Aroma maskulin menyapa indra penciuman Alina ketika Arsha mendekapnya erat. Degup jantung lelaki itu juga terdengar jelas di telinganya. Untuk sejenak gadis dengan tahi lalat di atas alisnya itu memejamkan mata, merasakan kenyamanan.
"Al, kamu nggak pa-pa' kan?" Suara Arsha membuat Alina tersadar akan posisinya saat ini.
"Eh, sa--ya baik-baik saja Pak. Maaf dan terima kasih."
Alina sedikit mendorong d**a bidang Arsha untuk membuat jarak antara mereka. Arsha yang menyadari pergerakan sekretarisnya, melonggarka lengannya sambil menundukkan diri.
"Benar kamu nggak pa-pa?" Ulang Arsha untuk memastikan keadaan Alina.
"Iya Pak, saya baik-baik saja. Terima kasih sudah menolong saya."
"Sama-sama, sepertinya mobil itu sengaja. Kamu kenal mobil itu?"
"Enggak Pak. Lagian saya nggak pernah punya musuh, kenapa Bapak berpikiran begitu?"
"Yakin nggak punya musuh? Dengan tingkah bar-bar kamu begini?" Arsha menatap Alina dari bawah ke atas sambil menggelengkan kepalanya.
"Maksud Bapak saya seperti preman gitu?"
Arsha mengangguk cepat sebagai jawaban. Alina bukannya menjawab, dia hanya mengacungkan jari tengahnya pada Arsha lalu beranjak meninggalkan atasannya itu yang mungkin terkejut tak menyangka akan mendapat balasan di luar ekspektasi.
"Dasar gadis bar-bar." Arsha geleng-geleng dengan sudut bibir terangkat.
Setelah Alina benar-benar masuk ke dalam lift yang menghubungkan beasmet dan gedung apartemen, Arsha masuk ke dalam mobil dan meninggalkan lokasi tersebut.
Sampai apartemen, Arsha langsung disambut Kayla yang baru keluar dari kamar dan masih memeluk boneka kesayangannya.
"Daddy, aunty mana?"
"Aunty pulang. Cantiknya daddy bangun tidur kok langsung nanyain aunty?"
"Aunty cantik baik sih, Kay suka. Kapan aunty main ke sini lagi Dad?"
"Nanti ya kalau aunty nggak sibuk. Sekarang Kay mandi dulu sama sus, nanti daddy antar ke rumah oma."
"Ote Dad."
Kayla selalu menurut apa kata daddy-nya, ketulusan juga limpahan kash sayang yang diberikan Arsha untuk Kayla membuat anak perempuan dengan pipi cubby itulah membuat Kayla tumbuh jadi anak manis, cerdas, penurut. Satu kekurangan Kayla, selalu susah beradaptasi dengan orang baru, tapi ternyata pengecualian bagi Alina.
***
Arsha menghela napas panjang, menatap layar laptopnya yang sudah terbuka selama hampir satu jam tanpa ada satu pun pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Biasanya, pikirannya terfokus penuh pada pekerjaan, tapi kali ini ada sesuatu yang mengganggunya—lebih tepatnya, seseorang.
Beberapa hari terakhir, hubungannya dengan Alina membaik. Tidak ada lagi pertengkaran kecil atau tatapan sinis. Sebaliknya, Alina menunjukkan kepedulian yang membuat Arsha mulai melihatnya dengan cara yang berbeda. Terlebih Kayla juga semakin lengket saja dengan gadis yang sempat dia samakan dengan preman karena tingkahnya.
Di balik sikap dan tingkahnya yang bar-bar, tersimpan perhatian, juga kesabaran menghadapi anak kecil. Kayla selalu merasa nyaman ketika bersama dengan Alina. Anak kecil menggemaskan itu akan rewel jika sehari saja belum bertemu dengan sekretaris daddy-nya. Arsha terkadang sampai heran sendiri dengan sikap Kayla.
Arsha membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berukuran sedang. Di dalamnya, terdapat jam tangan mewah dengan desain elegan yang sudah ia pilih khusus untuk Alina. Ia menatap kotak itu sejenak sebelum akhirnya menghubungi Alina.
“Masuk ke ruangan saya sebentar,” katanya singkat.
Tak lama kemudian, Alina mengetuk pintu dan masuk. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
"Duduk Al." Arsha menatap gadis di hadapannya sebentar, sebelum menyodorkan kotak kecil itu. “Ini untukmu.”
Alina menatap kotak itu dengan bingung. "Untuk saya? Dalam rangka apa Pak? Ulang tahun saya masih lama.
"Bukalah, memberi hadiah tidak harus menunggu saat ulang tahun' kan?"
"Tapi Pak--"
Arsha mendekatkan kotak persegi berwarna biru gelap ke hadapan Alina. Gadis bermata bambi itu menatap Arsha sejenak sebelum akhirnya mengambilnya dengan ragu. Saat membuka dan melihat jam tangan mewah di dalamnya, Alina cukup terkejut.
