Waktu sudah menunjuk angka delapan malam. Langit kelam menggantung di atas kota, sementara lampu-lampu jalan berpendar lembut di antara riuh rendah kendaraan yang berlalu-lalang. Di dalam restoran elegan dengan cahaya temaram, Melvin duduk di salah satu meja dekat jendela besar, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Ia sudah menunggu cukup lama, namun sosok yang diharapkannya tak kunjung tiba. Saat pintu restoran terbuka dan seorang wanita melangkah masuk, dahi Melvin segera berkerut. Itu bukan Hanna. "Meta?" tanyanya, suaranya terdengar ragu. Meta tersenyum kecil, lalu menarik kursi di hadapannya. "Hai, Pak Melvin." Melvin menatapnya dengan alis terangkat. "Di mana Hanna?" Meta menghela napas, menyesap segelas air putih sebelum menjawab, "Dia memintaku untuk menggantikannya

