Santi menatap sinis kebersamaan kami, mungkin ia merasa Chaca merenggut perhatianku juga Bunda darinya.
Dia membanting kasar sayuran yang baru saja dipotong. Kami berhenti tertawa, menoleh ke arahnya yang sudah menjauh meninggalkan dapur.
"Dia kenapa?" tanya Chaca polos.
Bunda juga membiarkannya. Pasti beliau sepemikiran denganku. Bunda lebih memilih melanjutkan kegiatan memasaknya.
"Jangan dipikirkan," ucapku mengusap puncak kepalanya.
"Oooom!! Jijiiik!!" pekiknya memukuli lenganku, setelah tahu tanganku penuh dengan kocokan telur.
"Hahaha ... maaf Cha, tanganku nggak ada matanya. Pas mau celupin ke tepung malah salah ke kocokan telur," ucapku tanpa merasa bersalah. Kuiringi dengan tawa menggelegar.
"Bundaaa ...," ucapnya berkaca-kaca mendekati Bunda yang masih sibuk menggoreng.
"Nanti Bunda bantu bersihin, sekarang bantu Bunda selesaikan ini ya. Sebentar lagi makan siang," tutur bunda lembut membuat Chaca berbinar.
Aku dengan cekatan membantu Bunda memotong sayur, mengiris bawang, dan membantu memasaknya. Aku sudah terbiasa memasak sedari dulu. Jadi ini bukan hal yang sulit.
Kulihat Chaca bersandar di meja dapur sambil mengobrol dengan Bunda dan meratapi rambutnya yang penuh tepung dan telur itu. Iiiih menjijikan sekali Cha. Haha!
Setelah semua selesai, kami menatanya di meja makan. Meja yang sangat luas dengan kursi yang sangat banyak. Aku rindu makan besar seperti ini. Sudah lama aku tidak merasakannya.
Terdengar gemericik air di kamar mandi. Kamar mandinya dekat dapur. Otomatis dekat dengan kamarku juga. Tidak hanya itu, terdengar canda ria juga antara Chaca dan Bunda.
Ya ampun, jadi Chaca beneran dimandiin. Astaga kucing liarku. Aku menggelengkan kepala membayangkannya.
Tawa mereka juga menggelegar di dalam sana. Membuatku penasaran dengan obrolan mereka. Aku menunggunya di depan kamar mandi dengan sebuah paper bag menggantung di tanganku.
Tak berapa lama, pintu terbuka. Aku masih asyik dengan lamunanku. Chaca histeris dan kembali masuk ke kamar mandi. Aku sempat meliriknya sekilas, dia hanya mengenakan handuk yang membelit tubuhnya. Woaahhh!
"Aaaa ... Om ngapain di situ? Dasar Om m***m. Lo ngintip gue mandi ya Om?" maki Chaca dari balik pintu.
Bunda menatapku dengan tajam sambil berkacak pinggang. Aku gugup, melambai-lambaikan tanganku. Bibirku seolah kelu mau mengatakan sesuatu. Seakan aku benar-benar terpergok sedang mengintip Chaca mandi.
"Bu ... bukan Bunda. Gandhi tidak mengintip Chaca," ucapku gugup.
"Terus apa namanya, hah?" garang Bunda menyentakku.
"I ... ini pakaian untuk Chaca Bunda." Aku menyerahkan paper bag pada Bunda dan berlari ke kamarku.
Bunda mengetuk pintu kamar mandi. Chaca masih berteriak menyuruhku pergi.
"Ini Bunda, Sayang," tukas Bunda membuat Chaca membuka pintunya.
"Tadi Gandhi mau ngasih ini," imbuhnya setelah pintu terbuka sedikit. Chaca masih waspada melongokkan kepala dari dalam.
"Apa ini Bun?" tanya Chaca.
"Sepertinya pakaian Cha. Sana ganti baju dulu!" titah Bunda.
Chaca berlari ke kamarnya membawa paper bag tersebut. Gandhi membelikannya tadi pagi seusai mandi. Chaca membukanya, matanya membelalak.
Paper bag itu berisi 2 gaun selutut yang indah, 1 stel kemeja panjang dengan rok selutut dan yang membuatnya terkejut adalah ada 3 pasang dalamannya juga.
"Astaga Om!" Chaca menepuk jidatnya. Wajahnya merona karena merasa malu.
Waktu makan siang tiba. Di meja makan sudah berkumpul anak-anak panti. Ramai sekali, Chaca berdiri dalam diam memperhatikannya.
Matanya berkaca-kaca, seumur hidupnya dia tidak pernah berada dalam situasi ini di meja makan. Biasanya dia hanya makan sendirian di meja makan yang luas dan besar.
"Cha, ayo sini duduk!" ucap Bunda yang melihatnya di belakangku.
Chaca melangkah pelan, ia duduk di samping kursiku. Kursi yang biasanya diisi oleh Santi. Tapi dia tidak kelihatan sejak insiden di dapur tadi.
Aku menoleh, terkesima dengan penampilan Chaca yang sederhana tapi memukau. Aku yakin selama ini dia diladeni oleh pembantunya. Jadi, aku mengambilkannya. Sedikit nasi dengan lauk seadanya.
Chaca terpaku melihatku memperlakukannya seperti itu. Di sisi lain, tatapan tajam menyeringai seolah hendak mencabik mangsanya.
"Makasih ya Om." Air matanya meleleh membasahi pipi.
"Ssstt ... malu sama anak-anak," ucapku mengusap air matanya.
Benar saja kami menjadi pusat perhatian. Mereka seolah sedang menonton drama korea. Bahkan ada anak yang menutupi mata adiknya yang paling kecil. Buset emang dikira aku lagi m***m apa.
Sebenarnya aku masih marah sama Chaca perihal dia mabuk. Tapi nanti dulu aku marah lagi. Sekarang dia harus mendapat kebahagiaan.
Aku melirik Bunda, beliau tersenyum melihat kami. Entah aku juga tidak mengerti dengannya. Aku belum pernah menceritakan detil tentang aku dan Chaca. Sejauh ini seolah Bunda mendukung kami.
Mikir apa aku ya ... astaga! Ular betina pasti sedang mengasah taringnya nih. Aku enggak pulang dari semalam. Awas aja kalau menghasut orang tuanya lagi. Aku talak tiga kamu saat itu juga!
"Aaahh ... ssshh ... panas!" pekik Chaca membuatku tersadar dari lamunan.
Chaca berdiri menggebrak meja. Aku terkejut, kenapa dia?
"Heh! Lo itu ada masalah apa sama gue, hah?" teriak Chaca penuh amarah.
"Lo sengaja kan numpahin kuah panas ini di tangan gue. Lo juga kan yang sengaja dorong gue di depan kamar tadi? Sampai vas bunga Bunda pecah berserakan. Lo juga nyindir-nyindir gue di dapur. Mau lo apa?" geram Chaca mengepalkan kedua tangannya.
Semua orang memandang Santi. Dia tidak bisa membantah Chaca sedikitpun. Apa benar? Santi sengaja melakukan itu? Tapi kenapa?
"Cha," panggilku pelan.
"Jawab! Gue salah apa sama lo? Kenal aja kagak tapi lo cari masalah mulu sama gue! Gue udah diem aja ya dari tadi. Tapi lo makin ngelunjak!" teriaknya lagi sambil menunjuk-nunjuk Santi.
Ya ampun Chaca ngeri juga kalau lagi bar-bar gini.
"Cha mau dengerin aku nggak?" aku meninggikan nada bicara mengimbanginya.
"Duduk Cha!" perintahku setelah dia terdiam. Dia menurut, napasnya masih naik turun karena emosi.
"Maafin Chaca Bunda, maafin gue Om," ucap Chaca pelan menundukkan kepalanya.
"Santi! Apa benar yang dikatakan Chaca? Kamu sengaja mendorongnya dan menyiramnya kuah panas?" tanya Bunda mengintogerasi.
Santi hanya terdiam. Matanya memerah merasa terhakimi. Dia pergi meninggalkan meja makan.
"Cha, banyak adik-adik di sini. Jangan pernah bersikap seperti itu lagi di depan mereka. Lihatlah mereka jadi takut dan lebih khawatir lagi kalau mereka mengikuti sikap kamu itu," bisikku di sampingnya mengusap punggungnya pelan.
Chaca menampilkan senyum terbaiknya. Lalu berdiri dan membungkukkan badannya.
"Halo adik-adik semua, kenalin nama kakak Chaca. Maafin kakak ya, nggak seharusnya berkata kasar seperti tadi. Jangan ditiru ya adik-adik," tuturnya pelan.
"Hai Kak Chaca," sahut mereka serempak.
"Bunda, maafin Chaca ya Bun, Chaca terbawa emosi," ucapnya pelan.
Bunda diam saja. Entah apa yang ada dipikiran Bunda sekarang. Chaca sudah menunjukkan sifat aslinya. Apa Bunda masih mau menerimanya?
Bersambung~