"Pak, ini...."
"Untuk kamu, saya hanya ingin memberikan apresiasi pada kinerja kamu yang bagus dan bisa membuat investor percaya dengan One Diamond." Potong Arsha cepat, tidak ingin Alina berpikir macam-macam.
Alina menggigit bibirnya, tampak bimbang. “Ini terlalu mahal, saya tidak bisa menerimanya.”
Arsha menaikkan sebelah alis. “Kenapa tidak?”
“Saya hanya melakukan pekerjaan dan tanggung jawab saya, Pak. Jadi tidak perlu mendapat reward, apalagi barang semewah ini,” jawab Alina jujur.
Arsha menghela napas. Ia tahu Alina bukan tipe orang yang mudah tergoda oleh hadiah atau materi. Namun, justru itulah yang membuatnya diam-diam mulai memperhatikan sekretaris bar-barnya.
“Kamu layak mendapatkannya, Alina,” ucap Arsha, suaranya lebih lembut dari biasanya. “Anggap saja ini tanda terima kasih dari perusahaan karena dedikasi juga kinerjamu yang baik."
Arsha akhirnya menggunakan nama perusahaan supaya Alina mau menerima pemberiannya tersebut.
Alina menatap jam tangan itu lagi, masih ragu. Namun, melihat kesungguhan di mata Arsha, akhirnya ia mengangguk pelan.
“Baiklah, saya terima hadiah ini. Terima kasih, Pak.”
Arsha tersenyum tipis. “Sama-sama, jangan lupa dipakai."
"Kalau untuk itu saya pertimbangkan dulu Pak. Takut disangka korupsi kalau saya tiba-tiba pakai jam tangan mewah, padahal baru sebulan kerja."
"Pakailah saat mendampingi saya di acara-acara penting di luar jam kantor." Arsha tak kehabisan akal supaya Alina mau mengenakan jam tangan yang memang dipesan khusus itu.
Alina hanya mengangguk pasrah, menolak ataupun mendebat atasannya itu juga sangat percuma. Gadis yang lebih nyaman menggunakan celana dari pada rok ketika bekerja itu kembali mengucapkan trima kasih pada Arsha, sebelum keluar dari ruangan.
***
Sudah enam bulan Alina menjadi sekretaris Arsha, kemampuannya semakin mumpuni, di samping itu dia juga kembali melanjutkan pendidikannya untuk menunjang kinerjanya. Di sela-sela kesibukan kerja, Alina lebih fokus degan kuliah onlinenya.
Beberapa hari terakhir Arsha cukup sibuk menerima investor dari luar negeri yang ingin bergabung di One Diamond. Begitu juga hari ini, dia harus membicarakan kesepakatan dengan investor yang direkomendasikan oleh Mr. Kim.
"Bapak dari tadi belum makan apa-apa, atau mau saya pesankan lewat online?" tanya Alina mereka kembali ke kantor dan Alina menyerahkan berkas yang harus ditandatangani Arsha.
"Nggak usah Al, saya lagi males makan. Bisa tolong bikinkan teh aja."
"Baik Pak saya bikinkan dulu tehnya."
"Al, tolong nanti sore kamu handel pertemuan dengan Royal Company ya, nanti Bram saya minta mendampingi kamu. Kalau mereka tidak setuju dengan kesepakatan yang kita ajukan, lepaskan saja. Mereka terlalu ingin mendapatkan keuntungan besar tanpa mau keluar modal, bisa tekor kita," pinta Arsha saat Aline meletakkan secangkir teh hangat di meja.
"Baik Pak, in sya Allah akan saya usahakan yang terbaik untuk perusahaan."
Alina kembali ke ruangannya dan Arsha juga melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk.
Langit sudah menggelap, lampu-lampu seperti ribuan kunang-kunang di bawah sana, dan Arsha masih bergerlung dengan tumpukan berkas yang harus diteliti ulang sebelum membubuhkan tanda tangan di atasnya.
Alina yang baru kembali ke kantor setelah menyelesaikan pertemuan dengan Royal Company melihat lampu ruangan Arsha masih menyala.
"Apa Pak Arsha lembur ya? Udah makan belum ya?? Tadi siang jelas nggak makan, aku lihat dululah, siapa tahu butuh sesuatu." Alina lantas mengetuk pintu ruangan Arsha sebelum masuk.
Tubuh Arsha terasa lemas saat ia bersandar di kursi kantornya. Kepala berdenyut, dan tubuhnya terasa panas. Seharusnya ia pulang lebih awal, tapi tumpukan pekerjaan membuatnya tetap bertahan hingga larut malam.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Alina saat melihat wajah pucat Arsha, seketika rasa khawatir dan peduli merambati hatinya.
Bersambung.