Author POV
"Sudah, di sini gak boleh sedih. Semua yang sudah masuk rumah ini harus selalu ceria. Termasuk Chaca. Bener kan namanya Chaca?" tukas Bunda membelai rambut Chaca.
Chaca mengangguk. Masih tidak menyangka akan menemukan kehangatan keluarga. Bunda menyuapinya hingga tandas, lalu membantu Chaca minum obat pereda mabuk dan pusing.
"Bunda."
Chaca bingung mau menyampaikan sesuatu. Dia terlihat ragu-ragu. Dia menggigit bibir bawahnya.
"Mmm ... Om Gandhi kalau lagi marah diapain ya Bun?"
Bunda terkejut dengan panggilan Chaca. Dua sejoli itu menyematkan panggilan kesayangan masing-masing. Bunda tersenyum geli memikirkannya.
"Buatin aja makanan favoritnya," jawab Bunda pelan.
"Chaca gak bisa masak Bun. Jangankan masak, menginjakkan kaki di dapur saja tidak pernah Bun."
"Yah, sayang sekali. Padahal Gandhi selalu luluh dengan makanan. Nanti Bunda bantuin deh," tawar Bunda berharap Chaca mengiyakan.
"Eemm ... delivery aja deh Bun lebih praktis dan gak repot," elak Chaca.
"Tidak! Gandhi akan lebih menghargai seberapa besar usaha Chaca. Meskipun seandainya secara rasa kalah dari resto," saran Bunda.
Chaca memanyunkan bibirnya. Memang sih, karya sendiri pasti lebih berkesan. Tapi masalahnya Chaca gak ngerti dunia dapur sama sekali. Bisa hancur berantakan nanti dapur Bunda.
"Gak apa-apa, nanti Bunda bantuin," imbuh Bunda sebelum Chaca mengutarakan keinginannya.
"Makasih banyak ya Bun." Chaca memegang lengan Bunda dan tersenyum.
"Yaudah Bunda pamit dulu. Sana mandi!" Bunda pergi membawa mangkuk bekas dan gelas kotor untuk segera dicuci.
Chaca melihat sekeliling. Kamarnya tidak ada kamar mandi. Otomatis, menggunakan kamar mandi umum.
"Ah, kok gak nanya Bunda sih dimana kamar mandinya," ujar Chaca menepuk jidatnya.
Chaca belum mengerti denah lokasi rumah Bunda. Dia nekat berjalan ke luar. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba ada yang menyenggolnya dari belakang.
"Aw!" pekik Chaca terjatuh ke lantai memecahkan Vas bunga yang terpajang di rak.
"Oops ... sorry, gak sengaja!" sinis perempuan yang menabraknya.
Gandhi baru saja masuk rumah, kaget melihat Chaca terkapar di lantai. Ia segera berlari mendekatinya. Gandhi khawatir, di samping Chaca ada pecahan vas bunga berserakan.
"Chaca!"
"Kenapa?" ucap Gandhi membangunkannya.
"Mana yang sakit?" tanyaku panik.
"Gak apa-apa, Om. Gak ada yang sakit kok," ucap Chaca tersenyum.
"Ceroboh!" ujar Gandhi singkat lalu pergi meninggalkannya.
Chaca masih berdiri memerhatikan punggung Gandhi.. Matanya berkaca-kaca.
"Maafin gue, Om," gumam Chaca.
Chaca tidak memperpanjang insiden ia terjatuh. Tapi dia terus kepikiran dengan sikap cuek Gandhi. Dia tidak terbiasa dengan keadaan ini.
"Bun ... Bunda!" panggil Chaca sambil mencari kehadiran Bunda.
Tidak ada sahutan dari Bunda. Bunda tadi pergi ke pasar diantar Paman. Gandhi yang mendengarnya diam saja, tidak peduli.
Satu jam kemudian, Gandhi mendengar suara berisik dari dapur.
"Kehebohan apa yang terjadi?" gumam Gandhi penasaran menengok ke dapur.
"Aaaaaarrgghh ... Bundaaa tolong!!! Ini meletup-letup ikannya," pekik Chaca berlarian membawa spatula dan penutup panci yang berukuran besar.
Gandhi memperhatikan dari sudut lorong. Bersandar pada tembok, tangannya bersedekap. Ia terkikik melihatnya.
"Chaca ... kamu itu mau perang apa mau masak?" decak Gandhi pelan.
"Gimana sih? Kamu itu bisa apa nggak? Jangan-jangan nanti malah hancur hasilnya!" ketus Santi.
"Sudahlah, namanya juga baru belajar, San. Pelan-pelan ya Cha, 3 menit lagi dibalik kalau warnanya sudah berubah," Bunda menengahi.
Chaca terlihat kebingungan cara membalik ikan nila yang ukurannya memenuhi wajan penggorengan itu.
Maju mundur langkahnya penuh keraguan membalik ikan tersebut. Bunda terlihat sedang memasak makanan lain. Beliau membiarkannya agar Chaca belajar. Semua anak Bunda harus tahan banting dan bisa mengerjakan pekerjaan rumah.
