Kucing Liar

1089 Words
Buset nih cewek suaranya sampai 8 oktaff kali ya. Telingaku sampai berdenging. Aku menghela napas panjang. "Oi, kamu masih perawan! Gak usah teriak-teriak gitu. Entar digrebek dikawinin kita," lontarku sekenanya. Gadis itu membuka selimutnya, lalu mendudukkan dirinya bersandar pada headbord kasur. Tatapannya serius bahkan sampai tidak berkedip. "Apa aku setampan itu?" sambungku menyentuh wajahku dengan gaya sok cool. Dia melempar bantal tepat di mukaku. "Jangan kepedean kamu Om!" jawabnya sinis. "Haha ... habisnya kamu liatin aku segitunya sampai gak kedip," jawabku cuek. Eh tunggu tunggu. Apa tadi dia bilang, Om? What? Apa aku setua itu. Raffi Mamad artis top aja lewat. Kelewatan gantengnya sampai aku gak kebagian . "Lo beneran gak ituin gue kan Om?" tanyanya menarik kembali selimut yang melorot. "Bisa gak sih jangan panggil aku, Om. Sejak kapan aku nikah sama Tante kamu?" gerutuku jengkel. Gatal telingaku mendengar panggilan itu yang ditujukan padaku. Aku kembali merebahkan tubuhku dengan posisi tengkurap. Mataku benar-benar ingin diistirahatkan. "Om jelasin dulu napa? Jangan tidur dulu!" pekik gadis itu memukul-mukul tanganku. "Aw! Sssshhh ...," desisku menahan sakit. Dia tepat memukul tanganku yang lukanya belum mengering. Gadis itu terkejut. Dia segera menarik tanganku ke pangkuannya. Matanya membelalak. "Om, kenapa tanganmu? Aduh maaf aku gak tahu. Eh gimana nih? Aduh," ucapnya panik melompat dari ranjang dan mondar-mandir sambil menggigit kukunya. Dia tampak mengamati sekelilingnya. Tubuhnya berputar mengitari kamar itu. Sesekali keningnya berkerut tampak sedang berpikir. "Om, kita dimana? Di sini gak ada kotak obat apa ya?" gadis itu tampak sibuk membuka laci lemari dan menyusuri tembok untuk menemukan kotak P3K. Aku menepuk jidat. Kepalaku terasa sangat berat. Mataku juga terasa lengket, susah dibuka. Sampai akhirnya aku tertidur masih dalam posisi tengkurap. *** Tenggorokanku terasa kering. Aku terbangun tepat pada jam 12 siang. Kuraih gelas berisi air bening yang telah disiapkan di meja. Eh, sejak kapan tanganku dibalut seperti ini? Aku menengok mencari keberadaan gadis cerewet itu. "Kemana dia?" Bodo amatlah aku tidak begitu peduli. Aku berjalan menuju balkon mengambil kaos dan celanaku. Syukurlah sudah mengering berkat paparan sinar UV yang begitu menyengat. Aku mulai berpakaian, bersamaan dengan terbukanya pintu kamar. Aku pikir housekeeping yang datang. Ternyata salah, gadis itu kembali. Buset, gak sopan banget bawa jaket orang gak ijin dulu. Eh tapi gak apa-apa sih buat melapisi bajunya yang kurang bahan itu. Dia membawa beberapa kantong plastik dan satu papper bag. Aku menaikkan sebelah alisku. Tadi pagi aja marah-marah gak jelas. Sekarang senyum-senyum tebar pesona. Mau merayuku? "Om, udah bangun?" sapanya seraya menutup pintu dan masuk ke kamar. Hei aku bukan Om Om! Astaga ingin kuratakan wajahnya pakai ulekan. Biar aku tidak bisa mendengar panggilan menggelikan itu lagi. Aku menghela napas. Senyum terpaksa aku tampilkan. Tapi tatapan jengkel tetap kulayangkan. "Kamu yang perbanin tanganku ya?" tanyaku. "Yaiyalah Om, kalau bukan gue siapa lagi? Kalau dibiarin nanti bisa infeksi bahaya," ceramahnya. "Makasih ya, dari mana kamu?" ujarku singkat. "Nih, beli baju sama makanan. Om gak laper apa seharian gak makan. By the way tu tangan lo kenapa Om? Abis berantem ya? Terus kenapa kita bisa terdampar di sini?" cerocosnya tanpa henti memberiku sekotak makanan. Oh bagus kalau dia sadar bajunya kurang bahan. Cerewet banget sih, dasar bocah! Aku baru bicara satu kata, dia balas sampai satu paragraf. "Wait, yang mana dulu nih jawabnya. Kamu kaya emak-emak yang lagi nawar dagangan di pasar tau gak," balasku santai sambil menyuapkan makanan ke mulutku. "Hah? Gila lo ya Om masa cewek seimut ini disamain sama emak-emak. Gak ada akhlaq," gerutunya menggelengkan kepalanya. Dia berjalan ke kamar mandi sambik mengomel. Aku semakin tertarik menggodanya. Haha ... Lima menit berlalu, pintu kamar mandi terbuka. Kepalaku menoleh secara otomatis. Gila! Aku menarik rambutku kasar. "Yaampun neng, itu baju apa kain bekas sih?" omelku. Ternyata baju yang baru ia beli sama saja. Seperti baju yang belum selesai proses jahitnya. Dia menunduk, melihat kembali dress yang dia pakai. Tanpa lengan, tingginya sepuluh centimeter dari lututnya, masih ada belahan pula di belakang. Ya Tuhan, godaan macam apa ini? Aku menggelengkan kepala. "Kenapa Om? Ih Om gak gaul. Ini trend anak muda jaman sekarang tau gak?" ketusnya. Aku memutar bola mata malas. Yaampun otaknya perlu di guncangkan ni anak! "Siapa nama kamu?" "Chatrine Salsabila!" jawabnya ketus. "Oh, kucing ...," jawabku santai masih mengunyah nasi rawon yang dibelikannya tadi. Matanya membelalak, sejurus kemudian kepalan tangannya mengepal dan melayangkannya pada pundakku bertubi-tubi. "Uhug! Uhug!" Aku tersedak. Segerombolan nasi nyasar di saluran pernapasan. Astaga panas, perih tenggorokan. Si kucing liar itu panik. Dia menepuk-nepuk pundakku dan berlari mengambilkan minum. "Mau bunuh aku perlahan ya?" sindirku di depannya. "Eng ... enggak, maap Om," ucapnya pelan. "Ya salah Om sendiri. Kenapa manggil gue kucing," teriaknya tidak mau disalahkan. Aku menelan suapan terakhir makananku. Hmmm ... begitu nikmat, kenyang dan gratis pula. Aku tertawa melihat wajahnya yang emosi seperti itu. Entah kenapa aku jadi lebih suka. Wajahnya terlihat sangat imut. "Salahku dimana setahuku cat itu kucing, dan persis sama kaya kamu. Kucing liar yang aku pungut dijalanan," tuturku menahan senyum. "Om mana ada kucing imut cantik sexy kaya gue gini? Gue biasa dipanggil Chaca Om. Ih gue sumpahin Om jadi duda!" celetuknya. Deg! Aku melamun, tatapanku kosong. Teringat dengan setiap ucapan yang dilontarkan oleh Ayu. Rasa nyeri kembali menyeruak di jantungku. Chatrine melambai-lambaikan tangannya di wajahku. Lumayan lama kesadaranku baru kembali. "Kenapa Om? Dipanggil dari tadi gak nyahut? Kesambet apa ya?" sambungnya lagi. "Enggak ... mmm rumah kamu di mana? Kenapa kamu tengah malam keluyuran?" timpalku memberondongnya pertanyaan. "Deket alun-alun," jawabnya singkat. "Mama Papa kamu tahu kalau kamu seperti ini?" "Mommy sama Daddy mana pernah peduliin gue Om, gue tuh anak tunggal. Mereka sibuk kerja kerja dan kerja. Dari dulu gue gak pernah diperhatiin. Sedari bayi diasuh Nancy Ratih," ucapnya sendu. Aku paham sekarang. Kenapa dia seliar dan sebebas itu. Dia haus perhatian dan kasih sayang. Refleks tanganku mengusap lembut kepalanya. Matanya berkaca-kaca, aku jadi prihatin dengannya. Sayang banget gadis seimut ini harus salah melangkah. Benar-benar ingin kubungkus dan kubawa pulang. "Kamu masih sekolah?" tanyaku mengalihkan perhatiannya. Chatrine menggeleng, "baru lulus mau masuk universitas." "Jangan korbankan masa depanmu dengan merusak tubuhmu. Buktikan jika kamu ada diantara mereka dengan prestasi. Bukan dengan sikap seperti itu, kamu sendiri yang akan rugi. Apapun yang kamu tebar, kamu juga yang akan menuainya. Jadi lakukan hal-hal yang baik. Kamu mengerti maksudku kan?" Aku mendongakkan kepalanya, kuusap air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya. "Kucing liarku bisa nangis juga," candaku mampu membuatnya tertawa. Dering handphone membuatku beranjak dari duduk untuk menjawabnya. "Ya?" "Ke rumah mertuamu sekarang!" suara diseberang dengan nada tinggi lalu mematikan sambungan teleponnya. Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD