Satu jam kemudian, meja makan telah tertata rapi, dihiasi oleh hidangan yang mengepul dengan kehangatan. Aroma oseng tempe bercampur rempah menguar lembut, berpadu dengan wangi nasi hangat yang baru saja diangkat dari kukusan. Udara di sekitar mereka terasa lebih akrab, seolah menyambut momen kecil yang jarang terjadi. Perut Bayu sudah sejak tadi berirama, seakan-akan berdendang bersama wangi masakan Hanna yang menggoda. “Bastian, ayo makan dulu. Setelah itu istirahat,” ujar Hanna seraya menghampiri adiknya yang masih terpaku di depan televisi, matanya sedikit redup akibat kelelahan. Ketiganya kini duduk bersama di meja makan, menyantap makanan yang masih mengepul dengan kehangatan yang menenangkan. Bayu, tanpa sadar, menyendok oseng tempe lebih banyak dari yang ia perkirakan, seol

