“Aku tak salah kan? Karena ingin merasakan kebahagiaanku kembali, walaupun dulu tak sebahagia ini, tapi aku juga berhak bukan untuk bahagia?” gumam Umi disaat menghirup kembali bunga mawar yang Umi genggam sambil bergelut dengan fikirannya.
Lalu tuan Dinar berdiri berjalan ke tepi kolam sambil menatapnya dan berkata, “Nah, sekarang giliranku untuk kau mengetahui siapa aku sebenarnya, jika memang kejujuran harus ada di antara kita aku akan senang untuk jujur agar aku bisa bersamamu dan tak ada rahasia di antara kita nanti,” ucap tuan Dinar,
Dengan perlahan Umi berjalan mengikuti tuan muda untuk berdiri di tepi kolam yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Setelah merasa siap, disaat itu juga tuan Dinar menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya tanpa ada yang di tutup-tutupi. Dengan kaki yang di masukkan di dalam kolam, tuan muda menatap Umi dari jarak yang agak berjauhan.
“Kau tahu aku ini adalah dari keluarga besar Rusdiantara yang terkenal dengan banyaknya beberapa aset wisata di daerah sini? Bukan itu saja, Ayah, Bunda, Kakek, Nenek maupun kedua kakakku mereka adalah pembisnis terhebat di Jakarta, tapi sayang Ayah telah meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan, makanya aku di usir dari rumah oleh Bunda sebab ia terpukul dengan perginya Ayah. Saat itu ayah kecelakaan satu mobil bersamaku, jadi mereka mengira bahwa akulah penyebab kematian Ayah, padahal itu adalah sebuah kecelakaan yang memang mungkin sudah di rencanakan tapi aku juga belum yakin karena aku tidak mau mengambil pendapat tanpa bukti. Setelah aku keluar dari rumah Bunda, aku merintis karirku untuk membangun perusahaan yang aku miliki sekarang di mulai dari nol, tak lama setelah aku sukses Bunda meminta maaf ke padaku, tapi saat itu aku belum bisa pulang dengannya karena aku ingin memilih tinggal di sini. Hal yang paling aku tidak suka terhadap Bunda bukan aku benci kepadanya karena Bunda pernah mengusirku melainkan Bunda selalu saja mencarikan aku jodoh dari anak teman-temannya, jika aku mengunjungi Bunda dan yang lainnya pasti ada saja anak dari teman-teman Bunda datang ke rumah, itu yang membuat aku risih jika harus bertemu Bunda. Dulu aku pernah berpacaran hanya dua kali itu pun waktu masa SMA dan sekarang aku tak pernah lagi berpacaran karena pacaran bagiku akhirnya akan menyakitkan kalau tidak langgeng dan sampai ke jenjang yang serius, makanya aku menyutujui keinginanmu untuk langsung menikah denganmu supaya tidak ada rasa sakit ataupun yag lainnya. Jujur, aku paham agama hanya sedikit itu pun waktu dulu aku pernah singgah di sebuah pesantren di kala aku masih SMA, jadi aku mohon ajari aku semua tentang islam, dan satu lagi aku tak mau kamu memanggilku dengan sebutan tuan, sekarang aku bukan tuanmu melainkan kekasihmu, walaupun kita belum halal,” ucapnya sambil tersenyum manis menatap Umi, yang di tatap hanya menunduk malu-malu, baginya tak baik harus saling pandang dalam keadaan ia bukan mahramnya.
“Baiklah saya mengerti, terus saya harus panggil tuan dengan panggilan apa? Abang? Atau Adek?” tanyanya dengan malu-malu. Sambil sedikit menerbitkan senyumannya.
“Panggil aku sayang.” Tuan Dinar langsung menjawab pertanyaan Umi dengan semangat dikala melihat senyum indah di bibir Umi, tuan Dinar dengan iseng ingin menggoda Umi, dan itu berhasil membuat Umi melongo lucu.
“Hah! Masa harus panggil sayang, kan saya ini lebih tua darimu dan saya tak mau!” Ucap umi dengan kesalnya, mengembungkan pipinya karena merasa antara bahagia dan kesal.
“Hehehe becanda, kau ini lucu sekali jika seperti itu,” ucap Dinar sambil tersenyum saat melihat Umi yang sedang kesal.
‘Ingin rasanya aku terus membuatnya seperti itu, ini hal yang menyenangkan selagi Syaidha yang bertingkah seperti itu, lucu dan menggemaskan.’
“Umur kita sama, 25 tahun, aku tidak muda dan tidak tua. Masa ganteng-ganteng gini di panggil Abang kan gak matching jadinya, jadi aku mau, kita pakai panggilan ‘aku kamu’ gimana? Kamu setuju ‘kan?” tanya Dinar sambil menatap wajah Umi yang sedang menunduk malu menunggu reaksi apa lagi yang akan di berikan oleh Umi.
“Yah terserah tuan Dinar Salim Rusdiantara saja, saya hanya bisa manut,” balas Umi dengan ketus sambil berjalan meninggalkan Dinar sendirian, Dinar tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Syaidha yang jutek seperti itu, Dinar terus menggeleng- gelengkan kepalanya sambil tersenyum dan bergumam, “Begitu lucu tingkahnya.” tersenyum lalu berkata lagi, “Tapi, aku suka.”
Cieeee ... yang lagi kasmaran, eh aku mau nanya nih sama kalian semua, emang kek gitu yah kalau sedang kasmaran, senyum sendiri dan bahagia sendiri!!!!, Nggak ngajak-ngajak, gak bagi-bagi wkwkwk. Ciieee Umi salting, hihi. Ikut turut bahagia deh buat Umi.
Keesokan harinya Umi Syaidha dan tuan Dinar berniat untuk pergi meminta restu kepada keluarga tuan Dinar, karena malamnya habis ba’da isya tuan Dinar ingin melangsungkan akad nikahnya. Dengan mantap Dinar mengajak Syaidha untuk pergi bersamanya, bersama-sama berjuang meminta restu kepada orang tuanya, dan saat itu aku Mumtaz yang paling imut nan manis bin lucu di asuh oleh seorang baby sister, jadi saat itu Umi tidak lagi sibuk untuk mengurusku karena untuk sementara yang mengurusku adalah bi Laras sang baby sister plus teman dan sudah di anggap adik oleh Umi. Di saat Umi sedang sibuk memperjuangkan kebahagiannya, bi Laraslah yang mengasuhku padahal hal itu bukan keinginan Umi melainkan tuan Dinar sendiri yang menyewakan baby sister untukku. Sebab, tuan Dinar tidak mau Umi kerepotan dan akhirnya jatuh sakit di saat hari bahagia mereka.
Saat tiba di rumah mewah nan megah yang di kelilingi taman dan pepohonan kecil yang sangat indah untuk di pandang, Umi sedikit terkesima dengan indahnya rumah itu, disaat Umi gugup untuk memasuki rumah mewah itu, melihat itu tuan Dinar menghampiri Syaidha untuk memberikan semangat pada Umi dengan senyumannya.
“Akh, rasanya aku ingin memegang tangan Syaidha. Menyalurkan semangat dan kehangatan untuknya,” kicaunya lemas.
Setalah masuk ke dalam rumah, menyusuri setiap ruangan yang terlewati mencari di mana tuan rumah berada, dan ternyata keluarga besar Rusdiantara sedang bersantai sambil mengobrol di ruang keluarga, mengingat ini hari libur jadi jadwal kegiatan mereka hanya berbincang dengan keluarga supaya rasa kekeluargaan mereka tetap hangat dan harmonis walapun mereka adalah orang yang super sibuk. Berjalan mendekati sang Bunda yang sedang duduk bersebelahan dengan cucu pertamanya, tuan Dinar mengucapkan salam dan mencium punggung tangan Bundanya beserta yang lainnya dan di ikuti Umi, yang lain hanya terheran saat Umi juga ikut bersalaman. Siapa orang yang di sebelah anaknya ini? Kata itulah yang membuat Bundanya bertanya-tanya, melihat raut penasaran di antara semuanya akhirnya tuan Dinar duduk dan langsung membuka percakapan di sela-sela penasaran dari keluarganya sehingga langsung ke intinya tanpa basa basi lagi.
“Kedatangan Dinar kesini ingin meminta restu kepada kalian semua untuk menikahi Syaidha,” kata tuan Dinar dengan hati-hati supaya tidak membuat kaget seisi rumah.
Bunda tuan Dinar langsung melotot setelah mendengar ungkapan anaknya itu.
“Hah! Apa Bunda tak salah dengar anakku, kau ingin menikah dengan gadis seperti dia, kau tak sebanding dengannya anakku, lihat saja penampilannya, norak!”protes Bunda tuan Dinar dengan nada mengintimidasi Umi yang di pandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Deg! Sesaat hati Umi terasa perih kata itu begitu tajam untuk di dengar, hinaan seperti itu yang pernah Umi alami untuk yang kedua kalinya. Dulu saat Abi ingin menikah denga Umi tapi orang tua Abi malah mecacinya. Tapi Umi tetap sabar sambil menahan rasa sakit hatinya dan Umi pun hanya bisa menunduk sambil menahan air matanya, karena Umi memang tahu kalau dirinya tidak akan sebanding dengan tuan Dinar salim Rusdiantara yang kaya raya.
“Apakah kau tahu latar belakangnya, pendidikannya, derajatnya dan bibit bobotnya?” timpal kakak laki-laki pertama tuan muda, Arman Salim Rusdiantara yang terkenal lebih teliti dari ke empat saudaranya, tegas dan pemilih orangnya.
“Aku setuju-setuju saja jika kau ingin menikah dengan wanita itu, karena semuanya tergantung pada kalian kan kalian yang akan berumah tangga jadi aku ikut saja jika itu adalah pilihanmu dan kau bahagia aku pun turut bahagia,” kata kakak perempuan tuan Dinar memberikan izinnya untuk sang adik. Bianca Salim Rusdiantara kakak kedua yang paling dekat dengantuan Dinar, karena hanya beliaulah yang selalu membantu dan mensupport apa yang menjadi pilihan tuan Dinar yang terpenting itu bisa buat adiknya bahagia.
Tapi kakak ketiga dari tuan Dinar tidak ikut angkat bicara hanya diam dengan raut wajah tidak suka, siapa lagi kalau bukan si cantik tapi angkuh Chelin Salim Rusdinatara.
“Kakek dan Nenek sama dengan Bianca, hanya bisa menyerahkan semuanya padamu Nak, jika itu sudah menjadi pilihanmu dan buat kau bahagia kami pun akan bahagia,” timpal nenek dan di angguki oleh sang Kakek.
“Tapi Mah, Pah! Aku tidak setuju jika anakku menikah dengannya, dia tidak pantas untuk menikah dengan anakku, mereka beda kasta dengan kita, MISKIN!” tegas sang Bunda dengan menyebutkan kata miskin dengan penuh penekanan. Seketika Arman dan Chelin pun ikut berpendapat dengan apa yang di ucapkan oleh sang Bunda karena bagi mereka status adalah yang paling utama.
Medengar cacian seperti itu hati tuan Dinar merasa sangat miris, begitu mudahnya sang Bunda menilai seseorang hanya dari derajatnya saja tidak dengan akhlak dan hatinya. Dengan tekad yang kuat tuan muda langsung berlutut memohon agar Bundanya memberikan restu kepadanya, tuan muda akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan restu dari Bundanya dan membuka hati dan fikirannya supaya tidak merendahkan seseorang dari derajatnya saja melainkan dari hatinya.
“Bunda, aku mohon restuilah kami, aku hanya mencintainya dan ingin menikah dengannya tidak ada yang lain yang lebih istimewa darinya karena ketulusan hati yang dimilikinya. Jika Bunda menilai seseorang dengan seperti itu berarti Bunda sendiri yang lebih buruk dari Syaidha, coba Bunda fikir, bukannya orang yang berpendidikan tinggi lebih pandai menilai orang di bandingkan yang berkuasa tapi tidak tahu apa-apa? Karena orang yang berpendidikan itu tidak seperti itu menilai seseorang karena penampilan atau hartanya saja, melaikan dari hatinya. Apakah Bunda lupa dengan sifat Ayah yang baik terhadap semua orang? Bukankah beliau tidak memandang semua orang dari derajatnya tapi Ayah memandangnya karena ia juga makhluk ciptaan Allah swt sama seperti kita. Apakah Bunda tidak mau melihat aku dan alm Ayah bahagia? Dan apa Bunda tidak ingin mendapatkan menantu yang sholeha seperti Syaidha?” tuan Dinar menjelaskan dengan panjang mengeluarkan apa yang sudah ada dari tadi di hatinya, sehingga kata-katanya membuat Bundanya bergeming mengingat gimana baiknya dulu alm suaminya dan sama dengan halnya yang lain, kagum dan bangga tetapi tidak dengan Arman dan Chelin.
Umi terharu melihat perjuangan tuan Dinar yang mau berlutut memohon agar kami bisa mendapakant restunya, dengan linangan air mata yang sudah mengalir begitu saja tanpa bisa di tahan, Umi bahagia dengan apa yang Umi lihat sekarang perjuangan cinta sang kekasih. Sedangkan Bundanya kembali mengingat pesan terakhir almarhum suaminya yang harus baik kapada semuanya, dan akhirnyna sang Bunda mulai anagkat bicara setelah bergelut dengan hati dan masa lalunya.
“Maafkan Bunda anakku, Bunda hanya memandang semuanya dengan derajat dan materi, baiklah sesuai pesan almarhum ayahmu Bunda akan memberikan restu kepada kalian, jika itu yang terbaik untukmu dan bisa membuatmu anakku bahagia,” tutur Bunda tuan Dinar dengan perasaan bersalah kepada anaknya. Mendengar hal itu tuan Dinar langsung bersyukur mengucap ‘Alhamdulillah’ ia langsung duduk di sebelah Bundanya dengan bahagia, memeluknya dengan erat dan mengucapkan ‘terimakasih’ di depan wajah sang Bunda.
Setelah suasana sudah membaik, tiba-tiba sang Nenek bertanya, “Lalu, kapan rencananya kau akan menikahinya?” tanya sang Nenek, dengan tersenyum tuan Dinar menjawab, “Malam ini, sehabis sholat isya tepatnya di masjid As-Sakinah,” jawabnya bersemangat.
“Terus, hanya sekedar akad? Tidak ada acara pernikahannya gitu?” timpal sang Bunda penasaran.
“Dinar ingin acaranya sederhana saja, cukup akad saja yang penting sah dan sakral,” jawabnya lagi.
“Kalau Bunda ingin adain acara gimana? Apa kamu setuju?” usul sang Bunda.
“Tadinya Dinar hanya ingin sekedar akad, tapi jika itu sudah menjadi keputusan Bunda aku akan nurut saja untuk kebahagiaan bersama.”
“Bolehkan Syaidha? Demi Bunda.” Tuan Dinar menatap Umi bertanda meminta persetujuannya.
“Kalau saya ikut saja gimana baiknya,” balas Umi.
“Baiklah, jika semuanya sudah sepakat, nanti malam kami akan hadir di sana,” ucap sang nenek mengakhiri percakapan di antara kami.
Lalu tuan Dirli merasa bahagia karena ia bisa mendapatkan restu dari keluarganya. Setelah berbincang- bincang sebentar, akhirnya tak terasa waktu mulai sore, kini Umi dan tuan Dinar pamit untuk pulang supaya bisa mempersiapkan diri dan istirahat.
Dalam perjalanan pulang tuan Dinar membuka suara yang dari tadi hanya ada kesunyian yang menemani mereka berdua, dan ternyata mereka berdua sibuk dengan fikirannya masing-masing tentang acara nanti semalam sambil tersenyum-senyum membayangkan kebahagiaan nanti malam.
“Alhamdulillah, sebuah perjuangan yang tidak sia-sia, dulu aku berjuang untuk mengambil hatimu, anakmu dan sekarang aku bisa mendapatkan restu dari keluargaku, walau sedikit menguras otak dan fikiranku,” racaunya sambil tersenyum, lalu Umi pun yang mendengarnya hanya ikut tersenyum.
Sesampai di rumah, tuan Dinar langsung menyuruh Umi untuk istirahat dan gak boleh kemana-mana dan memikirkan acara untuk nanti malam karena semuanya akan di urus oleh ajudan kepercayaan tuan Dinar dan sahabatnya yang ahli dalam busana dan rias. Terkesan mendadak tanpa ada persiapan sedikitpun tapi hal itu tidak membuat seorang Dinar Salim Rusdiantara kebingungan karena semua pihak langsung membantu untuk kelancaran acara pernikahan sang atasan.
Setelah selesai menghubungi semua yang akan ikut andil nanti malam, tuan Dinar mersa lega dan bahagia begitu pun dengan Umi, mereka merasakan kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, tersenyum! Itulah yang sedang mereka lakukan sekarang di kamarnya masing-masing.