“Ke mana saja kamu, Nadhira? Kenapa panggilanku tidak kamu jawab satu pun?” Nada suara Bayu terdengar tegang saat langkah kakinya mendekat, menghampiri wanita yang kini tengah duduk di sofa ruang tengah. Nadhira tampak begitu tenang, seolah tak terganggu oleh kehadirannya. Jemarinya yang lentik membalik halaman majalah harian terbaru dengan gerakan santai, seakan dunia di sekelilingnya hanya sekadar ilusi yang tak perlu ia pedulikan. Mata mereka akhirnya bertemu. Nadhira menghela napas pelan, ekspresinya datar, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan. “Aku kan sudah bilang sama kamu, Mas,” ucapnya dengan nada selembut kapas, “Aku lagi di rumah Mama. Semalam ada acara di sana, dan aku meninggalkan ponselku di kamar.” Bayu masih berdiri di tempatnya, menatap perempua

