Tepat beberapa hari kemudian, aku dan Muthia dikejutkan dengan fakta yang begitu tidak bisa dipercaya, yakni Dewi yang sudah mau memakai hijab ke sekolah. Aku yang awalnya memang terkejut, namun setelah sadar, aku seketika merasa bahagia dengan perubahan Dewi meskipun Muthia masih terlihat sama. Muthia tetap kurang menyukai Dewi karena terlalu dekat denganku.
Perubahan Dewi sendiri bukan berlangsung cepat, pasalnya sebelum Dewi melakukan perubahan itu, Dewi sebelumnya terus meminta nasihat dariku dan Arfan mengenai kemantapan ia untuk berhijab. Barulah setelah yakin, ia memutuskan untuk berhijab seperti sekarang. Namun nasib malang menimpa Dewi. Melihat perubahan itu dalam diri Dewi, nampaknya hal itu malah semakin membuat Dewi dibenci oleh teman-temannya di kelas. Bahkan hampir satu kelas memusuhi Dewi jika saja aku dan Arfan tidak ada di sampingnya.
Seperti saat ini, tepat setelah sholat dhuha, aku dan Dewi seperti biasa tidak langsung kembali ke kelas, melainkan berdiam diri terlebih dahulu di masjid sekolah untuk sekadar mengobrol. Namun untuk saat ini bukan mengobrol seperti biasanya, karena pada kenyataannya saat ini Dewi sedang menangis di depanku seraya mengeluh karena perbuatan buruk dari teman-temannya di kelas kami.
Dewi mendapatkan hinaan dan fitnah setelah ia berhijab, ia difitnah oleh teman di kelas karena telah berhijab. Mereka memfitnah Dewi berhijab hanya karena sedang dekat denganku dan ingin mencari perhatian Arfan. Bahkan aku dengar ada sebuah isu bahwa kini Arfan dan Dewi sedang pacaran diam-diam sejak Dewi dimusuhi oleh Lia dan teman-temannya. Mengetahui isu itu, Lia dan teman-temannya semakin tidak suka kepada Dewi, terlebih jika berkaitan dengan Arfan tentulah akan banyak hati perempuan di kelasku yang iri kepada Dewi karena berpacaran dengan Arfan.
Meski begitu, entah mengapa dalam hati aku merasa tidak begitu yakin jika Arfan dan Dewi sedang pacaran diam-diam. Walaupun aku tidak tahu apapun mengenai hubungan mereka berdua, aku hanya merasa aneh saja kepada Arfan. Jika memang benar ia adalah pacar Dewi, lalu mengapa sikap Arfan tidak menunjukkan itu ketika di hadapanku ketika kami sedang bertiga.
"Hikss ..."
Saat ini Dewi masih menangis di depanku ketika kami masih berada di dalam masjid sekolah.
"Aku sedih, Fa. Kenapa semua teman di kelas tega banget sama aku?"
"Apa salah aku? Kenapa melihat aku berhijab dan dekat dengan Arfan, mereka semua malah semakin gak suka sama aku?"
Begitulah keluh-kesah Dewi kepadaku dengan nada frustasi. Aku pun menghela nafas mendengar semua itu.
"Dew, jangan sedih, ya. Ada aku di sini. Biarlah apa kata yang lain, kamu gak usah peduliin itu semua." Ujarku lembut, berusaha menenangkannya.
"Gimana bisa, Fa? Keadaan kayak gini sangat mengganggu aku? Bahkan psikologi aku rasanya sangat terganggu sama masalah ini. Rasanya aku gak kuat, aku ingin pindah sekolah aja." Seloroh Dewi, menimpali ucapanku.
"Dew, jangan bilang kayak gitu. Kamu bilang begitu seolah kamu gak memiliki siapa-siapa. Padahal kamu masih memiliki Allaah dan aku yang akan tetap ada sama kamu." Kataku, menasihati dengan penuh kehati-hatian.
Aku sangat paham posisi Dewi saat ini karena dahulu aku pun pernah berada dalam posisinya.
"Jangan bilang gitu lagi, ya." Kataku lagi, membuat Dewi menatapku sendu.
"Aku di fitnah, Haneefa." Ucap Dewi lirih yang sudah aku ketahui.
"Aku di fitnah."
"Karena kamu di fitnah, jadi jangan dimasukan ke hati, ya. Semua itu, 'kan, nggak benar." Kataku, berusaha meyakinkan Dewi seraya menyentuh tepi atas telapak tangannya.
"Aku sedih, Fa." Gumam Dewi sembari menunduk, membuatku memutuskan untuk bertanya sesuatu yang sejak tadi terus saja membuatku penasaran.
"Dew, sebelumnya aku ingin bertanya sama kamu."
"Tanya apa?"
Aku mulai menipiskan bibirku, semoga saja pertanyaanku ini tidak menyinggungnya.
"Mm ... gini, soal fitnah mengenai hubungan kamu sama Arfan. Apa itu nggak benar? Atau ... memang benar?" Tanyaku, ragu.
"Maksud aku ... m-maksud aku adalah ... sungguh, aku gak tahu soal itu jadi aku, aku ... ingin tahu kebenarannya agar aku yakin kalau itu emang fitnah." Ucapku cepat, meralat pertanyaanku sebelumnya karena takut pertanyaanku tadi dapat menyinggung perasaan Dewi.
Mendengar semua ucapanku, kontan Dewi menatap ke arah lain dengan tatapan menerawang jauh.
"Sebenarnya, aku sama Arfan emang dekat, bahkan sejak aku dijauhi oleh teman-teman aku, Arfan hampir setiap saat selalu menghubungi aku lewat chatting di Line. Kita berdua selalu saling memberi kabar, perhatian dan semangat." Seloroh Dewi, memberitahu.
Entah ada apa dengan diriku, mendengar perkataan Dewi kali ini seketika membuat hatiku sedikit terasa sakit. Tidak, aku bukan sakit hati karena kedekatan Arfan dengan Dewi, melainkan karena aku kecewa pada Arfan yang memang belum bisa menjauhi perempuan nonmahrom karena Arfan memang belum paham agama dengan baik.
"Arfan itu baik banget sama aku, Fa. Bahkan aku sempat berpikir bahwa Arfan suka sama aku karena semua perhatian yang telah dia berikan. Tapi, setelah dia bilang kalau dia hanya menyayangi aku sebagai teman, disitulah aku sadar bahwa Arfan gak suka sama sebagai seorang perempuan yang istimewa dalam hidupnya." Kata Dewi, mulai kembali menatapku.
"Arfan hanya menganggap aku teman, gak lebih." Tambah Dewi, membuatku terdiam dan menatapnya dengan sendu.
Aku tahu dari sudut matanya bahwa Dewi pasti sudah menyimpan rasa terhadap Arfan. Aku bisa melihat itu karena aku pun perempuan.
"Kamu sedih karena itu?" Tanyaku, berusaha menebak isi hatinya.
Dewi tersenyum tipis.
"Awalnya iya, karena siapa yang bisa menampik perasaan. Sejak Arfan selalu perhatian dan peduli sama aku, aku gak bisa berbohong kalau aku mulai punya perasaan sama dia,"
"Tapi aku gak mau egois. Kalau Arfan cuma menganggap aku sebagai teman, aku bisa apa selain mengikuti alurnya, 'kan?" Terang Dewi, terlihat jelas bahwa ia berusaha tegar menerima kenyataan yang ada.
Aku pun tersenyum mendengar itu, meskipun sebenarnya aku juga ikut sedih karena apa yang Dewi rasakan, sama seperti yang aku rasakan duhulu terhadap Arfan.
Cinta bertepuk sebelah tangan.
"Ya udah, Dew. Kamu gak usah sedih, ya. Yang penting hubungan kamu sama Arfan baik-baik aja dan mengenai gosip di kelas, kamu gak bersalah. Kamu emang benar udah di fitnah oleh mereka." Ujarku.
"Tapi aku tetap sedih, Fa." Dewi kembali berurai air mata menatapku.
"Kenapa ini harus terjadi sama aku? Kenapa teman yang selama ini aku banggakan dan aku temani malah memusuhi aku kayak gini?"
"Ini sangat menyakitkan, Haneefa."
Akhirnya, Dewi kembali terisak lagi seraya menyentuh dadanya.
Melihat itu, aku hanya bisa terdiam dengan tatapan yang sama sedihnya. Bahkan saat itu mataku sudah mulai berkaca-kaca siap menjatuhkan air mata untuk membasahi kedua pipiku. Namun belum sempat air mataku jatuh, seketika aku harus mengusap kasar kedua mataku yang hendak menangis karena melihat kedatangan Arfan mendekat ke arahku dan Dewi dengan tatapan khawatir.
"Dew." Panggil Arfan, terdengar khawatir setelah ia berada di hadapanku dan Dewi yang sedang duduk di atas karpet masjid.
Mengetahui kedatangan Arfan, bukannya berhenti, Dewi malah semakin terisak dan itu langsung membuat Arfan menatapku.
"Kenapa Dewi? Siapa lagi yang buat dia jadi nangis?" Tanya Arfan kepadaku dengan tatapan khawatir yang semakin kentara.
Tanpa Arfan ketahui, dengan bertanya begitu kepadaku, itu malah langsung membuat hatiku berdenyut sakit. Entah megnapa rasanya dadaku sesak sekali mengetahui Arfan sangat mengkhawatirkan Dewi. Aku merasa sedih karena hal itu. Tidakkah Arfan tahu bahwa sikapnya itu akan semakin menyakiti Dewi karena telah membuat Dewi kembali berharap padanya?
Bahkan aku pun demikian. Merasa tersakiti karena semakin membuatku sadar bahwa aku memang tidak menjadi bagian dari hidup Arfan.
"Dewi cuma sedih karena di fitnah." Jawabku lirih, tanpa mau menatap Arfan.
Arfan pun terdiam sesaat setelah mendengar jawabanku.
Bukan Arfan tidak tahu mengenai fitnah yang menimpa Dewi, Arfan sudah mengetahui itu. Hanya saja Arfan lebih memilih diam, namun entah setelah ini. Apakah Arfan akan tetap diam setelah melihat Dewi yang terisak di hadapannya?
"Kamu baik-baik aja, 'kan?" Tanya Arfan tiba-tiba kepadaku. Tentu saja, hal itu kontan membuatku menatapnya aneh.
"Aku?" Aku membeo seraya menunjuk diriku sendiri tanpa sadar.
Arfan mengangguk.
"Ya, apa kamu baik-baik aja, Haneefa?" Tanya ulang Arfan kepadaku dengan tatapan yang entah mengapa terasa mengusik hati dan perasaanku.
"I-iya, aku baik." Jawabku sedikit terbata saat sadar bahwa tadi aku bertatap mata dengan Arfan ketika bicara, sebelum akhirnya aku kembali menatap ke arah Dewi yang masih terisak.
"Tapi kamu juga kelihatan sedih. Apa kamu juga diusik sama teman di kelas?" Kata Arfan bertanya, menimpali ucapanku.
"Siapa yang gak sedih lihat teman dekat sedih?" Kataku, seolah sedang menyadarkan Arfan dengan kondisi saat ini.
Sungguh, aku tidak ingin Arfan mengkhawatirkan keadaanku karena aku memang baik-baik saja, terlebih aku tidak ingin kembali berharap padanya dengan hanya melihat bahwa kini ia mengkhawatirkanku.
Mendengar perkataanku, Arfan terdiam sejenak sebelum akhirnya ia alihkan kembali perhatiannya kepada Dewi.
"Dew, kamu kenapa? Kenapa nangis? Bilang sama aku, apa yang udah diperbuat sama teman-teman di kelas?" Tanya Arfan, menuntut kepada Dewi. Sedangkan aku hanya menatap keduanya dalam diam.
Dewi mulai menatap Arfan dengan wajah yang penuh dengan keringat dan air mata. Dewi nampak begitu kusut dan kacau.
"Mereka baru aja menyindir aku waktu aku mau pergi sholat dhuha tadi sama Haneefa. Mereka menfitnah aku berhijab cuma karena aku lagi dekat sama Haneefa dan ingin mendapat perhatian dari kamu, Arfan." Jawab Dewi, memberitahu.
"Mereka bilang gitu?" Tanya Arfan, tidak percaya dan marah. Hal itu terlihat jelas dari air mukanya yang tiba-tiba berubah dingin dengan rahangnya yang mengeras.
Dewi mengangguk seraya masih terisak.
"Iya, Fan. Hiks ... mereka bilang gitu tentang aku. Rasanya ... rasanya, aku capek Arfan, aku capek. Hiksss ... aku capek diperlakukan kayak gini terus sama mereka di kelas." Gumam Dewi, semakin terisak.
Melihat bagaimana sedihnya Dewi, aku mulai menggigit bibir dalamku. Saat ini aku sedang berusaha sekeras mungkin agar tidak ikut menangis di hadapan Arfan dan Dewi. Sungguh, aku adalah termasuk orang yang tidak bisa melihat orang lain menangis di hadapanku. Jika itu terjadi, maka aku akan ikut menangis dan aku tidak mau itu.
Dengan mata yang sedikit berkaca dan semakin terasa memanas, aku berusaha menoleh ke arah lain agar tidak ikut menangis seperti Dewi.
"Mereka keterlaluan." Desis Arfan penuh tekanan, kontan membuatku menolehnya.
"Ini gak bisa dibiarin lagi, aku akan coba bicara sama mereka." Kata Arfan kemudian seraya hendak beranjak dari duduknya. Namun, sebelum itu berhasil, aku segera mencegahnya.
Entah mengapa, saat ini aku merasa khawatir dengan apa yang akan Arfan lakukan, karena itu bukanlah jalan keluar yang tepat.
"Jangan, Arfan!" Cegahku cepat, membuat Arfan kembali duduk dan menatapku, heran.
"Maksud kamu?" Tanya Arfan, terlihat sedang menahan emosinya.
Meskipun merasa gugup karena saat ini aku dan Arfan saling menatap, tapi sekuat hati aku berusaha untuk terlihat biasa saja agar masalah yang menimpa Dewi tidak semakin rumit.
"Jangan Arfan, jangan kayak gitu." Kataku, lirih.
"Apa yang jangan kayak gitu, Haneefa?" Tanya Arfan bingung dengan tatapan mata dan nada bicara yang mulai melembut.
"Jangan bicara apapun sama semua teman di kelas tentang Dewi, jangan kayak gitu." Jawabku, dengan sedikit malu entah mengapa.
"Apa maksud kamu? Dewi udah didzolimi dan aku gak bisa diam aja." Kata Arfan, menimpali ucapanku cepat.
Aku menggelengkan kepala.
"Jangan Arfan, apa yang akan mereka pikirkan tentang Dewi kalau kamu malah membela Dewi di hadapan mereka nanti? Bisa aja mereka malah semakin yakin kalau kamu memiliki hubungan khusus sama Dewi." Selorohku, menjelaskan.
"Aku gak memiliki hubungan apapun sana Dewi, kita cuma sebatas teman." Tegas Arfan, kembali menimpali cepat seraya menatapku serius.
Entah hanya perasaanku saja atau memang benar begitu adanya, saat Arfan mengatakan itu, ia seolah sedang memberitahu dan meyakinkanku mengenai hubungannya dengan Dewi seperti apa.
"Aku membela dan berada di samping Dewi karena dia adalah teman aku." Kata Arfan, lagi.
Arfan kembali menatap ke arah Dewi. "Kamu gak usah khawatir Dewi. Aku sama Haneefa akan tetap ada sama kamu apapun yang terjadi."
Mendengar ucapan Arfan, Dewi tidak menjawab. Ia hanya terus menangis tanpa kata.
"Kali ini aku akan menuruti perkataan kamu, Haneefa." Kata Arfan, kembali menatapku.
"Tapi kalau ke depannya masih akan berlangsung semakin buruk, maka jangan halangi aku lagi untuk bertindak." Tambah Arfan, tegas seolah agar aku mau menuruti perkataannya.
Tanpa berkata apapun lagi, aku pun hanya mengangguk menanggapi ucapan Arfan sebelum akhirnya aku kembali menatap Dewi dan membawa Dewi ke dalam pelukanku.
"Jangan sedih lagi ya, Dewi. Semua pasti akan berlalu." Ujarku lirih seraya mengusap lembut punggung Dewi yang bergetar karena masih menangis.
Sungguh, aku berdo'a kepada Allaah, semoga masalah Dewi ini cepat berlalu. Dengan berlalunya masalah Dewi, aku pun akan kembali berjauhan dengan Arfan.
Bagaikan Dandelion
11.04.21
Sfrdssyh