Perasaan Yang Hadir

1503 Words
Kelompok 5 Husein Rohman Indah Tasya Fikri Arfan Haneefa Tulisan daftar nama anggota kelompok tugas sejarah yang terpampang jelas pada papan tulis kelas yang menggunakan spidol berwarna hitam itu spontan membuatku mengerjap beberapa kali. Bagaimana tidak, pasalnya dalam daftar nama anggota kelompok tersebut terdapat nama Arfan. Memang, sudah sejak beberapa bulan terakhir ini pada semester satu di kelas X, aku baru menyadari satu hal bahwa ternyata aku telah termakan oleh kebohonganku sendiri kepada Raihan pada beberapa waktu yang lalu. Ya, aku mengakui bahwa kini aku mulai menyukai Arfan. Selain karena sikapnya yang baik setelah semakin lama mengenalnya, alasan lainnya mengapa aku bisa menyukai Arfan, itu karena ternyata ia termasuk laki-laki yang suka dengan kebersihan dan memiliki otak yang cukup pintar. Terbukti saat ujian tengah semester waktu lalu, rata-rata nilai raport miliknya bagus. Bahkan ia mendapat peringkat ke-2 di kelas. Berbeda sekali denganku yang bisa dikatakan tidak terlalu mendapatkan nilai raport yang bagus sama sepertinya. Mengenai sosok Arfan, banyak yang mengatakan dari teman perempuan satu kelasku bahwa laki-laki itu juga termasuk laki-laki yang tampan. Tapi bagiku Arfan tidak terlalu tampan, karena yang aku lihat memang bukanlah itu darinya. Melainkan sikap dan kepribadiannya yang cukup menarik perhatianku, hingga tanpa sadar hal itu mampu membuatku menjadi benar-benar menyukainya dalam diam. Terlebih, sudah beberapa hari ini tempat duduk Arfan dan Hendra juga menjadi berpindah tepat di belakang tempat dudukku dan Muthia yang secara tidak langsung menggantikan posisi Fifi dan Dewi yang semula duduk di sana. Oleh karena itu, semakinlah membuat perasaanku kepada Arfan meletup-letup tidak keruan. Seperti saat ini. Hanya karena melihat nama Arfan yang tertera jelas di atas namaku dalam daftar nama kelompok tugas sejarah, kontan membuat perasaanku kembali meletup-letup. Aku memang menyukai Arfan, tapi bukan berarti aku juga menyukai hal-hal yang dapat membuatku menjadi dekat dengannya. Tidak! Aku cenderung lebih suka menjauhinya atau menjaga jarak daripada berdekatan dengannya. "Fa, kamu satu kelompok sama Arfan?" bisik Muthia, menatapku jail. Aku melirik Muthia, ragu. "Gimana, ya?" "Gimana apanya?" tanya Muthia, heran. "Iya itu ... aku satu kelompok sama Arfan." Jawabku, lirih. Muthia mengulum senyumnya menatapku. "Hmm ... ya, alhamdulillaah dong kalau gitu." Aku menatap Muthia, cemberut. "Ish ... alhamdulillaah apanya coba?" Mendengar itu Muthia malah semakin tersenyum lebar menatapku. "Kamu itu suka sama Arfan, 'kan? Kalau kamu satu kelompok sama dia sekarang ... ya itu baguslah, supaya kalian bisa dekat. Pedekate gitu istilahnya." Muthia memang sudah mengetahui tentang perasaanku terhadap Arfan. Itu karena Raihan sempat keceplosan mengatakannya kepada Muthia di saat aku belum benar-benar menyukai Arfan. Tepat setelah Muthia berkata begitu, aku pun hanya bisa terdiam dengan air muka yang antara cemberut dan gelisah. Jujur saja, aku merasa tidak nyaman jika harus satu kelompok dengan Arfan seperti sekarang di saat hatiku diam-diam menaruh rasa kepadanya. "Haneefa." Mendengar suara seseorang yang tiba-tiba memanggilku dari arah belakang, kontan membuatku terkejut. Lantas menoleh ke arahnya. Deg. Seketika detak jantungku semakin berdetak kencang tatkala tahu siapa yang baru saja memanggil namaku tadi. "Iya?" Sahutku, menolehnya ragu. "Kita satu kelompok, 'kan?" tanya Arfan, berdiri berhadapan denganku yang saat ini sedang menghadap padanya meskipun jarak kami tidak terlalu berdekatan. Ya benar, seseorang yang baru saja memanggil namaku tadi adalah Arfan. Sambil berusaha menetralkan perasaanku, aku menjawab pertanyaannya dengan lirih. "Iya, kita satu kelompok." Saat ini air muka Arfan sama sekali tidak menunjukan ekspresi gugup ataupun salah tingkah sama sepertiku. Ia malah terlihat lebih tenang. Ah, memang mengapa juga Arfan harus menunjukan ekspresi yang sama sepertiku? "Jadi gimana?" Tanya Arfan ambigu, kontan membuatku merasa bingung "Gimana ... maksudnya?" tanyaku balik bertanya dan memberanikan diri. "Ya, gimana, kapan kita mau ngerjain tugas itu?" tanya Arfan lagi, terlihat canggung karena melihatku yang sama sekali tidak mau menatapnya saat bicara. Tanpa Arfan ketahui, saat itu aku masih berusaha untuk bersikap biasa saja sembari menetralkan detak jantungku saat berhadapan dengannya. "Mm ... aku gak tau," cicitku, bingung harus menjawab apa. Sebetulnya aku merutuki diriku sendiri saat itu juga karena telah menjawab demikian sambil menundukan kepala—tidak menatap Arfan. Arfan pasti akan menganggap diriku aneh hanya melihat dari gelagatku saja dan aku merasa sangat malu karena itu. "Kalian itu dapet tugas yang datang ke Museum, bukan?" kali ini suara Muthia yang memecahkan keheningan di antara aku dan Arfan. "Iya," jawab Arfan tanpa ragu, beralih menoleh Muthia yang berdiri di sampingku. "Besok aja kalau gitu kalian ke Museumnya," Muthia memberi saran. "Besok?" Aku membeo tanpa sadar. "Iya, lagian bukannya besok kita pulang sekolah jam dua siang, ya? Jadi kalian masih ada waktu untuk pergi ke Museum setelah pulang sekolah nanti." seloroh Muthia, membuat Arfan terdiam mencerna dan memikirkan ucapannya. Sementara aku malah bergeming. Jangankan untuk mencerna atau memikirkan ucapan Muthia, berpikir untuk pergi ke Museum bersama Arfan saja rasanya aku tidak sanggup. Apa kabar dengan kondisi hatiku nanti? Aku terlalu gugup jika berdekatan dengan Arfan meskipun untuk tugas sekolah. "Ya udah, nanti malam kita bicarain ini lagi," putus Arfan, membuatku langsung menatapnya bingung. "Malam ini ... gimana maksudnya?" Tanyaku, menahan malu. "Iya, malam ini lewat personal chat di Line. Nanti aku chat kamu," Jawab Arfan, kontan membuat kedua pipiku memanas. "Nanti malam aku chat untuk bicarain lagi tentang tugas ini, sekalian kasih tahu anggota kelompok kita yang lainnya." Tambah Arfan, memberitahu. Tanpa berniat bersuara lagi, saat itu aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban atas perkataan Arfan. Sungguh, aku tidak tahu harus bagaimana saat ini. Mengapa di saat aku sudah termakan oleh kebohonganku sendiri kepada Raihan waktu itu, aku malah ditakdirkan satu kelompok dengan Arfan? Yaa Allaah ... .......... Pagi ini di dalam kelas aku duduk dengan gelisah di bangkuku dan ditemani oleh Muthia. Muthia yang duduk di sampingku berulang kali menatapku heran. Pasalnya sejak awal memasuki kelas ketika bel masuk sekolah belum berbunyi, aku memang dibuat gelisah karena teringat perihal tugas sejarahku dan obrolan dengan Arfan malam kemarin melalui chatting. Arfan mengatakan untuk pergi Museum nanti hanya aku dan dirinya saja berdua, karena mengingat anggota kelompok kami yang ternyata terlihat susah untuk diajak bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Tentu saja karena alasan tersebut aku semakin merasa gelisah dengan keputusan Arfan. "Mut, gimana dong?" Rengekku, setelah menceritakan apa yang membuatku gelisah pagi ini sebelum masuk kelas kepada Muthia. Untung saja, keadaan kelasku saat itu masih sepi. Hanya ada sekitar lima orang saja yang sudah datang ke sekolah dan berdiam di dalam kelas. "Yah ... gimana, ya. Aku juga bingung, sih." Muthia menggaruk tengkuknya, tidak gatal. Aku menipiskan bibirku. "Aku gak mau, lho, Mut. Aku gak mau kalau harus berduaan sama Arfan ngerjain tugasnya," rengekku, lagi. "Ish, padahal, 'kan, gak apa-apa kali, Fa." Kata Muthia yang kali ini berdecak, membuatku cemberut. Beberapa menit berlalu, air mukaku yang semula terlihat gelisah kontan berubah menjadi terkejut ketika mendapati sosok Arfan yang sudah datang memasuki kelas dan berjalan menuju mejanya yang berada tepat di belakangku. Sebelum itu terjadi, aku sempat mencolek-colek lengan Muthia yang duduk di sampingku. Aku gelisah dan mencoba mencari bantuan pada teman satu bangkuku itu. "Aduh ... jangan colek-colek mulu, deh, ah!" Suara Muthia ini seketika menarik perhatian Arfan yang hendak berjalan melewati mejaku. Namun sebelum Arfan berhasil mengambil langkah lagi menuju mejanya, Muthia menahan langkah Arfan dengan memanggil nama laki-laki itu. "Eh, Arfan!" Kontan Arfan menoleh ketika mendengar namanya dipanggil oleh Muthia yang tak lupa dengan alisnya terangkat satu, heran. "Ya?" Muthia melirikku sebentar, sebelum ia kembali menatap Arfan. "Kamu mau ke Museum ya hari ini sama Haneefa?" Tanya Muthia, membuat Arfan terheran dan menatapku seolah bertanya bagaimana Muthia bisa mengetahuinya. Dengan malu karena paham maksud tatapan Arfan, aku pun bersuara. "Mm .. ya, gitu." Lirihku, tidak jelas maksudnya. "Haneefa kasih tahu aku tadi," seloroh Muthia, memperjelas maksud ucapanku. Karena sudah paham, Arfan pun bergeming sesaat sebelum angkat bicara. "Hmm, iya. Insyaallaah, hari ini aku mau ke Museum sama Haneefa." Kata Arfan, menjawab pertanyaan Muthia yang sempat tertunda tadi. "Emang kamu tahu arah jalannya untuk ke Museum nanti?" Tanya Muthia lagi, tanpa ragu. Anehnya, hal itu diam-diam membuatku meringis. "Mm, gak tahu, sih." Jawab Arfan, terdengar ragu. "Jadi gak tahu?" Muthia terkejut, membuat Arfan mengangguk. "Iya," Arfan beralih menatapku. "Mungkin Haneefa tahu," sambungnya, membuatku mendongak menatapnya setelah sejak tadi menunduk. "A-aku?" Aku membeo sembari menunjuk pada diriku sendiri. Arfan mengangguk. "Iya, kamu tahu?" Tanyanya, terlihat ragu karena air mukaku yang memang meragukannya. Sembari diam-diam menggigit bibir dalamku, aku menggeleng. "Nggak, aku juga gak tahu." Jawabku, kontan membuat Arfan menghela nafas. "Aku tahu!" Seketika aku dan Arfan kembali menoleh ke arah Muthia yang baru saja memekik. "Aku tahu, kok, arah jalan ke Museumnya," tambah Muthia, bersemangat. "Wah, bagus." Saat itu juga air muka Arfan berubah menjadi berbinar setelah mendengar ucapan Muthia, sebelum akhirnya kembali meredup seolah baru teringat sesuatu. "Tapi .. kamu, 'kan, bukan anggota kelompok aku dan Haneefa," "Alah, gak apa-apa. Aku bisa bantu, kok. Yah ... sekalian temenin Haneefa juga," Muthia menimpali, menatapku penuh arti. Ah, aku baru tahu. Ternyata sahabatku yang satu ini memang bisa diandalkan. "Boleh, sama Muthia gak apa-apa." Kataku, berubah senang. "Gimana?" Tanya Muthia, kembali menatap Arfan yang masih bergeming. Akhirnya Arfan menghela nafas, sebelum menjawab pertanyaan Muthia dengan pasrah. "Kalau kamu gak keberatan, boleh. Tapi makasih sebelumnya ya, Mut." - Bagaikan Dandelion - Sfrdssyh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD