Baper

1018 Words
Aku merasakan hawa dingin menelusup di tubuhku. Mataku mengerjap menyesuaikan cahaya. Sepertinya aku lupa menyalakan lampu. Eh tunggu! Mataku mengerjap berulang kali untuk memperjelas penglihatanku. "Astaga!" Aku terperanjat. Aku ketiduran di tepi danau hingga hari gelap. Buru-buru aku berdiri dan berlari untuk pulang. Brugh! Kakiku tersandung, tubuhku terhuyung tepat di atas tubuh manusia. Hampir saja menindihnya kalau saja kedua tanganku tidak menahannya. Tapi kepalaku terbentur keningnya sangat keras dan bibir kami menyatu. Dia ... Chaca kucing liarku. Hah? Jadi kita berdua tertidur di sini? Dan ... apa ini? Kita berciuman. Buru-buru aku menggulingkan tubuhku. Lalu beranjak duduk. Aku takut Chaca marah. "Cat, maaf ya ... aku beneran gak sengaja. Maafin aku, tadi aku buru-buru bangun karena ketiduran di sini. Tapi kakiku tersandung dan ...," Chaca meletakkan jari telunjuknya di bibirku. Pertanda menghentikan cerocosku. "Iya, gak apa-apa Om. Hoaaam ...," ucapnya menggeliat dan menguap. "Kamu gak marah kan? Aku beneran gak sengaja. Maaf ya," tukasku sekali lagi. "Udah dibilang enggak apa-apa, jam berapa Om? Ayo pulang," ajak Chaca santai. Bisa-bisanya dia sesantai itu. Aku mencuri ciumannya. Ya meskipun gak sengaja sih. "Om. Ini ciuman pertama aku. Biasanya itu paling berkesan," ucapnya disambung tawa kami bersamaan. "Om tahu nggak?" "Enggak," sahutku memotong ucapannya. "Belum ngomong Om, kebiasaan deh," ucapnya jengkel. Haha ... sumpah kebiasaan godain kamu aja udah bikin candu Cat. Gemes aja liatnya. "Jadi?" "Apa?" ketusnya. "Nungguin nih," bisikku di dekat telinganya membuatnya blusshing. 'Sialan, jangan dekat-dekat napa Om. Jantung gue selalu gak sehat kalau terlalu dekat.' Dia menjadi salah tingkah. Tangannya mengusap tengkuknya. "Eee ... Om, kenapa bintang jumlahnya berkurang dan gak indah lagi?" katanya gugup. "Kenapa emang?" "Karena bintang yang paling indah ada di depan gue Om," tuturnya memandangiku. Lagi-lagi nih bocah bikin senyum-senyum sendiri. Aku berdiri lalu meraih tangannya agar ikut berdiri. "Gombal mulu. Belajar dari mana sih?Pulang yuk?" tawarku mencubit dan menggerak-gerakkan kedua pipinya. "Sejak ada lo Om. Gak mau pulang, gue mau ikut Om aja," elaknya. Aku menajamkan telinga. Takut salah dengar. Mataku mengerjap berulang tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. "Kenapa? Kamu harus pulang. Nanti dicariin sama orang tua kamu," ucapku memegang kedua pipinya lembut memberinya pengertian. "Mereka gak akan peduli Om. Satu-satunya orang yang peduli sama gue cuma Nancy." Matanya berkaca-kaca. "Aku juga," sahutku. 'Gue terharu ada yang peduliin gue selain Nancy. Tuhan, jangan ambil dia. Gue mau dia jagain gue terus, dan selalu peduli sama gue,' batin Chaca yang tangisnya semakin deras. Aku selalu gugup ketika melihatnya menangis. Aku tidak mengerti bagaimana cara menenangkan wanita yang menangis. Aku menghembuskan napas pelan, menundukkan kepala sejenak. Lalu menatapnya lagi. "Aku masih suami orang, Cat," ujarku pelan takut menyakitinya. Gue hampir lupa, lo milik orang Om. Gue harap lo segera lepasin betina yang udah nyakitin lo. Chaca memalingkan mukanya, membuat tanganku terlepas dari wajahnya, "Gue anterin pulang Om," ucapnya melangkah pergi. "Cha kita makan dulu ya," teriakku mengejar langkahnya. Dia tidak mendengarku. Apa dia marah? Dasar labil. Bentar-bentar marah, bentar-bentar ketawa. Bentar lagi gombal. Gak lama lagi gila. Hahaha ... Dasar kucing liar. Chaca sudah memasuki mobil, kursi kemudi kosong. Berarti dia menyuruhku menyetir lagi. "Mau makan?" tawarku pelan setelah duduk di balik kemudi. Chaca hanya mengangguk tanpa melihatku. Aku menatap ke depan, melajukan mobilnya. Tak berapa lama, aku parkirkan mobil di halaman luas berjejer dengan mobil-mobil lainnya. Chaca turun terlebih dahulu. Mencari meja yang menurutnya nyaman. Dia duduk di meja paling pojok. Tidak terlalu terekspose publik. Lalu kepalanya menelusup pada tangannya bersandar di meja. Aku mendekat, mengusap kepalanya lembut. "Kamu marah Cha?" "Cuma laper Om," teriaknya masih menyembunyikan mukanya. Gue baper Om. Tapi Lo gak peka. Aku menyebutkan pesanan, Chaca masih diam tidak mengangkat kepalanya. Jadi aku memesankan yang sama denganku. Setelah makanan kami datang, aku segera melahapnya. Chaca hanya mengaduk-aduk makanannya. "Kenapa gak dimakan Cha? Gak suka pesananku ya?" "Eng ... enggak kok Om, suka. Tapi lagi gak napsu aja," ujarnya. Aku berinisiatif menyuapkan makanan ke mulutnya. Diluar dugaan dia menyambutnya dengan mata berbinar. Ya ampun kamu lucu sekali sih Cha. "Dasar manja!" seruku tidak ditanggapi serius olehnya. "Biarin," cueknya. Makanan kami tandas tak tersisa. The power of suap, Chaca juga menghabiskan makanannya. Setelahnya aku pulang. Dia memaksa mengantarku. Tentu saja masih aku yang menyetir mobilnya. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Aku mengerutkan kening. Dari kejauhan aku melihat Ayu dan keluarganya di teras rumahku. "Mau ngapain mereka," bisikku namun masih didengar oleh Chaca. Pandangan Chaca mengikuti mataku. "Siapa Om? Isteri lo?" tanya Chaca membuyarkanku. Aku mengangguk. Aku melihat raut kecewa pada wajahnya. Aku mengusap pelan kepalanya. "Langsung pulang ya, hati-hati. Terima kasih untuk hari ini," ucapku pelan, dia menggigit bibir bawahnya. Chaca hanya diam saja. Aku segera turun dari mobilnya, terlihat dia pindah ke kursi kemudi melangkah dari dalam mobil. Aku melangkah masuk pekarangan rumah. Kutengok, mobil Chaca belum juga beranjak dari pemberhentian tadi. "Pak, Buk sudah lama?" sapaku menyalami dan mencium punggung tangan mereka. "Belum lama Nak, baru setengah jam yang lalu," sahut Rika ibu mertuaku. Tiba-tiba Ayu meraih tanganku dan menangis. Aku mau menghempaskannya, tapi tidak enak dengan mertua. Ayu bersimpuh di depanku. Kedua tangannya menggenggam tangan kananku. Dia menangis tersedu-sedu. Ngapain kamu wanita ular? Mau bersandiwara di depan orang tua kamu? Aku melirik kedua mertuaku. Mereka diam saja melihat putrinya seperti ini. Ibu mertua menangis. Cepat sekali mereka berubah. Apa bapak mertua amnesia tadi siang memaki dan memarahiku? "Mas, maafin aku ...," ucapnya menangis sesenggukan. Aku mengerutkan kening. Maaf yang mana nih? Kesalahanmu banyak. Aku sampai tidak bisa menghitungnya. Aku diam saja. Dia memeluk kakiku membuatku tidak enak hati. Aku membangunkannya. "Masuk! Mari Pak, Bu!" ajakku sambil membuka pintu. Chaca melihatnya sedari tadi. Rasa nyeri menyerang tepat di hatinya. Dia kuwalahan menetralkan detak jantungnya. Sesak menghantam dadanya. Tangannya mencengkeram erat kemudi meluapkan emosinya. Tangisnya tak terbendung lagi. Chaca membenturkan kepalanya pada kemudi. "Aaaaarrrrrrrghhh!" Air matanya mengalir deras. Chaca menangis sejadi-jadinya. Dia merasa akan ditinggalkan oleh Gandhi. Membayangkannya saja Chaca tidak sanggup. Gandhi satu-satunya laki-laki yang berhasil mengobrak-abrik hatinya meskipun baru mengenalnya. Rasa nyaman bersamanya meski sesaat membawa Chaca jatuh dalam pusaran yang dalam. "Om ... jangan tinggalin gue," ucap Chaca ditengah isakannya. Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD