Daun Kamboja

1289 Words
Pintu terbuka setengah. Seorang perempuan gemuk menyembulkan kepala. Tangannya menahan daun pintu. Ia menatap curiga seorang pemuda asing yang sedang berdiri di depan rumah. “Assalamu alaikum!” Slamet mengangguk sopan. “Apakah benar ini rumah Parno?” “Waalaikum salam!” Perempuan gemuk itu menatap Slamet curiga. “Kamu siapa?” “Saya Slamet Ghaissan, tamu Haji Bakir!” Pandangan perempuan gemuk itu meyisir tubuh Slamet dari atas sampai bawah. “Ada perlu apa?” “Saya punya janji dengan Parno.” Perempuan gemuk itu mengernyit. Sorot matanya menyiratkan ketidakpercayaan. Parno tidak pernah bergaul, sehingga menjadi aneh jika ada orang punya janji dengan anaknya. Ia mulai menduga-duga hal buruk, barangkali saja pemuda di depannya seorang polisi atau punya masalah dengan anaknya. “Janji apa? Kalau urusan hutang, saya tidak mau tahu!” Slamet mencoba memahami situasi. Ia menjelaskan. “Tadi malam Parno meminta saya untuk mencarikan matahari. Katanya sudah sebulan ini ia tidak pernah menjumpainya. Saya menyanggupinya dengan tujuan agar ia mau pulang.” “Parno sudah di rumah. Ia sedang tidur, jadi kamu bisa meninggalkan tempat ini.” Slamet paham, perempuan gemuk itu mengusirnya untuk melindungi Parno. “Baik, saya permisi, maaf telah mengganggu. Assalamu alaikum!” “Waalaikum salam!” Perempuan gemuk itu menutup pintu dan menguncinya. Slamet bergeming, kecewa karena tidak berhasil menemui Parno. Dengan langkah gontai ia bergegas menuju gedung madrasah. *** Slamet tertegun memandang gedung berlantai dua di hadapannya. Ia nyaris tidak percaya dengan penglihatannya. Sebelumnya ia menduga madrasah itu hanya sebuah bangunan biasa yang sudah lapuk, ternyata ia keliru. Terlepas dari banyaknya sarang laba-laba dan kondisinya yang kotor, gedung itu tampak kokoh. Gedung madrasah berbentuk ‘L’ itu lantainya keramik. Rangka atapnya dari baja ringan, menopang genting-genting kualitas tinggi. Di setiap ruangan terdapat kaca berbingkai kayu jati. Anak tangga tersusun melingkar, menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua. Halaman madrasah lantainya dari paving block. Sayang di sela-sela antar sambungannya ditumbuhi rumput liar. Slamet menjelajahinya. Ia menemukan jejak garis lapangan bulutangkis yang sudah tidak utuh karena tertutup rumput dan tertimbun tanah. Slamet membayangkan, seandainya gedung itu terawat pasti menjadi bangunan paling megah di kampung ini. Sayang, kemegahannya menjadi sia-sia karena telah lama mangkrak. Lamunan Slamet terusik oleh suara kemresek. Ia menoleh ke sumber suara. Tampak olehnya seorang perempuan gemuk sedang memasuki tempat pemakaman umum, di sebelah madrasah. Itu adalah orang yang ia temui tadi di rumah Parno. Rasa penasaran membawa langkah kaki Slamet untuk membuntuti perempuan gemuk itu. Ia berjingkat, menghindari daun-daun jati yang berserakan agar tidak menimbulkan suara. Mendadak perempuan gemuk itu menoleh. Matanya mengawasi sekitar, menyadari ada orang tidak jauh darinya. Slamet buru-buru bersembunyi di balik pohon jati. Dari tempatnya ia bisa dengan jelas mengamati gerak-gerik perempuan itu. Perempuan gemuk itu memetik daun-daun kamboja, memasukannya ke dalam karung. Setiap kali menemui pohon kamboja, ia pasti memetik daun-daunnya. Ia menyisir ke seluruh area pemakaman, tak ada satu pun pohon kamboja yang terlewat. Setelah merasa cukup, perempuan itu mengikat bagian atas karung, lantas menggendongnya di punggung menggunakan selendang. Slamet segera bersembunyi di balik rerimbunan semak, ketika perempuan gemuk itu berjalan tertatih, menuju ke arahnya. Nyaris saja Slamet terpekik ketika seekor ular keluar dari semak-semak, menuju ke arahnya, tinggal berjarak beberapa langkah darinya. Jika ia keluar dari persembunyian maka si ibu gemuk itu akan mengetahui keberadaannya. Namun jika ia tetap berada di situ, bahaya akan mengancamnya. Slamet menahan napas, mencoba tenang sambil siaga. Ular terus bergerak. Arahnya sedikit berbelok dan lewat begitu saja. Slamet menghela napas lega. Bahaya sudah lewat. Namun kini ia kehilangan jejak si ibu gemuk pemetik daun kamboja yang tadi dilihatnya. Slamet keluar dari persembunyian. Pandangannya beredar. Rupanya si ibu gemuk itu telah berjalan jauh darinya. Ia penasaran, untuk apa daun-daun kamboja itu? Perang batin melanda hati Slamet. Rasa penasaran menggodanya untuk mengikuti perempuan gemuk itu, tapi di sisi lain ia merasa itu tidak etis dilakukan. Ia tak mau terlalu jauh ingin tahu urusan orang. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak menuruti rasa penarasan. Ia punya tugas yang lebih penting, yaitu membersihkan gedung madrasah. Dengan perlengkapan seadanya, Slamet membersihkan seluruh ruangan madrasah, Mulai dari menyapu lantai, mengelap kaca, sampai membersihkan kamar mandi. Sebelum azan zuhur berkumandang, Ida dan Isna datang, membawa minuman dan menu makan siang. Kedua anak perawan Haji Bakir itu ikut membantu membersihkan dan menata bangku-bangku. Selepasnya mereka makan siang bersama di dalam salah satu ruangan. Isna yang sudah akrab, tanpa malu-malu berceloteh tentang kondisi madrasah sebelum tutup. Ida lebih banyak diam, hanya sesekali ikut tertawa ketika obrolan terselipi candaan. Tiba-tiba Slamet teringat perempuan gemuk yang tadi memetik daun-daun kamboja. Perempuan itu juga yang ia temui di rumah Parno. “Kalian kenal Parno?” Isna menyahut, balik bertanya. “Yang stres itu?” “Isna!” Ida menghardik. “Tidak baik menilai orang seperti itu.” Isna tidak menggubris hardikan kakaknya. “Memang stres kok! Setiap hari mencari matahari.” Ia terkekeh sendiri. “Kenapa ia bisa menjadi seperti itu?” Slamet bertanya, penasaran. Sebelum Isna menjawab secara asal-asalan, Ida buru-buru menjelaskan. “Parno itu anak Bu Pinah. Rumahnya di depan pos kamling. Dulu ia seorang pengumpul daun-daun kamboja, kemudian menjemurnya. Setelah kering, daun-daun itu dibeli seseorang dari kota. Dari pekerjaannya itu ia menghasilkan banyak uang sampai bisa membeli sepeda motor dan barang-barang elektronik.” “Untuk apa daun-daun itu?” Slamet merasa penasaran. “Daun kamboja banyak manfaatnya.” Ida menjawab. “Daun kamboja kering bermanfat untuk menurunkan suhu tubuh, mengobati radang gusi, radang tenggorokan, bibir pecah-pecah, menambah nafsu makan, dan pengobatan herbal lainnya.” “Aku ingat dulu waktu kecil ibu menggunakan daun kamboja untuk mengobati bisulku.” Slamet tersipu. Ida tersenyum. “Iya. Daun kamboja yang sudah diolesi minyak kelapa bisa mengobati bisul dengan cara menempelkannya pada bagian tubuh yang terkena bisul.” Slamet mendengar dengan antusias. Ia kagum kepada Ida, selain menguasai ilmu keperawatan, gadis itu juga paham tentang pengobatan herbal. “Pernah bisulan juga?” Isna bertanya kepada Slamet dengan nada meledek. “Iya, dulu waktu kecil.” Slamet terkekeh. “Kamu juga!” Ida menunjuk muka Isna. Isna membalas dengan menjulurkan lidah. “Jadi, Bu Pinah itu ibunya Parno?” Slamet bertanya. “Iya. Sejak Parno mengalami gangguan jiwa, ia yang meneruskan pekerjaan anaknya.” Ida menjelaskan. “Tadi ustaz bertanya kenapa ia bisa menjadi seperti itu bukan?” “Iya.” Slamet mengangguk penasaran. “Tapi jangan panggil aku ustaz.” Dahi Isna berkerut. “Bapak memanggil kamu ustaz!” “Isna!” Ida menghardik adiknya. “Tidak sopan menyebut kamu kepada orang yang lebih tua.” Slamet menengahi. “Tidak apa-apa, Ida. Biar saja Isna memanggilku seperti itu, malah akrab." Isna berkacak pinggang. “Kak Ghaissan saja tidak keberatan, kenapa Kak Ida yang sewot?” “Sudah-sudah.” Slamet berusaha melerai. Ia menoleh kepada Ida. “Jadi kenapa Parno bisa mengalami gangguan jiwa?” “Parno memang orangnya tertutup, tidak mau bergaul, bisa dibilang tidak memiliki teman. Hanya saja, sesekali ia nongkrong di warung nasi goreng Pak Dimas.” Ida menjelaskan. “Tapi di sebelah warung itu ada penjual kupon togel. Parno penasaran, terus coba-coba membelinya.” Isna menimpali. “Akhirnya ketagihan, sampai-sampai motor dan barang-barang di rumah ludes. Akibatnya ia menjadi stres.” “Kamu kok paham benar soal Parno. Jangan-jangan kamu naksir padanya.” Ida meledek adiknya. Isna tidak terima. “Bukannya terbalik? Kamu yang lebih banyak cerita tentang Parno. Aku cuma meneruskan saja.” “Aku juga tahu dari bapak.” Ida mengklarifikasi. “Makanya kalau bapak bicara didengarkan. Jangan main game terus.” Slamet garuk-garuk kepala. Pertengkaran kakak-adik di depannya menurutnya lucu. Namun Ia mencoba mengembalikan topik. “Parno mengalami depresi karena barang-barangnya ludes?” “Bisa jadi.” Ida menjawab. “Sejak tergila-gila dengan togel, Parno sering begadang, tidur sebelum subuh, bangun setelah maghrib. Bu Pinah sering memarahinya karena anaknya tidak pernah lagi bekerja.” “Lalu kenapa ia mencari matahari?” Slamet penasaran. “Pada awal-awal depresi Parno sering menjemur daun-daun kamboja pada waktu maghrib, selepas bangun tidur. Ia menunggu matahari terbit, menyangka itu pagi hari. Sambil bicara sendiri, ia tetap menunggu sampai malam, tetapi matahari tidak muncul-muncul.” Isna terbahak-bahak, mendengar cerita kakaknya. “Isna!” Ida menghardik. “Tidak sepatutnya seorang gadis tertawa seperti itu.” Isna menghentikan tawa. Wajahnya cemberut. “Kak Ida sama saja dengan bapak, cerewet!” “Dinasehati malah ngambek!” Ida menggerutu. Bersamaan dengan itu, terdengar kumandang azan zuhur. “Mari pulang!” Ida meraih lengan Isna. “Kasihan bapak, pasti nunggu lama.” “Kami pulang dulu ya, Kak Ghaissan?” Isna pamit kepada Slamet. “Assalamu alaikum.” “Waalaikum salam!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD