Hari Yang Takkan Mudah

1430 Words
Setelah di kelas tadi, kini aku dan Dewi akhirnya pergi menuju masjid sekolah untuk melaksanakan sholat dhuha. Kami melaksanakannya tidak bersamaan, melainkan sholat dhuha masing-masing. Pada saat tadi aku hendak pergi ke masjid bersama Dewi, aku melihat ekspresi wajah Muthia semakin masam menatapku. Aku tahu bahwa setelah aku kembali ke kelas, Muthia pasti akan marah padaku dan aku akan terima itu. Tepat setelah aku dan Dewi selesai melaksanakan sholat dhuha, karena bel masuk setelah istirahat pertama belum berbunyi, aku dan Dewi pun memutuskan untuk berdiam terlebih dahulu di dalam masjid sekadar mengobrol di sana. Sebetulnya saat itu aku ingin segera kembali ke kelas untuk bicara dengan Muthia, tapi melihat gelagat Dewi yang sepertinya membutuhkanku, aku pun menjadi tak tega. "Ada yang ingin kamu ceritakan, Dewi?" Tanyaku kepada Dewi. Saat ini kami berdua sedang duduk berhadapan di atas karpet masjid. Dewi menatapku dengan tatapan yang sulit untukku artikan. "Hmm ... ada. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya dulu sama kamu, boleh?" Aku menatap Dewi, heran. "Boleh aja, kenapa nggak?" Balasku, meskipun terkesan ragu. Dewi tersenyum tipis. "Apa kamu pernah merasakan kesepian, Haneefa?" Tanya Dewi, kemudian. Keningku seketika mengercit bingung mendapatkan pertanyaan semacam itu dari Dewi. "Kesepian?" "Ya, kesepian. Soalnya kalau aku melihat kamu di kelas, kamu selalu aja bersikap individualisme." Seloroh Dewi, berterus terang. Mengerti arah pembicaraan Dewi, aku pun menghela nafas sejenak sebelum akhirnya menanggapi ucapannya. "Kamu salah, lebih tepatnya aku ini bersikap netral, bukan individual maupun individualime. Muthia juga sama, kita berdua gak individual." Kataku, menjelaskan. Dewi menipiskan bibirnya. "Hm, baik. Emang bisa dibilang gitu. Tapi, dengan sikap kayak gitu, apa kamu sama Muthia gak merasa kesepian?" Tanya Dewi lagi.  "Ah bukan, maksud aku adalah kamu tahu bukan kalau di kelas teman-teman kita kayak apa, aku hanya merasa gimana bisa kamu sama Muthia bertahan dalam keadaan kayak gitu dengan sikap kalian yang netral?" Seloroh Dewi meralat ucapannya, kontan membuatku terdiam untuk sesaat. "Nggak, kok, Wi. Aku sama Muthia menganggap apapun yang terjadi di kelas bukan suatu hal yang besar." Kataku, menutupi. Tanpa Dewi ketahui, padahal kenyataanya keadaan di kelas cukup mengganggu keadaan psikologiku dan Muthia. Terlalu sering diasingkan. Mendengar jawabanku, Dewi pun mulai menatapku sendu. "Aku nggak tahu harus berkata apalagi sama kamu, Haneefa." Keluh Dewi. "Aku punya masalah, Fa." Tambahnya, membuatku aku bisa hanya terdiam, lebih tepatnya aku menunggu ia berkata lebih lanjut. "Aku dimusuhi dan dijauhi sama Lia, Lala, Wita, dan Nadya. Karena itu juga, temanku yang lainnya juga mulai menjauhi aku. Aku sedih." Kata Dewi, memberitahu. "Ini terjadi sejak hari jum'at yang lalu, mereka menjauhi aku dengan alasan yang menurut aku nggak masuk akal. Apa salah aku?" Kata Dewi lagi, terlihat frustasi. Memang jadwal hari sekolahku hanya dari hari senin sampai jum'at, sedangkan hari sabtu dan minggu libur. Hal itu biasa terjadi di negaraku karena sekolah kami adalah sekolah negeri. Mengenai penyataan Dewi bahwa masalahnya sudah ada dari hari jum'at yang lalu, itu artinya masalah ini sudah ada 4 hari berjalan mengingat hari ini adalah hari senin dan aku baru mengetahui ternyata ada konflik di kelasku sejak hari jum'at yang lalu. "Memangnya ... kalau boleh aku tahu, apa yang menyebabkan mereka memusuhi dan menjauhi kamu, Wi?" Tanyaku, sedikit ragu. Sungguh, saat ini aku tiba-tiba dilanda oleh rasa penasaran yang tinggi dengan apa yang sedang terjadi kepada Dewi dan teman-temannya. Dewi masih menatapku, sendu. "Alasannya cukup sederhana, tapi nggak masuk akal bagi aku. Mereka memusuhi dan menjauhi aku karena mereka nggak suka kalau aku berubah menjadi lebih feminim dari sebelumnya. Kamu tahu bukan, Haneefa? Bahwa sejak masuk SMA sikap aku emang cenderung lebih tomboy dan melihat perubahan aku menjadi lebih feminim sejak masuk semester dua di sekolah, teman-teman aku jadi gak suka. Kalau dipikir-pikir, apa salah aku dengan itu? Bukankah hal yang wajar kalau aku berubah menjadi lebih feminim karena aku adalah perempuan?" Seloroh Dewi panjang lebar, membuatku terdiam mencerna ucapannya. "Aku sedih." Keluh Dewi lagi. "Aku sedih karena dijauhi, aku jadi gak ada teman di kelas sampai pada akhirnya aku cerita dan meminta bantuan tentang masalah ini sama Arfan, karena aku juga tahu bahwa adalah Arfan orang yang baik. Setelah cerita ke Arfan, dia malah menasihati aku untuk mendekati kamu, Haneefa. Arfan bilang supaya aku nggak kesepian ketika masalah masih terjadi dan untuk kembali mendapatkan semangat lagi." Tambah Dewi, kontan membuatku terkejut bukan main. "Arfan?" Aku membeo, terkejut menatap Dewi. Dewi mengangguk. "Hm, setelah aku merasa kesepian, akhirnya aku memutuskan untuk cerita dan meminta bantuan sama Arfan. Terus waktu aku cerita masalah aku sama dia, Arfan malah langsung menyaran dan menasihati aku untuk mendekati kamu, Haneefa." "Arfan bilang gitu?" Tanyaku, masih tak percaya. Pikirku, mengapa Arfan melakukan itu? Dia bersikap seolah percaya bahwa aku memang bisa membantu Dewi. Dewi menatapku, heran. "Emangnya kenapa kalau Arfan bilang gitu, Fa? Apa ada yang salah?" Tanya Dewi, membuatku langsung berusaha menormalkan ekspresi wajah. Tidak, aku tidak boleh terlihat aneh mengenai Arfan di depan Dewi. Bisa-bisa ia menjadi curiga kepadaku mengenai perasaanku terhadap laki-laki itu. Jangan lupakan bahwa apapun yang berkaitan dengan Arfan, hal itu cukup membuat boomerang bagi diriku, terlebih hatiku. "Ah, nggak, kok. Gak apa-apa, gak ada yang salah. Aku ... aku cuma merasa sedikit kaget aja." Jawabku. Dewi pun beroh ria menanggapi ucapanku. Lalu setelah itu waktu dihabiskan dengan aku yang mendengarkan setiap keluh kesah Dewi mengenai masalahnya. Sampai akhirnya tidak terasa bel masuk kelas pun berbunyi, sehingga membuat kami mau tak mau harus kembali ke kelas. ...... Pada saat aku baru memasuki kelas bersama dengan Dewi, entah memang hanya perasaanku saja atau memang benar begitu adanya. Semua teman-temanku di kelas langsung menoleh ke arahku dan Dewi dengan pandangan tidak suka setibanya kami di kelas. Aku yang memang tidak tahu apa-apa dan tidak ingin terlibat konflik apapun, aku terus berusaha membiasakan sikapku seolah memang tidak terjadi apa-apa meskipun pada kenyataannya aku sedang dekat dengan seseorang yang memiliki masalah. Ketika aku berjalan menuju mejaku, aku juga melihat ke arah Arfan yang saat itu sedang melihat ke arah Dewi yang akan berjalan menuju mejanya dengan tersenyum kepada gadis itu. Lalu setelah itu, Arfan beralih menatap ke arahku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Di sana tidak ada senyuman yang sama seperti yang Arfan lakukan sebelumnya kepada Dewi, bahkan ekspresi wajahnya terkesan bingung untuk aku artikan. Aku memang cukup sulit dalam memahami sikap Arfan terhadapku. "Udah selesai sama teman barunya?" Tanya Muthia sinis kepadaku, setelah aku duduk tepat di sampingnya. Aku tahu, itu bukanlah sebuah pertanyaan melainkan sindiran. Aku menghela nafas sebelum menjawab perkataan Muthia. "Mut, jangan salah paham. Semua gak seperti yang kamu pikirkan." Kataku, to the point. Muthia menatapku, kesal. "Terus, apa? Kamu tahu Haneefa, gak seharusnya kamu itu dekat sama Dewi setelah apa yang udah dia dan teman-temannya lakukan sama kita?" Desis Muthia tajam kepadaku. Aku yang merasa ucapan teman satu bangkuku ini tidak baik dan bisa saja terdengar oleh teman kelas yang lain, terlebih terdengar oleh Arfan dan Hendra yang berada duduk tepat di belakang kami. Aku pun hanya bisa mengontrol diriku untuk tidak terpancing emosi atau menimpali langsung ucapan Muthia. Aku malah menyentuh tepi atas telapak tangan Muthia yang berada di atas meja dan beruntung Muthia tidak menolaknya. "Mut, dengar. Apapun yang aku lakukan, kamu gak perlu khawatir. Aku tahu apa yang harus aku lakukan dan aku janji, aku gak akan meninggalkan kamu meskipun Dewi mendekati aku sekarang." Ujarku lembut, memberi pengertian. Aku paham bahwa teman satu bangkuku ini memiliki rasa cemburu yang tinggi kepadaku mengenai pertemanan kami. Muthia memang selalu bersikap posesif terhadapku karena ia tidak ingin kehilangan diriku. Jangan lupakan bahwa di sekolah Muthia tidak memiliki teman dekat, selain diriku. "Kamu tenang aja, aku akan tetap ada untuk kamu. Tapi untum sekarang, Dewi lagi punya masalah sama teman-temannya dan dia membutuhkan aku. Kalau kamu bersedia membantu, kamu pun bisa dekat dengan Dewi." Selorohku, menatap Muthia. "Nggak." Tolak Muthia, menimpaliku cepat. "Aku gak mau, ya, dekat apalagi membantu Dewi. Kenapa, sih, Haneefa? Kenapa kamu harus peduli sama dia?" Tambah Muthia, kesal. Sebenarnya dalam percakapanku dan Muthia saat inu, kami tidak berbicara dengan suara keras, melainkan hanya berbisik-bisik saja. Terlebih Muthia yang selalu menggunakan desisan geram saat bicara padaku. Meski demikian, aku tetap khawatir jika percakapanku dan Muthia ini bisa saja didengar oleh orang lain, utamanya oleh Arfan dan Hendra yang berada duduk tepat di belakang kami. "Mut, aku mohon jangan bahas ini dulu, ya. Ini bukan waktu yang tepat." Pintaku lembut dan memohon. Mendengar ucapanku itu, kontan Muthia menepis tanganku yang sejak tadi menyentuh telapak tangannya. Lalu setelah itu Muthia memutuskan untuk beranjak dari duduknya dan pergi keluar kelas dengan wajah yang masam. Huh ... sepertinya memang tidak akan mudah untukku menjalani hari di sekolah setelah ini. Bagaikan Dandelion 10.04.21 Sfrdssyh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD