Dago Pakar Bandung

1615 Words
Beberapa bulan kemudian. Kini aku sudah bisa bernafas lega karena bi idznillaah masalah Dewi dan teman-temannya sudah membaik. Bahkan kini Dewi sudah bisa kembali dekat dengan Lia, Lala, Wita, dan Nadya seperti duhulu. Semua masalah selesai setelah Lia dan teman-temannya mencoba untuk memaafkan kesalahan Dewi, sehingga akhirnya mereka dapat kembali bersama-sama lagi. Melihat fakta itu, aku merasa sangat senang dan juga sedih dalam waktu bersamaan. Pasalnya, benar kata Lala duhulu. Dewi mulai melupakan aku ketika Lia dan teman-temannya sudah mau memaafkan kesalahannya. Bukan Dewi bermaksud jahat terhadapku, karena Dewi masih sering menyapa bahkan masih berbuat baik kepadaku. Hanya saja, ia sedikit berbeda dari Dewi yang duhulu ketika mendekatiku di saat ia sedang terkena masalah. Sekarang Dewi lebih banyak menghabiskan waktunya seperti di awal, yakni bersama Lia dan teman-temannya. Tentu karena hal itu membuat hatiku sedikit sakit karena aku terkesan memang hanya dibutuhkan saja oleh Dewi, di saat ia sedang kesusahan. Tidak sepenuhnya tulus. Jika bertanya tentang Arfan, aku dan Arfan sudah kembali menjaga jarak. Bahkan kami berdua semakin jauh ketika Dewi sudah kembali bersama Lia dan teman-temannya. Pernah Arfan mencoba menjalin pertemanan lebih akrab seperti yang lainnya kepadaku, tapi lagi-lagi egoku mendominasi. Aku harus bersikap egois kali ini untuk menjauhi Arfan agar tidak berlemah hati lagi terhadapnya. "Jadi semua masalah tentang Dewi dan teman-temannya itu udah selesai?" Tanya Nazla dengan mulut yang penuh oleh makanan. Sore ini pada hari jum'at yang memang sudah menjadi jadwal kumpul eskul Rohis, sembari menunggu yang lain datang, aku duduk di teras masjid hanya berdua saja dengan Nazla setelah kami baru saja kembali dari kantin membeli makanan. Sudah menjadi kebiasaan jika sebelum kumpul Rohis, aku selalu jajan makanan ke kantin sekolah bersama Nazla dan memakan jajanan itu di teras masjid sembari mengobrol seperti sekarang. Aku mengangguk. "Hmm, iya. Aku juga udah berjauhan lagi sama Arfan." Jawabku, lirih. "Ohh, berarti, ya ... baguslah kalau gitu." Kata Nazla, menanggapi. "Akan lebih mudah bukan karena itu untuk membuat kamu jadi bisa melupakan Arfan?" Tambah Nazla, bertanya. "Hmm, iya. Itu benar. Meskipun aku sendiri juga gak yakin, tapi itu lebih baik daripada aku harus terus dekat dengan sama Arfan." Kataku. Nazla mengangguk. "Ya, aku harap kamu benar-benar akan berhasil, Fa. Aku juga gak mau kalau kamu terus suka sama Arfan yang malah nantinya bikin kamu jadi sakit hati sendiri." Setelah itu, hanya ada keheningan di antara aku dan Nazla. Lebih tepatnya Nazla yang mulai sibuk dengan gadgetnya, sedangkan aku sibuk diam memikirkan sesuatu sebelum akhirnya kembali bicara dan mencuri atensi Nazla. "Naz, kamu tahu gak soal isu rolling ulang kelas untuk kenaikan kelas XI nanti?" Tanyaku, kemudian. Nazla mulai kembali menatapku. "Iya, aku udah tahu, kok. Tapi aku agak ragu juga, sih, sama kabar itu." "Kenapa kamu ragu?" "Fa, kamu tahu, 'kan, itu tuh kayak hal yang mustahil kalau di SMA setiap kenaikan kelas harus rolling ulang kelas lagi. Angkatan kemarin aja gak kayak gitu." Seloroh Nazla, menjawab. Aku pun terdiam mendengar itu, sebelum akhirnya kembali bicara. "Tapi, siapa tahu kabar itu benar, Naz." Nazla menatapku dengan penuh selidik. "Wait ... kamu, kok, kayaknya senang, ya, ada rolling ulang kelas?" Tanya Nazla, menatapku dengan mata yang memicing dan mau tak mau membuatku terkekeh. "Hihihi, apaan, sih, Naz!" Kataku, berkelakar. "Tapi, emang, sih, aku senang. Dengan adanya rolling ulang kelas, kemungkinan besar aku bisa untuk gak satu kelas lagi sama Arfan di kelas XI." Tambahku. Seolah baru tersadar, Nazla seketika tersenyum. "Ah, iya, kamu benar. Kenapa aku gak sadar soal itu, ya?" Aku pun terkekeh mendengar perkataan Nazla. Sungguh, ekspresi Nazla saat ini terlihat lucu menurutku. ...... Hari ini tugas akhir mata pelajaran sejarah peminatan menjelang kenaikan kelas akhirnya tiba. Angkatanku dalam mata pelajaran tersebut mendapatkan tugas untuk membuat buku booklet tentang materi sejarah dengan syarat harus melampirkan beberapa foto kunjungan ke tempat-tempat bersejarah yang ada di Indonesia. Pembuatan buku booklet ini bukan tugas individu, melainkan tugas kelompok perkelas. Yang artinya ini adalah tugas bersama, satu kelas. Lia yang saat itu lebih berkuasa dalam mengendalikan kelas, ia menyarankan anak-anak di kelas untuk pergi ke daerah atas sebagai tempat survey sejarah. Lia menyarankan Gua Belanda dan Gua Jepang saja yang berada di Dago Pakar Bandung sebagai tempat kunjungan untuk memenuhi tugas sejarah peminatan tersebut. Lalu, karena merasa bahwa saran dari Lia ini cukup bagus mengingat Gua di Dago Pakar itu sangat bersejarah, akhirnya teman-teman di kelas langsung menyetujui saran itu. Sampai saat ini sesuai diskusi bersama, akhirnya aku dan seluruh teman di kelasku pun pergi ke sana bersama-sama.  “Wah, jadi ini Dago Pakar?” Tanya Hendra, entah kepada siapa saat setelah tiba di depan Gua Jepang. “Ini Hua Jepang, Hendra.” Sahut Lala, menjawab. Mendengar itu, Hendra pun menoleh Lala sekilas yang berdiri tak jauh darinya. “Iya aku tahu, tapi maksud aku ... jadi ini, ya, Gua Jepang yang sering aku lihat di dalam buku sejarah?” Kata Hendra, menanggapi. Lala dan Lia kontan terkekeh ringan setelah mendengar ucapan Hendra yang satu ini. “Ya Allaah, kamu ini terlalu naif atau polos, sih, Hendra? Kayak kamu baru banget, ya, datang ke tempat ini?” Tanya Lia, berkelakar. “Yehh dasar, emang aku baru ke sini, kok.” Kata Hendra, menimpali jujur. Lala kembali terkekeh. “Ah dasar, kamu terlalu jujur, Hendra. “Jujur pertanda baik.” Balas Hendra cepat dan sekenanya seraya berjalan ke arah Arfan yang sedang berdiri di depan sebuah pagar bersama teman laki-laki lainnya. Di sisi lain karena terlalu lama berdiri, akhirnya setelah berdiri tidak jauh dari Lia dan teman-temannya itu, aku dan Muthia pun memutuskan untuk mencari tempat duduk sekadar melepas lelah. Kami berdua menjauhi keramaian teman kelas dan beralih duduk di sebuah bangku yang tidak jauh dari lokasi Gua Jepang dan Gua Belanda. Saat itu kami merasa sangat kelelahan. Bagaimana tidak lelah, sejak awal memasuki daerah Dago Pakar ini menuju Gua Jepang dan Gua Belanda, baik aku, Muthia maupun teman lainnya, semua harus mau tak mau berjalan kaki terlebih dahulu dengan jarak yang cukup jauh untuk sampai ke tempat tujuan, yakni kedua Gua bersejarah tersebut. Jarak dari gerbang awal masuk sampai ke Gua itu memang cukup jauh, belum lagi jalannya yang menanjak dan menurun. Hal inilah yang membuat semua orang kelelahan bahkan sebelum sampai ke Gua. “Hah!” Muthia membuat nafas, lelah. “Ya Allaah, capek banget aku. Ga kuat, deh.” Keluh Muthia kemudian seraya meminum seteguk air dari botol minum yang ia bawa. Aku yang duduk di samping Muthia, aku hanya bisa bergeming. Saat itu aku lebih memilih untuk menetralkan deru nafasku yang masih ngos-ngossan pasca berjalan jauh dan terlalu lama berdiri tadi. “Haneefa! Muthia!!” Seru Raihan tiba-tiba, menghampiriku dan Muthia yang masih duduk. Mendengar itu, aku dan Muthia pun menoleh Raihan. “Kalian capek, ya?” tanya Raihan, setengah terkekeh melihat keadaanku dan Muthia saat ini. Aku tersenyum tipis. “Iya, Han. Lumayan.” Jawabku. “Ih! Lumayan apanya, sih, Haneefa?! Ini capek pake banget tahu, gak!” Kata Muthia, menimpali cepat perkataanku dengan nada gemas seolah tidak setuju dengan jawabanku tadi. Raihan pun tersenyum mendengar ucapan Muthia. “Iya emang, ini capek banget. Aku juga merasakannya.” Kata Raihan, menengahi. "Ya, gitulah!" “Ini kita langsung masuk ke Gua, ya?” tanyaku kepada Raihan karena kembali teringat dengan tujuan awal datang ke tempat yang saat ini sedang aku pijak. “Kayaknya, sih, iya.” Jawab Raihan, menoleh sekilas ke arah teman kelas lainnya yang masih berdiri tepat di depan Gua Jepang. Setelah menunggu beberapa menit dan foto bersama di depan Gua terlebih dahulu sebagai bukti lampiran tugas, akhirnya aku dan semua teman di kelasku masuk ke dalam Gua. Gua pertama yang dimasuki olehku dan teman-teman kelas lainnya adalah Gua Jepang, baru setelahnya Gua Belanda. Kesan pertama yang aku rasakan saat pertama kali memasuki Gua adalah kegelapan dan udara yang terasa dingin. Aku yang takut akan kegelapan, sekalipun tidak pernah mau terlepas dari genggaman Muthia. Ralat, lebih tepatnya aku yang memegang erat lengan Muthia. Aku selalu memegang lengan Muthia sepanjang di perjalanan memasuki Gua, seolah takut diriku akan terpisah jauh dari sahabatku itu. Lain halnya dengan Muthia yang justru malah terkesan lebih santai dan tenang saat memasuki Gua. Juga dengan teman kelas lainnya. Walaupun ada dari teman kelasku yang sama sepertiku, yakni takut kegelapan, tapi mereka tetap terlihat lebih santai dan tenang dibandingkan aku yang terkesan tegang dan pendiam. Pada suatu ketika arah jalan di dalam Gua menjadi berbelok, tiba-tiba tanpa sadar pegangan tanganku pada lengan Muthia menjadi terlepas. Muthia sendiri memang terlihat tidak terlalu mempedulikan aku yang terlepas darinya. Ketika menyadari bahwa ternyata aku telah terpisah dari Muthia, seketika itu juga aku langsung merasa panik bukan main. Saat itu aku yang berada di barisan tengah nyaris paling belakang, segera langsung berjalan cepat untuk mengambil posisi di barisan depan dan tentunya aku juga mencari keberadaan Muthia di saat bersamaan Namun saat dalam keadaan panik dan takut secara bersamaan itu, aku juga harus menanggung rasa malu karena pada saat sudah mencapai tujuanku berada di barisan depan, tanpa diduga aku juga malah berdiri tepat di samping kanan Arfan yang saat itu di samping kirinya terdapat Lia dan Lala. Sedangkan Arfan yang menyadari kehadiranku yang secara tiba-tiba berada di samping kanannya, terlihat Arfan sedikit terkejut, namun itu tidak berlangsung lama karena keterkejutannya itu berubah menjadi kecanggungan. Sebetulnya saat itu aku ingin sekali langsung pergi dari samping Arfan, namun karena mengingat keadaannya sedang tidak mendukung, akhirnya aku pasrah berdiri di samping Arfan selama di dalam Gua, walaupun sebenarnya posisi itu hanya berlangsung sebentar karena pada akhirnya aku kembali berada di samping Muthia. Ada satu hal yang aku sadari ketika berada di samping Arfan selama di dalam Gua. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar begitu adanya, yakni Arfan terlihat canggung dan gugup saat aku berada di samping laki-laki itu. Tapi, kenapa? Bagaikan Dandelion 11.04.21 Sfrdssyh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD