Siang ini tepatnya di kelasku, saat itu kelas sedang tidak ada Guru alias sedang jam kosong. Hari itu Guru yang seharusnya mengajar, beliau tidak bisa hadir karena sedang izin ada rapat dadakan dengan kepala sekolah dan dinas. Aku yang tidak pernah membawa ponsel ke sekolah, jujur saja di jam kosong seperti itu aku benar-benar merasa bosan. Sementara itu, ketika aku melihat teman-temanku yang berada di dalam kelas, mereka malah terlihat cenderung lebih asik sendiri dengan gadget masing-masing, hanya ada beberapa saja dari mereka yang pergi keluar kelas dan pergi ke kantin.
Mengenai teman satu bangkuku bagaimana ketika sedang jam kosong, maka jawabannya adalah teman satu bangkuku itu malah tertidur di kelas. Ya, di saat aku sedang merasa bosan karena tidak ada kegiatan belajar mengajar di kelas, Muthia—teman satu bangkuku—malah tidur di bangkunya dengan kepala yang ia tumpu di atas meja menggunakan kedua lengannya.
Melihatnya, aku menghela nafas berat. "Lebih baik belajar daripada kayak gini," gumamku saat itu.
Beberapa menit berlalu karena suasana hatiku semakin tidak keruan, akhirnya aku memutuskan untuk pergi keluar kelas hanya sekadar untuk menghirup udara segar. Tapi sebelum aku berhasil beranjak dari bangkuku, aku tidak sengaja menoleh ke arah barisan paling belakang di belakang mejaku dan netra mataku melihat satu orang teman laki-laki di kelasku yang sedang duduk sendirian dengan ekspresi wajah yang ditekuk sedih. Aku merasa heran, ada apa dengan temanku itu?
"Hai, Raihan," sapaku, saat sudah berdiri tepat di samping meja teman satu kelasku tersebut yang sedang terlihat sedih.
Karena penasaran, akhirnya niatku untuk pergi keluar kelas tadi menjadi urung dan beralih menghampiri Raihan saja. Ya, aku ingat temanku itu memang bernama Raihan.
Raihan menolehku, lalu ia tersenyum tipis. "Hai," balasnya, menyapa.
"Mm ... boleh aku duduk di depan bangku ini dan menghadap ke arah kamu?" Tanyaku, sedikit sungkan karena jujur saja walaupun kami sudah satu kelas beberapa minggu, tapi aku belum merasa terlalu dekat dengannya.
Raihan kembali tersenyum. "Boleh." Jawabnya, terdengar ramah.
"Kenapa wajah kamu ditekuk gitu?" Tanyaku lagi, setelah duduk di bangku yang berada di hadapannya dan menghadap padanya.
"Aku ... aku gak papa." Jawabnya, terdengar ragu.
"Kamu ... yakin?" Tanyaku, memastikan.
Raihan mulai menatapku serius sebelum akhirnya ia membuang nafas kasar. "Nggak juga."
Aku mengercit, bingung. "Terus ... gimana?" Tanyaku, ragu.
"Boleh aku cerita?" Tanyanya yang akhirnya mulai mau membuka diri padaku.
Aku tersenyum. "Tentu, boleh." Jawabku, dengan senang hati.
"Aku lagi patah hati," Raihan mulai bercerita. "Aku suka sama seseorang sejak aku berteman dan dekat dengannya sebagai seorang teman."
Aku bergeming menatap Raihan yang mulai bercerita. Saat itu aku sedang berusaha untuk menjadi seorang pendengar yang baik.
"Aku suka sama dia karena dia adalah sosok gadis yang ceria, cantik, manis, dan lucu. Aku cerita sama temannya bahwa aku suka sama dia, tapi siapa yang akan tahu bahwa ternyata temannya itu malah membocorkan tentang perasaan aku yang padahal sejak awal aku udah kasih tahu temannya itu bahwa jangan katakan soal perasaan aku pada siapapun, termasuk kepada gadis yang aku sukai itu."
"Jadi kamu lagi suka sama seseorang dalam diam ... gitu?" Tebakku, setelah mencerna ceritanya.
"Bisa dikatakan begitu," jawab Raihan dengan helaan nafas. "Yang membuat aku patah hati adalah saat setelah gadis yang aku sukai itu tahu tentang perasaan aku, dia malah menjauh dan gak mau dekat denganku lagi." Wajahnya kini kembali terlihat sedih.
"Jadi ... cinta bertepuk sebelah tangan?" Tebakku lagi, ragu.
Raihan mengangguk. "Ya, cuma aku yang suka dan cinta sama dia."
Akhirnya aku terdiam setelah mengetahui apa yang telah membuatnya sedih.
"Setelah aku cerita kayak gini, apa kamu gak penasaran dan mau tahu siapa gadis yang lagi aku sukai itu?" Tanya Raihan, melihatku terdiam.
Aku pun terkekeh mendengar itu. "Aku penasaran, tapi aku tahu itu privasi." Jawabku.
Raihan menggeleng. "Nggak, kamu boleh tahu, Haneefa," ucapnya, membuatku berhenti terkekeh. "Asal setelah kamu tahu, kamu harus merahasiakan itu meskipun yang lain udah ada yang tahu bahkan itu udah diketahui oleh gadis yang aku sukai."
Tanpa sadar, aku pun menghela nafas. "Baiklah, coba aku tebak. Apa gadis itu satu kelas sama kita?"
Raihan tersenyum mendengar pertanyaanku. "Ya, dia teman satu kelas kita."
"Siapa?" Tanyaku, tanpa bisa menutupi rasa penasaranku lagi.
"Ghasanni, temannya Fifi." Jawabnya, membuatku tidak percaya jika ia menyukai Ghasanni.
"Aku suka sama Ghasanni udah lama dan sekarang dia menjauhi aku setelah dia tahu perasaan aku ... aku bisa apa," ucap Raihan, terlihat putus asa.
"Gak papa, kamu nggak usah sedih." Kataku, mencoba menghiburnya. "Cinta memang terkadang tidak selalu harus memiliki, 'kan?" Hiburku, belagak bijak yang membuatnya tersenyum tipis.
"Ya, kamu benar." Raihan mulai menegakkan posisi duduknya menghadapku. "Aku udah cerita mengenai perasaan aku, apa kamu nggak ingin cerita juga, Haneefa?"
"Tentang apa?" Aku menatapnya, heran.
Raihan tersenyum. "Ceritakan tentang kamu, aku yakin kamu juga pasti lagi menyimpan sesuatu di dalam hati kamu, 'kan?"
"Nggak ko, aku nggak menyimpan sesuatu apapun di dalam hati aku," kataku, membantah asumsinya.
Raihan menatapku, jahil. "Kamu yakin? Haneefa dengar, kita ini udah duduk di bangku SMA beberapa minggu, aku yakin pasti ada sedikitnya perasaan kamu mengagumi seseorang di dalam kelas ini."
"Nggak, nggak kayak gitu, kok." Bantahku lagi, mulai merasa gelisah entah mengapa.
"Ayolah Haneefa, ngaku aja. Bukankah aku udah jujur mengenai rahasia perasaan aku? Sekarang giliran kamu, aku janji akan menjaga rahasia."
Mendengar itu, aku menatapnya dengan tatapan semakin gelisah. Bagaimana ini? Mengapa dia malah bertanya seperti itu padaku? Jujur saja, yang ia katakan memang ada benarnya, sebab saat ini aku memang sedang diam-diam menyukai seorang laki-laki yang ada di dalam kelasku. Tapi aku tidak mungkin mengatakan itu padanya meskipun ia telah berjanji akan merahasiakannya. Tidak! Aku sangat malu sekali jika ada seseorang yang mengetahui isi hatiku.
"Jadi?" Tanya Raihan, melihatku terdiam tanpa kata.
"Nggak, nggak ada." Jawabku, masih berusaha menutupi.
Raihan menghela nafasnya. "Jujur aja, Haneefa. Aku tahu kamu pasti diam-diam lagi suka sama seseorang di dalam kelas ini."
Ya Allaah, aku semakin dibuat gelisah karena perkataannya itu. Apakah selama ini aku memang terlihat seperti sedang menyimpan hati pada seseorang, ya? Bodoh sekali aku ini! Tidak pandai menyimpan perasaan dan rahasia diriku sendiri.
"Baiklah," kataku, setelah berpikir dan terdiam lama. "Aku akan kasih tahu kamu, tapi kamu harus janji akan menjaga rahasia ini." Kataku lagi, meskipun ragu itu masih ada.
Setelah berpikir, aku merasa tidak enak juga kepada Raihan jika tidak ikut jujur sepertinya yang telah jujur kepadaku mengenai perasaannya yang menyukai Ghassani.
Raihan tersenyum simpul mendengar perkataanku. "Jadi?"
Meskipun aku akan memberitahu Raihan bahwa aku memang sedang menyukai seseorang saat ini, tapi jika untuk berkata jujur mengenai siapa orang yang sedang aku sukai, maka aku tetap berkata tidak. Ya, aku memilih opsi berbohong saja kepada Raihan mengenai siapa sosok laki-laki yang sedang aku sukai di kelasku.
Dengan mata yang bergerak gelisah mencari siapa sosok yang pantas untuk aku jadikan objek kebohonganku kepada Raihan, yaps! Akhirnya aku menemukannya.
"Aku suka sama Arfan," jawabku tanpa ragu, membuat Raihan langsung terkejut.
Asal tahu saja, padahal saat itu aku tidak menyukai Arfan, melainkan Malik. Alasanku bisa menyebut nama Arfan secara spontan untuk dijadikan objek kebohonganku kepada Raihan, itu karena saat itu memang netra mataku ketika melihat sosok Arfan di kelas yang sedang sibuk dengan ponselnya, aku merasa bahwa memang hanya dialah yang cocok untuk dijadikan sebagai objek kebohonganku kepada Raihan kala itu.
"Kamu serius suka sama ... Arfan?" Tanya Raihan, seolah tak percaya.
Aku mengangguk meskipun sedikit kaku karena aku sedang berbohong saat itu. "I-iya ... mm ... itu ... benar." Jawabku, terbata.
Raihan menyeringai jahil menatapku. "Baiklah, aku nggak nyangka kamu bisa suka sama Arfan, Haneefa." Katanya. "Tapi kamu tenang aja, aku akan tetap merahasiakan hal ini."
Sejak saat itulah, akhirnya Raihan hanya mengetahui bahwa aku sedang menyukai Arfan dalam diam, padahal kebenarannya semua itu tidaklah benar karena yang aku sukai saat itu bukanlah Arfan, melainkan Malik. Malik adalah teman laki-laki yang aku kenal sejak masa ospek saat baru masuk SMA beberapa waktu yang lalu. Aku menyukai Malik karena dia cukup tampan, berbadan tinggi dan keren menurutku. Hingga, ketika aku masuk ke kelas X IPS 2, aku merasa sangat bahagia setelah tahu bahwa ternyata aku juga satu kelas dengan Malik.
Tentu saja aku tidak ingin perasaanku yang sebenarnya diketahui oleh siapapun, termasuk diketahui oleh Raihan sekalipun karena aku merasa malu. Sangat malu. Maka jadilah saat berkata kepada Raihan, aku lebih memilih opsi berbohong saja dan mengatakan padanya bahwa saat itu aku sedang menyukai Arfan. Aku tahu berbohong itu dosa, tapi aku terpaksa melakukannya, semoga Allaah mengampuniku.
Pikirku juga, Arfan adalah orang yang paling cocok untuk aku jadikan objek kebohonganku kepada Raihan. Selain karena Arfan itu bukanlah tipeku, jadi aku dengan percaya diri berpendapat bahwa aku tidak akan jatuh cinta kepada Arfan dan itu bukan suatu hal yang bermasalah. Tapi itu mungkin, karena aku sendiri juga tidak begitu yakin tapi semoga saja begitu.
- Bagaikan Dandelion - Sfrdssyh