“Tidak! Saya tidak membutuhkan sesuatu, saya kesini hanya ingin memberikan sesuatu untukmu.”
Lalu tuan muda berjongkok sambil mengulurkan setangkai bunga mawar merah, menatap syaidha dan berkata, “Maukah kau menjadi pacarku? Jujur, aku sangat mengagumimu dari pertama kita jumpa dan rasa itu tumbuh menjadi cinta!” Masih dalam posisi mengulurkan setangkai bunga mawar, tuan muda berharap bahwa Syaidha akan menerima cintanya, Umi hanya bergeming mendengarkan isi hati tuan muda, Umi bener-bener kaget dengan ucapan tuan muda barusan, Umi tak menyangka bakal merasakan hal ini yang kedua kalinya, tiba-tiba buliran bening menetes di pelupuk mata Umi.
Dengan bergetar Umi berkata, “Ma-maaf tuan, apakah saya tidak salah dengar? Tuan mencintai saya? Saya hanya seorang pembantu di sini dan saya adalah seorang janda beranak satu. Saya orang miskin dan yatim piatu, jadi apakah tuan mau menerima kekurangan saya?”
Umi masih menunduk, tangannya bergetar dan mengeluarkan keringat. Disisi lain Umi bahagia, ternyata masih ada harapan untuk Umi bisa bahagia dan tak nyangka masih ada yang sayang terhadapnya. Disisi lain, seketika kenanga bersama Abi terlintas di fikiran Umi dari mulai Umi datang kerumah Abi, dilamar oleh Abi dengan sangat romantis, lalu akhirnya kami memutuskan menikah, berbulan madu sambil mendampingi Abi berceramah di setiap negara.
Rasanya kenangan itu langsung hadir di memori Umi dalam sekejap, Umi ingin melupakan semuanya tapi rasanya itu sulit, karena Abi cinta pertama Umi dan mengajarkan segala hal kepada Umi. jadi, Umi mundur perlahan ke belakang beberapa langkah sambil tangannya meremas ujung hijabnya. Umi tak tahu harus bagaimana? Umi hanya bisa terdiam, tiba-tiba tuan muda bangun dari jongkoknya dan menghampiri Syaidha menjawab semua pertanyaan Syaidha tadi.
“Aku akan menerimamu apa adanya, karena cinta tak memandang harta, tahta dan masa lalu. yang aku tahu cinta itu hanya bisa lengkap dengan sebuah kebersamaan, karena itu aku mencintaimu apa adanya, hanya kau yang ku mau.”
Tak mau menyerah, tuan muda terus saja berusaha untuk mendapatkan jawaban dari sang pujaan hati. Karena baginya Syaidha juga berhak bahagia.
“Syaidha Syahilla Hisyam, apa kau mau menjadi kekasihku?” begitulah penuturan ungkapan dari tuan muda, ia terlihat benar-benar sangat mencintai Umi.
Umi terharu mendengar ungkapan dari tuan muda, rasanya itu tulus dari hati. Umi terus saja mneteskan air matanya, karena tak percaya bahwa Umi akan di cintai lagi dengan rasa yang jauh berbeda. Dulu Umi yang mencintai, tapi sekarang malah Umi yang di cintai.
Saat ini Umi benar-benar bingung, tapi Umi tak ingin menyakiti hati tuan muda dengan menggantung perasaanya dengan kebohongan. jadi Umi rasa hanya kejujuranlah yang harus di utamakan jika ingin memulai sebuah hubungan.
“Boleh saya bercerita sedikit tentang masa lalu saya, jika tuan berkenan dan ingin mendengarnya,” ucap umi membuka suaranya yang dari tadi hanya diam saja.
“Silahkan, dengan senang hati saya akan mendengarkannya,” balas tuan muda.
“Tuan, jika kita ingin memulai suatu hubungan maka utamakanlah kejujuran kerena dengan begitu ia akan tahu tentang dirinya dan masa lalunya, supaya tak ada yang harus di permasalahkan di masa yang akan datang. Jadi saya menceritakan semuanya supaya tuan muda tahu tentang diri saya,” ucap Umi lembut.
“Baiklah, saya bersedia untuk mendengarkannya,” jawab tuan muda dengan menatap wajah Syaidha.
Lalu Umi berjalan keluar menuju taman yang ada di halaman rumah sambil di ikuti oleh tuan muda, umi duduk di kursi dan tuan muda duduk di sebelahnya hanya meja bundarlah yang menjadi penghalang mereka berdua. selang beberapa menit, lalu Umi memulai ceritanya, Umi tarik nafas dan ….
“Nama mantan suamiku adalah Muhammad Mulhattul A’zammi El-Shirazy, beliau adalah seorang duta besar di Arab. Tak hanya itu, beliau adalah seorang habib dan penceramah. Dulu aku kenal dengannya karena aku menjadi pembantu di rumahnya, karena aku dari kalangan orang tak mampu. Sekolahpun hanya lulusan Madrasah Aliyah dan pernah tinggal di pondok pesantren dari Madrasah Tsanawiyah. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadi TKW di Arab dengan harapan bisa membiayai hidup kedua orang tuaku, tapi rasanya itu sia-sia, mereka lebih dulu di panggil oleh yang maha kuasa sebelum aku bener-bener bisa membahagiakan orang tuaku. Aku punya kakak perempuan dua tapi mereka sekarang entah di mana, tak ada kabar setelah kedua orang kami meninggal.
Aku di Arab menjalani hidup sebagai istri dari seorang habib yang aku tahu aku sangat mencintainya. Tapi entah dengan dirinya, apakah dia memiliki rasa yang sama terhadapku apa sebaliknya, karena dia tak pernah mengungkapnya dari awal kami menikah Cuma kata aku ingin menjadikanmu pasangan hidupku. Tapi dengan seiringnya waktu aku selalu berusaha menjadi istri dan menantu yang baik disana, terkadang aku selalu menemani suamiku kemana dia pergi kami selalu menghabiskan waktu bersama dalam perjalanan. Walaupun dia tak romantis seperti pasangan lainnya tapi bisa bersamanya itu sudah cukup membuatku bahagia.
Aku di ajarkan beberapa bahasa asing olehnya, seperti Arab, Inggris, turki, Palestina dan aku juga di ajarkan beberapa ilmu agama. Tapi yang aku bingung, ia belum pernah menyentuhku dari malam pertama sampai kami berpisah, karena menurutnya dulu aku masih belia untuk memilki anak. Yah, karena waktu itu umurku Sembilan belas tahun kurang dan dia dua puluh lima tahun tapi sekarang umurku genap dua puluh lima tahun dan begitu anak ku Mumtaz yang berumur genap lima tahun.”
Tiba-tiba saja tuan muda memotong cerita Umi karena penasaran dengan yang tadi Umi ucapkan.
“Berarti kau masih perawan?” tanya tuan muda.
“Entahlah, aku juga tidak tahu,” jawab Umi.
“Boleh aku lanjutkan lagi?”
“Hehe, maaf. Silahkan.”
Lalu Umi melanjutkan ceritanya yang terpotong oleh tuan Dinar tadi.
“Kemudian dua tahun berlalu, suamiku meminta izin untuk menikah lagi. Saat itu hatiku sangat hancur, benar-benar hancur tapi aku tahan supaya suamiku tak melihatnya. Dalam hatiku, aku selalu bertanya-tanya, ‘apa salahku, apa kekuranganku, apakah aku ini jelek dan tak sebanding dengannya karena aku ini dulunya seorang pembantu?‘ Aku terus saja bertanya-tanya sampai ke waktunya aku harus mengantarkan suamiku menikah lagi, hal yang paling mengejutkan bagiku adalah … ternyata mereka saling mencintai. Dari situ aku mulai paham, ternyata dulu dia tak mencintaiku, dia hanya menjadikanku sebagai pendamping dalam perjalanannya, pembantunya dan temannya, bukan sebagai istrinya. Tapi aku tetap kuat, tegar, sabar dan tetap tersenyum, berusaha ikhlas dengan semua yang sudah menjadi takdirku. Aku anggap semua ini adalah ujian untukku, supaya aku kuat kedepannya, bukan hanya itu saja, dari peristiwa ini sudah membuka mata hatiku untuk bisa mengikhlaskan seorang suami yang tak mencintaiku. Begitu juga dengan orang tua suamiku yang tak memandangku karena aku hanya sekeder pembantu baginya, tidak lebih. Satu sisi Ibunya ingin mempunyai seorang cucu dari anak pertamanya tapi sayang, aku belum juga di karuniai seorang anak, karena memang jujur, suamiku belum pernah menyentuhku setelah resepsi selesai. Selang satu tahun, aku juga tak tahu di pagi hari aku merasakan mual, pusing, panas dan semua badanku begitu terasa lemas dan tiba-tiba pandanganku kabur setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi denganku, yang paling menyakitkan di saat aku membuka mata bukan suamiku yang ada di sisiku melainkan teman-temanku. Yah, mereka yang membawaku ke klinik terdekat dan menjagaku sampai aku terbangun, disaat aku tersadar dari pingsan hanya teman-temankulah yang menyemangatiku bukan suamiku ataupun keluarga dari suamiku. Beberapa menit mereka memberitahu bahwa aku sedang mengandung 3 bulan, aku sangat syok, kok bisa seperti ini?”
Aku merasa murung lalu mereka bertanya kepadaku. "Kenapa? Kok murung sih, kami tahu kau sekarang sedang sedih karena suamimu menikah lagi dan tak ada di sini, tapi kami harap kau harus bisa menjalaninya dengan tersenyum karena kami yakin kau itu kuat, tegar dan hebat. Kau cantik dan juga shalihah, apalagi yang harus di ragukan lagi sama kamu? Dan ingat! Sekarang kau sedang hamil, jadi kau harus banyak-banyak bersabar dan istirahat demi kesehatanmu dan calon anakmu,” kata terakhir mereka itu yang membuatku kaget dan langsung membuatku bertanya-tanya.
Sontak langsung aku jawab, “Bukan itu!” Lalu aku menceritakan semuanya kepada mereka, ternyata mereka juga kaget sama halnya dengan aku dan salah satu dari mereka bertanya padaku.
“Apakah kau ingat seorang kakek tua yang ada di Madinah? Yang dulu kau tolong waktu itu?”
Lalu aku mengangguk dan menjawab “Iya, aku ingat.”
“Nah, ia pernah mengatakan bahwa kau akan di berikan karunia yang indah oleh Allah swt karena kebaikanmu,” kata salah satu dari temanku mengingatkan kata kakek tua yang pernah aku tolong disaat aku, suamiku dan teman-temanku berada di Madinah.
“Mungkin ini anugrah yang Allah berikan untukmu, Allah menitipkan janin di rahimmu, layaknya ibunda Siti Maryam yang Allah titipkan nabi isya di rahimnya tanpa di sentuh oleh lelaki manapun, padahal ia menjaga kesuciannya tapi memang sungguh berat ujiannya,” timpal salah satu temanku memberikan penjelasan panjang lebar.
‘Aku tidak sama dengan ibunda Siti Maryam, sangat jauh perbedaannya.’
Setelah meresa baikan aku memutuskan untuk pulang ke rumah, menjalani hari-hariku tanpa seorang suami di sisiku dan bisa menghabiskan waktu berdua. Ketika suamiku pulang dari bulan madunya, aku bingung harus mengatakan apa, lalu ku beranikan untuk jujur kepada suamiku bahwa aku sedang mengandung. Sakit, tak ada respon sedikitpun karena dia tahu bahwa aku belum di sentuhnya, tapi memang dia tak mencurigaiku kalau-kalau aku hamil oleh laki-laki lain, entah apa yang ada di fikirannya itu. Setelah aku menjalani hari tanpa perhatian suamiku layaknya seorang istri yang sedang berbaadan dua tapi malah maduku yang lebih di utamakan, bersama istri keduanya. walaupun dia tak pernah berat sebelah tapi aku rasa saat dia di dekatku dia tak pernah sebahagia saat bersama istri keduanya. Aku tetap sabar, meskipun hatiku sakit dan ini sangatlah berat untukku, aku akan bertahan demi anakku.
Beberapa bulan anakku Mumtaz lahir di kota Syam saat suamiku ada acara di sana, aku dan maduku di ajak olehnya karena dia tak mau sendirian dia ingin ada orang menemaninya dan saat itu juga aku melahirkan anakku, hanya saat itu dia berada di sampingku menemaniku saat persalinan, hanya itu terakhir kalinya dia berada di dekatku.
Setelah itu dia lebih sibuk dengan istri keduanya yang sedang mengandung juga, karena bagi dia maduku lebih berharga di bandingkan aku. Hati seorang istri yang mana yang tidak sakit? Merasakan ketidak adilan dalam rumah tangganya, cerai? Seharusnya seperti itu menurut pandangan sahabat-sahabatku. Dari pada aku harus terus-terusan sakit hati.
Beberapa tahun berlalu, ketika anakku menginjak berusia 5 tahun dan adik tirinya 4 tahun, suamiku izin untuk menikah lagi, tapi katanya ini bukan karena ia mencintainya melainkan kesian dengan keadaannya yang seorang janda dan bayi yang masih kecil. Awalnya aku keberatan karena dia mendua saja sudah membuatku terasa asing baginya apalagi ini? Tapi aku tidak mau egois setelah mendengarkan penjelasan darinya, aku berusaha untuk ikhla dan tabah. Lalu aku beri dia izin untuk berpoliga, setidaknya aku tidak mejadi manusia yang egois tapi soal hati siapa yang tahu? Tapi maduku malah tak mengizinkannya, dia marah karena dia tak mau cintanya terbagi. Tapi siapa yang bisa mencegah keputusan suamiku itu, tak ada yang bisa sampai orang tunya pun sama, tidak bisa.
Setelah suamiku menikah lagi, aku mendapatkan orang tuaku meninggal dunia dan satu sisi aku di talak oleh suamiku. Saat itu hatiku begitu hancur, sakit rasanya harus di hadapkan dalam keadaan seperti itu, ujian hidup yang terlalu berat yang tiada henti. Lalu aku aku untuk memutuskan pulang karena orang tuaku lebih berharga dari pada dia, aku hanya bisa mengikhlaskan semuanya dan berharap kedepannya akan lebih baik lagi. Setelah selesai mengurus jenazah orang tuaku, tiba-tiba saja aku di usir oleh kedua kakak perempuanku dan akhirnya aku bertemu dengan kau di jalan saat itu.”
Sesaat Umi meneteskan air matanya hingga membasahi pipinya setelah Umi ceritakan semuanya dan hal itu membuat Umi teringat denga luka lama yang sudah lama Umi kubur, masa lalu yang mengerikan!
“Aku turut bela sungkawa untuk kedua orang tuamu, aku mendengarkannya saja terenyuh ikut merasakan apa yang kau rasakan saat itu terlalu sakit untuk aku dengarkan apalagi kamu yang merasakannya,” ujar tuan muda mengeluarkan empatinya kepada Umi, tuan muda juga ikut sedih, tak terbayangkan oleh tuan muda gimana rasa sakitnya Umi saat itu.
“Jika kau benar-benar mencintaiku, aku harap kau mencintai aku karena Allah. Jangan karena diriku atau yang lainnya. Sejatinya yang mencintai seseorang karena Allah ia akan merasakan cinta yang abadi kelak sampai ke akhirat nanti dan satu lagi, aku tak ingin berpacaran karena hal itu di larang oleh agama. jika kau benar-benar mencintaiku, lamar aku dan nikahi aku secepatnya supaya tidak ada fitnah. Dan sekarang kau sudah tahu latar belakangku jadi, jangan kau jadikan pacaran untuk mengenal satu sama lain, karena setelah menikah nanti kau akan tahu kepribadian pasangannya.”
Hal itu membuat tuan muda berdecak kagum akan kejujuran dan kepribadian Umi, ia semakin bertekad bahwa ia akan memperjuangkan cintanya karena menurutnya ia tak salah mencintai, tapi hanya saja suaminya yang menyia-nyiakan Syaidha.
“Apakah aku harus berterima kasih terhadap waktu? Atau kepada suaminya Syaidha, kalau bukan berkat dia yang menyia-nyiakan perempuan sebaik Syaidha mungkin saat ini aku tidak akan pernah bertemu dengan Syaidha,” gumam Dinar sambil berfikir.
Lalu tuan Dinar pun angkat bicara setelah bergulat dengan hati dan fikrannya.
“Aku, Dinar Salim Rusdiantara bertekad untuk memperjuangkan cintaku, jika itu keinginanmu aku akan melakukannya dan malam ini, di tempat ini, di saksikan oleh bintang-bintang, aku melamarmu, Syaidha Syahila Hisyam.” tuan muda berjongkok, lalu mengulurkan kembali setangkai bunga mawar yang dia genggam dan mengeluarkan kata yang begitu romantis menurut Umi. “Are you Merry Me? Would you be my Makmum?” begitu romantis cara tuan Dinar melamar Umi, memang sudah sepantasnya Umi untuk mendapatkan kebahagiaannya. Di satu sisi, Umi masih berdiri dan bergeming rasa takut dan bingung masih menyelimuti hati dan fikirannya. Beberapa menit Umi berfikir, berkutat dengan hati dan fikirannya, setelah merasa sudah mantap dengan hatinya Umi langsung mengangguk sambil tersenyum, mengambil bunga dari tangan tuan muda dengan rasa bahagia, lalu menghirupnya dan tersenyum lepas.
“Bismillaah … aku mau menjadi makmummu tuan Dinar Salim Rusdiantara.”
“Benarkah? Kau menerimaku?” tanya tuan Dinar dengan nada sumbringah, tak ada kata yang bisa melukiskan kebahagiaanya saat ini.
“Iya, aku serius.”
Terpancar dari raut wajah mereka kebahagiaan, dua insan yang sedang di landa asmara kini menghabiskan setiap detiknya hanya dengan senyuman yang menghiasi wajah mereka. Tak ingin waktu berlalu tanpa melihat sosok yang berarti dalam hidupnya, saling mensupport satu sama lain, pengertian satu sama lain dan selalu menyapa di kala ada waktu dimana hal yang paling di sukai oleh insan ini.
“Aakhh, rasanya aku ingin cepat-cepat menghalalkan Syaidha supaya tidak ada jarak lagi di antara kami. Bisa menghabiskan waktu berdua tanpa ada dosa maupun omongan orang-orang, dan yaahh … Menua bersama hingga maut memisahkan sehingga nanti akan meninggalkan sejarah cinta yang terindah,” gumam Dinar saat hendak menutup matanya yang sedang berbaring sambil tersenyum, memandang langit-langit kamar mengingat bahwa cintanya tak bertepuk sebelah tangan.