Di kelas baruku yakni kelas XI IPS 4, aku menempati sebuah bangku pada barisan paling depan dekat dengan papan tulis kelas seperti waktu kelas X duhulu. Di sana aku berkenalan dan memiliki teman satu bangku yang baru. Teman baruku itu bernama Risa. Dunia memang sempit rasanya, ternyata Risa ini adalah salah satu teman Muthia di Madrasah pengajiannya yang berada di daerah rumah mereka. Risa dan Muthia memang tinggal di daerah yang sama. Namun karena hidayah belum sampai ke dalam hati Risa, akhirnya Risa memutuskan untuk keluar dari Madrasah tersebut, yang dimana Madradah itu juga adalah tempat Muthia menuntut ilmu agama.
Muthia mengatakan kepadaku bahwa Risa merupakan anak yang nakal, keras kepala dan sangat frontal ketika bicara. Aku juga bisa melihat sendiri hal itu dari perilaku Risa saat kesan pertama kali berkenalan dengannya. Risa memang termasuk salah satu perempuan yang mudah terbawa oleh pergaulan bebas dan tidak terkontrol. Meski begitu, satu hal yang membuatku tertarik untuk berteman dengan Risa adalah karena walaupun ia bisa dikatakan sebagai anak yang nakal, keras kepala dan mudah terbawa oleh pergaulan anak SMA, tapi Risa tetap ramah dan baik hati kepada semua orang, termasuk kepada teman dekatnya. Seperti kepadaku contohnya. Saat pertama kali berkenalan, Risa dengan ramah dan tanpa ragu mau mengenalkan dirinya secara langsung kepadaku dan mengajakku untuk duduk satu bangku di kelas XI IPS 4.
Selain Risa, aku juga mendapat teman baru lainnya. Teman baruku itu bernama Vina. Vina ini sebenarnya adalah teman lamaku. Aku bisa mengenal dan berteman dengannya karena duhulu kami pernah satu SMP. Perlu diketahui bahwa di kelas baruku ini hanya Dania saja yang berasal dari kelas X yang sama denganku. Sedangkan teman kelasku lainnya yang dahulunya berasal dari X IPS 2 yang sama denganku, semua temanku itu rata-rata dari mereka menempati kelas XI IPS 3 dan XI IPS 5. Sisanya hanya ada beberapa yang berada di kelas XI IPS 1 dan XI IPS 4, itupun di kelas XI IPS 4 hanya ada aku dan Dania saja.
Aku tidak berkecil hati karena di kelas XI sekarang harus kembali beradaptasi lagi dengan teman baru dan hanya Dania saja teman yang dahulu berasal dari kelas X IPS 2 yang sama denganku. Walaupun ini bukan hal yang mudah bagiku, tapi dengan niat ikhlas karena Allaah, aku rela melakukannya. Aku juga memang sedih tidak bisa satu kelas lagi dengan Muthia, tapi apa boleh buat, di kelas Muthia terdapat Arfan yang juga berada di kelas tersebut. Jadi, aku lebih baik memilih untuk tidak satu kelas lagi dengan Muthia daripada harus kembali memberi ruang untuk Arfan di hatiku, sehingga membuatku sulit untuk melupakan perasaanku kepadanya.
"Fa, kenapa, sih, kamu diam aja dari tadi?"
Mendengar pertanyaan dari Risa, kontan membuyarkan lamunanku yang sejak tadi melamunkan masa-masa di kelas X duhulu.
Aku pun beralih menatap Risa yang duduk di sampingku.
"Nggak, kok. Aku baik, aku cuma lagi ingin diem, aja." Jawabku.
Risa menatapku, penuh selidik.
"Kamu, yakin?"
Aku mengangguk. "Hm, aku yakin."
"Betewe ... jadi benar, ya, kalau dulu kamu pernah satu SMP sama Vina?" tanya Risa, beralih topik.
"Jadi kamu gak percaya sama aku, Ris?" Tanya Vina, menimpali cepat.
Saat ini aku, Risa, dan Vina sedang berkumpul di kelas kami, XI IPS 4. Tepatnya di mejaku dengan Vina yang mengambil bangkunya untuk duduk berhadapan dengan Risa di meja yang sama. Setiap jam istirahat seperti ini kami memang selalu berkumpul di mejaku dan Risa, di sana kami mengobrol sembari makan jajanan yang baru kami beli dari kantin bersama-sama.
"Ya, bukan gitu, Vin. Aku tuh cuma mau memastikan aja." Jawab Risa, tenang.
"Iya Ris, aku ini dulu pernah satu SMP sama Vina." Kataku, menjawab pertanyaan yang tadi diajukan oleh Risa kepadaku.
Risa kembali menatapku. "Oh, gitu, ya?"
Mendengar itu, aku pun hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Risa.
"Haneefa." Panggil seseorang yang kini berjalan mendekati mejaku dan Risa. Lantas membuatku, Risa, dan Vina menolehnya.
"Ehh ... ada Rio, nih, mau apa? Mau godain Haneefa lagi, ya?" tanya Risa sekenanya, membuatku langsung saja mencubit paha Risa di bawah meja.
"Aw! Apa sih, Fa? Kenapa nyubit aku, sih? Sakit tahu!" Sewot Risa, tidak terima karena tiba-tiba pahanya di bawah meja dicubit olehku.
Sedangkan aku yang mendengar Risa mengaduh, aku pun menatap wajahnya seraya memelototkan mataku gemas, tanda bahwa aku geram kepadanya karena sudah berkata suatu hal yang seenaknya kepada Rio.
Perlu diketahui bahwa di kelas XI ini bukan berarti setelah aku memutuskan untuk tidak satu kelas lagi dengan Arfan, ujian cinta yang tidak halal juga ikut berakhir. Tidak. Justru setelah aku memutuskan untuk tidak satu kelas lagi dengan Arfan, ujian cinta yang tidak halal tetap datang kembali kepadaku dengan seseorang yang berbeda.
Rio.
Di kelas XI IPS 4 ini aku yang notabennya cukup pendiam dan pemalu, ternyata hal itu malah mengundang perhatian salah satu teman laki-laki di kelasku. Laki-laki itu bernama Satrio yang biasa dipanggil dengan nama Rio saja. Rio adalah sosok laki-laki yang tidak kalah tampan dengan Arfan. Rio memiliki ciri fisik berbadan tinggi dan berkulit sawo matang. Rio juga merupakan salah satu laki-laki yang bisa dikatakan playboy, dan termasuk anak geng yang terkenal nakal di sekolahku. Meski begitu, Rio tidak berbeda jauh dengan Arfan dalam akademik. Kedua laki-laki itu nyatanya sama-sama memiliki otak yang pintar, bahkan aku pernah mendengar dari orang-orang bahwa Rio ini meskipun nakal dan playboy, tapi ia memiliki otak yang pintar dan selalu mendapatkan peringkat satu di kelas X dahulu.
Kini di kelas XI, Rio kerap kali berusaha mendekatiku dengan memberiku perhatian atau hal lainnya agar aku bisa kagum dan tertarik kepadanya. Padahal saat itu walaupun sedang berusaha untuk melupakan Arfan, bukan berarti aku sudah benar-benar bisa sepenuhnya melupakan laki-laki itu. Justru semakin menjauh, semakin nama Arfan-lah yang masih merajai ruang hatiku dan nama Rio tidak bisa memasukinya. Namun meski demikian, aku tetap tidak pernah menyerah untuk bisa melupakan perasaanku terhadap Arfan.
Lalu, Rio?
Aku juga sama sekali tidak mempedulikannya. Biarlah Rio, nanti juga akan ada titik dimana laki-laki itu lelah dengan sendirinya untuk terus mencari perhatianku yang tak acuh padanya.
"Hari ini kita ada jadwal renang. Apa kalian ikut?" tanya Rio lembut, entah kepada siapa. Namun melihat dari sorot matanya, ia sedang menatap ke arahku.
Risa melirik padaku sekilas, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Rio.
"Aku gak akan ikut, ada acara." Jawab Risa, terkesan ketus
Mendengar itu, Rio menatap Risa heran. "Acara, apa? Bukannya renang ini penting untuk tugas, ya?"
"Iya, aku tahu. Tapi aku lagi malas ah renang-renang kayak gitu, udah kayak ikan aja renang mulu setiap pelajaran olahraga." Jawab Risa, sekenanya.
"Ya ampun, Risa. Mau sampai kapan kamu akan terus lalai kayak gitu, sih, terhadap tugas?" tanya Rio, jengah dengan sikap Risa. Namun, tidak dihiraukan oleh si empunya.
"Terus, kamu gimana, Haneefa? Apa kamu ikut renang?" tanya Rio, beralih kepadaku.
Mendapat pertanyaan seperti itu, kontan aku menipiskan bibirku, gugup.
Meskipun aku tidak memiliki perasaan kepada Rio, tapi jangan lupakan aku yang memiliki sifat pemalu terhadap laki-laki.
"Mmm ... aku ... aku, masih bingung." Jawabku, terdengar ragu.
"Loh, kenapa? Ini, 'kan, untuk tugas, Fa?" Tanya Rio lagi, menatapku aneh.
"I-iya, aku tahu itu. Tapi, 'kan, aku dengar renang kali ini cuma buat latihan aja, belum masuk tes." Jawabku gugup, tanpa mau menatap Rio yang berdiri di depan mejaku.
Akhirnya Rio pun terdiam sesaat setelah mendengar jawabanku. Lalu tak lama kemudian ia kembali bicara.
"Iya juga, sih. kamu emang benar."
Satu hal yang tidak ketahui oleh Rio, saat ini sebenarnya aku ingin sekali ikut berenang walaupun belum masuk tes. Tapi mengingat kondisi keuanganku yang sedang menipis, jadilah aku memutuskan lebih baik untuk tidak ikut jadwal berenang untuk semester ini meskipun hanya baru masuk latihan.
"Ya udah, kalau gitu aku ke kantin dulu, ya." Pamit Rio lembut kepadaku karena melihat aku hanya bergeming, tanpa berniat menanggapi perkataannya lagi.
Sedangkan Risa yang merasa jengah dengan perbuatan Rio kepadaku, Risa pun hanya bisa terdiam duduk di sampingku dengan wajah masam. Jika tentang Vina jangan ditanya, justru ia malah terkesan biasa saja dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Vina bahkan tidak peduli dengan apa yang Rio lakukan terhadapku.
"Kalau kamu mau, kamu bisa ikut sama aku."
Eh ... atensiku yang tadinya hendak kembali pada buku, kontan mendongak untuk menatap kembali kepada Rio yang ternyata tidak jadi pergi ke kantin sekolah sesuai ucapannya tadi.
"Maksud kamu?"
Bukan menjawab, setelah mendengar perkataan Rio, malah Risa yang menyahutinya.
"Ya ... Haneefa kalau mau ikut renang bisa bareng sama aku naik motor." Jawab Rio, nampak canggung karena melihatku bergeming.
"Terus kamu yang bayarin, gitu?" Tanya Vina, menimpali.
Dengan agak ragu, Rio mengangguk. "Ya ... kayak gitu. Kalau Haneefa mau."
Akhirnya setelah paham maksud Rio, aku pun menanggapinya.
"Mm, nggak, deh, Yo. Aku tetep gak ikut. Tapi, makasih tawarannya." Jawabku lembut, menolak.
"Yakin?" Tanya Rio, menatapku serius.
Aku mengangguk. "Iya, yakin."
Mendengar jawabanku, lantas Rio menghela nafas.
"Baiklah, kalau emang itu mau kamu, aku bisa apa."
"Heleh, so iya, deh!" Decak Risa, menyahut.
Akhirnya hari itu aku benar-benar tidak ikut renang. Meskipun terkesan sangat disayangkan, namun tidak masalah. Tentang Rio, semoga perasaanku terhadap Rio tidak tumbuh sebagaimana kepada Arfan. Terlebih Rio lebih peka dan perhatian, aku harap semoga Allaah selalu menjaga diriku dari fitnah cinta yang belum halal.
Bagaikan Dandelion
12.04.21
Sfrdssyh