Hari sudah berganti, semakin hari Dewi semakin lengket padaku dan mau tak mau hal itu semakin membuat Muthia kesal dalam diam. Ya, selama Dewi semakin dekat denganku, sikap Muthia memang masih baik padaku, hanya saja jika sudah ada Dewi yang kembali menempel, sikap Muthia menjadi tak acuh. Ia lebih banyak diam dan tidak berkomentar apapun meskipun ekspresi wajahnya terlihat semakin kentara masam.
Dewi sendiri memang setelah aku mempersilahkan ia untuk dekat denganku, tanpa ragu Dewi benar-benar menganggapku seperti temannya yang sudah lama dekat dengannya. Dewi akhir-akhir ini menjadi suka sekali bercerita kepadaku, mulai dari kisah masa kecil, SD, SMP, bahkan kisah percintaannya dengan beberapa laki-laki di masa lalunya. Aku yang notabennya memang pendiam, aku pun hanya bisa menjadi pendengar yang baik bagi Dewi, meskipun terkadang aku pun lelah. Namun meski begitu, tidak pernah sekalipun aku perlihatkan rasa lelah itu kepada Dewi. Ya, tentu saja aku lelah karena qadarullaah hampir semua teman-temanku itu cerewet, mereka suka sekali bicara, termasuk Dewi. Entah teman kelas, sahabat, ataupun teman di Rohis. Semua temanku cerewet, tapi aku tidak merasa sial karenanya. Justru dengan mereka banyak bicara aku menjadi bisa menganalisis mengenai pengalaman dan kepribadian seseorang yang berbeda-beda.
Selain itu, Dewi yang memang sebelumnya sudah bercerita mengenai masalahnya kepada Arfan, kini mau tak mau Arfan pun menjadi dekat dengan Dewi, bahkan parahnya denganku juga. Tidak, maksudku menjadi dekat denganku itu karena aku juga dekat dengan Dewi. Pasalnya aku dan Arfan masih sama seperti dulu. Kami sama-sama canggung dan hanya akan terlihat seolah dekat jika ada Dewi saja di antara kami berdua. Tidak jarang, Dewi selalu menggoda Arfan di saat kami bertiga sedang mengobrol. Sedangkan aku hanya bisa diam dan bicara seperlunya saja. Jikapun ada bercandaan yang lucu, aku hanya bisa menahan tawaku dengan mengulum senyum. Tentu saja, mana berani aku terlalu banyak tingkah di depan Arfan?
Sungguh, ujian perasaanku terhadap Arfan sejak permasalahan Dewi dan teman-temannya semakin jelas sulitnya bagiku. Bagaimana bisa aku menjauhi Arfan, sedangkan ada suatu hal yang mengharuskan kami menjadi mau tak mau berdekatan?
Huhh ... rasanya memang akan sulit untuk melupakan dan menjauhi laki-laki itu dalam hidupku untuk saat ini.
"Fa, kayaknya aku lebih baik pakai hijab aja, ya?" Tanya Dewi, ketika meminta pendapatku di saat kami sedang mengobrol dengan Arfan di kelas.
"Iya, kamu emang lebih baik pakai hijab, Wi." Jawab Arfan, mendahului.
Mendengar itu Dewi pun mendelik kepada Arfan. "Ih Arfan, aku itu lagi minta pendapatnya sama Haneefa, bukan kamu!!"
Mendapat reaksi seperti itu dari Dewi, Arfan terkekeh.
Sungguh, baru pertama kali aku merasa bisa seakrab dan sedekat ini dengan Arfan meskipun ada Dewi di antara kami.
"Ya, gak masalah. Bener, 'kan, Haneefa?" Seloroh Arfan, berakhir bertanya kepadaku.
Kontan aku menjadi sedikit gelagapan, belum siap untuk menjawab Arfan.
"Ah, mm .. ya, itu benar." Jawabku, terbata menyetujui Arfan.
Melihatku seperti itu, Arfan pun tersenyum. "Tuh,'kan, apa kata aku?"
Dewi pun menipiskan bibirnya.
"Hmm, jadi aku lebih baik berhijab, ya?" Gumam Dewi, berpikir.
"Tapi, apa aku gak akan kelihatan jelek nanti kalau pakai hijab?" Tambah Dewi, bertanya.
"Ya nggak mungkin jeleklah, karena sebaik-baiknya wanita adalah yang mampu menutup auratnya dan berhias dengan rasa malunya." Jawabku cepat, membuat Arfan dan Dewi menatapku serius.
Dewi mulai meniti pakaianku sebelum akhirnya ia kembali bicara.
"Mm ... kamu pun sama, ya Haneefa. Dulu, aku lihat kamu juga awalnya cuma pakai kerudung segitiga, tapi sekarang kamu udah berubah menjadi pakai hijab yang lebih menutupi sebagian dada." Kata Dewi, menilaiku.
Saat itu aku memang sudah hijrah dan sudah mulai sedikit demi sedikit memanjangkan kain hijabku. Meskipun aku sudah memiliki niat untuk menggantinya dengan jilbab syar'iy seperti kebanyakan teman di Rohisku, namun tetap saja aku masih merasa bahwa hatiku ini belum sepenuhnya berniat untuk melakukannya. Ada sebagian hati dimana aku masih ragu untuk memakai jilbab syar'iy, sehingga untuk saat ini aku lebih memutuskan memakai hijab yang sedikit demi sedikit mulai dipanjangkan kainnya dengan menutupi sebagian sada, tidak langsung ke jilbab syar'iy.
Pikirku, sedikit demi sedikit yang penting benar-benar berproses bukan?
"Mm ... iya. Aku emang ingin sedikit lebih memanjangkan kain hijab aku secara perlahan-lahan, gak terburu-buru." Jawabku, lirih.
"Itu bagus, dong. Emang perempuan lebih baik kaya gitu. Terlihat lebih cantik dan anggun." Sahut Arfan, kontan membuatku merasa malu.
"Jadi, kalau gitu ... aku lebih baik coba pakai hijab segitiga aja dulu, ya?" Tanya Dewi, terlihat ragu.
"Kalau kamu ragu, jangan terlalu dipaksakan. Tapi apa salahnya dengan mencoba, 'kan? Karena berproses lebih baik daripada menunda." Jawabku.
"Sebaiknya coba aja secara perlahan, Wi. Aku yakin kamu bisa dan pasti akan sama seperti Haneefa nantinya." Sambung Arfan, membuatku terdiam.
Entah mengapa di saat seperti ini, rasanya aku ingin sekali untuk berteriak?
Sungguh, aku tidak suka terlalu dekat dengan laki-laki yang masih diam-diam aku sukai.
......
"Apa? Jadi kamu dekat sama Dewi dan Arfan sekarang?!" Tanya Nazla, terkejut.
Setelah pulang sekolah, seperti biasa aku tidak langsung pulang, melainkan pergi ke masjid sekolah terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat ashar berjama'ah di sana. Ketika sudah selesai sholat, aku bertemu dengan kedua sahabat Rohisku, yang tak lain adalah Nazla dan Lyana. Tak lupa, aku juga mulai bercerita kepada kedua sahabatku itu mengenai apa yang telah aku alami selama di kelas.
Aku mengangguk dengan ekspresi wajah cemberut.
"Iya, tapi, aku bingung. Kalian berdua tahu, 'kan, kalau aku suka sama Arfan diam-diam dan aku juga sekarang lagi berusaha melupakan dia. Tapi, karena kejadian di kelasku akhir-akhir ini, rasanya akan sulit untuk aku melupakan Arfan." Selorohku, sedih.
Mendengar itu, Nazla mulai terlihat berpikir setelah aku berkata demikian. Memang mengenai perasaanku terhadap Arfan kini bukan hanya diketahui oleh Muthia, melainkan diketahui juga oleh kedua sahabat kepercayaanku, yakni Nazla dan Lyana.
"Kayaknya kamu jangan ikut campur sama urusan Dewi lagi, deh, Fa." Kata Lyana, memberi saran.
"Aku juga berpikir gitu, Ly. Tapi gimana sama nasib Dewi nantinya?" Tanyaku kemudian, merasa bingung.
"Kalau gitu, bukan Dewi yang harus kamu jauhi." Seru Nazla setelah tadi terdiam.
"Tapi Arfan, kamu harus jauhi Arfan atau menjaga jarak lebih kuat sama dia. Kamu tahu, 'kan, gimana pengaruh fitnah Arfan terhadap diri kamu, Haneefa. Jadi, sebaiknya kamu jauhi Arfan lebih kuat kalau kamu ingin terhindar dari zina hati atau hal lainnya yang gak kamu diinginkan." Sambung Nazla, menasihati.
"Tapi, Naz. Gimana cara aku menjauhi dan menjaga jarak lebih kuat sama Arfan, sedangkan Arfan dekat juga sama Dewi?" Tanyaku, mulai frustasi.
"Aku bingung, Naz. Aku gak tahu harus seperti apa lagi." Sambungku.
Melihat responku demikian, Nazla dan Lyana pun mulai menatapku prihatin.
"Arfan emang benar-benar, ya. Apa dia gak tahu kalau dirinya itu mengandung fitnah bagi semua perempuan?" Gemas Lyana tiba-tiba kepada Arfan.
"Arfan mana paham soal beginian, Ly. Dianya aja belum hijrah dan masih jahil dari agama Allaah." Kata Nazla.
Sungguh, hari itu aku belum menemukan solusi untuk menjauhi Arfan di saat masalah sedang menimpa Dewi. Rasanya aku sudah tidak kuat jika harus lebih lama dalam keadaan seperti ini, lebih baik aku tidak dekat dengan Arfan sama sekali daripada harus dekat dengan laki-laki itu.
Yaa Allaah, tolong hamba-Mu ini.
Bagaikan Dandelion
11.04.21
Sfrdssyh