Sambil meluncur aku mencari-cari dinding lorong yang tidak rata untuk bisa kupakai sebagai pegangan memanjat. Tepat sebelum bola berbulu itu menggilasku, aku memanjat dinding. Menempelkan tubuhku rapat-rapat di dinding bagian atas yang tidak terjangkau anjing sialan itu.
Ledakan beberapa kaki di depanku saat bola anjing itu bertabrakan dengan dinding. Sentakannya membuatku kehilangan keseimbangan dan terkapar di atas lantai batu yang legam. Gigi dan tulang-tulangku rasanya ikut bergetar karena tumbukannya yang dahsyat.
Dengan melengkungkan punggungku yang membentur lantai, aku mencoba duduk dan mendapati anjing itu juga terkapar di tikungan, di atas kepalanya beterbangan bintang-bintang yang berputar-putar.
Apa itu nyata? Persis seperti saat Tom si kucing membenturkan kepalanya dan sebuah benjolan yang semakin meninggi muncul. Ini benar-benar dunia khayalan.
Aku menarik nafas dalam-dalam, sedikit lega karena telah lolos dari yang satu itu. Dengan punggung yang masih terasa berdenyut-denyut aku mulai melanjutkan perjalanan dan tidak menemukan satu koin pun tertinggal di udara. Pasti Nalo sudah meraup semua koin itu.
Kakiku mencoba melambat ketika terdengar suara tawa familiar. Di sebuah tempat yang melingkar dengan pertemuan tiga lorong, Nalo sedang berdiri tidak bergerak namun terkekeh penuh kemenangan.
Di dekat lorong yang lebih sempit terkapar pria tua yang kemungkinan besar adalah kekasih si perempuan tua itu. Nalo berhasil mengalahkannya. Sepertinya dia berakhir seperti anjing itu, menabrak dinding.
Nalo meluncur lagi, dan secepat yang kubisa mencoba mengejarnya. Bagaimanapun juga dia sainganku, jika aku keluar dari sini dengan koin yang lebih sedikit, itu akan sangat memalukan.
Medan di hadapan kami lebih sulit, dengan lantai batu yang tajam bergerigi, tidak memungkinkan menggunakan sepatu roda. Di atas kepala kami ada semacam paralon saluran pembuangan air yang bisa kami gunakan untuk bergelantungan meluncur dengan tongkat.
Aku dan Nalo beberapa kali harus terjatuh. Tidak mudah bergelantung sambil meluncur seperti itu. Diperlukan kekuatan tangan dan ketepatan saat mengayunkan tangan.
Untungnya meskipun jatuh berkali-kali kami tidak mati. Meskipun begitu luka yang kami dapat adalah nyata. Jika kuperhatikan luka-luka itu akan memudar dalam kisaran waktu antara 10 -15 menit, tergantung seberapa parah luka itu. Semakin parah, berarti waktu yang dibutuhkan juga semakin lama.
Untuk koin, satu pun kami tidak berhasil meraihnya. Dan saat perempuan tua itu muncul kembali dengan keahliannya menggunakan tongkat untuk bergelantungan dengan cara yang memukau, itu menjadi semacam adrenalin yang memacu kami menyelamatkan diri.
Terkadang memang kita membutuhkan gebrakan dari orang lain agar kita bisa memunculkan kerja keras yang maksimal. Kami bisa terus meluncur di depan perempuan tua itu meskipun tanpa koin maupun apel yang berhasil kami raih.
Perempuan tua itu melambat untuk meraih semua apel dan koin yang tertinggal di belakang kami. Tawa girangnya membuat kami semakin berpacu dengan waktu. Tak ada yang lebih menakutkan daripada perempuan tua yang mengerikan.
Tubuh kami bermandikan keringat. Tangan menjadi licin dan Nalo sudah terjatuh lebih dulu. Kutengok ke belakang dan perempuan tua itu sudah ikut mendarat di dekat Nalo. Menyerangnya dengan tongkat itu.
Aku bimbang untuk berhenti atau meneruskan, sedangkan tadi dia meninggalkanku sendiri menghadapi bola anjing. Tapi petunjuk yang sudah mulai kuhafal di luar kepala membuatku berhenti dan berbalik. Kerjasama adalah kunci dari keberhasilan permainan ini.
Nalo sudah babak belur dihajar perempuan tua itu. Kurasa itu bukan karena Nalo tidak tega mengayunkan tongkatnya pada wanita tua itu. Siapapun yang membuat permainan ini, pasti seseorang yang sangat, amat licik. Dia menggunakan sosok yang mengerikan dalam selubung perempuan tua yang kering keriput.
Giliranku yang menantang tangan kurus keriputnya yang sangat mahir mengayunkan tongkat. Naluriku mengatakan bahwa sangat keterlaluan jika aku melawan seorang nenek-nenek. Tapi apa boleh buat, bahkan dia lebih sangar daripada kami.
“Kau tidak akan menang melawanku!” Suaranya berubah menjadi pekikan tajam.
Tongkat kami terus beradu, aku hanya sanggup bertahan sejauh ini. Dia terus memukulku mundur. Nalo dengan tertatih menyelamatkan dirinya sendiri. Dalam hati aku mengutuki diriku sendiri yang begitu tertarik menolongnya.
“Siapa namamu Nenek sexy?” tanyaku untuk mencoba mencuri fokusnya hingga berharap ada celah di mana aku mendapatkan kesempatan untuk menyerang, bukan hanya bertahan seperti sekarang.
“Kau bahkan tidak tahu siapa namaku, b******n kecil?”
Aku perlahan mundur, membuat jarak selebar mungkin antara diriku dan perempuan penuh keriput yang lebih mengerikan daripada penyihir yang menyekap Hansel dan Gretel. Maafkan aku. Kau sangat menakjubkan. Aku belum pernah melihat yang setara denganmu. Aku yakin kau adalah sebuah keajaiban alam. Jadi aku harus tahu namamu, agar aku bisa menceritakan bagaimana perkasanya kau dengan rok selutut itu. Aku yakin bahkan Marilyn Monroe akan iri padamu.” Aku menjelaskan melalui mulutku yang berusaha tersenyum di bawah intimidasinya.
Dalam hati aku berdoa semoga rayuanku tepat sasaran. Asal kau tahu, aku belum pernah merayu perempuan tua. Perempuan beda generasi akan berbeda pula cara merayunya.
“Namaku Nona Smith, bodoh! Kau tidak melihatnya di setiap apel yang telah kulabeli merk Nona Smith? Apel-apel yang telah kalian makan! Aku merasa terhina. Kau bahkan tidak tahu siapa namaku.” Jari-jarinya yang kurus menunjukku dan volume suaranya meningkat tajam.
Ok, dia bukan tipe perempuan yang meleleh hanya dengan kata-kata manis. Baiklah, kita coba cara yang satu ini, "Nona Smith, maafkan aku untuk tidak mengingat namamu. Dan maafkan aku lagi jika aku harus berkata bahwa rokmu tersingkap. Aku bisa melihat segitiga semerah rok menggemaskan itu."
Perempuan tua itu refleks menyilangkan kedua tangannya ke pahanya dan membungkuk. Dengan sekali hentakan aku melucuti tongkatnya. Sementara dia masih memeriksa roknya, dengan cepat kuraih tongkatnya dan mengaitkannya dengan paralon di atas. Meluncur dengan menggunakan dua tongkat ternyata tidak lebih mudah, apalagi dengan kaki yang harus di tekuk. Asal kau tahu tinggiku 187 cm.
Tapi paling tidak, dia tidak bisa mengikuti kami untuk sementara waktu. Kau pasti penasaran apakah benar roknya tersingkap. Tentu saja tidak, aku menipunya. Aku hanya menggunakan pengetahuanku yang berasal dari mengencani beberapa perempuan yang 3 atau 5 tahun lebih tua daripadaku.
Biasanya mereka akan menggunakan pakaian dalam yang sewarna dengan pakaian mereka. Sangat berbeda dengan para gadis yang jauh lebih muda. Biasanya mereka lebih suka dengan corak yang berwarna-warni, gambar kartun lucu dan motif-motif menggemaskan lainnya. Tebakanku tidak meleset, buktinya dia menyilangkan kedua tangannya.
Di ujung lorong yang mengarah ke tangga menuju lantai atas, Nalo sedang duduk menghitung koin dan memakan apel. “Permainan yang bagus bukan, bahkan seekor anjing lebih tahu berterima kasih kepada penolongnya.” Dia masih tidak berhenti menghitung koin-koin emas itu, bahkan tidak mendongak untuk melihatku. Sepertinya dia tidak sedang ingin berdebat atau bahkan berkelahi.
“Kau banci, yang bisa kau lakukan hanyalah melarikan diri,” ucapku untuk memprovokasinya berkelahi.
Nalo menatapku, menahan mulutnya untuk beberapa saat. “Aku tidak melarikan diri. Aku mengerjakan sisa ‘kerja sama’ dengan mengumpulkan koin dan apel. Aku tidak perlu membantumu, kau tandingan seimbang untuk perempuan tua licik itu. Frekuensi otak kalian di jalur yang sama, sangat licik. Lihat! Kau kembali tanpa kurang satu apapun. Aku benar bukan?”