Akhir Kelas X dan XI IPS 4

1002 Words
Tidak terasa saat ini aku sudah naik ke kelas XI. Seperti kabar yang telah diberitahukan oleh Muthia kepadaku saat masih duduk di kelas X bahwa ternyata isu tentang rolling ulang kelas itu benar-benar terjadi ketika kenaikan kelas. Sampai akhirnya, kini aku berada di kelas XI IPS 4. Namun ketika pembagian kelas ada hal yang membuatku sedih karena qadarullaah, aku tidak dapat satu kelas lagi dengan Muthia di kelas XI. Muthia sendiri saat ini berada di kelas XI IPS 3. Sebenarnya aku bisa saja satu kelas lagi dengan Muthia di kelas XI, karena saat satu hari setelah pembagian kelas atau rolling ulang kelas tersebut, sempat terjadi banyak tindakan protes dari para siswa kepada pihak sekolah. Tindakan protes itu terjadi karena para siswa merasa bahwa pembagian kelas atau rolling ulang kelas terbagi secara tidak adil, padahal tidak begitu. Menurutku, tindakan protes itu terjadi dengan alasan sesungguhnya yakni karena dari kebanyakan para siswa banyak yang merasa bahwa pembagian kelas itu membuat mereka menjadi terpisah dengan kawan dekat dari kelas X. Hingga akhirnya karena alasan tersebut, pihak sekolah pun memberikan kesempatan kepada siswa untuk barter kelas. Misalnya, jika siswa A berada di kelas D dan ingin pindah ke kelas C, sedangkan siswa B yang berada di kelas C dan ingin pindah ke kelas D, maka siswa A dan B ini bisa berpindah kelas dengan saling barter kelas sesuai yang mereka diinginkan. Muthia yang mengetahui kabar barter kelas itu, ia pun langsung menyuruhku untuk melakukannya juga agar bisa pindah ke kelasnya dengan cara barter dengan teman kelas Muthia yang ingin pindah ke kelasku. Namun, aku tetaplah aku. Aku bukan termasuk orang yang mudah goyah jika sudah memutuskan sesuatu. Aku tahu bahwa di kelas Muthia terdapat Arfan yang kembali satu kelas lagi dengan sahabatku itu di kelas XI. Karena itu, aku menjadi ragu jika harus kembali satu kelas lagi dengan Muthia. Sudah pernah aku katakan bukan bahwa sejak awal ketika aku mengetahui berita tentang rolling ulang kelas, jika Muthia satu kelas lagi dengan Arfan di kelas XI, maka aku akan lebih memilih untuk tidak satu kelas lagi dengannya. Muthia sendiri tidak mau pindah ke kelasku karena di kelasku semua anggota kelasnya asing. Sedangkan di kelas XI IPS 3, yakni kelas Muthia saat ini, setidaknya di sana ada banyak yang Muthia kenal. Jadi karena alasan itulah Muthia tetap bersikukuh agar aku saja yang pindah ke kelasnya untuk dapat satu kelas lagi dengannya. Namun aku lebih baik berkorban dan rela berpisah dengan Muthia daripada harus terus mendekati perbuatan zina, yakni menyukai Arfan dalam diam jika nanti kembali satu kelas dengan laki-laki itu. Bagiku sudah cukup di kelas X saja Arfan selalu membuat jantungku berdebar dengan perasaan tidak nyaman. Kali ini keputusanku sudah bulat untuk melupakan Arfan. Terlebih aku juga sudah tahu bahwa Arfan tidak menyukaiku, melainkan menyukai Ghasanni. Jadi untuk apa juga aku harus selalu menyimpan perasaan ini terhadap Arfan? Tak lupa, aku juga memberikan Muthia penjelasan mengenai diriku yang enggan untuk satu kelas lagi dengannya di kelas XI karena alasan tentang Arfan. Alhamdulillaah, setelah dijelaskan olehku dengan lemah lembut, Muthia pun akhirnya mengerti dan memakluminya karena ia juga paham betul bahwa menyukai laki-laki nonmahrom terus-menerus tanpa ikatan halal, maka itu akan berdampak buruk, terutama pada kualitas keimanan. Fitnah Arfan bagiku sangat besar, jadi sudah seharusnya aku menjauhinya untuk menjaga diriku. Aku juga teringat dengan suatu hadist dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Ta'ala, kecuali Allah pasti akan memberikan sesuatu (sebagai pengganti, pen.) yang lebih baik darinya." (HR. Ahmad no. 20739. Dinilai shahih oleh Syaikh Syu'aib Al-Arnauth.). Aku meninggalkan cintaku terhadap Arfan karena Allaah, sebab aku tahu bahwa Arfan bukanlah mahromku, apalagi suamiku. Aku percaya jika aku melakukan demikian, Allaah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Ya, semoga keputusanku ini untuk tidak satu kelas lagi dengan Arfan adalah keputusan yang benar dan akan semakin memudahkanku untuk melupakan dan menjauhinya, biidznillaah. ......... Pagi yang cerah akhirnya tiba. Dengan semangat baru di tahun ajaran yang baru pula. Setelah melewati liburan hari Raya Idul Fitri beberapa minggu yang lalu, kini akhirnya aku sudah kembali masuk sekolah lagi di semester dan kelas yang baru. Aku naik ke kelas XI, tepatnya aku di tempatkan oleh pihak sekolah untuk berada di kelas XI IPS 4. Saat pembagian kelas XI memang ada hal yang membuatku sedih karena tidak dapat kembali satu kelas lagi dengan sahabatku yang sudah lama bersama-sama dari kelas X. Siapa lagi sahabatku itu jika bukan Muthia. Meskipun sempat ada kesempatan yang membuka untukku dapat kembali satu kelas lagi dengan Muthia di kelas XI, tapi tetap aku memilih tidak bisa satu kelas lagi dengannya karena suatu alasan yang sudah pasti kalian paham, bukan? Arfan. Ya. Mengingat nama itu, aku hanya bisa tersenyum sendu. Arfan adalah salah satu alasan terbesarku mengapa aku lebih memilih berpisah kelas dengan sahabat dekatku dari kelas X. Meski sedih dan terasa cukup sulit, namun aku akan berusaha untuk tetap rida dengan semua ini. Aku yakin suatu saat nanti akan indah jika sudah saatnya, sekarang aku hanya perlu bersabar. Untuk saat ini yang selalu menjadi kekuatanku adalah teringat dengan suatu hadist dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Ta'ala, kecuali Allah pasti akan memberikan sesuatu (sebagai pengganti, pen.) yang lebih baik darinya." (HR. Ahmad no. 20739. Dinilai shahih oleh Syaikh Syu'aib Al-Arnauth.). Aku meninggalkan cintaku terhadap Arfan karena Allaah, sebab aku tahu bahwa Arfan bukanlah mahrom, apalagi suamiku. Aku percaya jika aku melakukan demikian, Allaah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Semoga di kelas XI nanti aku benar-benar bisa menyelesaikan apa yang belum selesai, termasuk mengenai perasaanku terhadap Arfan. Sungguh, sangat amat perik dan banayak sekali luka jika selalu tertuju harap dan cinta kepada manusia. Tidak ada yang lebih baik selain melupakan dan kembali fokus pada tujuan utama. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa memang berharap kepada manusia hanya akan berakhir dengan kecewa dan kecewa yang tidak ada habis dan usainya. - Bagaikan Dandelion -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD