia ciptakan sendiri. Ia menggeleng pelan, seolah berusaha mengusir bayang-bayang gelap yang mengelilingi pikirannya. ‘Sebaiknya aku harus mencari cara supaya cepat bisa hamil dan memberi anak untuk Pak Bayu dan Mbak Nadhira. Aku harus menyelesaikan masalah itu,’ batinnya. Tekad itu terpahat dalam dirinya seperti ukiran yang tak bisa dihapus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD