Di sebuah pertigaan, Slamet tidak jadi berbelok kiri untuk meneruskan pekerjaan, membersihkan gedung madrasah. Ia belok kanan, menuju rumah Bu Pinah. Hatinya belum tenang jika belum menepati janji kepada Slamet.
Sampai di tujuan, ia tertegun melihat seorang anak kecil sedang menjemur daun kamboja. Anak itu mengenakan caping agar tidak tersengat matahari. Dari perawakannya anak Dengan telaten ia meratakan daun-daun kamboja di atas terpal biru.
Slamet mendekati anak tersebut. “Assalamu alaikum, Dik!”
Anak kecil bercaping itu menoleh. Ia merasa pernah melihat pemuda di depannya, hanya saja belum ingat di mana dan kapan? “Waalaikum salam!”
“Aku Slamet Ghaissan.” Slamet mengulurkan tangan.”Boleh tahu nama kamu?”
“Sunoto!” Anak bernama Sunoto itu menjabat tangan Slamet dengan terpaksa. Ia tidak terbiasa dengan orang asing.
Slamet tersenyum ramah. “Ibu Pinah ada?”
Mata Sunoto menyisir penampilan Slamet dengan pandangan curiga. “Ibu sedang pergi!”
“Kalau Parno?”
Anak berusia tiga belas tahun itu memandang Slamet penuh selidik. “Mas Parno sedang tidur.”
Slamet mendekat, membuat Sunoto mundur sepangkah.
“Sunoto, boleh aku minta tolong?” Slamet bertanya dengan nada lembut.
Alih-alih menjawab, Sunoto meninggalkan Slamet, menuju pos kamling untuk berteduh. Ia membuka caping, menggunakannya untuk berkipas-kipas.
Slamet mendadak ingat dengan anak kecil bertelanjang d**a yang kemarin memanjat pohon mangga di halaman mushola. Ia segera mendekatinya. “Kamu yang kemarin memanjat pohon mangga di mushola bukan?”
“Kenapa memangnya?” Sunoto balik bertanya. Ekspresinya menunjukkan ketidaksukaan mendapat pertanyaan tersebut. “Buah di halaman mushola halal untuk siapa saja.”
Slamet tersenyum bijak. “Iya, aku tahu. Mbah Suto sudah menjelaskannya.” Ia duduk di pos kamling, bersebelahan dengan Sunoto.
“Sampeyan yang tadi pagi ke rumah kami bukan?”
Slamet mengangguk heran. “Benar, kok kamu tahu?”
Sunoto berdiri. Tatapannya curiga. “Aku melihat sendiri sampeyan berbicara dengan ibu.” Ia meninggalkan Slamet, setengah berlari menuju rumah.
Slamet segera mengejar. Langkahnya lebih cepat, sehingga sebelum Sunoto sempat meraih pintu, ia berhasil mencegat. “Maaf, bukan bermaksud mengganggu kalian. Aku ke sini untuk membantu Parno.”
Sunoto melengos.
Slamet membujuk. “Kalian pasti ingin Parno kembali seperti dulu bukan?”
Sunoto menoleh. Meskipun curiga dengan kehadiran Slamet tapi ia merasa penasaran. “Sampeyan bisa menyembuhkan Mas Parno?”
“Allah yang akan menyembuhkannya. Tugas kita berusaha.”
Sunoto terdiam. Ia ingin kakaknya sembuh, hanya saja ia belum percaya dengan Slamet. “Tapi ibu melarang sampeyan menemui Mas Parno!”
“Aku tidak akan masuk, hanya menunggu di sini sampai kakakmu bangun.” Slamet berusaha meyakinkan. “Kamulah yang akan membantu kesembuhan Parno. Bangunkan dia, suruh keluar rumah.”
Sunoto menggeleng. “Diguyur air pun Mas Parno tidak akan bangun.”
“Bilang padanya, ada seseorang yang akan menepati janji untuk menunjukkan matahari.” Slamet mengerjap.
Sunoto tidak acuh. Ia masuk ke rumah, menutup pintu rapat-rapat. Ia tidak mau ambil resiko karena jelas-jelas ibunya tadi pagi mengusir Slamet.
Slamet bergeming, memandang pintu dengan perasaan kecewa. Setulus apa pun niat dalam hati, ia merasa tidak berhak untuk terlalu dalam ikut campur masalah orang lain.
Dengan langkah gontai, ia melangkah pergi. Ada tugas yang lebih penting dari pada melakukan sesuatu yang berpotensi menimbulkan masalah. Masih banyak yang harus ia kerjakan untuk menghidupkan lagi madrasah.
“Mas!”
Slamet menghentikan langkah, menoleh ke sumber suara.
“Mas boleh menemui Mas Parno, tetapi jangan bilang-bilang sama orang lain, nanti aku dimarahi ibu.”
Slamet merasa gembira. Ia segera kembali sebelum Sunoto berubah pikiran. “Boleh aku masuk?”
Sunoto mengangguk, membukakan pintu. Setelah Slamet masuk, ia segera menutupnya kembali.
Slamet mengekor Sunoto yang memasuki kamar Parno. Di dalam, tampak Parno sedang tidur, memeluk guling.
Sunoto mengingatkan Slamet. “Sebentar lagi ibu pulang. Waktu sampeyan cuma sepuluh menit.”
Slamet mengangacungkan jempol. Pelan-pelan tangannya menepuk kaki Parno berkali-kali. “Parno, bangun! Aku ke sini untuk menepati janji!”
Parno bergeming.
Slamet kembali membangunkan Parno. “Di luar ada matahari, bangunlah!”
Parno menggeliat sebentar, kemudian menutupi seluruh tubuh dengan selimut.
Slamet membaca surat alfatihah tujuh kali, diteruskan membaca ayat kursi tujuh kali, Pelan-pelan disingkapnya selimut. Ia berbisik ke telinga Parno. “Parno, matahari! Parno, matahari! Parno, matahari!”
Parno menutup telinga rapat-rapat. Matanya masih terpejam.
Tidak mau menyerah, Slamet terus membangunkan Parno, tetapi usahanya belum juga berhasil.
“Waktu sampeyan tinggal lima menit!”
Slamet menghela napas. Ia kehabisan akal, tidk tahu harus menggunakan cara apa lagi untuk membangunkan Parno.
Belum habis sisa waktu lima menit seperti yang dikatakan Sunoto, Bu Pinah pulang. Ia mendorong daun pintu lebar-lebar, Ia rmelepaskan karung berisi daun-daun kamboja dari punggungnya ke pojokan ruang depan.
Brug! Karung berisi daun-daun kamboja terhempas ke lantai yang masih berupa tanah.
Sunoto panik. Suara brug itu menandakan kepulangan ibunya. Secepat kilat ia berpikir, bagaimana caranya menyembunyikan Slamet.
Slamet yakin Bu Pinah pulang. Ia menduga berdasarkan bunyi derit pintu dan suara sesuatu menghempas tanah.
"Sembunyi di kolong, Mas!" suruh Sunoto kepada Slamet. Wajahnya sangat pucat dan tampak panik.
Slamet mengulas senyum sekadar menangkan Sunoto. "Tidak apa-apa, biar aku nanti yang bicara pada ibumu."
Alih-alih tenang, Sunoto semakin panik. Apalagi suara gesekan sandal ibunya semakin jelas terdengar. "Kalau tidak, lewat pintu belakang!"
Slamet merasa datang dengan niat baik, masuk ke rumah pun atas seizin Sunoto. Sehingga ia tidak akan pergi secara diam-diam.
Sejatinya Bu Pinah akan langsung ke dapur. Namun ketika sampai di depan kamar Parno, ia merasakan kejanggalan ketika melihat pintunya yang terbuka. Anaknya selalu menutup pintu, baik siang maupun malam dan tidak memperbolehkan siapa pun memasukinya, termasuk ibunya. Ia pun masuk untuk mencari tahu sebab kejanggalan tersebut.
Seketika wajah Bu Pinah merah padam melihat seorang pemuda asing berada di kamar anaknya.
Sunoto ketakutan melihat ibunya. Ia menunduk pasrah.
Bu Pinah menatap Sunoto dengan emosi meluap-luap. “Sunoto! Kenapa kamu biarkan orang ini masuk rumah?”
Sunoto tercekat, tidak berani menjawab pertanyaan ibunya.
Bu Pinah menunjuk muka Slamet. “Pergi dari sini!”
Slamet berusaha menenangkan Bu Pinah. “Maaf, saya hanya berusaha untuk....”
“PERGI!” Bu Pinah menunjuk pintu kamar, mengusir Slamet.
“Baik, sebelum pergi, mohon maafkan atas kelancangan saya. Saya hanya ingin menepati janji kepada Parno.”
“PERGI!” Suara Bu Pinah melengking, membuat Parno terbangun.
“Mas Parno sudah bangun!” teriak Sunoto.
Parno mengucek mata, memandang satu per satu orang yang berada di kamar. Ketika pandangannya tertumbuk kepada Slamet, ia gembira. “Kamu datang juga!”
“Iya, aku datang untuk menunjukkan matahari.” Slamet tersenyum senang, tapi wajahnya meredup ketika melihat Bu Pinah sedang melotot tajam kepadanya.
“Kenapa belum pergi?” Bu Pinah berkacak pinggang.
Slamet menatap Parno sejenak. Ia sangat bersimpati kepada lelaki itu. Sayang, hari ini ia belum bisa membantunya. Dengan gontai ia melangkah keluar.
Melihat Slamet pergi, Parno bangkit, mengejarnya. “Jangan pergi! Tunggu aku!”
Slamet yang sudah berada di luar rumah, sontak menoleh. Ia tersenyum senang karena Parno mau keluar rumah.
Tangan Slamet menunjuk ke atas sambil menatap Parno. “Lihatlah, di atas sana ada matahari.”
Parno keluar rumah dengan gembira. Ia mendongak, memandang matahari dengan mata terpicing. Hatinya senang bukan main.
“Matahari selalu melewati rumahmu. Kalau ingin melihatnya, tidurlah selepas isya dan bangun sebelum subuh.” Slamet memberi saran kepada Parno, meskipun dalam hati merasa bersalah kepada Bu Pinah.
Alih-alih mendengar ucapan Slamet, Parno melompat-lompat kegirangan, menginjak-injak daun-daun kamboja.
Bu Pinah semakin marah. Ia segera menarik lengan Parno, menyeretnya masuk rumah. Ia malu kalau-kalau ulah anaknya dilihat para tetangga.
Sunoto melambai kepada Slamet. “Terima kasih ya?”
“Sama-sama.” Slamet balas melambai sambil meninggalkan rumah Bu Pinah.