Sakit Hati (Chaca)

1134 Words
Chaca POV Malam yang sunyi, sesunyi hati ini tanpa kabar darinya. Sore tadi otak-atik HP cuma buat nungguin kabar dari Om Gandhi. Sampai pada akhirnya gue merasa lelah, gue lempar tuh HP lalu menggelinding ke sana ke mari di kasur. "Huuuft ... kemana sih Ooooom! Ngeselin dah dari tadi nggak ada kabar. Percuma kasih HP kalau lo tetep nggak ada kabar," gerutuku kesal. "Aaaaaaaaaaaaahhhh!!!" teriakku menjambak rambut saking kesalnya. Tok ... tok! "Cha? Kenapa Nak?" suara Bunda Hanin. Oops ... aku refleks menutup mulut. Lupa jika ini di rumah Bunda, biasanya teriak-teriak nggak jelas di rumah nggak ada yang peduli. "Chaca ... kamu baik-baik saja, kan?" ulang Bunda lagi. "Iya Bunda, Chaca baik!" teriakku asal, lalu melompat dari ranjang dan bergegas membuka pintu. Aku membuka pintu dan langsung memasang ekspresi senyum pepsodent. Bunda mengerutkan keningnya bingung. "Maaf Bunda, Chaca ngagetin ya," cengirku membuat Bunda menggelengkan kepala. "Yasudah, kirain ada apa." Bunda hendak kembali berkumpul bersama adik-adik. "Bun, sebentar!" seruku meraih tangan Bunda. "Bunda, Chaca izin ke luar ya. Bentar aja dan nggak jauh-jauh kok. Eum, cuma cari angin Bun," tambahku menaik turunkan alis merayu Bunda. "Hmmm ...." Bunda bergumam dan nampak berpikir. Aku hopeless, wah kayaknya gak diizinin. "Boleh, asal jangan pulang larut malam ya," tutur Bunda membuatku membelalakkan mata. Diluar dugaan Bunda izinin aku. Aaahh senangnya .... Aku memeluk Bunda, "makasih banyak ya Bun, Bunda terbaik. Chaca sayang banget sama Bunda." Aku cium kedua pipi Bunda lalu bergegas untuk bersiap pergi. Aku ganti baju yang lebih tertutup seperti pesan Om Gandhi beberapa waktu silam. Masih ada uang cash beberapa lembar. Cukup lah kalau buat ongkos. Aku mutusin pergi ke rumah Om Gandhi, takut dia kenapa-napa. Karena dia selalu bilang sedang ada masalah. Aku khawatir banget. Apalagi sampai sekarang nggak ada kabar. "Semoga kamu baik-baik aja ya Om," gumamku dengan hati berdebar ketika di dalam taksi. Perjalanan yang singkat terasa sangat lama. Aku nggak sabar ketemu Om Gandhi. Jantungku berantakan sedari tadi. Sepertinya aku gila. Sesampainya di rumah minimalis, aku mengetuk pintu berulang, tidak ada sahutan. "Om ... Om Gandhi!" seruku masih mengetuk pintu. Aku nggak sabar, iseng buka pintu ternyata tidak dikunci. Langkahku hati-hati, maunya mau kasih surprise. Aku lihat kamar di sebelah ruang tamu sedikit terbuka. Sayup-sayup mendengar orang ngobrol dari dalam. Karena tingkat kekepoan yang tinggi, aku mendekat ke pintu. Mataku membelalak, Om Gandhi? "Ini benar-benar kejutan! Apa yang mereka lakukan?" gumamku pelan. "Om!" seruku menutup mulut dengan suara bergetar. Tenggorokanku tercekat, susah payah aku nelan saliva. Retak hatiku dengan apa yang barusan aku lihat. Aku nggak sanggup lama-lama berdiri di sini. Aku langsung putar balik dan berlari sekencang-kencangnya. "Bego banget Lo Cha!" pekikku dengan lantang setelah sampai di luar. "Sadar Cha sadar! Lo itu siapa? Dia sudah kembali dengan istrinya. Lo masih ngarepin suami orang? Jangan gila, Cha!" umpatku pada diri sendiri. "Cha! Tunggu!" teriak Om Gandhi mengejarku. Aku hentikan taksi dan buru-buru masuk, "Cepat jalan, Pak! Tolong ngebut sekarang juga!" teriakku pada supir taksi karena Om Gandhi sudah menggedor-gedor pintu taksi. "Cha, please dengerin aku!" ucapnya dari balik jendela. Aku nggak mau lihat mukanya. Taksi yang aku tumpangi melaju dengan cepat. Kutengok, dia buru-buru mengambil mobilnya. "Pak, lebih cepat!" seruku. "Kemana Neng?" tanya supir melirik lewat spion. "Danau Teratai, Pak!" pesanku diangguki olehnya. Aku lihat ke belakang. Mobil Om Gandhi nggak kelihatan. Potongan memori adegan di kamar tadi terus berputar di kepalaku. Air mata sialan ini nggak mau berhenti mengalir. Akhirnya sampai di danau. Tempat di mana aku dan Om Gandhi pernah menghabiskan waktu bersama di sini. Kaki ini terasa berat melangkah, danau ini memiliki penerangan yang remang. Tidak begitu terang, dan jam segini udah sepi. Aku terduduk di atas rerumputan, menangis sejadi-jadinya. Kenapa aku sampai lupa kalau istrinya ada di rumah? Aku bener-bener dibutakan cinta. Sadar Cha, jangan sampai lo jadi pelakor. Ya Tuhan, selama ini aku salah mencintai suami orang. "Haaaaaaaaaaaaaahhhh! Lo jahat Om. Gue benci sama lo. Benci banget! Apa arti semua sikap lo ke gue selama ini? Apa maksud kebaikan lo sama gue hah? Lo terbangin gue setinggi langit, lalu lo hempasin gue ke bumi tanpa ampun. Om Gandhi gue benci banget sama lo!" teriakku sepuas-puasnya dengan berderai air mata. "Sakit Om sakiiiiit ... kenapa lo jahat banget sama gue! Jangan beri gue harapan kalau lo sudah bersamanya," Aku menundukkan kepala sesenggukan memegang dadaku yang amat sesak. Tangisku semakin menjadi seiring waktu yang semakin malam. Angin yang menerpa bahkan sampai tak mampu kurasakan. Kupeluk kedua lutut dan menyandarkan kepala di atasnya. Flash memori berkelebat di kepalaku semakin tidak bisa menahan air mata. "Lo satu-satunya orang yang mampu kasih gue kebahagiaan. Tapi lo juga orang yang hancurin hati gue. Om, gue memang sayang sama lo. Tapi gue sadar posisi gue sekarang." Aku nggak akan mau menjadi orang ketiga dalam kebahagiaan orang lain. Please setelah ini jangan pernah kasih aku harapan lagi. Aku janji bakal hapus perasaan ini. Aku yakin, perlahan-lahan pasti bisa hapus nama kamu yang udah terukir di hatiku. Meskipun itu susah. Lama aku terdiam dan menangis di tepi danau. Aku hapus sisa air mata, lalu beranjak pulang. Bunda pasti khawatir. Aku berjalan pelan ke jalan raya. Untungnya langsung dapat taksi. Aku melirik jam tangan, aku terkejut. Astaga! Sudah jam 21.40 WIB. "Pak tolong secepatnya ke Panti Asuhan Kasih Bunda!" pesanku yang kemudian diangguki oleh supir. 'Kok perasaanku nggak enak ya. Kenapa dia nggak jawab.' Mataku melirik ke arah jalan raya. 'Ini bukan jalan ke rumah Bunda, astaga nggak beres nih supir. Aduh, gimana dong? Aku nggak punya contact siapapun selain Om Gandhi. Tenang Cha, tenangin diri Lo.' Aku mencoba tetap tenang. Aku mengambil napas panjang, dan buang perlahan. Buat menetralkan degub jantungku yang sebenarnya tidak karuan karena takut. Sumpah demi apa, ini jalan berlawanan arah sama rumah Bunda. Tubuhku menegang. Keringat sudah memenuhi keningku. Ya Tuhan, tolong selametin aku. Jalan yang dilalui semakin sepi. Aku pengen nangis saat itu juga. Tapi percuma, nggak akan selesain masalah. 'Berpikir Cha berpikir!' Aku mengetuk jemari di paha. "Pak, kiri. Aku berhenti di sini aja!" Aku menepuk pundaknya. Tidak ada sahutan apapun darinya. Malah semakin kencang melajukan mobilnya. Ya Tuhan, aku dalam bahaya. Tanpa pikir panjang, aku lepasin sling bag yang terbuat dari besi. Aku fokus buat nyerang tuh aki-aki. Tanganku udah mengambil ancang-ancang, berhitung dalam hati. Satu, dua, Hap! Tepat sasaran. Aku lilitin di lehernya. Mobilnya oleng ke kanan dan ke kiri. Tangannya meraih rambutku dan dijambak dengan kasar. Sialan! Aku semakin mengeratkan lilitan sling bag itu. Aku pindah ke kursi depan, tanganku masih menarik kuat mencekik leher supir tua itu. Aku buka kunci pintu samping kemudi, lalu mendorong aki-aki itu sekuat-kuatnya. Sampai dia terjengkang keluar. Aku beralih ke kursi kemudi. Ah! Mobil memotong jalan ke arah kanan. Karena kecepatan yang tinggi, aku kesulitan mengendalikannya. Dari arah berlawanan ada minibus yang semakin mendekat. Lampunya menyilaukan mata. Rem aku injak dengan sisa tenaga yang sudah tersengal-sengal. "Aaaaaaaaarggghh!!!" Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD