Bab 6 Tuduhan Palsu

1269 Words
Juan menatap layar ponselnya yang menunjukkan gambar dirinya bersama putranya. Sudut bibirnya tertarik ketika mengingat tingkah lucu bocah berumur tiga tahun tersebut. Sebuah anugerah terindah dari tuhan yang selalu ingin pria itu jaga serta bahagiakan. Andai saja pernikahannya tidak kandas, mungkin rasanya tidak akan serumit ini, tapi perlahan Juan sudah mulai menerimanya karena hal itu sudah menjadi bagian dari takdirnya. Namun, pria itu merasa beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang baik termasuk atasannya terdahulu bernama pak Eko. Kalau bukan karena beliau, mungkin Juan tidak ada di kantor pusat. “Pak, maaf tapi saya tidak bisa pindah ke kantor pusat karena putra saya masih membutuhkan saya dan saya tidak bisa meninggalkannya.” Eko paham dengan apa yang sedang dirasakan oleh karyawannya terlebih pria itu baru saja menjadi duda tepat satu tahun belakangan. “Saya tahu ini keputusan yang sangat sulit tapi coba pikirkan kembali karena ini demi masa depan putramu juga, Juan.” Eko menepuk bahu pria yang tampak bimbang tersebut. “Apalagi di sana kamu akan langsung berada di posisi staff senior dan juga upah minimum regional di sana berkali-kali lipat jadi coba pikirkan itu walau kamu harus mengorbankan sedikit waktumu setidaknya sampai dua bulan gajimu di sana.” “Maksud Bapak?” “Iya, selama kamu di Jakarta nanti ‘kan bisa mengontrak atau sewa rumah dulu jadi setelah dua bulan gajian kamu bisa bawa anak serta keluargamu pindah ke sana,” jelas Eko. Saat itulah Juan mempertimbangkan semua hal yang diucapkan oleh atasan tersebut dengan berbekal riset di jejaring internet. “Juan, lo nggak pergi ke rooftop?” Suara Dinda berhasil membuyarkan lamunan pria yang duduk sembari menatap layar ponselnya. Juan melirik ke arah wanita itu lalu menggelengkan kepalanya pelan dilengkapi dengan senyuman yang mampu membuat hati para kaum hawa meleleh, termasuk Dinda. “Manis banget sih senyumnya,” gumam Dinda tanpa sadar. Sementara Juan tampak kebingungan mendengar apa yang diucapkan oleh wanita yang duduk tak jauh darinya, hanya terpaut satu kubikel dengannya, tepat di sebelah kubikel Kalea. “Sorry, tadi lo ngomong apa? Gue enggak denger.” “Eh enggak kok,” jawab Dinda sambil menggelengkan kepalanya, ia terlihat salah tingkah, sorot matanya tertuju ke arah dua gelas kopi yang dibawanya tadi. “Oh ya, ini ada titipan dari Kalea.” Wanita itu menyodorkan salah satu kopi tersebut dan langsung diterima oleh Juan. “Kata Kalea, anggap kopi ini sebagai ucapan selamat datang,” lanjut Dinda ketika pria itu malah memandang aneh ke gelas kopi tersebut. Juan terkekeh. “Okay thank’s, tapi di mana Kalea?” “Dia lagi ada urusan jadi gue disuruh balik duluan tapi makasih ya karena lo udah berusaha enggak peduli dengan gosip murahan itu.” “Ah bukan apa-apa kok tapi emang bener ya kalau dia itu susah move on dari mantannya?” “Sayangnya gue harus jawab iya,” jawab Dinda dengan anggukan kepala serta raut wajahnya yang berubah sendu. Sementara Juan sendiri membenarkan apa yang dikatakan oleh wanita itu dengan bayangan pertemuannya dengan Kalea ketika mereka tidak sengaja bertemu di lift apartemennya. Pukul tujuh Juan baru saja kembali setelah selesai makan malam di luar. Pria itu memang memutuskan untuk jajan di luar karena belum sempat membeli segala keperluan walau untuk sekedar mengisi kulkasnya. “Tolong tahan pintunya,” teriak seorang wanita yang membuat pria itu segera menekan sebuah tombol untuk membuka pintu lift yang akan tertutup kembali. “Terima kasih.” Tatapan keduanya sempat bertemu ketika Juan sempat memberikan senyuman dengan maksud ingin beramah tamah. Tapi wanita yang tak lain adalah Kalea itu tidak mempedulikannya dan hanya mendudukkan kepala karena merasa malu. Apalagi dengan kedua matanya yang sembab, pakaian yang kotor tanah serta penampilannya yang memang sudah berantakan sekali. Selain itu, Juan bisa mendengar suara isak tangis dari wanita itu, yang ia pikir kalau Kalea baru saja putus dengan kekasihnya atau sedang mengalami hari yang buruk. “Sorry gue enggak tahu apa yang bikin lo sedih tapi gue cuma mau kasih ini mungkin lo...” Belum sempat Juan menyelesaikan kalimatnya wanita itu melirik ke arahnya. Jujur saja kalau pria itu sangat takut akan diamuk oleh Kalea tapi yang terjadi sebaliknya. “Terima kasih,” lirih Kalea meraih sapu tangan milik Juan dan kembali menundukkan pandangannya dan setelah itu tidak ada lagi obrolan di antara keduanya. Ingatan itu berhasil membuat Juan tidak lagi penasaran dengan wajah Kalea yang menurutnya familiar tersebut di awal pertemuan mereka hari ini. “Astaga, ternyata itu dia,” gumam Juan tidak sadar. “Dia? Dia siapa?” tanya Kalea yang baru saja datang dan bergabung dengan keduanya. Juan menoleh ke arah wanita itu. “Ah enggak cuma— Bdw, thank’s buat kopinya ya, Kal.” Kalea dulu lalu sempat menoleh sebentar ke arah pria itu yang mengangkat gelas miliknya sambil tersenyum. “Oh itu, tadi gue beli karena lagi promo aja beli dua gratis satu.” Entah mengapa mendengar penjelasan Kalea membuat pria itu membulatkan mulutnya seolah tidak percaya jika dirinya baru saja diberikan barang gratisan bukan karena benar-benar ingin memberikan hadiah penyambutan untuknya. “Lo kenapa?” tanya Kalea dengan dahinya yang berkerut ketika melihat pria itu menatap gelas kopinya. Pria itu menutup mulut lalu tersenyum tipis. “Enggak ternyata barang gratisan itu rasanya enak juga ya.” Ucapan Juan terdengar seperti sedang menyindir wanita itu tapi sayang Kalea malah sudah kembali sibuk mengerjakan tugasnya dengan menggunakan earphone miliknya. *** “Pak, apa Bapak baik-baik saja dengan gosip yang beredar? Haruskah saya....” Genta menoleh ke arah asisten pribadinya hingga pria itu enggan melanjutkan kalimatnya apalagi setelah melihat sendiri sorot matanya yang tajam. “Aku sama sekali tidak peduli dengan gosip itu tapi setidaknya untuk saat ini jadi tidak ada yang berani mengusik Kalea, ‘kan?” Sena menganggukkan kepalanya. Sebenarnya di dalam hati Genta merasa senang, seakan dengan gosip itu semua orang jadi tidak akan menganggu Kalea lagi dan yang paling terpenting kalau semua orang di kantor jadi tahu kalau wanita itu miliknya sekarang. Memang terasa aneh caranya dalam melindungi wanita yang disayanginya tapi Genta benar-benar puas dengan hasilnya saat ini. Sementara Sena tidak berani berbicara hal apapun lagi walau sebenarnya gosip itu sudah mengusik hidup Kalea. Selain itu, Sena juga merasa tidak enak karena Kalea menuduhnya yang memberitahukan semua hal yang dilihatnya kemarin kepada sang CEO tersebut. “Lo tuh emang enggak bisa ya diajak kompromi, Sen!” Sena yang baru saja keluar dari toilet sempat terkejut melihat keberadaan Kalea yang seperti hantu karena tiba-tiba saja muncul dengan tubuhnya yang bersandar di dinding pintu keluar-masuk toilet. “Gue rasa lo salah paham tentang gue, Kal.” “Oh, ya? Bagian mana yang bikin gue salah paham?” Kalea membenarkan posisinya untuk berdiri dengan tegak di hadapan Sena. Wanita itu sama sekali tidak percaya dengan ucapan Sena karena ditempat itu tidak ada satu pun yang layak dicurigai kecuali pria itu. “Ya itu, lo pasti lagi nuduh gue soal informasi yang Pak Genta tahu soal pertengkaran kalian kemaren?” “Terus, menurut lo siapa yang berani kasih informasi itu sama Genta, hah?” “Gue enggak tahu dan intinya bu—“ “Tapi cuma lo yang selalu ada di sisi Genta dan setia sama dia,” potong Kalea dengan matanya yang berkaca-kaca. “Kenapa sih kalian suka banget ikut campur urusan orang lain?” “Kal,” lirih Sena. “Akibat ulah kalian, gue jadi dijauhi hampir sama semua orang di kantor ini!” Sayangnya ketika Sena hendak membuka mulutnya, wanita itu sudah lebih dulu berlari pergi meninggalkannya. Jujur saja pria itu merasa kesal karena kesalahan yang diperbuat oleh orang lain harus ditanggungnya. “Gue bakalan cari tahu siapa orang yang kasih info ke Pak Genta,” kata Sena dengan tangannya yang terkepal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD