Nola

1062 Words
Level awal kami lalui dengan cukup mudah, yang tersulit justru bagaimana berkerja sama dengan musuh bebuyutanku, Nalo. Tapi sejauh ini cukup terkontrol dan kami ada di jeda untuk membelanjakan koin kami. Toko yang dimaksud ada di persimpangan jalan. Nalo menyuruhku berbelanja sedangkan dia sibuk membaca instruksi permainan di level selanjutnya. Dan di toko itu, seorang gadis menunggu dengan sabar. Dia luar biasa cantik seperti tokoh-tokoh di film anime. Dia mengenakan pakaian seksi dengan celemek berenda yang tidak mampu menutupi lekuk tubuhnya yang sempurna. Bibirnya penuh dan tersenyum ramah padaku. Dari semua kesulitan yang kuhadapi di dunia aneh ini, untungnya masih ada yang bisa membuat mataku segar. Sepertinya permainan ini mengerti pikiranku yang menginginkan sebuah upgrade yang bisa mengubah perempuan tua itu menjadi cantik dan sexy. Tapi sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya? Aku mencoba mengingat-ingat wajahnya. Terlalu banyak gambaran wanita cantik di kepalaku jadi butuh waktu untuk mengingatnya. Oh iya, dia sangat mirip Nola, adik Nalo. Tapi yang kuingat adik Nalo berpakaian sangat sopan dan tatapannya tidak nakal seperti ini. Aku menengok ke arah Nalo yang masih sibuk membaca gulungan kertas berikutnya. Untungnya ia 20 kaki jauhnya dariku sekarang. Jadi dia tidak perlu melihatku menggoda penjaga toko ini. Jika dia melihat wajahnya sama dengan adiknya, dia bisa menghilangkan kesenanganku saat ini. Ok, kembali lagi ke perempuan luar biasa cantik itu. Untuk sesaat aku lupa caranya bernafas ketika dia berbalik untuk mengambil daftar harga barang-barang yang dijual. Dia menungging dan ya ampun, rok mini itu sangat kurang ajar. Depan dan belakang sama-sama luar biasa. Rambutnya yang panjang dan gelap bersinar bahkan dalam cahaya redup toko itu. Dan saat dia berbalik lagi ke arahku, matanya yang manis, besar dan bulat itu menatapku dengan pancaran yang sulit kupahami. Tepat saat dia akan membuka mulutnya untuk menawarkan dagangannya, aku mendahuluinya. “Hai .. kau cantik sekali.” Dia tersipu dan benar-benar menjadi merah muda pipinya yang cerah dan terlihat sangat lembut. “Benar, kau perempuan tercantik yang pernah kulihat.” Aku melanjutkan. Di memalingkan muka dan tersipu lagi. Caranya tersipu dan menggigit bibir bawahnya sangat menggemaskan. Ini versi nakal dari Nola yang terlihat seperti kutu buku. “Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah kita bisa menemukan tempat yang lebih nyaman … dan pribadi untuk kita bisa saling mengenal satu sama lain?” Aku memindai toko yang sempit itu. Tapi tanpa ragu dia berkata, “Aku harus di sini menunggu toko. Dan untuk saat ini aku tidak bisa pergi ke tempat yang nyaman seperti itu.” Mulutnya memang menolakku tapi kau bisa melihat cara tubuhnya bergerak menggoda, sialan dia membuatku kepanasan. Kurasa dia juga tertarik padaku. “Kau takut dipecat?” tanyaku. “Aku baru saja memulai pekerjaan baru ini. Hari ini.” “Betulkah? Aku bisa memberimu pekerjaan yang lebih baik dari ini jika kau mau ikut denganku. Tentunya dengan bayaran beberapa kali lipat yang kau inginkan.” Aku yakin dia sangat terkesan karena mulutnya membulat sempurna dan matanya yang juga ikut melebar. Sementara dia masih menimbang-nimbang akan ikut denganku atau tidak, aku memperhatikannya dari atas sampai bawah. Tak ada satu inchi pun yang tidak bisa dikagumi. Luar biasa. Mataku terpaku pada dadanya, dan mencoba mengingat-ingat kembali bagaimana rupa Nola. Tapi tidak terlalu banyak gambaran yang bisa kuingat, lagipula aku tidak pernah punya kesempatan bagus untuk memperhatikannya dengan detail waktu itu apalagi dengan pakaiannya yang kebanyakan oversize. Pantas saja Nalo selama ini sangat ketat menjaga adiknya, dia sangat hot. “Apakah kau Nola?” tanyaku penasaran tanpa bisa mengalihkan mataku dari dadanya yang membuatku tenggorokanku kekeringan. “Ah, bagaimana kau tahu namaku?” Matanya melebar lagi dan bibir sialan itu membulat sangat menggoda. “Kau tidak ingat padaku? Aku Haitam.” “Oh maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya dengan polos. Ah ada apa dengan dunia ini. Nola seperti gadis yang hilang ingatan. Tapi bagaimana bisa dia muncul menjadi penjaga toko di dunia aneh ini? Waktu itu yang kecelakaan hanya aku dan Nalo, lalu bagaimana dia juga bisa ada di sini. Aku yakin 100% ini adalah adik Nalo, tunanganku. Tapi entahlah dunia baru ini semakin membuatku bingung. Aku ingin merayunya lagi tapi bagaimana, denganku saja dia tidak ingat. Atau anggap saja kami tidak saling mengenal. "Oh aku adalah penggemar beratmu. Kau pasti tidak tahu itu." Wajahnya merona lagi. Ya ampun dia terlihat lugu dan pasrah menerima rayuanku. Nola yang sebelumnya tidak seperti ini. Tapi itu bukan masalah, aku lebih suka yang ini. Dia sangat sexy dan mudah merona, yang artinya mudah dirayu. Sedangkan untuk Nola dia pintar, dan dengan IQ ku yang hanya rata-rata akan sulit merayunya. Mungkin aku akan butuh kursus untuk bisa meluluhkan Nola yang jenius itu. "Omong-omong aku sudah menjadi penggemar rahasiamu sejak lama sekali, dan baru kali ini bisa mengungkapkannya. Jadi, bagaimana apakah kita bisa ke tempat yang membuat kita mengenal satu sama lain dengan lebih baik?" "Sayang sekali aku sangat ingin, tapi aku tidak bisa. Kau tahu, aku sudah menandatangani kontraknya. Aku tidak bisa pergi. Mungkin lain kali saat aku libur." "Baiklah, aku mengerti." Aku mencoba mengalihkan perhatianku pada daftar harga barang yang ia jual. Mencoba berhenti mengaguminya untuk sejenak. Kepalaku masih dipenuhi fantasi-fantasi liar bagaimana aku mencoba mengenal inchi demi inchi tubuhnya yang sangat luar biasa. Ya Tuhan, dia pasti akan lebih merona jika tahu apa yang ada di kepalaku. Aku pria nakal, ck ck ck. Daftar harga itu membuatku tercengang. Koin kami tidak cukup untuk membeli satu barang pun. Lalu bagaimana ini. "Nona, apakah kami boleh berhutang?" tanyaku. "Oh maaf, kami tidak menerima bon. Kau baru saja menawariku gaji besar Bung, lalu bagaimana bisa kau berhutang?" Ekspresinya berubah menyelidik. "Oh itu, aku kehilangan dompet. Kau lihat aku dari ujung rambut sampai jempolku kakiku yang kekar. Tidak bisa diragukan lagi bahwa aku orang kaya.” Sepatuku robek di bagian depan saat menyelesaikan level pertama. Dia memicingkan mata curiga, namun juga terlihat terpana dengan jempol kakiku yang memang benar berotot. Asal kau tahu kakiku memang kekar khas seorang anak motor. “Untuk sepatu yang dulunya bermerek, aku baru saja mengalami sedikit kecelakaan. Beruntung karena harganya yang mahal membuat jempolku masih utuh. Baiklah, aku mengerti jika kami tidak boleh berhutang. Kami akan kembali saat koin kami sudah cukup. Kurasa aku harus menemui temanku lebih dulu untuk merundingkan masalah ini." Aku tidak berbohong bukan bahwa aku adalah orang kaya, hanya saja perlu mengarang sedikit cerita tentang bagaimana aku bisa tidak memiliki koin yang cukup hanya untuk membeli kulit pisang sialan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD