Penyesalan (Ayu)

1117 Words
Ayu POV Pagi yang cerah, aku terbangun ketika cahaya matahari menelisik jendela kamarku. Eh bukan, lebih tepatnya kamar tamu suamiku. Aku menggeliat dan menguap. Suara kicauan burungpun begitu mengganggu telinga. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Tenggorokan yang terasa kering mengharuskan kakiku melangkah ke dapur. Suasana masih sama seperti kemarin, sunyi, sepi dan sendiri. Suamiku entah ke mana aku tidak tahu. Aku mengikat rambut asal karena masih malas. "Ah ... leganya," gumamku ketika menghabiskan satu gelas air putih dari kulkas. Aku melihat-lihat isi kulkas. Kosong, tidak ada bahan apapun yang bisa dimasak. Hanya tinggal sebutir telur saja. Mataku menelisik sekeliling dapur, syukurlah masih ada mie instant. Aku merebusnya bersama dengan telur. Lumayan bisa buat ganjal perut. Seusai makan, aku bergegas mandi. Kemudian membersihkan seisi rumah. Agar tidak dicap pemalas sama suami. Terdengar deru suara mobil, aku mendongak ketika sedang menyapu teras. Siapa itu? Bukan mobilnya Mas Gandhi. DEG! Ini bukan mimpi kan? "Mas Anjar," gumamku pelan. Aku menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada tetangga yang melihat. Secepat kilat aku menghampiri dan menarik tangannya. Kemudian aku mengunci pintu, menutup semua gorden jendela. "Mas!" pekikku sangat bahagia. Sekian lama tidak ada kabar, tidak kusangka dia mendatangiku di sini. Untungnya keadaan rumah sepi. Dia sering berjanji akan segera menemui orang tuaku dan segera melamarku. Tapi dia selalu tidak hadir ketika saat itu tiba. Dengan alasan kesibukannya dalam bekerja dan banyaknya perjalanan luar kota. Kami saling melepas rindu. Melakukan penyatuan yang telah lama tidak kita lakukan. Dia selalu bisa memuaskan aku. Dimanapun dan dalam posisi apapun, aku semakin mencintainya. Kami terhanyut dalam suasana, hingga tanpa sadar kami berpindah di kamar. Kami melakukannya berulang kali hingga kelelahan dan aku tertidur dalam dekapannya. Hingga ketukan pintu berulang mengusik tidur lelapku. Mataku mengerjap mengumpulkan kesadaran. Astaga! Jantungku berdegub tak beraturan. Tubuhku belum tertutup pakaian satu helaipun. Aku gugup mengambil pakaian sembarangan di lemari. Pandanganku beredar ke seluruh ruangan. Kemana Mas Anjar? Aku melemas. Lagi-lagi dia hanya menginginkan tubuhku saja tanpa mau mengikatku. Ya Tuhan, inginku teriak sekeras-kerasnya. Bertahun-tahun dan berulang kali aku masih saja tertipu oleh bujuk rayunya. Dadaku serasa terhimpit benda berat. Buru-buru aku membuka pintu kamarku. Mas Gandhi .... Mataku membelalak melihat tangannya menggenggam kancing bajuku. "Kenapa lama buka pintunya? Ngapain aja?" sentaknya menyelidik. Aku gugup, berusaha menutupi leherku agar tidak terlihat. Tatapanku lurus ke bawah. Dia berjalan menuju sofa. Aku sungguh terkejut, baju-bajuku berserakan di belakang sofa. Matilah aku! Mas Gandhi mencocokkan kancing dengan bajuku. Tubuhku semakin gemetar. Jantungku semakin tidak terkedali. Aku tersentak ketika dia menyibak tanganku. Mas Gandhi semakin murka mungkin terlihat jelas ulah dari Mas Anjar tadi. Dia sangat marah, aku sungguh ketakutan. Dia meluapkan semua amarahnya. Aku menangis dan begitu ketakutan. Suara pecahan kaca menggelegar, membuatku terjingkat. Tubuhku melemas hingga terduduk di lantai. Telingaku berdenging mendengar ucapan talak yang dijatuhkan padaku. Kepalaku serasa berkunang-kunang. Tidak! Apa yang akan aku katakan pada Bapak? Aku belum siap. Mas Anjar bahkan tidak bisa dipegang omongannya. Keringat membasahi sekujur tubuhku ketika talak kedua dijatuhkan. Lebih baik aku mati saja! Aku mengambil pecahan kaca menggoreskan dengan kuat pada pergelangan tanganku. Pandanganku menggelap seiring mengalirnya darah segar dari tanganku. *** Aku mengerjapkan mata dan menolehkan kepala. Sepertinya di rumah sakit. Ruangannya serba putih dan ada seorang suster yang sedang memeriksaku. "Mbak, sudah sadar?" tanya suster tersebut. Aku mengangguk. Masih terasa begitu lemah. Tanganku terasa nyeri, berat jika aku gerakkan. Aku mengingat semua kesalahanku. Terutama pada Mas Gandhi. Aku tidak tahu bagaimana sikapnya padaku setelah ini. Aku sangat takut. Pintu ruangan terbuka, Mas Gandhi masuk ke ruangan. Aku menatapnya penuh penyesalan. Aku sungguh menyesal menyakitimu Mas. Air mataku tak terbendung lagi. "Kamu mau minum?" tanyanya setelah lama kami saling berdiam. Aku hanya mengangguk. Aku terenyuh, dia dengan sabar membangunkanku dan membantu untuk minum. Kemudian membantuku makan, mengelap tubuhku dengan telaten. Ya Tuhan Mas Gandhi ... kamu berhati malaikat. Maafkan aku yang penuh dosa. Sampai keesokan harinya, aku sudah diperbolehkan pulang. "Bisa jalan?" tanyanya pelan. Aku mengangguk, kepalaku masih sangat berat. Tanganku juga sangat nyeri. Aku menurunkan kedua kakiku, baru menginjak lantai tubuhku ambruk karena lemas. Mas Gandhi dengan sigap menopangku. "Kalau tidak kuat jangan dipaksa!" ketusnya membopongku sampai mobil. Kami masih tidak saling bicara selama perjalanan. Aku sangat malu. Aku sudah menyakitinya, tapi dia masih begitu baik padaku. Mobil terhenti di depan supermarket, "tunggu di sini! Aku mau membeli bahan-bahan untuk memasak," ucapnya meninggalkanku dalam mobil. Sesampainya di rumah, Mas Gandhi menggendongku dan menyelimutiku di kamar. Sungguh dia memperlakukanku dengan baik. Dia memasak untukku, menyuapiku, mengompresku dan dengan telaten membasuh tubuhku. Ya Tuhan, semakin baik sikapnya padaku semakin membuat dadaku sesak. Sesak karena jijik dengan perlakuanku padanya. Aku begitu terharu. Semua kelembutannya, semua perlakuannya padaku tidak sebanding dengan balasanku untuknya. Benar kata Bapak, Mas Gandhi sangat baik. Baru kali ini aku menemukan orang sebaik dia. Padahal aku sudah menginjak-injak harga dirinya. Aku sudah sangat menyakitinya. Tapi dia .... "Apa masih ada pintu maaf untukku? Apa kamu masih mau menerimaku Mas? Kamu baru menjatuhkan talak 2. Kita bisa kembali lagi. Maafin aku Mas ...," gumamku pelan menangis tenggelam dalam penyesalan. "Sungguh munafik ketika aku tidak luluh dengan sikapmu beberapa hari ini Mas. Kamu laki-laki yang sempurna. Baik, mandiri dan bertanggung jawab. Kesabaranmu juga luar biasa. Aku sungguh kagum padamu Mas Gandhi!" tangisku tersedu-sedu. Tak berapa lama, pintu terbuka. Mas Ghandi menyentuh keningku. Aku memejamkan mata menikmati sentuhannya. Padahal dia hanya mengecek demamku saja. Ia ke luar dan masuk kembali membawa baskom berisi air untuk membasuh tubuhku. Aku menarik tangannya. "Kenapa?" tanyanya singkat. "Terima kasih Mas, maafkan aku," ucapku sendu. Dia tidak bergeming, tangannya melepaskanku perlahan. Lalu berjalan meninggalkanku sendiri. Tangisku semakin pecah. Sesalku memenuhi seluruh otak dan hatiku. Aku sungguh berharap hubungan kami bisa membaik. Kami belum resmi bercerai. Dia hanya menjatuhkan talak kedua. Secara agamapun aku masih isterinya. Aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan membalas semua kebaikanmu Mas. Tidak peduli dengan semua penolakanmu. Aku akan berusaha keras mengambil kembali hatimu yang pernah hancur. Aku akan menyembuhkan luka-luka yang telah kugoreskan padamu. Mas Anjar, aku sungguh membencimu. Dari sini aku sadar kamu ternyata lelaki b******k! Aku sungguh membencimu. Aku menyesal pernah bertemu bahkan dengan bodohnya terkena bujuk rayumu. Semoga kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal. Malam mulai menyapa. Jendelaku belum tertutup. Angin yang menerobos begitu dingin menyapu tubuhku. Aku menguatkan diri untuk bangun menjangkau jendela. PYAR!!! Gelas terjatuh karena aku kehilangan keseimbangan. Kepalaku sungguh terasa sangat berat. Bahkan pandanganku berkunang-kunang. Mas Gandhi berlari ke kamarku. Samar-samar aku mendengar suara wanita memanggil-manggil Mas gandhi. Siapa? "Ayu! Kamu mau ngapain?" teriak Mas Gandhi mengangkat tubuhku. Ia merebahkanku di kasur. Tanganku mengalung di lehernya. Belum sempurna tubuhku menyentuh kasur kami dikejutkan dengan teriakan seseorang. "Om!" pekiknya berlinang air mata, menutup mulutnya dan berlari ke luar. Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD