Ku Tak Akan Bersuara

1235 Words
Di pertigaan jalan berikutnya kami berpisah. Ini sebuah kebetulan, aku mengambil jalan ke kiri dan ia ke kanan. Tak ada jalan berbalik, perempuan tua busuk itu mengikutiku. Larinya tidak begitu cepat, mirip seperti zombie di film-film. Hanya saja, tempat ini seperti hanya berputar-putar saja dan beberapa kali aku menemukan jalan buntu. Dan yang lebih buruknya lagi zombie tua itu sangat hafal jalan. Kemanapun aku meluncur, sepertinya dia tahu jalan pintas untuk mencegatku. Hidungnya kurasa bisa mengendus keberadaanku, sekali aku bersembunyi di balik pilar besar itu pun dia bisa menemukanku. Sebuah jalan buntu lagi, sial. Punggungku beringsut ke dinding, menekan keinginan untuk berteriak ketakutan dan juga ingin muntah. Selain busuk, dia sangat menjijikkan dengan kulit yang mengelupas berair dan daging yang koyak. Bau menyengat yang keluar dari tubuhnya membuatku sulit berpikir mencari jalan keluar. Tak ada pilihan lain, aku membuat jarak sejauh mungkin ke sudut. “Hai yang busuk, tangkap ini!” Kutarik tangkai apel yang ada di bola tenis dan melemparnya ke zombie itu. Tangan kurusnya mengayun ke udara dan beberapa dagingnya yang mengering rontok. Ketika bola itu mendarat mulus di telapak tangannya, yang kuharapkan tidak terjadi. Bola itu tidak meledak. Apa-apaan ini? Dia membolak-balik bola itu dengan ekspresinya yang bingung sesekali menggaruk kepalanya. Rambut berguguran di bagian manapun yang ia garuk. Apa di jaman Belanda dulu belum ada bola tenis? Entah sudah ada atau tidak tapi kujamin dia tidak tahu itu karena kemudian dia menggigitnya, beberapa giginya berjatuhan ke tanah. Namun taringnya cukup kuat untuk menembus bola itu. “Boommmbbb!” “Brakkk!” Tengkoraknya melayang membentur kepalaku. Mataku terlalu terpana dengan pemandangan giginya yang berguguran hingga tidak mengantisipasi bahwa benda itu bisa meledak. Telingaku berdengung dan pandanganku mengabur. *** Aku terbangun dengan tepukan di pipi dan suara Nalo yang menyentak. Kepalaku berdenyut-denyut. Kuraba dahiku dan darah yang cukup lengket melumuri dahi hingga ke pipi. Itu artinya aku belum terlalu lama pingsan. Luka di dahiku sudah hampir menutup kata Nalo. Itu bagian yang paling kusyukuri di dunia yang aneh ini. Luka akan cepat sembuh dengan sendirinya. “Perempuan bersepatu roda itu belum juga muncul?” tanyaku pada Nalo yang membantuku berdiri. “Belum, musik jazz horror itu semakin kuat, kurasa tidak akan lama lag.” Perutku mual ketika menengok ke arah tempat zombie tua tadi meledak. Bagian-bagian tubuhnya berceceran di mana-mana. Usus yang mengering dan mengkerut terburai seperti tali. Cairan berwarna hitam busuk m*****i de sekeliling ceceran daging kering itu. Kurasa aku akan benar-benar muntah. Aku bukannya banci, hanya saja aku tidak biasa dengan hal-hal menjijikkan semacam itu. Nenekku adalah orang aneh yang sangat mencintai kebersihan satu level di bawah kecintaannya pada game. Kau akan melihat para pekerja tidak henti-hentinya membersihkan rumah seperti sedang membersihkan rumah sakit. Kakiku meluncur menjauhi Nalo dan sisa-sisa zombie itu, memuntahkan isi perutku. Gilingan apel bercampur asam lambung tumpah ke tanah. Lega. Aku menutupnya dengan pasir. Aku sedang berpikir akan meninggalkan tempat dan permainan ini, memikirkan apa yang akan terjadi kepada kami jika gagal menyelesaikan permainan ini. Aku bertanya-tanya sepertinya tidak disebutkan bagaimana permainan ini berakhir. Apa kami harus terus berlari dari Nona Smith tua itu? Itu pasti akan menjadi pelarian tanpa akhir. Kuharap ada sesuatu yang bisa mengakhiri permainan ini tanpa harus menyelesaikan setiap level permainan. Umur panjang, yang sedang kami bicarakan akhirnya datang juga. Suara tawanya yang riang diikuti jubah dan rok merahnya yang berkibar dengan kepulan debu di belakangnya. “Wuuzzzz.” Kami meluncur secepat yang kami bisa. Sesekali aku menengok ke belakang, di lengannya menggantung keranjang dengan kulit pisang listrik. Satu dua lemparan meleset dan lemparan selanjutnya membuatku terpeleset dan jatuh tepat di atas kulit pisang itu. “Aaarrrgghhhh!” Ibarat jatuh tertimpa tangga. Terpeleset kulit pisang listrik artinya jatuh dengan sengatan listrik yang cukup membuatmu kesakitan dan seluruh rambut yang ada di tubuhmu berdiri. Aku tidak berlebih-lebihan ketika berkata ‘semua’ yang artinya tidak ada pengecualian. Bahkan rambut alisku, dan jambangku ikut berdiri. Kuraba bulu mataku yang lentik dan tebal juga ikut berdiri. Semoga efek ini tidak permanen karena para wanita selalu memuja bulu mataku yang membuat mereka iri. Perempuan tua itu sudah mengayunkan tongkatnya akan menghajarku ketika Nalo melemparinya dengan kerikil. “Hai … sebelah sini gadis keriput!” Nona Smith langsung merubah haluan dan ganti mengejar Nalo. Bagus, dia tidak meninggalkanku sendiri kali ini. Efek listrik itu masih terasa di sekujur tubuhku, rasanya tegangan listrik rendah itu menggelitik dari ujung rambut atas sampai ujung kuku. Kulitnya saja luar biasa seperti ini. Lagu bagaimana buahnya. Aku penasaran apakah itu bisa dimakan? Kuambil kulit pisang yang tadi membuatku terpeleset. Yang tadinya berwarna sekuning Pikachu, sekarang berangsur menghitam dan mengkerut. Kurasa setelah energi listriknya menghantam seseorang, maka tegangan yang ada di kulit pisang itu menghilang. Setelah berangsur efek sengatan listrik itu menghilang aku meluncur lagi ke arah Nalo dan perempuan tua itu pergi. Koin-koin dan apel masih menggantung di udara, kurasa mereka tidak sempat mengambilnya. Kudengar dari lumayan melengking di kejauhan suara perempuan tua itu. Nalo dan Nona Smith bertarung di atas pemakaman tua. Batu-batu khas nisan kuburan belanda banyak yang hancur dan aku mulai khawatir apakah orang-orang yang istirahat di dalamnya nanti akan bangun seperti zombie tua itu. Kakiku sudah merasakan getaran yang masih ringan merambat dari arah pemakaman tua itu. Jika mereka semua harus bangkit akan ada banyak mayat hidup yang harus kami hadapi. Aku melakukan kalkulasi di kepalaku. Di sana ada sekitar puluhan batu yang masih utuh dan tidak terhitung yang sudah rusak. Ya Tuhan, getaran di kakiku mulai kencang, dan mereka berdua masih beradu tongkat sambil meluncur berbelok-belok di atas makam-makam itu. Masih menunggu di gerbang pemakaman aku bersiul kepada Nalo, menunjuk-nunjuk ke arah batu-batu nisan yang masih utuh bergerak-gerak dengan sendirinya. Mereka berdua menghentikan pertarungan, tidak bergerak sama sekali. Yang bisa kulakukan adalah berdoa, semoga yang dimakamkan di sana adalah sekumpulan noni Belanda yang cantik dan sexy dengan gaun berkorset ketat dan d**a yang berlimpah meluber. Itu lebih baik daripada zombie nenek-nenek. Jangan heran jika dalam keadaan darurat seperti ini pun para pria masih bisa berpikiran kotor, itu adalah bakat alami kami. Ketika getaran diikuti gemuruh itu semakin kencang, batu-batu itu beterbangan melompat ke luar makam. Sial, aku di tempat yang salah. Batu-batu berat itu berjatuhan hampir menimpaku. Untuk beberapa menit lamanya aku harus meluncur kesana-kemari untuk menghindarinya. Hujan batu nisan usai sudah, kulihat di area pemakaman sudah mulai terlihat lubang-lubang menganga. Nalo dan Nona Smith kembali bertarung sambil meluncur ke arah gerbang. Mengapa mereka tidak gencatan senjata dulu. Menghindari mayat-mayat hidup itu lebih penting untuk saat ini. Karena kami belum tahu sejauh mana berbahayanya makhluk itu. Di belakang mereka makhluk-makhluk itu sudah mulai bermunculan dari lubangnya. Sepertinya doaku terkabul, meskipun tidak semuanya terlihat sexy tapi di sebagian dari mereka adalah perempuan yang terlihat masih muda dengan rambut pirangnya dan korset-korset mereka yang diikat kencang. Seperti halnya nenek-nenek di kalangan manusia. Kurasa nenek-nenek dari kalangan zombie juga lebih menyebalkan. Mereka lebih mudah tersinggung seperti zombie nenek-nenek yang tadi kuledakkan, sulit memaafkan diriku yang hanya mengganggu tidurnya barang sedikit. Dan di antara zombie-zombie yang sudah benar-benar berdiri di atas kakinya, yang mengejar Nalo dan Nona Smith lebih dulu adalah yang tua dengan rambut mereka yang hampir memutih rata. Sedangkan noni-noni zombie sepertinya ngerumpi dulu membahas gaun mereka yang beberapa telah robek dimakan cacing tanah. Kau pernah melihat zombie berteriak histeris dan kemudian menangis? Aku baru saja melihatnya. Zombie noni yang berambut merah menangisi rambutnya yang banyak rontok. Ya ampun, makhluk apapun yang berjenis kelamin betina mengapa selalu repot dengan urusan fisik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD