Follow ya, dan jangan lupa tap lovenya yang belum.
Happy Readings~
"Om, tau gak?" tanya Chaca menatapku.
"Enggak!" jawabku singkat.
"Ah gak seru," ucap Chaca memanyunkan bibirnya.
Menggemaskan. Aku mengusap wajahnya dengan telapak tanganku sambil tertawa.
"Gitu aja ngambek, apaan?"
"Kenapa menara pisa miring, Om?" tanyanya membuatku mengerutkan kening.
"Ya emang konstruksinya kayak gitu, Cat!" sahutku asal.
"Salah Om ... jawabannya karena ketarik sama senyuman kamu, haha ...." Tawanya begitu renyah didengar dan begitu nyaman kulihat.
Akupun ikut tertawa. Bocah kecil belajar gombal dari mana coba? Aku menarik hidungnya gemas.
Aku mulai terbiasa dipanggil Om olehnya. Aku anggap itu adalah panggilan sayang darinya. Sayang loh ya, bukan berarti cinta.
"Bola apa yang bisa nangis, Om?" imbuhnya.
"Mmm ...." Aku pura-pura mikir. Tapi sebenernya emang beneran gak tau.
"Apa?" sambungku.
"Bola mataku saat kau pergi dariku," ucapnya serius.
Aku terkesiap, menoleh hingga kami saling menatap. Aku terhipnotis dengan tatapan mata sendunya. Sepersekian menit, aku melihat bayangan diriku dalam pantulan bola matanya. Begitupun sebaliknya.
"Bisa aja kamu, bocah!" jawabku masih tertawa sedari tadi.
"Om, lo kerja dimana?" tanya Chaca setelah tawanya berhenti.
Aku menoleh. Apa dia akan menjauhiku setelah tahu pekerjaanku? Apa dia akan sama seperti Ayu, yang merendahkanku?
"Kenapa?"
"Enggak apa-apa, tanya aja." Chaca berpindah tempat duduk di sampingku lagi.
Kulirik, dia memeluk kedua lututnya. Salah satu tangannya menopang dagu melihat ke arahku, menunggu jawaban.
"Gak mau jawab boleh?" ucapmu menoleh ke arahnya.
Raut wajahnya seperti kecewa. Tapi sejurus kemudian dia menghargai jawabanku. Senyumannya, memabukkan.
"Pinjem HP Om!" pintanya menodongkan tangan..
Tanpa banyak tanya, aku memberikan HPku padanya. Tidak terkunci, dia bisa membukanya dengan mudah.
Kulihat dia dengan fasih memainkan jemarinya menyentuh touchscreennya. Entah apa yang dia lakukan.
"Sudah," gumamnya mengembalikannya lagi.
Aku memasukkan lagi HPku, lalu merebahkan tubuhku di atas jajaran rumput yang tidak ada selanya.
Aku sungguh lelah. Mataku terpejam, menikmati angin yang membelai lembut wajahku. Chaca mengikutiku, tidur di sampingku beralaskan rumput.
***
Author POV
Andra melangkah tegas masuk ke rumah Suparman. Tanpa mengetuk, dia menyelonong masuk. Semua perhatian tertuju padanya.
Hembusan napas kasarnya terdengar jelas. Dadanya naik turun.
"Mana Ayu, Tante?" geramnya tanpa basa-basi.
Andra yang memang memiliki sifat keras seperti Suparman, selalu menyelesaikan masalah dengan emosinya.
Padahal orang yang emosi bisa saja salah dibenarkan dan benar disalahkan. Tapi ya, seperti itu memang sifatnya.
"Apa sih Bang, teriak-teriak?" sahut Ayu yang baru masuk ke ruang keluarga.
"Cari suamimu dan selesaikan masalah kalian berdua. Cari jalan terbaik. Jangan pernah mengambil keputusan yang akan kamu sesali suatu saat nanti," pekik Andra.
Semua orang bingung dengan ucapan Andra. Tak terkecuali Suparman. Namun, ia masih diam saja mengamati.
"Andra ada apa? Duduk dulu, jelasin pelan-pelan," saran Rika,, ibu dari Ayu.
"Dia punya pacar sebelum menikah dengan Gandhi, Tan!" Andra menaikkan telunjuknya pada wajah Ayu.
Ayu menegang mendengar perkataan Andra yang terakhir. Wajahnya terlihat gugup.
"Apa? Apa benar? Siapa pacar kamu?" teriak Rika membentak putrinya.
Rika sangat menyukai Gandhi menjadi menantunya sejak pertemuan pertama. Karena sikapnya yang dewasa, kalem dan tidak neko-neko membuatnya yakin jika Gandhi itu cocok untuk Ayu yang sifatnya kekanak-kanakan.
Suparman juga menerima Gandhi karena memang dia orang yang humble, rendah hati dan sopan sama semua orang. Maka dari itu, Suparman meminta untuk mempercepat acara pernikahannya.
"I ... iya Bu, dia Mas Anjar. Ka ... kami saling mencintai sejak lama. Tapi ketika Mas Gandhi datang melamar, Bapak dan Ibu memaksaku untuk menerimanya." Ayu menundukkan kepalanya. Tidak berani memandang orang tuanya.
Bruak!
Suparman menendang meja hingga terguling dan terpental. Untung saja tidak mengenai orang lain.
"Berapa lama kalian pacaran? Ngapain aja selama kalian pacaran? Kenapa dia tidak datang untuk melamarmu atau minimal mengikatmu?" teriakan Suparman menggelegar membuat semua orang terdiam termasuk Andra.
Ayu gemetar dan hampir menangis. Dia tidak menyangka keluarganya akan mengetahuinya.
Author nyempil : Cih! Percayalah. Sepandai-pandainya kamu menyimpan bangkai. Cepat atau lambat pasti akan tercium pula Ayu. Haha ... Rasakan!
"Jawab!" teriak Bapaknya semakin keras.
"Du ... dua tahun kami pacaran Pak, ka ... kami tidak ngapa-ngapain kok," jawab Ayu gugup.
"Kamu yakin? Berani buktikan kalau kamu masih perawan sekarang? Aku yakin Gandhi belum menyentuhmu. Karena dia semalaman pergi bukan ninggalin kamu sendirian?" imbuh Andra semakin membuat suasana semakin panas.
Keringat dingin menetes di muka Ayu. Terlihat jelas raut ketakutan pada wajahnya. Gemetar pada tubuhnya semakin terlihat. Jemarinya bertaut dan dilepas mengiringi kegugupannya.
"Ma ... maaf Pak," ucapnya hampir menangis.
Plak! Plak!
Suparman menampar kedua pipi Ayu. Lalu dilanjutkan meninju mata sebelah kanannya hingga Ayu terjengkang. Dia murka dan kecewa terhadap Ayu.
Rika menangis sejadi-jadinya. Merengkuh tubuh Ayu yang terkapar. Tangisannya pecah dipelukan ibunya.
"Jadi kamu menerima Gandhi buat nutupin kalau kamu sudah gak perawan Yuk?" sinis Andra.
Amarah Suparman sudah tidak dapat dikendalikan. Kakinya sudah mengancang-ancang mau menginjak Ayu. Tapi ditahan dan dihalangi oleh ibunya.
"Jangan Pak ... sudah, jangan sakiti Ayu lagi Pak. Ibu tahu dia bersalah. Tapi tolong jangan pakai kekerasan lagi Pak. Dia anak perempuan kita satu-satunya, darah daging kita Pak," tangis Norma meraung-raung.
Ayu menangis sesenggukan. Tidak mampu berkata-kata menahan nyeri di wajahnya. Keperawanannya telah diambil oleh pacarnya. Dia dijanjikan akan segera dinikahi.
Tapi ternyata, janjinya palsu. Sampai dua tahun lamanya mereka sering melakukan dosa besar itu, selama itu pula dia termakan janji manis pacarnya yang tak kunjung menikahinya. Bahkan sekedar meminta restu saja tidak pernah.
Author nyempil lagi: Heh makanya jangan gampangan jadi cewek Ayu! Udah salah cari kambing hitam pula.
"Bapak gak sudi punya anak macam dia Buk! Dia sudah melemparkan kotoran di muka kita!" teriak Suparman berkacak pinggang.
"Istighfar Pak," ucap Rika yang terus menangis memeluk putrinya.
"Ayu yang harus beristighfar sebanyak-banyaknya Bu! Dia telah melakukan dosa besar. Ya Allah ampuni aku yang tidak bisa menjaga anak perempuanku," tangis Suparman turut pecah.
Dia bersimpuh menundukkan kepalanya menangis sejadi-jadinya. Memohon ampun pada Yang Maha Esa.
Dosa seorang anak perempuan ditanggung oleh Bapaknya. Hatinya teriris, merasa gagal sebagai orang tua.
"Kamu ... kamu jangan sampai bercerai dengan Gandhi. Apalagi pernikahan kamu yang baru seumur jagung. Kamu sudah melemparkan kotoran ke muka Bapak. Jangan kotori lagi dengan mempermalukan nama baik keluarga kita!" Nada bicara Suparman terdengar pilu.
Rika mengangguk tanda setuju. Ia meraih tubuh Ayu dan memeluknya. Membelai pipinya yang memar tadi dengan lembut bekas tamparan dari sang ayah.
"Gandhi orang yang baik Yuk, jangan pernah kamu tinggalkan sebutir berlian hanya demi mengambil butiran pasir," pesan Rika pada putrinya.
Ayu semakin menangis mengeratkan pelukan pada ibunya. Menyembunyikan wajah pada perut ibunya.
Bersambung~