Kulit Pisang Listrik

1031 Words
Kami belum mendapatkan helm hijau yang disebutkan dalam gulungan kertas itu untuk menyimpan koin. Jadi di level pertama tadi kami masih menyesuaikan diri dan belajar. Kami sering terjatuh dan beberapa koin menggelinding entah kemana. Dan ada satu lagi keanehan, luka-luka dan memar yang kami dapat dari level pertama sembuh dengan sendirinya. Ini aneh sekali bukan, badan terasa sangat bugar kembali. Apa kami benar-benar bukan manusia lagi? Suara musik jazz terdengar lirih saat kami sedang memakan apel yang kami dapat; hanya dua tapi cukup mengganjal perut. Jika harus makan apel seperti ini terus setiap hari. Aku jamin, kami tidak perlu pergi ke dokter lagi. Ada yang bilang 1 apel sehari bisa menjauhkan kita dari dokter. “Brakkk!” Dinding koridor hancur. Dari balik debu yang menyamarkan mata, perempuan tua itu mendarat dengan kokoh. Kami sudah bersiap menggunakan sepatu roda di ruang bawah tanah sebuah kastil persis seperti yang disebutkan di peta, lokasinya tidak jauh dari toko yang kami sambangi. Tidak membuang waktu, perempuan tua bertubuh kecil itu meluncur di sepanjang koridor yang miring ke bawah. Lututnya sedikit ditekuk untuk membuatnya tetap seimbang. Debu mengepul dari jubahnya yang berwarna biru. Beberapa robekan di roknya yang selutut karena tersangkut dinding yang meruncing. Aku heran dengan selera berpakaiannya, sangat menggelikan melihat rok itu berkibar. Nalo dan Aku meluncur di depan. Dengan pencahayaan yang minim agak sulit menentukan di mana tikungan, sehingga kami bisa menikung tepat waktu. Pundak Nalo menyerempet dinding saat dia terlambat menikung. Dia berguling di sepanjang koridor. Aku di belakangnya, menunggu momentum dia berhenti karena itulah saat yang tepat untuk membantunya bangkit. Aku tidak bisa membayangkan betapa pusingnya dia menggelinding seperti itu. Nenek di belakangku bersorak terkikik dan irama musik jazz yang tadinya santai bersemangat kini mengikuti irama jantung yang berpacu. Koin-koin yang menggantung di udara juga tidak semudah itu diraih. Tepat di tikungan selanjutnya Nalo menabrak dinding dan itu menghentikan momentum. Dia bangkit dan menyeimbangkan tubuhnya dengan berpegangan di dinding, kurasa kepalanya pasti berputar-putar. Aku meneriakkan aba-aba untuk mempersiapkan posisi dan tangannya. “Whusss!” Aku menyambar tangannya untuk menariknya berdiri. Turunan semakin tajam. Bunga api memercik dari belakang sepatu roda kami. Suara tawa riang penuh kegembiraan dari perempuan tua itu menggema. Pengejar kami yang sangat percaya diri itu berusaha mengacaukan konsentrasi kami dengan tawanya yang membuat bulu kudukku menegang meski sedang berpacu dengan kecepatan seperti ini. Lorong yang sangat panjang ini ada di bawah sebuah kastil kuno, penerangan yang kami dapat hanya berasal dari obor yang di pasang di dinding. Lorong-lorongnya sangat panjang dan berbelok tajam. Dinding batunya basah dan lembab dengan aroma khas jamur yang engap. Lantai batu di bawahnya tidak selalu rata. Beberapa kali kami harus melambung tinggi di udara ketika melewati jalan yang menggembung. Terdengar suara ledakan yang bergemuruh mengguncang lorong di belakang kami. Sesekali aku tidak bisa menahan godaan untuk tidak menengok ke belakang. Tepat saat aku menoleh, perempuan tua itu melemparkan tubuh bagian atasnya ke depan, melayang di udara melintasi kepala kami. Aku hampir berteriak kaget ketika dia sudah ada di depanku, mendarat dengan sempurna. Dia mencoba meraihku dengan pegangan tongkatnya, tapi aku berhasil menghindar. Dalam cahaya redup aku masih bisa melihat betapa kelamnya mata perempuan tua itu. Suara kilatan listrik membuatku tercengang. Entah bagaimana kulit pisang bisa mengandung muatan listrik sebesar itu. Nenek-nenek itu melemparkannya ke arah Nalo, ia berteriak sangat keras, mengaduh kesakitan. Makhluk kurus yang terbungkus kulit layu itu menggeram ketika Kulit pisang penyengat itu tidak terlalu mempengaruhi merubuhkan Nalo. “Aku tahu bagaimana menangani anak-anak nakal seperti kalian, dasar pencuri!” bentaknya kepada kami. Suaranya gemetar karena amarah. “Bersiaplah anak muda. Ayo munculkan bola kasti, bodoh!” Perempuan itu meraung. Bibirnya yang tipis dan keriput menyeringai lebar. Jari-jarinya yang kurus terulur dan sebuah bola kasti muncul. Bola dilempar dan jatuh tepat di belakang kami dan meledak. Rasanya seperti dalam ruangan yang panas dan menyengat. Energi yang luar biasa menghancurkan lorong itu. Kami terlempar beberapa kaki ke depan dan menghantam dinding. Aku berlutut mencoba bangkit. Mataku terpejam dan gigiku terkatup begitu kuat menahan sakit di pergelangan kakiku. Bahkan mulutku tidak bisa berteriak lebih keras daripada sebuah geraman serak. Bintik-bintik bertaburan di depan ketika aku membuka mata dan gelombang pusing menyerang. Aku mendengar tawa perempuan tua itu mendekat. Kudorong tubuhku ke dinding miring bersiap dengan tongkatku. Debu masih berterbangan di udara dan menghalangi pandangan. Aku terkejut melihat seberapa cepat lawan datang, melemparkan kulit pisang listrik itu dari jarak yang cukup dekat. Tongkatku berhasil memblokir serangannya dan membalikkan kulit pisang itu. Sang nenek menghalau kulit pisang listrik yang hampir mengenai wajahnya dengan lengan. Jika ada suara jeritan yang paling patut dibenci adalah jeritan perempuan tua yang melengking dan memilukan. Di satu sisi aku merasa bersalah, tapi di sisi lain aku juga jengkel dengan kelakuannya yang tidak waras. Hanya beberapa apel bukan, kenapa kami harus membayarnya dengan permainan gila seperti ini? Jeritannya berhasil mengembalikan kewaspadaan seluruh inderaku untuk meluncur lagi. Aku menengok ke belakang tepat pada waktunya untuk melihat perempuan tua itu mundur. “Nalo?” panggilku pada musuh yang sekarang menjadi temanku dalam pelarian. Aku mencari-cari ke tempat di mana tadi dia menghantam dinding. Bingung karena hanya melihat dinding yang hancur. Mataku kembali ke sudut tikungan berharap melihat Nalo. Tapi tidak ada, kurasa dia sudah pergi. Mataku kembali menatap dinding terjauh dan beringsut ke dinding di seberangku. Aku hampir melompat karena terkejut melihat sepasang mata kuning menyala menatapku dari kejauhan. “Anjing?” Aku berdiri tertegun. Lantai dan dinding mulai bergetar dengan geraman rendah yang merambat. Sesuatu yang buruk akan datang. Aku masih terpaku pada dua mata kuning yang marah itu. Mataku hampir melompat dari rongga mataku ketika anjing itu berguling seperti bola menggelinding cepat ke arahku. Kakiku masih belum bergerak, mempertimbangkan bagaimana aku bisa menghindar. Tetapi aku tidak punya waktu untuk berhenti dan merenung apakah cara terbaik untuk menghadapinya. Berbalik dan bergegas meluncur menyelamatkan diri. Hanya itu opsi yang kumiliki sekarang. Anjing itu tidak memakai sepatu roda tapi tubuhnya bisa membulat seperti trenggiling. Mulutku mengutuki Nalo yang meninggalkanku sendiri. Menciptakan jarak antara diriku dan bola anjing itu sejauh mungkin sepertinya mustahil ketika bola daging berbulu itu semakin cepat. Ini tidak akan bertahan lama, aku tahu itu. Harus ada cara lain. Aku masih terus meluncur dengan sepatu roda di kakiku dan mencari jalan keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD