Flavia terpaku dengan ucapan duda tetangga tersebut, kenapa pria itu mendadak mengajaknya menjalin hubungan padahal mereka baru saling kenal. Apa ini hanya mimpi saja? Tiba-tiba Fabiano mencubit pipi Flavia sambil tersenyum kecil.
"Kenapa melamun? Mau atau tidak?" tanya Fabiano.
"Aku harus kembali ke apartemen," jawab Flavia panik.
Gadis itu langsung berlari menghindar kemudian masuk ke dalam apartemen, jantungnya berdegup dengan kencang tapi dia sangat senang. Pria yang menjadi idolanya tiba -tiba seperti sedang mengajaknya menjalin hubungan walau sebatas sugar baby dan sugar daddy. Flavia berkaca di cermin, ia melenggang di depan sana sambil memperhatikan tubuhnya yang lumayan seksi. Dia tidak secantik mantan istri dari Fabiano, tapi bukankah Flavia punya daya tarik sendiri?
Flavia keluar dari apartemennya, ia kaget saat Fabiano sudah ada di depannya sambil menunjukkan wajah penuh pertanyaan.
"Mengenai pertanyaanku tadi jawabanmu bagaimana?" tanya Fabiano.
"Ehm, ini agak mendadak, jika aku langsung menerima maka aku akan dianggap perempuan gampangan," jawab Flavia.
"Siapa yang akan menganggapmu seperti itu? Hubungan ini hanya kita saja yang tahu. Bagaimana?" tanya Fabiano.
Flavia berpikir sejenak, tentu saja Fabiano tidak akan mengumbar hubungan ini, dia pun lantas mengangguk membuat Fabiano senang. Pria itu masuk ke dalam apartemen Flavia sambil memeluknya erat.
"Kamu alasanku untuk bertahan hidup, jadi jangan pernah membuatku sedih!" ucap Fabiano.
Saat ini mereka resmi menjalin hubungan, Flavia senang sekali karena bisa sedekat ini dengan pria idolanya apalagi apartemen mereka hanya sebelahan. Setelah itu mereka mengadakan pesta kecil untuk merayakan hari ini, Flavia membelikan beberapa cola dan mereka minum bersama sampai larut malam sambil menonton film romantis, sesekali mereka juga berciuman panas.
Ini sangat menyenangkan bagi Flavia, dia bisa pamer dengan teman-temannya jika ia punya kekasih tampan serta anak orang kaya walau sekarang sedang melarat.
"Bolehkah kita foto berdua lalu aku bagikan kepada teman-temanku?" tanya Flavia.
"Jangan! Kamu akan malu karena menjalin hubungan denganku, alangkah baiknya hubungan ini diam-diam saja," ucap Fabiano.
Flavia nampak kecewa, tapi ya sudahlah. Mereka menghabiskan malam panas ini dan tidak lupa berbagi kehangatan. Flavia juga bukan gadis yang polos dan paham akan hal tersebut. Mereka terus melakukannya sampai berkali-kali dalam kurun waktu beberapa jam sampai keduanya kelelahan dan tidur sambil berpelukan erat.
Keesokan harinya.
Flavia bangun pagi-pagi sekali dan menyadari tidak mengenakan satu helai benang satu pun, dia lekas memunguti semua pakaiannya kemudian memakainya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi yang menandakan satu jam lagi kelas akan dimulai. Suara serak basah seolah baru saja bangun terdengar, siapa lagi jika bukan Fabiano?
"Sayang, mau ke mana?" tanya Fabiano.
"Aku harus berangkat ke kampus," ucap Flavia.
"Apa tidak bisa bolos saja? Aku sangat ingin memelukmu siang ini," ucap Fabiano.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, dosen kali ini sangat galak dan jika aku membolos sangat gawat."
Pria itu mendadak memeluknya dengan erat sambil berbisik manja di telinga Flavia. "Aku tunggu kepulanganmu, tadi malam kita benar-benar bergairah."
Bulu kuduk Flavia merinding, ia tersenyum kecil kemudian mereka berpagutan mesra. Apakah ini cinta satu malam? Sungguh pengalaman yang tidak bisa dilupakan bagi Flavia.
"Oke, aku akan berangkat ke kampus dulu! Aku sayang kamu, Daddy!"
"Daddy? Oke, baby-ku."
Setelah kepergian Flavia, Fabiano menuju ke kamar mandi lalu mencuci mukanya, punggungnya terasa perih karena permainannya dengan Flavia tadi malam. Sungguh dia mendapatkan mangsa empuk dalam sekali godaan saja. Ponselnya berdering di saat bersamaan, ia melihat nama di layar ponsel yang ternyata adalah orang tuanya.
"Hallo, Pah?" ucap Fabiano ketika sudah mengangkat telepon.
"Fabiano, kapan kamu akan kembali ke perusahaan? Setahun sudah berlalu dan bagi Papa itu waktu yang cukup untuk berhibernasi. Sekarang kembalilah ke perusahaan! Perusahaan saat ini sangat membutuhkanmu," jelas Papa.
"Aku belum bisa bahkan selama ini saja kalian tidak peduli padaku termasuk aku makan apa di sini. Aku sering kelaparan dan kalian tidak pernah mengirim pesan kepadaku. Sekarang saja membutuhkanku baru menghubungiku," ucap Fabiano.
"Papa hanya ingin membantumu.”
Fabiano mematikan ponselnya, dia sudah tidak peduli menjadi seorang CEO lagi, ia sudah punya mainan baru yaitu Flavia. Gadis polos itu sepertinya mudah untuk dimanfaatkan, dia bisa membelikannya makanan serta minuman, membersihkan apartemennya bahkan menjadi pemuas ranjangnya. Sungguh jahat sekali pikiran Fabiano, dia mampu menjebak gadis tidak tahu apa-apa tersebut.
Sore hari.
Flavia datang membawa makanan serta minuman, Fabiano memakannya dengan lahap tanpa memperdulikan Flavia yang memandangnya dengan kagum.
Fabiano terbatuk dan Flavia lekas memberinya minuman.
"Hati-hati! Aku tidak akan minta kok," ucap Flavia.
"Hem, kamu ada uang lagi? Aku ingin membeli rokok," ucap Fabiano.
Flavia mengeluarkan dompetnya, uangnya tidak banyak, tapi cukup untuk membeli rokok. Fabiano mengambil uang di dompet yang tidak seberapa itu kemudian pergi ke minimarket terdekat. Flavia tidak ikut karena akan mencuci pakaian kotor milik Fabiano, bisa-bisanya Flavia dibodohi CEO kere seperti Fabiano.
1 bulan kemudian.
Hubungan mereka masih seperti ini, hubungan ini disebut parasitisme karena hanya satu pihak yang diuntungkan, Flavia semakin cinta kepada Fabiano, tapi pria itu sepertinya hanya main-main saja.
"Sayang, aku besok akan pulang ke Roma, orang tuaku menyuruhku pulang karena rindu. Kamu mau ikut?" tanya Flavia.
"Via, pulanglah! Aku tidak bisa kemana-mana," jawab Fabiano.
"Kamu janji akan menungguku?"
"Tentu saja."
Mereka lalu berciuman dengan mesra, sampai detik ini Flavia tidak sadar sudah dimanfaatkan oleh Fabiano. Selepas itu mereka berpisah sebentar saat Flavia kembali ke Roma sedangkan Fabiano tentu saja menghabiskan waktu di kamar sendirian sambil menghabiskan makanan yang dibelikan oleh sugar baby-nya itu. Di luar dugaan, orang suruhan orang tuanya datang untuk membawanya kembali ke rumah. Fabiano mengelak, tapi dia malah dibius dan pada akhirnya pingsan. Di saat itulah mereka membawa Fabiano kembali ke Roma dan harus menjalankan bisnis perusahaan orang tuanya.
Sesampainya di Roma.
Mata Fabiano terbuka, ia mengerjap sambil mengingat apa yang terjadi.
"Aku di mana?"
"Sudah bangun?"
Seorang wanita tua sudah ada di kamarnya sambil menekan remot tirai supaya terbuka, sinar mentari masuk dan membuat mata Fabiano silau.
"Mama, apa ini ulah kalian? Kenapa kalian memaksaku pulang padahal sebelumnya tidak pernah peduli kepadaku?" tanya Fabiano.
"Tentu saja karena kami rindu padamu. Oh iya, perusahaan sangat membutuhkanmu. Lupakan masa lalu dan bangunlah masa depan yang cerah!" jawab sang mama.
Fabiano mengusap wajahnya kasar. "Aku masih trauma dengan perusahaan, terakhir kali aku menghancurkannya."
"Kami tidak mempermasalahkan itu karena kesalahan ada pada mantan istrimu. Sekarang lupakan semua hal yang menyakitkan dan bangun rumah tanggamu kembali! Mama dan Papa sudah ada calon istri untukmu bahkan lebih terbaik dari mantan istrimu," jelas Mama.
"Apa Mama bilang?" tanya Fabiano kaget.