"Gadis manja, pasti ini baru pertama kali dia melakukannya," ucapku pelan.
"Aw ... Bundaaa! Pediih, panas!" pekik Chaca kesakitan ketika minyak goreng itu mengenai matanya. Bunda mengendalikan dapurnya.
Gandhi segera berlari menghampirinya. Membawanya ke wastafel dan membantunya mencuci muka.
"Dasar bocah! Gitu aja nggak bisa," gerutu Gandhi setelah dia berhenti berteriak.
"Masih susah melek, Om. Tolongin, ini nggak kenapa-napa kan?"
Gandhi memperhatikannya, jarak mereka begitu dekat. Kemudian ia meniup matanya. Memang sudut mata kirinya memerah dan hampir melepuh. Untung saja tidak mengenai bola matanya.
"Gimana? Masih sakit?" tanya Bunda mendekat.
"Udah membaik Bun, makasih ya Om," ucapnya tersenyum masih memejamkan sebelah matanya. Gandhi diam saja tidak menjawab. Saat hendak berbalik, tangan Gandhi dicekal oleh Chaca.
"Om mau ke mana? Kita bikin brownis yuk atau mau cupcake?" tawar Chaca.
Gandhi menyipitkan mata, "emang kamu bisa buat?"
"Enggak bisa Om, kan mau diajarin Bunda. Ya kan Bund?" teriaknya yang mulai merasa membaik.
Bunda tersenyum mengiyakan. Sedangkan Santi terlihat tidak nyaman dan tidak suka dengan kehadiran Chaca.
Chaca mulai menyiapkan bagan-bahan dengan bersemangat. Kemudian mulai meraciknya menurut takaran bunda.
Gandhi hanya memperhatikannya sambil tersenyum. Lucu aja, tangannya kaku saat menguleni tepung-tepung itu.
"Om," panggilnya membuat Gandhi menoleh. Tangannya jahil, lima jari yang penuh tepung diusapkan pada pipi laki-laki itu. Stempel tangannya di pipi Gandhi membuatnya tertawa terpingkal-pingkal, termasuk Bunda.
"Ooo ... mau main-main ya rupanya," ujar Gandhi lalu membalas dengan kedua tangan yang berlumur tepung dan diusapkan ke seluruh wajah Chaca.
"Hahaha ... seperti badut saja," seru Gandhi menunjuk wajah gadis itu.
Seluruh wajahnya memutih. Bahkan rambutnya juga. Tidak terima, mereka berdua jadi saling serang. Lari-larian sehingga saling kejar di dapur.
Alhasil seluruh tepungnya berantakan dan berpindah pada wajah mereka berdua. Lantai dan meja juga penuh dengan tepung berceceran.
"Sudah sudah berhenti!" Bunda yang sedari tadi diam berteriak.
"Kalian ini ya, bukannya bantuin malah berantakin semua!" imbuhnya.
"Tau nih, kaya anak kecil saja!" sinis Santi.
Bunda mengambil tepung itu dan mengusapkan pada wajah mereka berdua, membuatnya terkejut.
"Bunda!" teriak Gandhi dan Chaca bersamaan lalu memeluk beliau. Mereka tertawa bersama.
***
Di rumah Chaca
Ratih panik ketika melihat kamar Nonanya kosong. Padahal, Chaca tidak berpamitan pergi kemanapun.
Orang tua Chaca sedang sarapan sambil melihat gadget masing-masing. Suasana hening. Hanya dentingan sendok yang bertabrakan dengan piring yang terdengar.
"Nyonya, Tuan ...," panggil Ratih tergopoh-gopoh.
"Apa Bi?" balas Xander menenggak s**u yang tersedia.
"Anu Tuan, Non ... Non Chaca gak pulang sejak kemarin. Dan tidak berpamitan apapun sama Bibi Tuan," sahut Ratih gugup.
Alice, Mommy Chaca menghentikan makannya dan mengalihkan pandangan dari gadgetnya. Melihat Ratih sejenak.
"Sejak kapan dia pergi Bi?" tanya Alice.
"Kemarin Nyonya, terakhir waktu sarapan. Setelah itu Nona pergi tanpa pamit sampai sekarang," jelasnya.
"Paling juga main ke rumah temannya, nanti juga pulang," balas Xander santai bergegas menuju kantor.
Alice merasakan sesuatu tidak beres terjadi dengan puterinya. Dia menghentikan makannya dan mencoba menghubungi Chaca.
"Kok tidak bisa dihubungi ya?" gumam Alice masih terus menghubungi Chaca.
"Terakhir aktif tengah malam Nyonya," sahut Ratih.
"Bi, tolong seharian ini hubungi Chaca terus. Laporkan apapun jika ada kabar darinya. Aku pergi dulu ya Bik," ujar Alice menyambar tas dan pergi.
"Ya Allah, anaknya hilang kenapa pada tenang-tenang? Non Chaca kamu dimana?" gumam Ratih memeluk HP-nya. Berharap ada kabar dari Nona kesayangannya itu.
Bersambung~