Tap Love dan Follow-follow yah yang belum. Happy enjoy~
***
"Kamu menyukainya?" tanya Bunda membuatku terkesiap.
DEG!
Aku tidak pernah kepikiran sampai sana. Aku pikir perasaan ini sebatas sayang dan ingin melindunginya saja. Tapi ....
"Bagaimana Bunda bisa menyimpulkan seperti itu?" tanyaku penasaran.
Aku aja gak tahu Bun, gimana perasaanku sebenernya.
"Kelihatan dari matamu," goda Bunda mencolek hidung mancungku.
Aku mengerutkan kening, bingung dengan ucapan Bunda. Apa benar bisa kelihatan? Aku membayangkan sambil tersenyum sendiri.
"Nah kan, bayangin apa itu senyum-senyum sendiri? Sudah sana istirahat. Sudah hampir pagi," tegas Bunda.
Aku mengangguk, lalu beranjak berdiri dan menyeret langkah ke kamar. Baru saja memegang gagang pintu, telingaku ditarik oleh Bunda.
"Aw, Bunda sakit!" pekikku memegangi telinga yang memanas.
"Mau ngapain kamu?" Bunda berkacak pinggang.
"Tidurlah Bun, katanya disuruh istirahat?" jawabku bingung.
"Heh! Sembarangan mau sekamar sama gadis. Pergi ke kamar kamu sana!"
Astaga! Aku tersentak. Tanpa sadar langkah kakiku menuntun ke kamar Chaca. Aku hanya meringis dan mengusap tengkukku.
"Maaf Bunda, kalau marah gitu makin cantik deh," ungkapku berlari menjauh menghindari amukan Bunda.
Bunda hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Aku mengintip di balik tembok, Bunda masuk ke kamar Chaca. Aku lega, Bunda menerimanya.
Mungkin karena sedari dulu bunda memang berhati malaikat. Mengasihi anak-anak yatim atau anak terlantar tanpa mengharap belas kasih. Aku bersyukur menjadi salah satu orang yang ditemukan dan dirawat oleh Bunda.
Aku kembali ke kamar karena mataku yang terasa sangat berat dan lelah. Aku merebahkan tubuhku di kasur yang sudah lama tidak aku tempati.
Kamar ini masih sama seperti pada waktu pertama kali aku singgahi. Anak asuh Bunda sangat banyak. Namun, kamar ini tidak boleh dipakai siapapun meskipun aku sudah tidak tinggal di sini.
***
Pagi harinya, aku menggeliat karena mencium aroma masakan dan mendengar suara berisik. Kamarku tidak jauh dari dapur.
Aku bangun, mencuci muka dan ke luar kamar. Kulihat Bunda sedang menceramahi anak-anak asuh perempuannya. Dari yang masih balita, anak-anak sampai gadis semua diajak berkecibung di dapur. Katanya agar terbiasa.
"Pagi Bunda," sapaku memeluk Bunda dari belakang.
"Pagi Sayang," balas Bunda mengecup pipiku.
"Mas Gandhii!!!" teriak anak-anak yang berjumlah 4 orang itu.
Aku melepas pelukan Bunda. Berjongkok menyamakan tinggi adik-adikku. Mereka berhambur memelukku. Ada yang dari depan, ada pula yang memeluk dari belakang.
Sedangkan Santi, hanya tersenyum dan mengangguk saat pandangan kami beradu. Aku membalas hal yang sama. Santi mungkin seumuran dengan Chaca.
Dia ditemukan Bunda di teras panti asuhan ini. Usiaku waktu itu baru 12 tahun. Aku senang sekali mempunyai adik perempuan. Kami besar bersama di sini. Di bawah naungan Bunda.
Lalu, seiring berjalannya waktu Bunda sering menemukan anak-anak terlantar di jalanan dan pengemis. Rumah ini menjadi semakin ramai. Dan alhamdulillah sekarang sudah ada donatur tetap.
"Mas Gandhi kapan datang?" tanya Santi malu-malu.
"Semalem San. Oh iya, makasih ya baju yang dipinjemkan untuk teman Mas," ucapku santai.
Santi terlihat bingung dengan ucapanku. Bunda lalu mendekat.
"Bunda belum bilang. Semalam kan Santi sudah tidur Gand. Nak Santi maafin Bunda ya lancang mengambil baju kamu," ujar Bunda lembut.
"Buat siapa Bun?"
"Temannya Mas Gandhi. Semalam bajunya basah. Jadi takut masuk angin Bunda pinjamkan baju kamu. Gak apa-apa kan?"
'Siapa teman Mas Gandhi? Bukannya dia udah nikah?'
Aku kembali berdiri setelah adik-adikku yang lucu itu melepaskan pelukannya. Mereka kembali membantu Bunda bahkan ada yang saling berebut, lalu ditengahi oleh Bunda. Seru sekali melihatnya.
"I ... iya, nggak apa-apa Bun," jawab Santi.
"Gan, ini bawakan sup buat temen kamu. Biar dimakan pas bangun nanti. Setahu Bunda, itu bisa mengurangi pengar setelah ...."
"Siap Bun!" Aku segera memotong ucapan Bunda. Karena di sini banyak anak-anak dan juga Santi.
Santi menatapku curiga. Tapi dia tidak mau bertanya. Mungkin merasa tidak enak. Aku segera meraih mangkuk dan membawanya ke kamar Chaca.
"Bun, bukannya Mas Gandhi sudah menikah?" tanya Santi penasaran.
"Masmu lagi ada masalah. Kita tidak usah ikut campur. Dia tahu yang terbaik untuk dirinya," jawab Bunda lembut.
Di kamar, Chaca belum membuka matanya. Aku meletakkan mangkuk di atas meja. Aku duduk di kursi samping ranjang, menopang dagu dengan salah satu tangan.
Memperhatikan indahnya pahatan Tuhan satu ini. Wajah polosnya begitu mempesona.
"Gandhi! Anak gadis orang jangan diapa-apain!" teriak Bunda dari luar kamar.
"Enggak Bunda, colek doang sedikit boleh ya," sahutku.
"Gandhiiiii!!! Ku potong anumu!" Suara Bunda melengking diiringi hentakan pisau pada talenan. Aku terkejut, bulu kudukku meremang.
"YaAllah, aset ini Bun," jawabku meringis.
"Makanya jangan macam-macam!" peringatnya lagi.
"Bercanda Bunda," teriakku takut menoleh ke arah luar.
BRAK!!!
Aku terjengkang dari kursi, melihat Chaca sudah membuka matanya. Aku meringis kesakitan. Chaca tertawa terbahak-bahak.
"Apa aku secantik itu?" gaya bicaranya menirukanku waktu itu, lalu kembali tertawa.
Luar biasa cantik. Wajah polosnya tanpa dipoles make up, tawanya yang lepas seperti itu. Semakin membuatku emmm ....
Chaca mengaduh memegangi kepala ketika beranjak bangun. Aku dengan sigap membantunya dan menyandarkannya.
"Makan dulu ya, terus minum obat," ucapku pelan menyodorkan sup buatan Bunda.
"Kenapa gue bisa sama lo, Om? Dan ini di mana? Sepertinya bukan hotel," ujar Chaca meraih mangkuk dan mulai memakannya.
"Hmmm ... enak banget. Lo yang masak Om?"
Kebiasaan ni anak, kalau bertanya nggak satu-satu tapi rombongan.
"Kamu ada masalah apa Cha?" tanyaku to the point.
"Gue? Gue nggak ada masalah apa-apa Om," jawabnya tanpa melihatku.
"Lalu, kenapa kamu mabuk sampai nggak sadar semalam? Bukankah kamu sudah berjanji tidak ke club lagi? Kenapa malah minum lagi sampai nggak sadar pula! Kamu nggak mikirin gimana kalau kamu diapa-apain orang, hah? Jangan buatku khawatir Cha!" ketusku membuatnya berhenti mengunyah.
Chaca memandangiku lekat-lekat. Bunda tiba-tiba masuk ruangan, saat keheningan tercipta diantara kami berdua.
"Sayang, kamu sudah bangun? Sudah makan? Obatnya jangan lupa diminum ya," cerocos Bunda melangkah semakin dekat.
Aku beranjak dari tempat duduk. Berjalan ke luar kamar. Mungkin, dia bisa lebih terbuka dengan Bunda. Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan mereka.
"Mau kemana Gan?" tanya Bunda.
"Mandi Bun, obatnya diminum biar mendingan Cha," ujarku tanpa melihat ke arah mereka.
Chaca menyendu, dia melihat Bunda dengan tatapan penuh tanya.
"Ibu siapa? Dan aku di mana sekarang?" tanya Chaca.
"Sambil makan ya ... panggil aja Bunda. Di sini tempat Gandhi dibesarkan sejak bayi," tutur Bunda menyuapi Chaca. Dia terkejut dengan perkataan Bunda.
"Kaget ya? Gandhi yatim piatu Nak, Bunda menemukan Gandhi ketika bayi di semak-semak waktu hujan petir. Bunda tidak memiliki anak saat itu, Bunda sangat bahagia. Membawanya pulang dan merawatnya sampai sekarang," jelas Bunda. Chaca mendengarkan dengan seksama.
"Anggap saja ini rumahmu juga ya. Jangan pernah sungkan. Setelah makan, minum obat dan mandi, Bunda akan mengenalkanmu dengan anak-anak panti. Mereka pasti senang anggota keluarga bertambah lagi."
Chaca terharu, tidak pernah terbayangkan sebelumnya ia akan mengenal sosok ibu yang tulus menyayanginya selain Nanny Ratih.
"Bunda," panggil Chaca berkaca-kaca.
"Iya Sayang," jawab Bunda lembut.
"Terima kasih ya Bund." Chaca memeluk Bunda Hanin dengan erat. Ia merasakan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah ia dapatkan.
Bersambung~