Sahabat atau Saudara

1031 Words
Suasana masih hening. Tidak ada yang memulai percakapan antara aku dan Andra. Jemariku mengetuk-ngetuk meja, kepalaku tertunduk. Aku sedang menyusun kalimat yang tepat. Andra masih menatapku. Suasana caffe yang ramai tak mampu memecahkan keheningan diantara kami. Hingga seorang waitress mengantarkan pesanan kami. Vanilla late, karena aku tidak menyukai kopi yang pahit. Biarlah orang bilang aku itu gak gentle, gak bisa menikmati pahitnya kopi. Please, hidupku sudah cukup pahit. Jadi, aku harus imbangi dong sama yang manis-manis. Mmm ... kaya muka aku misalnya. Andra mulai menyeruput espresso pesanannya. Sedangkan aku? Masih mencoba menyusun kalimat sembari melingkarkan jari telunjuk pada bibir cangkir. Lima menit kemudian, mungkin Andra sudah tidak tahan dengan kesunyian kita. "Ada yang ingin kamu sampaikan?" ucapnya dingin yang tiba-tiba mengagetkanku. Aku mengatur napas sejenak. Mengangkat kepala agar mata kami bertemu. Tampak sekali keraguan pada tatapan matanya. "Ndra, kamu sudah kenal aku berapa lama?" tanyaku basa basi. "Tiga setengah tahun." jawabnya singkat. "Lalu? Jika apa yang telah kamu dengar dari Ayu semua bohong, apa kamu percaya?" timpalku balik. Andra tersentak, sepertinya dia sedang berpikir. Tentu saja selama ini dia kenal banget gimana sifatku. Tapi status kedekatanku lebih rendah jika dibandingkan dengan Ayu. Aku hanya sahabatnya yang baru ia kenal beberapa tahun yang lalu. Sedangkan Ayu? Mereka bersama sejak dilahirkan. Aku tidak yakin jika Andra berada di pihakku. Aku memperhatikannya, mungkin memang sebuah keputusan yang membutuhkan pertimbangan yang matang. "Coba jelaskan apa yang terjadi," ujarnya lebih pelan. Aku menyeruput minuman terlebih dahulu, lalu meletakkannya perlahan. Kedua jemariku bertaut di atas meja. "Semalam, ketika kami pulang ke rumahku. Dia langsung tidur. Ketika aku mau meminta hakku, dia marah. Bahkan tidak mau kusentuh," Andra mendengarkan dengan seksama. Mentelaah setiap ucapan yang aku lontarkan. "Kamu tahu apa yang dia katakan?" "Enggak," serobot Andra. "Ish ... makanya dengerin dulu. Jangan dipotong dong. Kan jadi gak dramatis," protesku. Andra tersenyum meski samar aku bisa melihatnya. Syukurlah suasana sudah mencair. Tidak sedingin tadi. "Lalu?" tanyanya. "Dia bilang terpaksa nerima aku Ndra. Dan dia sangat mencintai pacarnya. Katanya tinggal menunggu restu kedua orangtuanya. Tapi tiba-tiba aku datang dan menghancurkan semuanya, aku ...." "Apa?!" pekik Andra sambil menggebrak meja. Belum selesai aku menjelaskan, terkejut dengan suara gebrakan itu. Kopi kami sampai bergerak-gerak hampir tumpah. Semua mata tertuju pada kami. Aku hanya bisa mengulum senyum dan mengangguk sebagai permintaan maaf telah mengganggu kenyamanan mereka. "Apaan sih Ndra, liat tuh kita jadi pusat perhatian," bisikku. "Apa bener yang kamu katakan? Selama ini Ayu tidak pernah mengenalkan siapapun pada Om Sup. Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?" Hah? Om Sup. Haha ... sup ayam kalee. Eh, ketawain nama Bapak mertua dosa gak sih? Kalau dosa berarti bagi dua sama Andra. "Entah, dia sendiri yang bilang seperti itu. Makanya aku marah. Nih liat tanganku sampe remuk karena emosi dengernya. Dan kamu orang pertama yang pengen aku cekik saat itu juga," ucapku serius. "Dia bilang kamu kasar Gan, kamu ngamuk dan memaksa dia buat layanin kamu. Padahal dia lagi capek banget," jelas Andra. Nah kan, emang dasar wanita ular, mak lampir. Memutar balikkan fakta. Sumpah Ayu pengen banget aku cabein kamu terus karetin doble. "Sekarang terserah kamu Ndra, lebih percaya siapa? Aku yang hanya sahabatmu atau Ayu saudaramu? Cuma aku tegasin sama kamu semua tuduhan Ayu hanya fiktif belaka." Andra menaikkan sebelah alisnya. "Ya ... fiktif, karangannya belaka, kamu pasti taulah aku orangnya seperti apa? Aku gak suka drama Ndra," tegasku sekali lagi. Kami menghabiskan kopi kami, aku tidak tahu apakah Andra akan memihakku atau sebaliknya. Kalau dia menyalahkanku fiks dia buta. Gak bisa melihat mana yang nyata dan mana yang karangan belaka. Aku meletakkan cangkirku yang isinya tandas dengan perlahan. Tiba-tiba aku terkejut dengan seseorang yang menepuk pundakku. "Om!" pekik seorang gadis yang aku sangat kenal suaranya. Astaga, kucing liarku kamu datang disaat yang tidak tepat. Mampus, Andra pasti mikir yang tidak-tidak nih. Leherku serasa kaku saat hendak menoleh. Aku perhatikan Andra mengerutkan kening dan menatapku tajam. "Akhirnya kita ketemu lagi, Om. Kenapa tadi buru-buru pergi sih kan kita belum tukeran kartu nama. Atau nomor HP lah minimal," ucapnya sok akrab duduk di sebelahku. Tangannya masih belum menyingkir dari pundakku. Oh Tuhan, bagaimana ini? "Om kok diam aja sih, padahal tadi cerewet banget banyak bicaranya. Nasehatin inilah itulah, sampai gue gak tahu kalo Om pergi," cerocosnya mirip kereta api yang tidak ada remnya. "Oh iya, jaket lo belum gue cuci Om. Sini kartu nama lo. Nanti gue anterin kalau udah kering," imbuhnya lagi semakin membuatku emosi. Ini bukan saat yang tepat. Baru aja adem nih orang. Eh malah kucing liarku manasin lagi bara yang masih nyala. Andra bangun dengan kasar dari duduknya. Aku mendekat ke arahnya. "Ndra, aku jelasin," ucapku pelan. BUG! BUG! BUG! Bogeman berkali-kali dari Andra mendarat mulus di muka dan perutku. Aku tidak melawan, masih terus berusaha menenangkan dan menjelaskan padanya. "b******k Lo Gan! Nyesel gua kenalin Ayu sama laki-laki b*jingan kaya Lo!" Astaga ini bukan Andra. Andra gak pernah bicara lo gua. "Ndra, aku bisa jelasin," rintihku pelan karena Andra masih memukulku berkali-kali. Kemudian datang petugas keamanan beserta kucingku. Mungkin dia yang laporin. Andra dicekal dan hendak di bawa ke pos. Tapi aku melarangnya. "Tunggu, jangan Pak. Dia temanku, kami hanya salah paham. Lepaskan dia Pak," tuturku dengan napas tersengal-sengal. Andra melepaskan diri dengan kasar. Dia masih terbawa emosi. Jadi percuma jika aku jelasin seperti apapun pasti dia tidak akan percaya. Baiklah biarkan dia pergi dan menenangkan diri dulu. Sometimes aku akan jelasin semuanya. Lagi-lagi kucing liarku berlarian panik. Meminta kotak obat dan es batu di cafe tersebut. Dengan telaten dia membersihkan luka-lukaku, mengompresnya dengan es batu dibalut sapu tangannya, dan mengoleskan obat memar di wajahku. "Kenapa orang itu ngamuk, Om?" Chaca mulai kepo. Aku diam saja, sesekali mendesis kesakitan saat dia menyentuh lukaku. Aku menghela napas panjang. "Kamu tadi sudah pulang?" Aku mengalihkan pembicaraan. "Udah Om," jawabnya singkat. Tangan kecilnya masih sibuk mengompres pipiku. "Dicari orang tuamu?" Chaca menggeleng, raut wajahnya menyendu. "Mereka bahkan tidak menyadari aku semalam gak pulang ke rumah," jawab Chaca lemah. Aku refleks mengacak rambutnya. Dia mengikuti ucapanku. Kali ini dia memakai dress selutut dan lebih tertutup. Aku senang dia mendengarkanku. "Om tadi siapa? Mengalihkan pembicaraan," gerutunya. "Dia ... dia sepupu istriku," ucapku pelan. Deg! Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD