Keesokan harinya.
Biasanya di pagi hari sebagai CEO ia sudah datang ke kantor dan meeting bersama kliennya, tapi tidak untuk sekarang ini karena ia sudah menjabat sebagai pengangguran. Kamarnya sangat kotor karena tidak sanggup membayar jasa kebersihan serta di sana benar-benar pengap tidak terkendali. Perut sudah keroncongan, tapi dompet tidak ada uang padahal dulu ia selalu makan di restoran mahal ketimbang menyukai makanan buatan mantan istrinya.
Fabiano bangun, ia menadahkan gelas pada air keran kemudian meminumnya banyak-banyak. Mungkin saja ia bisa memperpanjang supaya tidak kelaparan, pizza kemarin pun juga langsung habis tidak tersisa dan hanya tertinggal kotaknya saja.
"Fiorella, seorang CEO wanita yang sudah sukses memangkitkan perusahaan milik keluarga yang sempat terhantam badai, berkat dukungan suaminya juga ia bisa sampai seperti ini."
Berita televisi berkumandang mengenai Fiorella, Fabiano memandangnya sembari meminum air keran yang sudah berpindah di gelas. Mantan istrinya sudah sukses tanpanya sedangkan ia hanya sebagai pengangguran tanpa arah, untung saja kini mereka sudah tidak satu kota lagi dan Fiorella tidak akan melihat kondisi Fabiano yang mengenaskan.
Terdengar suara pintu terketuk, Fabiano menaruh gelas di atas nakas kemudian membuka pintunya, seorang gadis muda sudah ada di depan pintu apartemennya sembari tersenyum kecil.
"Aku bawakan spagetti buatanku sendiri dan jus jeruk," ucap Flavia.
Fabiano langsung merebutnya tanpa basa-basi, ia sudah sangat kelaparan dan memakannya dengan lahap. Flavia melihat kondisi kamar Fabiano yang benar-benar seperti tong sampah, ia merasa kasian pada pria itu padahal dulu hidup Fabiano bergelimang banyak harta.
"Masuklah!" ucap Fabiano.
Flavia masuk ke dalam dan menutup pintu, aroma kamar itu tidak enak sekali bahkan rasanya Flavia ingin muntah, tapi dia tahan untuk menghargai pria duda itu.
"Pakaianmu rapi begini mau ke kampus?" tanya Fabiano.
"Tidak, aku ingin bertemu denganmu," jawab Flavia.
"Apartemen kita bersebelahan, kenapa harus repot-repot seperti ini?" tanya Fabiano.
"Tak apa.”
Fabiano menghabiskan makanannya sementara Flavia menatap tali yang masih tergantung di atas pintu balkon. Setelah makanan itu habis, Fabiano memberikan piring itu pada Flavia kemudian meminum jus jeruk sampai habis tidak tersisa.
"Boleh aku membersihkan kamarmu?" tanya Flavia.
Fabiano menggelengkan kepala. "Tidak perlu, aku akan membersihkannya sendiri."
"Aku bantu bersihkan mumpung hari ini aku tidak ada kuliah," jawab Flavia.
Flavia berdiri kemudian mengambil penyedot debu di apartemennya sendiri kemudian membersihkan apartemen duda depresi tersebut. Sebelumnya dia memungut sampah-sampah padat yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke plastik besar. Fabiano hanya duduk saja karena dia sedang kekenyangan.
"Kenapa kamu mau seperti ini pada pria yang kamu baru kenal?" tanya Fabiano.
"Aku setiap hari menonton beritamu di televisi dan tentu saja aku tahu kamu karena itu. Siapa yang tidak akan terkesima dengan ketampanan Fabiano? Semua gadis mengidolakanmu," jawab Flavia.
"Itu dulu, sekarang aku hanya pengangguran yang sudah gagal. Kamu jangan dekati aku lagi! Aku bukan orang yang baik."
Flavia menatap Fabiano. "Namun, di mataku kamu itu orang baik dan aku tidak peduli masa lalu mu karena penggemar sejati tidak akan peduli pada keburukan idolanya."
Fabiano merasa senang mendengar ucapan itu, baru kali ini ada wanita yang memujinya dengan tulus beserta polos. Flavia melanjutkan membersihkan kamar itu sampai bersih kemudian membuang sampahnya di depan supaya diambil petugas kebersihan sewaannya. Dia juga menyemprot apartemen itu dengan wewangian supaya nyaman untuk ditinggali.
"Sudah selesai," ucap Flavia senang.
"Wow, sudah lama aku tidak melihat pemandangan seperti ini," jawab Fabiano.
"Kebersihan harus dijaga dan jangan pemalas! Kamu harus membayarku untuk ini," ucap Flavia.
Fabiano mengernyitkan dahinya karena bingung. "Aku harus bayar?"
Flavia mengangguk. "Tentu saja, hari ini temani aku jalan-jalan!"
"Tidak bisa, aku tidak pernah keluar dari apartemen kecuali ke minimarket saja."
"Ayolah! Apa kamu tidak bosan di apartemen? Hidup terus berjalan maju dan jangan sia-siakan waktumu karena masa lalu!"
Fabiano tetap tidak mau, dia naik ke atas ranjang dan malah merebahkan diri di sana. Keluar dari apartemen sama saja membunuhnya perlahan apalagi dia tidak punya uang. Flavia menghela nafas panjang, ia paham kondisi Fabiano sekarang dan mungkin membutuhkan waktu untuk bersosialisasi.
"Setidaknya mandilah! Tubuhmu benar-benar kotor, aku juga mau kembali ke kamarku dulu! Bye!" ucap Flavia.
"Via, terima kasih," jawab Fabiano.
"Tak masalah, tetangga memang harus membantu."
Flavia keluar dari sana dan menghela nafas panjang, mungkin dia sudah gila mendekati Fabiano sampai seperti ini, tapi dia bersyukur karena idolanya baik-baik saja setelah bercerai dengan mantan istri.
***
Siang hari.
Flavia membawa makanan lagi, Fabiano memakannya dengan lahap. Rupanya pria itu sudah mandi seperti yang Flavia inginkan, kali ini Flavia juga memakai pakaian apa adanya yaitu baju tanpa lengan dan celana pendek sepaha.
"Malam nanti aku tidak bisa mengirim makanan, aku harus ke rumah teman untuk mengerjakan tugas," ucap Flavia.
"Kenapa harus malam hari?" tanya Fabiano.
"Karena dia ada waktu jam segitu, aku ingin meminjam laptopnya, aku juga masih berjuang untuk membeli laptop. Anak kuliahan sepertiku jika tidak punya laptop sangat kesulitan sekali," jawab Flavia.
Fabiano meletakkan piringnya kemudian mencari sesuatu. Ya, dia masih punya laptop dan ia tidak menjualnya walau dalam keadaan darurat.
"Kamu bisa pinjam punyaku dan kerjakan di sini saja ketimbang malam-malam harus keluar," ucap Fabiano.
"Eh, ini masih nyala?"
Fabiano mengangguk. "Itu termasuk keluaran terbaru yang aku beli setahun yang lalu."
Flavia menerimanya dengan senang hati, Fabiano lega karena bisa membalas kebaikan Flavia. Mata Fabiano pun menatap bagian gunung kembar yang menyegarkan, dia adalah pria normal yang pasti terpancing melihat itu.
"Aku mau ambil tugasku dulu. Aku akan kerjakan di sini," ucap Flavia.
Beberapa menit kemudian gadis itu datang lagi membawa beberapa bukunya, sedangkan Fabiano sudah selesai makan dan melirik paha mulus itu. Dia harus mengontrol diri supaya gadis itu tidak takut kepadanya dan tidak berpikiran buruk tentangnya.
"Kamu sempat menjadi CEO. Kamu pasti paham mengenai yang ini? Bisa bantu aku?" tanya Flavia.
Fabiano mengangguk, dia mendekati Flavia dan sikunya tidak sengaja menyenggol gunung kembar itu. Mereka bertatapan karena kaget.
"Maaf," ucap Fabiano.
"Agak sakit," jawab Flavia.
"Ah! Maaf, aku sungguh tidak sengaja."
Flavia hanya mengangguk kemudian membuka laptopnya, tentu saja dia menunduk saat mengetik pada laptop dan menunjukkan gunung kembarnya lagi. Fabiano menelan ludahnya kasar, ia pria normal dan tidak bisa menahannya. Saat bersamaan Fabiano menarik kepala Flavia kemudian menciumnya. Ya, ini salah, tapi Fabiano tetap menyalahkan Flavia karena berani datang ke rumah duda yang haus akan belaian.