Namaku Chatrine Salsabila, orang-orang suka manggil aku Chaca. Menurut akta kelahiran, aku hadir sejak 19 tahun yang lalu. Aku anak tunggal.
Bokap, Alexander Abraham. Pengusaha sukses yang cukup terkenal di Malang. Entah bisnis apa aja yang dirambah, aku nggak tahu. Dan nggak mau tahu juga. Dia sering melakukan perjalanan dinas ke luar kota bahkan luar negeri.
Nyokap, bukan ibu-ibu sosialita yang hanya bisa menghamburkan uang bokap sih. Kenapa? Karena eh karena, nyokap mah punya usaha sendiri. Keren kan?
Beliau berhasil mendirikan pabrik dodol atau jenang di kota ini. Beliau dulunya anak seorang petani apel di desa. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya beliau mampu membuat usaha kecil-kecilan.
Menurutnya, sayang kalau apel hasil panen hanya dijual mentahan saja. Jadi, beliau bereksperimen untuk mengolahnya menjadi makanan ringan, seperti keripik apel, dodol atau jenang apel.
Pemasarannya juga tidak hanya offline saja, tapi juga merambah ke dunia online. Sejak jaman dulu nyokap udah gaul punya gadget saat orang-orang masih jarang menggunakannya. Yah meskipun tidak sekeren punyaku sekarang.
Kerja kerasnya membuahkan hasil yang menakjubkan. Beliau mampu merekrut karyawan ratusan bahkan sekarang sudah mencapai ribuan di berbagai cabang pabriknya.
Mungkin karena sama-sama pengusaha, bokap nyokap dipertemukan dan berjodoh, kemudian lahirlah aku ke dunia ini.
***
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu berulang, membuat tidur nyenyakku terusik. Siapa lagi yang mengganggu tidurku kalau bukan Nanny Ratih.
"Apaan sih Nanny ... sekolah udah libur!" teriakku dengan malas.
Jika sudah terdengar jawaban, Nanny akan masuk ke kamar yang tidak pernah aku kunci itu. Sederhana, sejak dulu aku paling susah dibangunin. Bahkan setiap sekolah pasti diseret sama Nanny ke kamar mandi.
"Bangun, Non. Nggak baik tidur pagi-pagi nanti penyakitan lho!" ceramahnya sembari menyibak semua gorden kamarku.
Hanya beliau yang perhatian sama aku. Sejak bayi, Nanny Ratih yang merawat dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Ngajarin aku belajar dan banyak hal. Aku udah dianggap anaknya sendiri.
Bokap Nyokap yang super sibuk itu tidak pernah meluangkan waktunya sedikit untuk sekedar say hello sama aku. Sedih, punya orang tua lengkap tapi seperti hidup sebatang kara.
Mereka bilang sibuk mencari uang demi aku. Buat masa depan dan kebahagiaanku. Please deh Mom, Dad kebahagiaan itu nggak bisa diukur dari uang. Hanya perhatian dan kasih sayang kalian yang aku impikan sejak dulu.
"Nanny ... aku mau tidur masih ngantuk," rengekku menaikkan selimut.
Aku selalu sopan sama Nanny. Karena beliau satu-satunya orang yang selalu ada buatku. Makanya aku selalu nurut sama beliau. Kadang aku mikir, aku itu anak siapa? Anak Nanny apa bokap nyokap?
"No! Cepat mandi dan sarapan!" perintahnya sambil menarik selimutku.
"Nannyyy ...!" pekikku yang diseret ke kamar mandi.
Bahkan aku mau dimandiin. Haha ... aku kalah, akhirnya nurut. Mandi, lalu sarapan. Seperti biasa, aku selalu sendirian di meja makan. Mataku menatap sendu kursi-kursi yang kosong.
Mommy ... Daddy ... kapan ada waktu buat Chaca.
Aku menghela napas berat dan makanan hanya gue aduk-aduk tanpa masuk ke mulut sedikitpun.
***
Malam harinya, tepat pukul 19.00 WIB, aku menghadiri undangan pesta ulang tahun teman di sebuah club.
"Nanny, aku pergi dulu ya. Kalau Mom sama Dad nyari bilang aja lagi party sama temen-temen," pamitku sambil berlari ke luar rumah.
"Hati-hati, Non!" teriaknya.
"Iya Nanny, bye ...."
Aku sengaja gak bawa mobil. Takutnya nanti mabuk dan malah bikin celaka. Jadi, aku putusin naik taksi.
Aku sering sih ke club. Karena aku bener-bener kesepian. Di sana aku bisa meluapkan kesedihanku. Memang, aku salah milih pergaulan. Tapi aku nyaman dan sedikit meramaikan perasaan yang sunyi.
Seperti sekarang, minum, nge-dance, bener-bener menikmati party temenku. Semuanya mabuk berat hingga tertidur di sana. Aku masih setengah sadar. Dengan langkah gontai aku ke luar dari club menyusuri jalan.
Pletak!
"Awh!"
Keningku terlempar kaleng bekas minuman. Dari kejauhan samar-samar aku lihat cowok tinggi kekar yang menyepak kaleng tersebut.
"Hei! b******k Lo ya?" pekikku berjalan gontai mendekatinya memegangi kening.
"Heh! Lo jangan kabur," sambungku karena dia berlagak sok nggak punya salah.
"Aku?" ucapnya pura-pura bodoh.
"Iyalah, lo siapa lagi?" geramku semakin mendekat.
Tanganku sudah mengayun di udara mau memukulnya. Tapi ditahan oleh tangan kekarnya. Setelah itu aku nggak ingat apa-apa. Semuanya gelap.
***
Pagi harinya, aku membuka mata perlahan. Kepalaku berat banget. Aku perhatiin ini bukan kamarku. Semuanya serba putih.
"Gue dimana?"
Aku beranjak duduk meskipun berat. Kedua bola mataku membelalak, melihat ada pria bertelanjang d**a di sampingku. Jangan-jangan ...
"Aaaaaargh!" Aku berteriak sekeras-kerasnya sampai dia terbangun.
Dia menggeliat, merasa terganggu tidurnya. Eh ganteng ternyata. Sekejap aku tersadar dan meraung-raung nggak terima diperlakukan seperti ini. Aku emang salah pergaulan, tapi aku bisa jaga diri. Aku nggak pernah sekalipun kumpul kebo.
Laki-laki itu terus mengelak. Aku mendesaknya untuk bertanggung jawab, dia malah semakin menggodaku.
Gila tuh Om-Om genit!
Tapi aku emang nggak ngerasain apapun sih. Apa bener aku masih virgin? Om itu gencar mengelak tidak melakukannya. Tapi kenapa dia telanjang gitu. Mana cuma pakai boxer pula.
Sepertinya dia baru tidur beberapa saat. Wajah kusut dan ngantuk tercetak jelas di mukanya.
"Om, jelasin dulu napa? Jangan tidur dulu!" Aku memukul-mukul tangannya.
"Aw! Ssssh ...," desisnya. Perasaan, aku mukul nggak pake tenaga.
Astaga kenapa tangannya? Aduh aku beneran nggak tahu. Aku panik melompat dari ranjang, mondar-mandir cari kotak P3K. Dia sudah bergeming. Mungkin sudah menelusup ke alam mimpi.
Lalu aku keluar kamar tersebut, ternyata kami berada di hotel. Kebetulan aku berpapasan dengan housekeeping, aku minta kotak P3K. Setelahnya aku obatin dan balut luka pria itu.
Melihatnya tertidur pulas, aku beranjak pergi mencari makan dan membeli baju ganti. Karena rasanya lengket banget.
Ketika aku kembali, pria itu sudah terbangun dan mulai mengenakan pakaiannya. Kami makan siang bersama sambil mengobrol santai sesekali bercanda.
Aku nyaman ngobrol sama dia. Orangnya asyik. Padahal sepertinya usia kita terpaut jauh. Tapi nyambung aja gitu ngobrolnya. Dan aku yakin dia orang baik. Aku emang nggak diapa-apain sama dia.
Aku disamain sama kucing liar. Haha ... ngakak sih, tapi pura-pura marah aja. Biar makin seru gitu. Huft, rasanya aku mau berhentiin waktu. Biar aku bisa ketawa lepas kayak gini terus.
Dia juga dewasa. Memberi petuah-petuah yang menyentil hatiku. Aku sampai terpana dan tidak menyadari kepergiaannya.
"Sial! Kenapa gue gak nanya namanya," umpatku saat dia menghilang di balik pintu.
Bersambung~