Happy Readings~
Diih ... enggak sopan banget nelpon cuma marah-marah langsung dimatiin aja.
Eh, Andra minta ke rumah mertua? Marah-marah pula. Ada apa ya? Apa Ayu sudah mengatakan akan bercerai?
"Om! Kenapa kok bengong?" Kucing liarku menepuk bahu membuyarkan lamunanku.
"Semoga lain kali kita bisa ketemu lagi ya kucing liar," ucapku mengusap puncak kepalanya.
"Ingat, aku enggak mau pertemuan selanjutnya pakaian kamu masih kurang bahan kayak gitu. Jangan ke club lagi. Jangan keliaran tengah malem kayak kemarin," sambungku.
"Bahaya tau gak? Coba kalau bukan aku yang nemuin kamu, udah habis kamu. Jaketku pakai aja, tutupin tubuh indahmu itu jangan sampai diterkam kucing garong," tuturku panjang lebar sembari bersiap untuk pergi.
Chatrine atau yang katanya kerap dipanggil Chaca itu terpaku. Mungkin selama ini belum pernah ada yang memperhatikannya.
Aku bergegas untuk pulang. Maksudku, ke rumah mertua. Jarak hotel ini dengan rumah beliau tidaklah jauh. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit.
Kulihat kucing liarku masih terdiam, mungkin mencerna kata-kataku. Ah biarin aja. Aku sampirkan lagi jaketku ke pundaknya yang sempat dia lepas tadi.
Karena semalam tidak membawa mobil, aku menghentikan taksi tak jauh dari hotel. Pikiranku menerawang apa yang akan terjadi nanti.
Di sisi lain, aku juga kepikiran dengan kucing liarku. Dia harus ada pengawasan khusus agar tidak terjerumus lebih jauh lagi dengan hal-hal yang buruk.
Hei! Kenapa aku harus peduli dengan orang yang bahkan baru kukenal semalam? Aku menggelengkan kepala. Tidak, ini tidak benar. Dia nyumpahin kamu jadi duda Gandhi!
Aku harus fokus dulu menghadapi hubunganku sama Ayu dulu. Tidak boleh memikirkan hal lainnya.
Oke Gandhi, semangat!
Setibanya di rumah Bapak Suparman, alias bapak mertuaku. Beliau berdiri gagah di teras. Sepertinya sedang menungguku.
"Assalamu'alaikum, Pak," sapaku menyambut dan mencium punggung tangannya.
Aneh, kenapa beliau menatapku tajam seperti itu? Bulu kudukku merinding melihatnya. Seperti aku sedang melakukan kesalahan yang besar.
"Wa'alaikumsalam, masuk!" ucapnya dingin kemudian berjalan masuk. Aku mengikutinya dari belakang.
Bapak mertua, kenapa Anda berubah dalam satu malam? Aku menarik napas berat. Tidak ada sambutan hangat seperti sebelum aku menjadi bagian keluarganya.
Aku melangkah masuk ke rumah membuntuti Bapak. Seluruh keluarganya berkumpul di sana. Tatapan mataku bertemu dengan bola mata Ayu.
Cih! Wanita ular itu. Wajahnya terlihat sembab seperti habis menangis. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku meninggalkannya semalam.
Kelurganya juga menatap nyalang ketika aku bergabung bersama mereka. Ayu semakin menangis melihatku. Keningku berkerut, apa maksudnya semua ini?
"Duduk Nak Gandhi!" Ibu mertua mempersilahkan dengan lembut.
Aku mengangguk, "terima kasih Bu," sahutku mendudukkan diri di kursi.
"Gandhi Bagaskara!" teriak Bapak Suparman.
Aku terkesiap mendengar suara bapak mertua yang menggelegar. Susah payah aku menelan ludahku. Jantungku berdetak sangat kencang. Perasaanku mengatakan, aku sedang tidak baik.
"I-iya, Pak," jawabku gugup menyatukan jemari pada kedua tanganku.
Semua orang terdiam, kulirik Ayu yang mengeluarkan senyum seringainya. Wanita itu patut diwaspadai.
"Kemana kamu semalaman? Kenapa meninggalkan putriku sendirian di rumah, hah?!" pekiknya menatapku.
DEG!
A'ku pergi karena anakmu, Pak.' Kalimat itu hanya mampu terucap dalam hati.
"Kamu sudah berjanji akan membahagiakan putri saya. Tapi apa yang kamu lakukan? Belum ada sehari saja kau sudah mencampakannya. Apa kau sudah merasa hebat, hah?" geramnya lagi.
Astaga, apa yang harus aku jelaskan pada mereka semua. Lihatlah, pandangan mereka seolah akan melahapku hidup-hidup.
"Jika kamu tidak benar-benar mencintainya, kenapa kamu melamarnya Gandhi? Jawab!" bentaknya membuatku semakin gemetar.
"Ma ... maafkan saya, Pak," hanya itu yang mampu aku lontarkan.
Aku semakin menundukkan kepala. Aku terhakimi. Iya, aku akui salah meninggalkannya pada saat malam pertama.
Tapi semua itu semata-mata karena aku sakit hati dengan ucapan puterinya. Dia yang tidak menginginkanku. Tapi bagaimana aku menjelaskannya?
"Kamu bahkan berani membentak anak saya Gandhi. Jangan mentang-mentang Ayu sudah menjadi tanggung jawabmu, kamu bisa bersikap seenaknya!" Kemarahan bapak mertua tidak berujung.
Astaga Ayu, racun apa yang kamu taburkan pada keluargamu? Wanita sialan. Oke mulai detik ini aku nyatakan kita berperang Ayu. Kamu yang mulai mengibarkan bendera peperangan.
"Maaf Pak, saya akan memperbaiki semuanya. Ijinkan saya berbicara empat mata dengan putri Bapak."
Aku mencoba tetap tenang, tidak mau terpancing emosi. Aku akan mengikuti alur yang kamu buat Ayu.
Ayu melirikku, tatapanku menajam seiring bola mata kami bertabrakan. Dengan cepat dia segera menundukkan kepalanya.
"Sementara biarkan Ayu di sini dulu menenangkan pikirannya. Kamu pulanglah, aku akan mengantarnya ketika hatinya sudah mulai tenang," ujar Suparman menurunkan nada bicaranya.
Darahku serasa mendidih. Rahangku mengeras. Jelas-jelas Ayu memutar balikkan fakta. Dia yang menyiksaku, dia yang tidak menginginkanku.
Aku tidak menyangka dibalik kepolosannya itu ternyata ada 'bisa' yang sangat berbahaya. Sekali mematuk langsung mematikan.
Lalu sekarang, dia sedang berakting agar posisinya terbalik. Seolah-olah dia yang teraniaya dan menderita. Kamu pantas dapat reward Ayu. Panggung sandiwaramu sukses menjungkir balikkan namaku.
"Baik, Pak. Saya akan sabar menunggu waktu itu tiba. Ay, silahkan memanjakan diri dulu di sini sebelum aku memanjakamu. Aku menunggumu di rumah. Cepat pulang ya, maafin aku," ucapku pelan membuatnya terperangah.
Mungkin dia terkejut sekaligus malu. Tidak berani menoleh ke arahku. Sedari tadi hanya menundukkan kepalanya. Aku berpamitan untuk kembali ke rumahku, sendiri lagi.
Kalau tahu menikah serumit ini, aku tidak akan mau. Menikah hanya membuat hidupku semakin susah saja. Beristri tau single sama saja. Sama-sama sendiri. Malah enakan single bisa bebas kemana pun.
Enakan single kemana-mana. Aku benar-benar merasa dirugikan. Harus menafkahi anak orang tapi aku tidak mendapat apapun.
'Ya nasib malang amat ya,' gerutuku.
Aku sudah ke luar rumah setelah berpamitan kepada semua anggota keluarga. Tentu saja aku harus menghadapi seringai mereka. Namaku sudah tercoreng. Di mata mereka, aku pria yang tidak bertanggung jawab.
Tiba-tiba seseorang meraih tanganku. Hampir saja aku hempaskan karena emosiku sudah memuncak. Tapi untungnya aku masih sadar, ini masih di lingkungan keluarga Ayu.
Aku tidak mau mereka tambah mencap aku sebagai pria b******k. Aku menoleh, ternyata Andra. Aku mengatur napas mengontrol emosiku.
"Ndra," panggilku tanpa melihat wajahnya.
"Kita ngobrol dulu Gan," sahutnya di belakangku.
"Jangan di sini. Ayo ke luar saja," ajakku melangkah ke jalan raya menghentikan taksi.
Andra mengikutiku dari belakang. Tidak ada percakapan apapun selama di dalam taksi. Sunyi, hanya terdengar deru suara mesin mobil. Tak berapa lama, aku menghentikan taksi di depan Raw's Cafe.
Kami masih saling diam, berjalan beriringan tanpa bersuara sedikitpun. Hingga kami terhenti di tempat duduk paling ujung dekat jendela.
Seorang pelayan menghampiri. Aku hanya memesan secangkir vanilla late, karena tadi sudah makan bersama kucing liarku.
Eh, kucingku? Apa aku bisa bertemu lagi dengannya? Aku bahkan tidak tahu alamat dan nomor hpnya. Ah sudahlah, aku fokus dulu sama mak lampir.
Andra hanya diam mengamatiku sedari tadi dengan tatapan tajam.
Bersambung~