Di jari manisnya melingkar sebuah cincin tanpa permata. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya itu di konter untuk memindahkan perhatian mataku yang tidak bisa berhenti menatapnya dengan kurang ajar. Sebagai peringatan bahwa seseorang telah berhasil mengikatnya dengan cincin murahan itu.
Untuk gadis secantik dia, sayang sekali. Aku bisa membelikannya yang bertahtakan berlian sebesar biji jagung. Tapi cincin sialan itu pasti akan terlihat lebih berharga dari cincin mahal manapun jika perempuan yang memakainya sangat mencintai yang memberikannya.
Jadi, kita tidak perlu terlalu sakit hati. Gadis model seperti ini memang seperti itu. Jadi berhentilah patah hati dan alihkan perhatianmu pada gadis lain. Ada jutaan perempuan, aku bukan tipe yang akan merana karena satu wanita.
“Cincinmu bagus,” ucapku mencoba bersahabat dengannya meskipun dengan perantara kebohongan. Dalam kepalaku aku meneriakkan, ‘Cincinmu jelek sekali …!’
“Yah, tunanganku yang membuatkan ini khusus untukku. Dengan tangannya sendiri. Kau tidak akan menemukan yang seindah ini di toko manapun.”
Ada seperti sebuah tinju yang mengenai dadaku. Entahlah, itu mungkin tidak kasat mata. Tapi rasanya lumayan menyakitkan. Kau dengar? ‘Dengan tangannya sendiri.’ Kau harus meniru gaya si tunangan bodoh itu membuatnya terkesan.
Seorang gadis bisa sangat tergila-gila dengan barang murahan yang kau berikan asal buatan tanganmu sendiri. Jadi ingat, jika kau tidak punya uang lebih maka gunakan tanganmu seperti pria sialan itu membuat cincin mengerikan di jarinya yang lentik.
Tapi sampai di sini sebagai pria sejati kau jangan cepat patah hati juga. Kau bisa menawarkan pertemanan dan dengan itu kau bisa memantau perkembangan kisah mereka dan jangan lupa berdoa semoga mereka cepat putus.
Apa aku jahat? Tidak juga, selama janur kuning belum melengkung kurasa kita masih memiliki peluang bukan. Aku hanya menyarankan untuk berdoa, tidak merebutnya dengan cara yang kotor. Katakan jika aku salah! Tidak, kan.
Baiklah, lihatlah caraku berteman dengannya, “Benar sekali. Cincin itu sangat luar biasa di jarimu yang sangat indah. Kau beruntung mendapatkan kekasih seperti pembuat cincin itu.”
Lihatlah, wajahnya bersemu merah. Aku berhasil dengan pujian itu. Dalam fase ini kunci ketabahan sangat diperlukan. Karena melihat perempuan yang kau puja sedang memuja pria lain adalah hal yang paling menyakitkan setelah sakit gigi.
“Terimakasih. Kau benar aku sangat beruntung,” jawabnya dengan senyum yang merekah.
“Plakkk!” Sebuah tangan menampar kepalaku dari belakang.
Aku balas memukul lengannya, “Sialan! Apa salahku?”
Mata Nalo memelototiku. “Kau sedang menggoda adikku? Pantas saja kau lama sekali hanya untuk berbelanja bola tenis,” teriaknya mirip seperti beruang grizzly yang sedang kelaparan.
“Mana adikmu? Dia bukan adikmu. Dia hanya mirip. Tanyakan padanya kau siapanya? Dia bahkan tidak mengingatku yang merupakan tunangan tercintanya. Ingat ini dunia aneh, dan orang-orang yang kita temui juga aneh semua.”
Mata Nalo yang hampir keluar dari rongga matanya langsung berubah menjadi lembut saat beralih ke Nola. “Nola, apakah itu kau?”
Nola yang tadi sedang melanjutkan menata bola tenis terlihat kesal karena harus berhenti lagi menyelesaikan pekerjaannya. “Ya, ini aku. Apakah kau akan membeli barang atau hanya akan membual seperti pria di sampingmu. Atau yang lebih buruk lagi, berhutang?”
Rasa rindu dan kasih di mata Nalo seketika sirna, berganti dengan sebuah keterkejutan, “Oh maaf, kukira kau orang yang kukenal. Aku akan membeli bola tenis itu.” Tangannya menunjuk ke bola-bola se-warna hijau apel.
Yang berbeda dari bola tenis biasanya adalah bola itu memiliki tangkai sepanjang 1 inci persis seperti tangkai apel. Kau perlu menariknya untuk bisa memaksimalkan efek ledakannya untuk menghancurkan sebuah dinding beton.
Nalo mengetuk belakang kepalaku, “Bodoh! Berikan koin itu padanya. Cepat!”
Aku menampar tangannya, “Kau kira kepalaku pintu untuk diketuk? Sialan!”
Nalo terkekeh. Semua koin kami habis dan hanya mendapatkan 6 buah bola kasti yang kami bagi sama rata. Suara musik jazz mulai lirih terdengar, aku sudah mulai bosan dengan game nenek-nenek ini. Tidak seru karena perempuan tua itu tidak bisa di-upgrade menjadi wanita seksi.
Kami bersiap menggunakan sepatu roda menuju komplek perumahan yang sudah di tandai di peta sebagai tempat permainan selanjutnya. Ini adalah sebuah komplek perumahan tua Belanda. Jika kau pernah ke Kota Lama, maka pemandangan bangunan-bangunannya sangat mirip dengan itu.
Sepertinya tidak ada kehidupan di dalamnya. Suhu udara setelah memasuki gerbangnya yang patah berubah drastis. Bulu kudukku meremang. Angin yang bertiup membekukan tulang, jendela-jendela yang hampir patah bergoyang-goyang bersamaan menciptakan irama lagu yang memilukan dan musik jazz seketika terhenti.
Langit di atas kami ikut berubah. Dari yang warnanya secerah seragam SMA sekarang menjadi kelabu. Aku tersentak menabrak Nalo ketika suara petir tiba-tiba menggelegar. Dia mendorongku dan entah apa yang kuinjak membuat keseimbangan kakiku hilang dan terjerembab di tanah.
Di depanku sebuah batu bertuliskan, ‘Di sini tertidur seorang yang sangat pemarah dan tidak akan memaafkan siapapun yang mengganggu tidurnya.’
Tubuhku membeku, tidak berani bergerak sedikitpun. “Dhuugghhh!” Nalo menendang sepatu rodaku, “Bodoh! Cepat bangun, kau ingin tidur di situ selamanya?”
Kurasakan tanah di bawahku bergetar. Nalo berhenti bergerak, mungkin dia juga menyadari itu. Goncangan itu semakin kuat dan, “Boommmm!” Batu besar itu terlempar ke atas atap dan menciptakan sebuah lubang menganga.
Bau seperti bangkai kering menguar dari lubang tanah yang ada tepat di depan wajahku. Getaran kecil diikuti sebuah kepala perempuan tua seperti mumi menggunakan topi kecil khas noni Belanda.
“Aaaaarrgghh!” Teriakannya membuat telingaku sakit dan kelelawar serta burung-burung berterbangan.
Nalo menarik kerah leherku dari belakang, memaksaku berdiri dan berlari tepat sebelum tangan mayat hidup itu meraihku. Kukunya begitu runcing dan tajam dengan sedikit lengkungan menyerupai cakar elang. Sial, di gulungan kertas panduan itu tidak disebutkan akan ada makhluk seperti itu.
Semakin masuk ke dalam komplek itu, keanehan-keanehan semakin membuatku gila. Sebuah kereta kuda tua dengan kuda mati yang hampir mengering tiba-tiba bergerak dan bangkit setelah kami melewatinya. Sepertinya semua yang ada di tempat ini sangat tidak menyukai kebisingan.
Sebelum menikung, aku menengok ke belakang dan perempuan tua itu masih berkutat dengan gaun mengembang berumbainya yang tersangkut pagar kayu yang ambruk. Di mana nenek tua bersepatu roda yang biasa mengejar kami, kenapa dia belum juga muncul?
Dikejar mayat hidup nenek-nenek berkali lipat lebih mengerikan daripada apapun yang mengejarku selama ini, tidak terkecuali anjing galak milik Nalo. Kami terus mencari jalan keluar dari kota mati itu tapi semakin kami meluncur ke dalam, semakin kami tersesat.
Petunjuk arah jalan semuanya menggunakan bahasa Belanda dan tidak ada di antara kami yang mengerti itu. Sial, aku menyesal karena dulu tidak pernah mau mengikuti les bahasa Belanda yang didatangkan oleh nenekku.