Tulus?

1736 Words
Setelah lama diam di masjid sekolah untuk menenangkan Dewi. Setelah keadaan mulai membaik, aku, Dewi, dan Arfan memutuskan untuk kembali ke kelas. Terlebih karena bel masuk kelas telah kembali berbunyi, hal itulah yang menjadi sebab lain kami memutuskan kembali ke kelas. Ketika hendak pergi menuju kelas, Arfan menyuruhku dan Dewi untuk pergi terlebih dahulu agar tidak memicu fitnah semakin besar terhadap Dewi mengenai hubungannya dengan Arfan. Baru setelahnya Arfan akan menyusul ke kelas yang artinya datang setelah aku dan Dewi tiba di sana. Pada saat aku dan Dewi tiba di kelas, semua mata langsung mengarah kepada kami berdua. Terlebih banyak tatapan tidak suka yang mengarah kepada Dewi, meskipun sebagian aku lihat ada juga yang melihatku dengan tatapan tidak suka. Memang sudah konsekuensi bagiku dalam posisi seperti ini, aku akan ikut mendapatkan hal negatif dari teman-teman di kelasku. Namun, satu hal yang aku herankan, mengapa hal yang menimpaku tidak menimpa juga kepada Arfan? Ya, meskipun Arfan berada dipihakku dan Dewi, tapi Arfan tidak mendapatkan perlakuan atau pandangan buruk dari semua teman yang berada di kelas. Semua teman di kelas masih bersikap seperti biasanya kepada Arfan. Dari sini cukup membuktikan bagiku bahwa meskipun sedang terlibat masalah, hal itu tidak melunturkan pesona dan kharisma Arfan saat di kelas. Miris, bukan? Sungguh, teman kelasku di kelas X ini memang keterlaluan. "Kamu dari mana aja? Kenapa lama banget datang ke kelas?" Bisik Muthia gemas kepadaku, setelah aku duduk tepat di sampingnya. Bukan menjawab pertanyaan Muthia, aku malah memeluk rindu tubuhnya. Sungguh, aku sangat merindukan Muthia setelah terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Dewi untuk menemaninya. Bukan aku lupa pada Muthia, hanya saja keadaan yang memaksaku untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan Dewi daripada dengannya, sahabat baikku. "Kangen." Kataku lirih seraya masih memeluk tubuh Muthia dari samping. Saat itu aku sudah tidak peduli lagi dengan pandangan teman satu kelasku seperti apa karena telah memeluk Muthia seperti sekarang. Bahkan aku juga tidak peduli jika Arfan dan Hendra melihatnya karena mereka berdua duduk tepat di belakang bangkuku dan Muthia. Muthia membalas pelukanku dengan merangkul bahuku dari samping, lalu mengusap punggungku lembut. "Aku lebih kangen kamu, kamu terlalu asik sama Dewi." Sindir Muthia halus, membuatku melerai pelukan di antara kami dan beralih menatapnya. "Maaf." Gumamku, sedih. "Hmm, aku paham. Tapi Haneefa, pernah nggak kamu berpikir untuk berhenti menyakiti diri kamu sendiri?" Tanya Muthia, kemudian. "Aku gak menyakiti diri aku, Mut. Aku cuma berusaha bantu Dewi." Jawabku. "Justru dengan itu, sama aja kamu menyakiti diri kamu sendiri, Haneefa." Muthia menimpali cepat. "Aku tuh gak tega lihat kamu dan aku udah cukup mengenal kamu selama kita duduk di kelas X. Dengan kamu dekat sama Dewi, itu malah akan semakin menyakiti diri kamu sendiri karena kamu akan dekat juga sama Arfan dan melihat Arfan dekat sama Dewi." Seloroh Muthia, membahas tentang perasaanku. Aku paham apa maksud Muthia, paham sekali. Namun apa boleh buat, aku ini lemah. Saat ini aku hanya bisa berdo'a kepada Allaah agar semuanya dapat cepat berlalu dan aku dapat kembali menjauhi Arfan tanpa celah. ...... Saat ini kelasku sedang ada dalam mata pelajaran pendidikan agama. Kebetulan Guru agama sedang berhalangan hadir ke kelas, sehingga hanya mengamanahkan tugas berupa resume bab mengenai fiqih di dalam buku paket ke dalam buku tulis. Aku yang saat itu sedang sibuk mengerjakan tugas tersebut bersama Muthia di meja kami, seketika kesibukkan kami harus terganggu karena kehadiran Dewi di meja kami dengan membawa kursi dari mejanya untuk ikut bergabung di mejaku dan Muthia. Melihat itu tentu Muthia mulai kembali terlihat tidak suka dengan apa yang Dewi lakukan. "Kenapa kamu ke sini?" Tanya Muthia jutek kepada Dewi, ketika Dewi sudah duduk di sebelah kananku. Kini aku duduk di bangkuku dengan diapit oleh bangku Muthia dan Dewi. Bisa kalian bayangkan bukan bagaimana sempitnya mejaku dan Muthia saat itu? "Aku mau duduk di sini sama kalian, kerjain tugasnya bareng-bareng." Jawab Dewi tenang seraya tersenyum tanpa beban kepadaku dan Muthia. Mendengar itu, aku yang memang bukan termasuk orang yang suka banyak bicara, akhirnya aku hanya bisa pasrah dengan keadaan tidak nyaman dan sempit seperti ini di mejaku untuk mengerjakan tugas. "Ish, ganggu banget, sih!" Dumel Muthia pelan yang hanya bisa di dengar olehku saja, sedangkan oleh Dewi tidak karena jarak tempat duduk yang memisahkannya dengan Muthia. Akhirnya setelah itu, aku, Muthia, dan Dewi mulai kembali sibuk mengerjakan tugas dari Guru agama. Pada saat sebagian tugas telah selesai, tiba-tiba saja namaku dipanggil oleh Lala dari bangkunya. "Haneefa!" Panggil Lala kepadaku, kontan membuatku, Muthia, dan Dewi berhenti dari aktivitas kami dan beralih menoleh Lala yang masih duduk di bangkunya. "Ya?" Sahutku. "Ke sini!" Seru Lala, melambaikan tangannya kepadaku agar aku menghampirinya. "Duduklah di bangku sebelahku!" Seru Lala lagi, membuatku terdiam sebelum akhirnya terkejut karena tiba-tiba mendengar perkataan Arfan dari arah belakangku. "Pergi aja, biar aku yang menggantikkan posisi duduk kamu di samping Muthia sama Dewi." Kata Arfan, dari belakangku. Mendengar perkataan Arfan demikian, sungguh, aku sangat gugup dan malu sendiri. Sedangkan ketika aku melirik ke arah Muthia, ia sedang menatap Arfan seolah tidak percaya. "Ke sana aja, Haneefa. Lala nggak akan ngapa-ngapain kamu, dia gak mungkin nyakitin kamu kayak apa yang udah dia lakuin ke aku." Seloroh Dewi, melihatku bergeming. Akhirnya setelah lama terdiam dan berpikir sesuatu, aku pun beranjak dari tempat dudukku seraya membawa alat tulis dan buku untuk pindah ke tempat meja Lala. Bukan hal yang mudah bagiku melakukan itu, pasalnya jangan lupakan tentang Lala yang saat ini sedang memusuhi Dewi. "Baiklah!" Kataku, pasrah dan menurut. Setelah aku berpindah ke meja Lala, Lala langsung menyapaku dengan ramah seraya tersenyum. "Hai, Haneefa."  Aku menoleh Lala dengan senyuman tipis. "H-hai." Balasku, ragu. "Gak apa-apa, 'kan, kalau aku meminta kamu duduk sama aku? Soalnya Dewi pindah ke meja kamu." Kata Lala, masih menatapku dengan senyuman. Tidak aneh jika Lala berkata begitu. Pasalnya sejak awal masuk dan permusuhan terjadi, Dewi dan Lala memang masih bertahan duduk satu meja. Terkadang aku salut kepada Dewi. Bagaimana bisa di saat sedang terpuruk seperti sekarang Dewi masih mampu bertahan duduk satu meja dengan orang yang memusuhinya seperti Lala? Kembali, aku tersenyum tipis kepada Lala. "Gak apa-apa, kok. Dewi gak masalah juga." Jawabku, lembut. Lala menatapku dengan alis terangkat satu. "Oh, jadi Dewi gak marah sama kamu? Padahal, 'kan, secara ... kamu itu sekarang adalah sahabat dekatnya." Kata Lala, terdengar menyindirku secara halus, namun aku berusaha untuk tetap terlihat tenang. "Dewi gak akan marah dan gak akan mungkin marah." Kataku, menimpali. Mendengar ucapanku, Lala berdecak tidak suka. "Hah! Ya, ya, ya. Terserah kamu aja, deh." "Kamu itu terlalu naif dan polos, Haneefa." Kata Lala kemudian, kembali membuatku menatapnya. "Apa maksud kamu?" Tanyaku, heran. "Kamu tahu, Dewi itu sangat licik dan menyebalkan. Terkadang aku heran, gimana bisa kamu malah mau menerima dia untuk berteman sama kamu sedangkan aku, Lia, Wita, dan Nadya udah menjauhi dia?" "Kenapa kamu ngomong kayak gitu, La?" Tanyaku, menatap Lala tidak percaya. Sungguh, tega sekali Lala berkata demikian mengenai Dewi. "Perlu kamu ingat, ya, Haneefa. Dewi mendekat dan mau berteman sama kamu, itu semua belum tentu tulus. Dia mau melakukan itu karena lagi dijauhi sama aku, Lia, dan yang lainnya. Jadi aku yakin kalau Dewi itu cuma mau manfaatin kamu aja sekarang." Seloroh Lala, tidak berperasaan. "Kenapa kmau tega bilang gitu, sih, La? Kenapa kamu kayak gitu?" Tanyaku dengan mata yang mulai memanas. Tidak tahukah Lala bahwa perkataannya itu sangat menyakitiku? "Dewi gak kayak gitu, dia baik dan aku yakin itu." Kataku, tegas. "Itulah." Lala tersenyum miring. "Itulah kenapa tadi aku bilang kalau kamu itu terlalu naif dan polos." "Cobalah untuk memandang realitis, jangan cuma pakai perasaan." Tambah Lala, membuatku diam dan semakin merasa sakit hati dalam diam. Yaa Allaah, mengapa di dunia ini ada orang yang bisa dengan mudah berkata suatu hal yang bisa menyakiti perasaan orang lain? "Jadi, aku cuma ingin kamu sadar, Haneefa. Jangan terlalu naif dan polos." Setelah Lala bicara begitu, aku pun lebih memilih diam dan kembali melanjutkan mengerjakan tugas agama dengan keheningan di meja Lala. Meskipun sesekali Lala kembali mengajakku bicara, namun aku tidak banyak menanggapinya. ...... Ketika tugasku telah selesai dikerjakan, segera aku berpamitan kepada Lala dengan sopan untuk kembali ke mejaku. Meskipun Lala telah melukai hati dan perasaanku melalui perkataannya, namun aku tidak mau membalasnya dengan hal yang sama. Aku bukan termasuk orang yang suka mencari masalah, sudah cukup semuanya. Semoga Allaah memudahkanku untuk bersikap sabar dan berlapang d**a. Ketika aku kembali di mejaku, aku melihat Arfan sedang duduk di bangkuku. Tepat di bangku tempatku duduk selama ini di kelas. Sungguh, melihat pemandangan itu seketika pipiku terasa memanas. Aku merasa malu tidak jelas hanya karena itu. Namun, setelah aku sampai di mejaku, aku langsung dibuat heran saat mendapati wajah Dewi yang terlihat murung. "Dewi kenapa?" Tanyaku spontan kepada Arfan. Arfan menatapku sebelum akhirnya ia menghela nafas. "Kamu gak denger tadi?" Arfan balik bertanya kepadaku. Keningku pun mengercit, bingung "Dengar apa?" Terlihat saat itu Muthia hanya bisa terdiam tanpa peduli dengan apa yang sedang aku dan Arfan bicarakan. Meskipun saat itu Muthia masih duduk di samping Arfan. "Nara dan teman-temannya baru aja menyindir aku lagi, Fa." Jawab Dewi, mewakili Arfan. Aku menatap Dewi, terkejut. "Apa? Mereka ..." "Iya, mereka baru aja menyindir Dewi lagi sama aku karena aku mau duduk di samping Dewi. Mereka menyindir kita berdua dari meja mereka yang ada di belakang." Tambah Arfan, membuatku langsung terdiam paham. Sudah jelas Nara dan teman-temannya akan melakukan hal demikian. Lihat saja, Arfan dan Dewi sendiri yang menunjukkan kedekatan mereka di kelas saat ini, meskipun tidak pacaran. "Huh ..." Dewi membuang nafasnya kasar. "Entah kenapa mereka masih melakukan hal itu sama aku?" Lirih Dewi, kemudian. "Tadi, apa aja yang Lala bilang sama kamu, Haneefa? Dia gak bilang hal yang nggak-nggak, 'kan?" Tanya Dewi, beralih menatapku serius. Mendapatkan pertanyaan seperti itu, aku langsung terdiam. Sungguh, aku bingung harus menjawab apa sedangkan aku tidak mau jujur yang mana hanya akan semakin memperkeruh masalah, namun aku juga tidak ingin berbohong. "Semua baik-baik aja, 'kan, Haneefa?" Tanya Arfan, terlihat mulai khawatir. Entah khawatir karena apa. Aku tersenyum, walau terpaksa. "Hmm, semua baik." Jawabku, berusaha menutupi. Arfan pun menatapku dengan tatapan penuh selidik, sedangkan Dewi langsung menunduk. "Aku harap kayak gitu, semua baik-baik aja." Lirih Dewi, sendu. "Nggak Dew, jangan sedih lagi. Semua pasti akan baik-baik aja." Kataku, meyakinkan Dewi yang mulai kembali putus asa. Meskipun dalam hati aku sedikit mengkhawatirkan perkataan Lala, bahwa Dewi tidak benar-benar tulus mau berteman denganku. Namun tidak, aku akan tetap berusaha untuk percaya kepada Dewi bahwa ia mau berteman dan dekat denganku tulus, bukan hanya disaat butuhnya saja seperti sekarang. Bagaikan Dandelion 11.04.21 Sfrdssyh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD