Tentang Perasaan [2]

1155 Words
Hari ini aku sedang berada di kelasku sembari sibuk merangkum tugas ekonomi yang diberikan oleh Guru. Muthia yang melihatku terus sibuk dan fokus dengan kegiatanku itu, ia pun mulai merasa gemas sendiri. Mengenai Dewi, saat ini Dewi sedang tidak masuk sekolah karena izin. Jadilah hari ini aku bisa lebih banyak menghabiskan waktuku di kelas bersama Muthia. “Fa, kamu mau tahu, gak?” tanya Muthia, mulai mengajakku bicara di tengah aktivitas mengerjakan tugas. Aku menoleh Muthia sekilas, lalu kembali menulis. “Nggak, tahu apa?” “Kemarin di grup chat kelas pada sibuk ngomongin soal rolling ulang kelas untuk kenaikkan ke kelas XI nanti.” Jawab Muthia, memberitahu. Mendengar kalimat “rolling ulang kelas”, kontan aku menghentikan aktivitas menulisku dan beralih menatap Muthia, penasaran. “Apa? Rolling ulang kelas?” Tanyaku, memastikan atas apa yang baru saja aku dengar tadi. Muthia mengangguk. “Iya, rolling ulang kelas. Awalnya, sih, Lia yang bilang soal itu di grup chat kelas. Terus lama-lama yang lain juga jadi ikutan, mereka protes soal rolling kelas itu. Mereka bilang gak mau ada rolling ulang kelas untuk kenaikan ke kelas XI nanti.” Terang Muthia, sedikit berbisik. Mendengar itu, aku mengercit. Saat itu aku belum dapat mencerna dengan baik kata-kata yang diucapkan oleh Muthia. “Tunggu-tunggu ... kenapa ada rolling ulang kelas? Terus buat apa dan gimana bisa Lia tahu soal itu?” Tanyaku, beruntun. Muthia menghela nafas mendengar deretan pertanyaan dariku, sebelum akhirnya ia kembali menjelaskan ulang kepadaku. “Jadi begini Ibu Haneefa yang terhormat ... Lia itu dengar kabar soal rolling ulang kelas dari kakak kelas. Nah, kakak kelas itu bilang ke Lia kalau untuk angkatan kita waktu kenaikan kelas nanti akan ada rolling ulang kelas lagi, yang artinya kita gak akan tentu bisa untuk satu kelas lagi di kelas XI nanti. Kakak kelas itu ngasih tahu Lia karena beliau udah lebih dulu tahu soal kabar itu dari wakil Kepala Sekolah. Kakak kelas itu sendiri juga emang cukup dekat sama Lia, jadi gak akan canggung waktu beliau ngasih informasi itu ke Lia.” Akhirnya aku mengangguk paham setelah Muthia menjelaskan ulang maksud ucapan yang sebelumnya. Namun walaupun demikian, pikiranku masih berkelana kemana-mana. “Ada isu juga yang bilang kalau mau bisa satu kelas lagi di kelas XI nanti, waktu daftar ulangnya nanti harus barengan sama teman yang mau satu kelas juga di kelas XI.” Terang Muthia, menambahkan. Saat mendapat kabar itu, jujur saja aku malah merasa sangat senang bukan main. Pikirku, jika nanti rolling ulang kelas itu benar-benar terjadi ketika kenaikan kelas XI, itu artinya kemungkinan besar aku bisa untuk tidak satu kelas lagi dengan Arfan di kelas XI. Ya, di saat seperti ini entah mengapa otakku malah langsung terkoneksi memikirkan tentang Arfan. Sungguh, bagiku ini adalah sebuah kesempatan emas agar bisa melupakan dan menjauhi Arfan. Yakni dengan tidak satu kelas lagi nanti dengannya di kelas XI, bahkan mungkin sampai kelas XII juga. “Jadi nanti kalau mau kita bisa satu kelas lagi, kita harus barengan waktu akan daftar ulangnya, Fa.” Kata Muthia, membuyarkan lamunanku dari memikirkan Arfan. Aku kembali menatap Muthia dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. “Mm ... isyaallaah.” Balasku. Mendengar itu, Muthia menatapku aneh. “Kok jawabnya kayak ragu gitu, sih, Fa? Kamu mau, ‘kan, kalau kita satu kelas lagi di kelas XI nanti?” tanya Muthia kemudian, merasa ragu dengan jawabanku tadi setelah mengetahui isu mengenai rolling ulang kelas. Meskipun ragu, aku mencoba untuk kembali menjawab pertanyaan Muthia. “Nggak, kok. Aku mau satu kelas lagi sama kamu di kelas XI nanti. Tapi, apapun takdir akhirnya, baik nanti kita satu kelas lagi atau nggak di kelas XI, kita harus tetap bisa menerimanya dengan ikhlas. Karena sesuatu yang udah Allaah tetapkan pasti itu adalah yang terbaik.” Selorohku, ingin membuat Muthia mengerti. Muthia menatapku, heran. “Kenapa kamu bilangnya gitu, sih, Fa? Apa kamu merasa kalau kita gak akan satu kelas lagi nanti di kelas XI?” “Nggak, bukan gitu maksud aku, Mut. Tapi emang ada baiknya bukan kalau kita berpikir kayak gitu?” Kataku berakhir dengan mengajukan pertanyaan, membuat Muthia terdiam. Saat itu dalam diam, aku berdo'a semoga Muthia akan mengerti maksud ucapanku. Maafkan aku, Mut, karena jika takdir Allaah menentukan kamu satu kelas lagi dengan Arfan di kelas XI nanti, maka kita tidak bisa satu kelas lagi karena aku akan berusaha untuk menjauh dari Arfan. ...... Malam harinya, tepatnya di dalam kamarku, sembari berbaring di atas ranjang kasur, pikiranku mulai terpikir kepada perkataan Muthia ketika tadi siang di sekolah. Apakah tindakkanku baik jika nantinya aku lebih memilih untuk tidak satu kelas lagi dengan Muthia jika Muthia kembali satu kelas lago dengan Arfan di kelas XI? Sungguh, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjauhi Arfan di saat hatiku memang mudah sekali lemah terhadapnya. Terlebih, jika kami terus-menerus satu kelas sampai kelas XII nanti. Jadi, sekali lagi, apakah tindakkanku ini benar, ya? Aku dilema. "Kenapa di saat kayak gini aku ngerasa ragu dan gak tega, ya, sama Muthia kalau takdir menakdirkan Muthia satu kelas lagi dengan Arfan nanti di kelas XI, yang artinya nanti aku harus lebih memilih meninggalkan Muthia?" Gumamku, berpikir. "Ah nggak! Ini demi kebaikan kamu sendiri, Haneefa. Jangan lagi membuka celah bagi Arfan untuk hatimu." Tambahku, menyemangati diri sendiri dengan tegas. Aku tahu bahwa perasaanku terhadap Arfan ini tidaklah salah, ini adalah hal yang wajar karena menyukai lawan jenis. Memang sangat wajar juga mengingat usiaku yang sudah memasuki remaja menuju dewasa. Jatuh cinta di usia itu adalah hal yang normal. Namun dalam masalah agama cinta bisa salah jika kita arahkan cinta itu kepada jalan yang tidak benar, seperti contohnya dengan berpacaran. Padahal sudah sangat jelas bahwa pacaran terlarang dalam agama islam dan dapat membuka pintu gerbang masuknya zina. Bahkan Allaah Ta'ala pun sudah memberitahu dalam al-Qur'an bahwa mendekati perbuatan zina adalah perbuatan yang keji. وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra': 32). Mengingat mengenai dalil tersebut, tanpa permisi malam itu seketika membuatku menangis dalam diam. Air mataku menetes membasahi kedua pipiku begitu saja. Meskipun perasaanku terhadap Arfan bisa dikatakan wajar, namun aku tetap merasa bersalah dan berdosa. Terlebih mengingat Arfan bukanlah salah satu kriteria laki-laki yang baik karena ia belum paham terhadap agama islam. Semakinlah, aku merasa kecewa pada diriku sendiri karena bisa-bisanya aku menyimpan rasa terhadap laki-laki seperti itu. Hiks. Di keheningan malam itu, hanya angin malam dan bunyi detik demi detik jam dinding saja yang menjadi saksi bisu melihat aku sedang menangis di bawah selimut karena mengingat tentang Arfan. Sungguh, perasaanku ini sangat menyiksa. Tidak pernah sekalipun dalam hidupku, aku menyukai dan mencintai seorang laki-laki sampai begini dalamnya selain Ayahku. Ya, Arfan adalah laki-laki kedua yang berhasil membuatku jatuh cinta terlalu dalam dan semua ini berawal dari kebohonganku kepada Raihan waktu itu yang berujung pada perasaan yang tidak diduga akan benar terjadi. Maafkan aku, Yaa Rabbii. Bagaikan Dandelion 11.04.21 Sfrdssyh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD