Jika dipikir-pikir, benar juga apa yang dia katakan, tapi tetap saja kekesalanku belum hilang juga. “Lalu bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padaku?”
Dia menghela nafas. “Kurasa nenekmu terlalu memanjakanmu.”
Komentarnya membuatku bingung, “Apa hubungannya dengan nenekku?”
Sekarang dia berdecak kesal, “Kau ini bodoh sekali. Kalimat seperti itu saja tidak bisa menangkap maksudku. Artinya kau harus mengakui bahwa kau berpikiran seperti anak kecil, itu semua karena nenekmu yang memberikan apapun yang kau mau dengan mudah. Jadi jika ada orang lain yang lebih dulu mengambil apa yang kau inginkan, kau akan kesal setengah mati. Aku mengambil koin-koin dan apel ini untuk kepentingan kita berdua. Dan lagi pula tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kita tidak akan mati. Dan luka separah apapun akan cepat sembuh dengan sendirinya. Jadi apa adikku yang jenius itu nanti jika menikah dengan pria se-d***u dirimu? Aku yakin otakmu tidak berada di kepalamu tapi ada di antara selangkanganmu.” Dia melemparkan apel tepat mengenai selangkanganku.
“Ouucchh … Sialan!” Aku setengah berlutut menangkap burung yang tidak akan pernah bisa terbang.
Apel menggelinding mendekati sepatu rodanya. Untung saja lemparannya tidak tepat di pusat pabrik penghasil benih. Aku menghampiri apel itu dan balas menendang kakinya. Dia terkekeh, tidak membalas tendanganku.
Kami melepas sepatu roda dan berjalan menaiki tangga menuju toko. Ada cukup uang yang bisa digunakan untuk membeli kulit pisang listrik atau bola tenis yang berdaya ledak kuat. Karena medan selanjutnya yang kami hadapi adalah perumahan kosong dengan banyak dinding yang perlu diruntuhkan dengan peledak, jadi kami mengalokasikan semua dana untuk membeli bola tenis.
Tugas berbelanja ada di pundakku lagi. Nalo adalah tipe pria yang tidak suka berbelanja, tapi bukan berarti aku tipe yang gemar berbelanja seperti perempuan. Aku bahkan tidak pernah menunggui satu pun pacarku untuk berbelanja.
Yang terpenting untuk membuat wanitamu merasa dihargai bukanlah kesabaran untuk menunggu mereka menghabiskan uang. Tapi yang terpenting adalah kartu kredit tanpa limit yang bisa membuat mereka semakin memujamu.
Tapi aku tidak bilang semua wanita seperti itu, guys! Ini hanya tipe-tipe wanita yang biasanya dengan mudah kurayu. Akan ada gadis-gadis yang seperti Nola atau nenekku, mereka tak tergoyahkan dengan uang. Kau perlu menggedor pintu hati mereka dengan sesuatu yang lain.
Kakiku melangkah dengan mantap penuh percaya diri meski bertelanjang kaki. Yang perlu kau garis bawahi adalah bukan kakiku yang sedang telanjang tapi rasa percaya diriku. Ketika kau dalam penampilan terburukmu dan harus menemui gadis yang mengagumkan, kuncinya hanya satu; percaya diri.
Percayalah, meskipun tak ada pakaian mahal bahkan alas kaki, tapi pria seperti kita masih punya mulut untuk membual. Yah, kita; aku dan kalian para pria. Apa? Kau tanya sepatu berlubangku ada di mana? Entahlah, aku sendiri juga lupa terakhir kali melepasnya di mana.
Tinggalkan sepatu buntut itu, mari kita kembali ke pembahasan tentang para gadis. Satu lagi yang perlu kau ingat, di antara jutaan gadis di dunia ini, ada beberapa yang akan dengan ikhlas menerima laki-laki apa adanya. Kau ingat lagu Nike Ardilla dengan judul ‘Ku Tak Akan Bersuara’?
Apa kau tidak tahu? Keterlaluan sekali, bahkan nenekku saja hafal semua lagunya. Baiklah, renungkan baik-baik liriknya. Aku akan bernyanyi sedikit, suaraku mirip dengan Bebi Romeo. Percayalah aku tidak membual, para gadis yang mengatakan ini. Tapi ingat, perutku tidak sama buncitnya dengan tangki motor.
Dan wajahku? Entahlah aku harus menyamakannya dengan siapa agar memudahkan imajinasimu. Oh iya, Chris Evans dengan kumis tipis dan brewoknya. Kata beberapa temanku, tapi betul itu. Aku kadang juga terkejut ketika melihat cermin, entah bagaimana kami bisa semirip itu. Aku curiga jangan-jangan kami masih memiliki hubungan kekerabatan.
Ok … kita tidak perlu mempermasalahkan wajah, itu hanya bersifat turunan bukan. Aku hanya sedikit lebih beruntung karena rupawan. Tapi jangan kau pikir aku sangat beruntung. Aku memang keturunan orang kaya, tapi sebenarnya aku hanyalah pengangguran yang merangkap jabatan sebagai ketua geng motor, yang tidak digaji sama sekali. Dan semua keluargaku meninggal dalam kecelakaan pesawat kecuali nenekku yang sebentar lagi juga pasti akan menyusul. Jadi, tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Baiklah, mari kita kembali ke lagu yang kita bicarakan tadi. Dengarkan baik-baik, aku akan bernyanyi karena sekarang kakiku sudah tepat ada di depan toko yang kumaksud tadi. Nola sedang menungging membelakangiku, menata bola tenis dengan sangat hati-hati.
Aku mulai, “Telah lama ku dahaga belaian seorang insan … Semoga bersamamu, ceria hidupku … Ku tak akan bersuara, walau dirimu kekurangan … hanya setiamu itu kuharapkan.”
Nola langsung terpaku. Berhenti bergerak, dan dengan sangat perlahan menengok ke arahku. Matanya melebar dengan mulut yang terbuka. Jika perempuan sedang seperti ini, itu artinya dia tersentuh. Ya, tersentuh oleh lagunya bukan olehku.
Kau juga tersentuh? Tentu saja, bahkan pria b******k sepertiku juga sampai tersentuh. Kau sekarang percaya, kan? Bahwa perempuan-perempuan yang bisa menerima kekurangan itu benar-benar ada. Aku yakin itu tidak sedikit. Tapi sayangnya ada harga yang harus dibayar sebagai timbal baliknya, yaitu kesetiaan.
Aku sendiri belum pernah setia pada satu gadis. Jadi sebuah kesetiaan itu sangat mahal harganya bagiku. Lalu bagaimana aku bisa tersentuh? Di setiap hati pria b******k juga terdapat ruang kecil yang menginginkan hati seperti di lagu itu. Aku berharap suatu hari nanti bisa mencintai seseorang seperti orang yang dahaga dalam lagu itu.
Setelah kesadarannya kembali dari kekagumannya atas lagu itu, ekspresinya berubah masam, “Kau tidak sedang akan berhutang, bukan? Peraturan di toko ini masih sama dengan kemarin.”
“Tentu saja tidak Nona, kau ini …,” ucapku dengan menampar pelan lengannya.
Raut wajahnya langsung berubah seperti anjing penjaga, “Kau sentuh aku sekali lagi, ucapkan selamat tinggal pada tanganmu!” Kedua tangannya berpindah ke pinggangnya yang seperti biola tak berdawai. “Aku bukan seperti barang di toko ini yang bisa disentuh siapapun. Gajiku mungkin memang murah tapi tubuhku tidak sama murahnya!” Sekarang ia menggeram.
Kuangkat tanganku tinggi-tinggi sebagai tanda bahwa aku sangat mengerti akan peringatannya. “Maaf aku tidak bermaksud kurang ajar, itu refleks. Entahlah mungkin muatanku positif yang ada di lenganmu itu menarik tanganku, itu seperti sebuah hal yang sangat alami. Kau tahu magnet bukan, seperti itu lah laki-laki dan perempuan. Percayalah padaku, aku tidak ingin kurang ajar.”
Dalam hati aku berkata, ‘Tidak, jangan percaya padaku. Kau tidak tahu betapa sangat inginnya aku kurang ajar padamu. Di kepalaku fantasi-fantasi liar sangat mengganggu seperti kutu di kepala, menjengkelkan. Semakin aku menggaruknya, semakin kutu-kutu itu menjadi liar kesana-kesini.’
Peringatan, kebanyakan para gadis senang dipuja tapi jika ada perempuan cantik tidak ingin disentuh. Itu berarti ada sesuatu yang membuatnya menjadi begitu. Kemungkinan besar, sudah mempunyai kekasih atau semacamnya. Baiklah, mari kita cari tahu. Dan persiapkan d**a yang sabar untuk menerima kenyataan pahit.