Happy Readings~
"Tidak bisakah kita mulai dari nol Ay? Pepatah bilang, kalau tak kenal maka tak sayang. 'Katresnan jalaran soko kulino' Ay ...," ucapku pelan setelah merenung sejenak.
"Ini bukan pepatah Mas! Ini real life! Aku hanya mencintai pacarku. Lagipula kamu cuma seorang Manager Hotel. Apa kamu mampu mencukupi semua kebutuhanku?" sinis Ayu menatapku remeh.
"Pacarku seorang Direktur di sebuah perusahaan besar. Kami saling mencintai, hanya tinggal menunggu restu dari orang tuaku saja. Tapi kamu tiba-tiba hadir dan menghancurkan semuanya. Aku yakin, dia lebih mampu membahagiakanku dari pada kamu," tutur Ayu penuh penekanan membuat darahku mendidih.
Hah! Aku salah menilai Ayu. Aku pikir dia gadis lugu. Tapi ternyata? Aku yang terlalu bodoh mudah percaya mata polos itu.
Tapi tidak seperti ini juga caramu mempermainkan perasaanku! Bahkan aku kamu rendahkan sampai ke dasar-dasar.
Mendengar ucapannya tanganku mengepal kuat, kuku-kuku memutih. Rahangku mengeras, jantungku berdetak berkali-kali lipat dari normalnya. Emosi ini sudah sampai pada puncaknya.
Aku berdiri, lalu membabi buta memukul-mukul tembok. Tidak peduli tanganku remuk penuh darah. Saat ini aku membutuhkan pelampiasan.
Dasar wanita ular! Apa semuanya seperti kamu Ayu! Aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang kamu lakukan.
Sampai matipun aku akan mengingat bagaimana kamu menginjak barga diriku sampai hancur.
Aku sangat membencimu Ayu! Terlalu tajam lidahmu menusuk hingga relung hatiku. Ini pertama kalinya aku berhubungan dengan wanita. Tapi pertama kalinya pula aku dihancurkan oleh makhluk tersebut.
Kemudian aku pergi ke luar. Pintu itu kubanting dengan kasar, bahkan hingga terdengar dindingnya bergetar. Aku yakin, Ayu pasti menangis ketakutan di sana. Karena sekilas aku melihat matanya memerah.
Aku tidak peduli lagi dengannya. Malam harinya, aku keluar rumah. Tidak tahu membawa langkah kaki ini kemana. Aku tidak punya tujuan yang jelas.
Aku berjalan berselimut awan gelap. Dinginnya malam ini mampu menembus kaos polo yang kukenakan meski sudah memakai jaket. Hanya terdengar deru lalu lalang mobil.
"HUAAAAH!" Aku berteriak melepas rasa sesak di d**a.
Rasa benci sudah memenuhi ruang hatiku. Cinta yang baru tertanam telah mati karena racun yang ditebar olehnya.
Aku memutuskan untuk pulang ke rumah Paman. Padahal sekarang sudah pukul 2 dini hari. Tapi mau kemana lagi jika tidak ke sana.
Aku menendang sekuat tenaga kaleng bekas minuman di depanku. Melampiaskan kemarahanku.
Pletak!
"Awh!" pekik seorang gadis mungil kesakitan.
Aku yang sedari tadi fokus ke handphone mendongakkan kepala. Astaga ternyata tendanganku mengenai seseorang.
Apa aku tidak salah lihat? Jam segini masih ada gadis berkeliaran. Apa jangan-jangan .... Tapi kakinya menapak tanah, tidak mungkin hantu 'kan?
Eh ... dia semakin mendekat sambil memegang dahinya dan dari langkahnya sempoyongan namun tegas penuh emosi. Dengan lantang dia berteriak, "Hei! b******k Lo ya?"
Aku menoleh ke belakang, memastikan kalau bukan aku yang akan dilabrak.
"Heh! Lo jangan kabur," ulangnya lagi.
"Aku?"
"Iyalah, lo siapa lagi?" geramnya karena aku seperti orang bego masih tidak merasa salah. Malah mencari-cari orang lain. Haha ...
Gadis itu kisaran berusia 19 tahun, berambut panjang bergelombang. Pakaiannya, astaga kekurangan bahan. Kini, dia berada tepat di depanku. Manis, satu kata untuknya. Manik matanya memerah, tercium bau alkohol menyengat dari mulutnya.
Hah? Fix dia mabuk. Ya ampun neng, bokap nyokap pada kemana? Anak gadis keliaran jam segini dibiarin.
Dia mau melayangkan pukulan ke wajahku, namun aku menghindar dan menangkis tangannya. Gak sulitlah menangkap orang mabuk.
Semakin dekat dilihat, gadis itu semakin cantik. Tidak, tidak! Aku masih suami orang. Tidak boleh memuja gadis lain selain isteriku.
Tapi suami mana yang tidak sakit hati ketika isterinya mengatakan mencintai pria lain? Apa arti pernikahan di matanya?
Gadis yang tidak ku ketahui identitasnya itu pingsan dipelukanku. Aku bingung mau bawa kemana gadis itu.
"Hei, bangun," aku menepuk-nepuk pipinya.
Tidak ada respon sama sekali. Lalu, aku memutuskan untuk membawanya ke hotel terdekat. Beruntung masih ada taxi yang lewat dan mau menerima penumpang.
Beberapa menit kemudian, aku turun dari taksi yang tadi kami tumpangi. Aku membooking kamar sebelum akhirnya menggendong gadis itu ke kamar yang sudah kupesan.
Aku membuka kamar dan meletakkannya di kasur. Kulepas high heels dan menyelimutinya. Ketika beranjak akan meninggalkannya, tangannya menahanku.
Tiba-tiba dia menarikku sekuat tenaganya hingga aku terjatuh menindihnya. Hei, apa-apaan kamu gadis bodoh?
"Jangan pergi, temani aku," lirihnya masih memejamkan matanya.
Dia memelukku erat. Astaga, dia benar-benar sedang menguji imanku. Gundukan kembarnya menempel di dadaku. Semakin aku memberontak semakin dia menarikku.
"Lepas!" Aku mendorong kedua bahunya agar terlepas dari jeratannya. Tapi dia terbangun mengikuti gerakanku.
"Hoek!"
Dia muntah mengeluarkan semua isi perutnya, kaos dan celanaku basah terkena muntahannya. Tercium alhokol yang sangat menyengat. "Menjijikkan," gumamku.
Setelah dia melemas, kesempatanku lepas darinya. Aku mengelap mulutnya dengan tissu yang sudah disediakan oleh pihak hotel.
Pakaiannya berantakan. Gaun yang dipakai tidak layak disebut pakaian. Tipis, tidak berlengan, belahan d**a yang rendah dan tingginya jauh di atas lutut.
Sebagai laki-laki normal aku merasakan sesuatu di bawah sana mengeras. Namun itu tidak mungkin. Aku segera ke kamar mandi menetralkan deru napasku yang memburu. Mandi air dingin sangat membantuku.
Setelah mandi kaos tidak kukenakan lagi dan aku mencucinya dengan sabun mandi lalu menjemurnya di balkon. Berharap besok bisa mengering terkena angin. Aku hanya mengenakan boxer dan bertelanjang d**a.
Padahal aku berencana langsung pergi setelah meletakkan gadis itu. Eh malah ada tragedi muntah tepat di bajuku pula.
Terpaksa aku harus menginap juga di sini. Bagaimana dengan Ayu? Ah paling dia tidak peduli denganku. Dia bilang kan hanya mencintai pacarnya yang katanya Direktur itu.
Cih! Cuma Direktur bukan Owner aja bangga. Lihat aja, aku bakal bisa lebih sukses dari dia. Huh! Dasar matre.
Hari sudah berganti pagi. Cahaya matahari menelusup menembus jendela kamar. Aku baru saja memejamkan mataku beberapa menit yang lalu.
"Arrgghh!"
Jeritan melengking tepat di telinga, membuatku terbangun. Mata ini terasa pedih dan berat kubuka. Tapi aku juga takut terjadi sesuatu.
"Apaan sih pagi-pagi berisik! Sakit telingaku!" geramku setelah mengetahui sumber suara.
"Lo ... lo apain gue? Huaaa ... Lo jahat, tega ngambil keperawanan gue!" teriaknya menangis meraung-raung.
Gila! Aku dituduh memperkosanya. Otakku masih ada woi. Mana mungkin aku perkosa orang gak sadar. Aku memaksa membuka mata.
"Siapa yang ambil keperawanan kamu!" ucapku pelan mendorong kepalanya dengan jari telunjuk.
"Siapa lagi, kan cuma elo yang ada di sini. Dan liat lo telanjang gitu!" wajahnya memerah.
Lalu menyelimuti seluruh tubuhnya. Aku terkekeh sambil menarik-narik selimut itu.
"Oh ... jadi kamu mau aku perkosa?" bisikku tepat di telinganya membuatnya bergidik.
"Huaa ...," raungannya mengeras tapi tidak jelas. Karena dia menutupi kepalanya dengan bantal di bawah selimut.
"Dasar om-om m***m! Tega! Gue gak mau tau, lo harus tanggung jawab!" bentaknya masih bersembunyi. Meski gak jelas aku bisa mendengarnya.
Aku terkekeh geli mendengarnya.
To be continued~