Kamu Kenapa?

1014 Words
Happy Reading~ Jangan lupa follow dan tap lovenya ya. *** Ambyaaaarrr .... Tangan Chaca melemah, tiba-tiba diturunkan dari pipiku. Pandangannya menunduk. 'Kenapa? Apa karena aku mengatakan jika aku sudah mempunyai istri?' aku bertanya dalam hati. "Cat?" panggilku menaikkan dagunya agar memandangku. Chaca mencebikkan bibir. Mungkin dia jengkel dengan panggilan itu. Uhh ... tambah gemas saja lihatnya. "Kenapa?" tanyaku, karena sedari tadi dia masih terdiam. "Kamu sedih gak dicari orang tua kamu? Atau ...," ucapanku terhenti. Aku melihat kristal bening di ujung mata indahnya. Bersiap untuk segera terjun membasahi pipinya. Sekali kedipan meruntuhkan air matanya. Aku bingung, benar-benar tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi sama Chaca. Kenapa dia tiba-tiba menangis. "Maaf ya kalau aku nyakitin kamu?" jemariku mengusap lembut pipinya. Padahal aku mau minta tolong sama kamu kucing liarku, buat menjelaskan semuanya agar namaku bersih kembali. Tapi sepertinya kamu sedang dalam masalah. Hatiku memanas melihatnya yang semakin tersedu-sedu. Aku tidak tega melihatnya. "Cha!" Aku panggil sesuai namanya deh siapa tahu bisa berhenti nangisnya. Dia hanya menoleh sekilas. Ingin aku memeluknya saat ini. Memberi ketenangan padanya. Namun masih ada status yang harus kujaga. Maaf kucing liarku, aku tidak bisa berbuat lebih untuk menenangkanmu. "Cha, mau pindah?" ajakku menggandeng tangannya. Benar-benar seperti kucing liar yang nurut aja sama majikan yang mengadopsinya. Aku lupa tidak membawa mobil sejak semalam. Dan aku belum pulang ke rumah. Langkahku terhenti di depan pintu. Chaca yang sedari tadi menunduk berjalan di belakang, menabrak punggungku. Aku terkejut, lalu menoleh ke belakang. Mau marah tapi melihatnya mellow seperti itu aku jadi tidak tega. "Hati-hati," ucapku mengusap kepalanya. "Bawa mobil nggak? Apa mau naik taksi?" Tanpa suara dia hanya mengangguk. Maksudnya apaan coba? Pertanyaanku dua, jadi dia mengangguki yang mana? Huuuft ... sabar, ini ujian. "Chatrine Salsabila, kamu mau naik taksi? Aku gak bawa mobil soalnya," tanyaku sekali lagi memegang kedua bahunya. Dia mengeluarkan kunci dari tas tangannya. Kenapa gak dari tadi sih ... hmm geram aku. Dasar bocah! Baiklah, aku menyalakan alarm kunci mobilnya untuk mempermudah menemukannya. Wow, aku terperangah melihatnya setelah alarm itu berbunyi. Mobil civic hatchback berwarna biru itu sangat mencolok diparkiran. Sepertinya orang tuanya beneran orang kaya. Aku segera membukakan dia pintu. Lesu, tidak ada lagi semangatnya seperti tadi pagi. Aku berlari kecil ke pintu seberang lalu duduk di balik kemudi. Ku lirik, Chaca masih saja menangis. Aku benar-benar bingung bagaimana menanganinya. Aku memasangkan seatbelt padanya. Tubuh kita begitu berdekatan. Bola matanya terus memandangi wajahku. Hingga pandangan kami bertemu. Iya aku tahu ketampananku ini memang hakiki. "Udahan dong nangisnya," ucapku seraya mengusap pipinya. Aku membenarkan posisi duduk mengenakan seatbelt dan segera melajukan mobilnya perlahan. Aku menghentikan mobilnya di sebuah danau. Tempat yang sangat indah, tenang dan damai. Kami segera turun, berjalan beriringan hingga duduk di tepi danau. Chaca sudah tidak menangis. Hanya saja, sisa air matanya masih terlihat jelas. "Chaca kenapa?" Aku membuka percakapan. "Gue, gak nyangka Om udah nikah. Jangan terlalu baik sama perempuan lain Om," ketusnya. Hah, maksudnya gimana? "Cha, boleh aku sedikit cerita? Setelah itu kamu bisa menilai aku orangnya seperti apa. Kisahku tidak semanis mukaku," candaku membuatnya melotot ke arahku. "Aku nikah baru kemarin Cha. Dan tadi malam isteriku minta cerai. Makanya semalam aku pergi dari rumah. Aku takut tidak bisa mengendalikan emosiku. Dan, malah ketemu sama kamu," tuturku. "Dan yang lebih parah, aku difitnah di depan semua keluargnya. Wanita ular itu mengatakan, aku kasar, membentak dan suka memaksa," imbuhku membuat Chaca terkejut. "Apa?! Hei maunya apa isterimu itu hah? Kayak apa sih tampangnya? Coba kalau ketemu gue jambak terus cakar-cakar mukanya. Seenak jidatnya fitnah orang buat nutupin kesalahannya!" emosinya meledak. Chaca berdiri dari duduknya. Tangannya berkacak pinggang marah-marah gak jelas. Haha ... kamu lucu banget kucingku. "Lalu? Kenapa semalam kita bisa bersama Om?" tanyanya dengan polosnya. Ternyata dia masih gak ingat juga. Aku tersenyum dan mengacak rambutnya. Sebuah kebiasaan baru yang akan menjadi favoritku. "Kamu mabuk Cha, terus pingsan waktu mau pukul aku. Aku gak tau di mana rumah kamu, jadi aku membawa ke hotel. Ketika aku mau pergi, kamu menahanku dan muntah di baju dan celanaku," Aku tertawa mengingatnya. "Lalu aku mencuci baju dan celanaku. Ninggalin boxer aja. Eh paginya kamu kaya orang kesurupan," ujarku tertawa terbahak-bahak mengingatnya. Chaca malu, ia menutupi wajahnya yang sudah memerah itu. "Ih ... ngeselin, kenapa gak cerita sih Om?" sahutnya memukul-mukul bahuku. Aku masih tertawa terbahak-bahak. Lalu memegang kedua tangannya. Sesaat mata kami beradu. Dunia serasa berhenti berputar. Pantulan diriku terlihat jelas di bola mata indahnya. Begitu pula sebaliknya. Lama, kita baru mengakhiri kontak mata tersebut. Chaca menjadi salah tingkah. Tuh kan, makin imut aja ni bocah. "Gimana mau cerita Cha? Kamu aja bangun-bangun marah-marah gitu. Aku juga ngantuk banget. Baru juga merem," jawabku santai. "Terus, tadi setelah kita makan, Andra sepupuku tadi nelepon. Memintaku datang ke rumah isteriku. Di sana aku seperti disidang. Disalahkan dan dipojokkan," "Kenapa Om gak bicara yang sesungguhnya?" Aku tersenyum sinis. "Nggak akan semudah itu Cha. Namaku sudah jelek di mata mereka. Aku gak punya bukti yang kuat. Akan sulit diterima kalau aku tiba-tiba mengelak. Takutnya mereka malah menganggapku drama. Tadi Andra hampir percaya, tapi kamu datang. Dia jadi salah paham sama aku." "Ya ampun Om, sorry ya ... dasar si Mandra kutu kupret. Gak mau dengerin penjelasan udah main pukul aja. Huh, lo juga Om kenapa gak lawan aja sih? Tau gitu gue gak minta keamanan buat lerai. Gue pasti dukung lo Om!" ucapnya menggebu-gebu. Gila apa, aku disuruh adu tinju sama sahabat sendiri. Terus dia jadi wasit? Hadeh, bocah ... bocah. "Mana bisa aku mukulin sahabat sendiri Cha? Dia udah kaya saudara aku sendiri. Aku lebih baik mukulin tembok dari pada dia," Chaca kembali duduk. Kali ini dia duduk di depanku menghalangi pandanganku ke danau. Tangannya memegang tanganku. Aku merasa seperti tersengat. "Om, gue yakin lo orang baik. Daun orang baik pasti akan berjodoh dengan orang baik juga Om," ucapnya serius. Aku mengerutkan kening. Anak kecil tau apa? "Gue juga yakin, Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan manusia. Om pasti bisa melewati ini semua," imbuhnya. Wow, ternyata bocah ini bisa dewasa juga. Umur memang tidak menjamin kedewasaan seseorang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD